Renascent

1245 Kata
Akhirnya para Prajurit membawa Aruba keluar dari ruang perundingan dengan kedua tangan yang di ikatk ke belakang selayaknya seorang terdakwa. Keputusan dari Raas itu pun menjadi sebuah pertanyaan di dalam benak beberapa Raja, termasuk Raja Mart yang mempunyai pemikiran jika seharusnya Raas dapat menggunakan Aruba sebagai sumber informasi yang dapat mereka gali. Mart pun mendekat pada Raas yang kembali berjalan ke arah takhtanya, dan bertanya pada sang sahabat, “Raas, apa tidak sebaiknya--” “Tidak Mart!” Raja Mart terdiam ketika Raas dengan cepat memotong ucapannya dan memberikan sebuah penolakan atas saran yang akan Mart berikan tadi. “Tidak Mart! Aku takut jika kehadirannya di antara kita semua akan menimbulkan sebuah permasalahan baru. Lihatlah mereka yang terus menerus terprovokasi dengan kehadirannya dalam ruangan ini, meskipun dirinya hanya diam dan tidak mengucapkan sepatah katapun. Aku tidak ingin sesuatu hal lebih buruk dari ini terjadi!” Itulah penjelasan yang Raas berikan pada Mart yang akhirnya membuat Raja tersebut menganggukkan kepalanya dan mengikuti keputusan yang Raas buat. “Kita lanjutkan perundingan ini! Karena ini adalah masalah yang sangat penting, bukan hanya bagi Kerajaan Monitum, tetapi masalah ini penting bagi kalian semua!” Itulah Ucapan yang di ucapkan oleh Ibunda Ratu Ziona yang akhirnya membuat mereka semua mengangguk dan kembali ke tempat duduk mereka, sementara Raas hanya terdiam saat ia duduk kembali ke takhtanya itu. Raas menatap pada Jiwoo yang terdiam denga rahang yang mengeras jelas terlihat. Raas pun mengerti jika Jiwoo pasti akan merasa marah pada keputusannya saat ini, tetapi mau bagaimana lagi? Raas tidak bisa jika terus membiarkan hal itu terjadi, ia harus menghentikan dan mencegahnya meski dengan sebuah cara yang tak mereka sukai. Raas belum kunjung kembali membuka perundingan itu, ia mengatur napasnya terlebih dahulu dan mengambil segelas air yang ada di hadapannya. Membasahi tenggorokkannya yang kering akibat berbicara dan berteriak sedari tadi. Setelahnya ia pun menoleh pada Raja Adam yang duduk di dekat sang adik yang kini hanya terdiam menatap padanya, dengan penuh fokus. “Adam, tolong kau jelaskan bagaimana hal ini berawal!” Itulah yang di ucapkan oleh Raas yang ternyata menyuruh Adam untuk menjelaskan kejadian yang mereka alami sebelum Raas mengumpulkan seluruh Raja dan Ratu dalam ruangan itu. Adam mengangguk patuh dan mulai menceritakan apa yang ia dan Raas alami, “Sebenarnya sebelum ini… Saya dan Baginda bertemu dengan Find…” Adam pun menceritakan semuanya dari awal hingga akhirnya Raas memutuskan untuk membuat perundingan bersama mereka semua. Adam pun menceritakan tentang Rome, Pangeran dari Kerajaan Monitum yang telah meninggal dunia puluhan tahun yang lalu. Seluruh Raja dan Ratu terdiam di tempat mereka dan tidak percaya dengan apa yang baru saha Adam jelaskan pada mereka, namun mengingat mereka sendiri bertemu dengan Aruba tadi, membuat mereka mau tidak mau harus mempercayai itu. “Jadi, maksudmu… Kejadian ini saling berkesinambungan satu sama lain? Para Pangeran dan Raja yang telah tiada, bangkit kembali?” Mart yang kembali duduk di kursi jajaran paling belakang itu pun bertanya dan menarik sebuah kesimpulan dari apa yang Adam ceritakan pada mereka tadi. Dan secara bersamaan, Adam juga Raas menganggukkan kepala mereka, membuat Mart terdiam dan tidak dapat berkata apa-apa. “Jadi dari semua hal yang aku alami beberapa hari ini, ku harap kalian semua segera melaporkan padaku jika ada salah satu Raja, Ratu, maupun Pangeran dan Putri yang telah meninggal dunia kembali terlihat hidup.” Raas pun memberikan sebuah keputusan yang lebih merujuk pada sebuah permintaan bantuan serta kerja sama dari para Raja dan Ratu bawahannya. Raas sebenarnya tidak berharap ada lagi kasus yang sama seperti ini, karena dengan kemunculan tiga orang ini saja sudah cukup membuat Raas merasa kerepotan. Di tengah diamnya Raas dan para Raja serta Ratu lainnya saat itu, seorang Raja muda yang berasal dari Kerajaan Borage, Tanah Valerian bagian Barat mengangkat tangan kanannya. Meminta izin pada Raas untuk dapat mengeluarkan pendapatnya, yang akhirnya membuat Raas serta seluruh pemimpin Kerajaan yang lain menoleh ke arahnya. Raja muda dengan pakaian khas dari Kerajaan Borage yang memiliki warna hijau itu pun berdiri dengan tegap dan mulai berbicara, “M-maafkan saya Baginda! Tetapi sebelumnya, bolehkan saya bertanya mengenai sesuatu? Untuk dapat memastikan jika apa yang sedang saya pikirkan sama dengan apa yang terjadi saat ini...” Ucap Raja muda itu dengan sedikit terbata karena tegang berhadapan langsung serta untuk pertama kalinya dengan Raas. “Hh… Lanjutkan saja, apa yang ingin kau tanyakan?!” Ucap Raas pada Raja itu dengan tidak terlalu keras karena ia sadar jika Raja tersebut masih baru dan masih merasa tidak percaya diri dengan apa yang ia ketahui. Setelah mendapatkan izin dari Raas, Raja muda yang berasal dari Kerajaan Borage itu berdehem pelan sebelum akhirnya kembali melanjutkan ucapannya dengan lebih tegas dari sebelumnya. Ternyata Raja muda itu dapat belajar dengan cepat saat menghadapi Raas. “Baginda, jika mereka bukan Poltergeist. Lalu apakah mereka ini?” Tanya Raja itu yang akhirnya membuat seisi ruangan merasa sedikit kecewa dengan anak itu, yang awalnya mereka kira mengetahui sesuatu. Namun ternyata ia hanya menanyakan sebuah hal yang jelas-jelas sedang mereka cari jawabannya. “Pertanyaan tidak berguna!” Bahkan Putri Lydia yang hadir dalam perundingan itu pun berbisik seperti itu pada Putri Vanez yang duduk di sampingnya. Ini adalah pertama kalinya kedua putri itu hadir dalam perundingan, karena Ibu mereka yaitu Ratu Rwanda yang memintanya agar mereka bisa belajar menjadi seorang Ratu yang kuat. Namun berbeda dari reaksi seluruh orang yang ada dalam ruangan itu yang merasa kecewa pada Raja muda tersebut, Raas yang duduk di depan mereka semua justru menanyakan sebuah pertanyaan yang akhirnya membuat mereka semua kembali menatap pada Raja muda tadi untuk menunggu jawaban darinya. “Kami sedang mencari tahu itu, tetapi mengapa kau kembali menanyakan hal itu? Adakah sesuatu yang kau ketahui tentang kejadian ini?” Itulah pertanyaan yang Raas tanyakan pada Raja muda tersebut. Raja muda itu menganggukkan kepalanya dengan pelan, membuat mereka semua akhirnya kembali mengharapkan sesuatu yang lebih dari pertanyaan tadi pada Raja muda itu. Sedangkan Raas yang melihat anggukan kepala itu pun ikut menganggukkan kepalanya dengan pelan dan bertanya, “Siapa namamu? Aku belum mengetahui siapa dirimu Raja… Siapa namamu?” Itulah yang Raas tanyakan pada Raja muda itu sehingga sang Raja muda dengan sangat tegas dan lantang memperkenalkan namanya pada sang Raja tertinggi. “Ray, Baginda! Nama saya adalah Ray, dari Kerajaan Borage!” Akhirnya Raja muda itu memperkenalkan dirinya sebagai Ray. Dan di saat itu pun Raas tiba-tiba teringat dengan seorang pemuda yang memperkenalkan dirinya sebagai Wei pada Raas dengan lantang yang sama seperti Raja di hadapannya ini. Namun Raas segera mengesampingkan hal itu dan mengangguk pelan, kemudian ia kembali bertanya pada Ray. “Jadi Ray… Adakah yang kau ketahui sehingga kau menanyakan kembali hal itu? Apa yang kau ketahui?” Raas berucap dengan lebih santai dan tidak seperti sebelumnya. Ia melakukan itu agar Raja muda bernama Ray di hadapannya ini tidak gugup dan mau menjelaskan apa yang ia ketahui sedari tadi pada mereka semua. Ray yang gugup itu menoleh ke arah samping kirinya, di mana lima Raja muda lainnya yang memang dari tanah serta wilayah yang sama dengannya itu sedang menyemangatinya agar dirinya berani mengutarakan hal yang ia ketahui pada Raas. Ray pun kembali menatap pada Raas dan berkata, “Renascent...” Ucap Ray yang membuat Raas serta Raja dan Ratu lainnya merasa kebingungan sekaligus tidak mengerti.  “Sihir Renascent. Apakah Baginda pernah mendengarnya?” Tanya Ray kembali. Berbeda dengan semua orang yang terkejut, Ziona yang mendengar itu terlihat terkejut saat mendengar kata yang di ucapkan oleh Ray tadi, karena ia sangat mengetahui apa itu Renascent. To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN