Setelah ucapan yang di katakan oleh Ea barusan, Aruba yang mendengarnya pun seketika terjatuh ke atas lantai marmer itu dengan tubuh yang lemas karena ketakutan. Takut akan kematian yang hampir saja ia alami saat itu juga.
Seluruh orang yang menyaksikan hal itu terkejut saat melihat Aruba berlutut di atas lantai sambil menutupi wajahnya dengan kedua tangannya yang bergetar. “Pangeran… Ku mohon b*nuh saya! Bunnuh saya, Pangeran!” Ucap Aruba yang kini memohon pada Ea untuk segera di bunuh.
Tentu saja permintaan mengejutkan itu tidak akan di lakukan oleh sang Pangeran, karena ia pada awalnya memang tidak ingin membunuh Aruba dan hanya ingin memastikan jika Aruba bukanlah seorang poltergeist. Ea hanya terdiam mendengar permintaan yang tidak masuk akal itu dan menatapi sang Raja yang sedang berlutut tersebut dengan perasaan yang sedih.
Semua orang terdiam saat ini ketika Aruba menangis terisak di tempatnya, bahkan Jiwoo pun tak bisa melakukan apa-apa selain diam di tempatnya. Tangan kiri Aruba terjatuh ke atas lantai, membantu dirinya sendiri untuk menopang bobot tubuhnya yang semakin melemas karena menangis. Sementara tangan kanannya masih menutupi wajahnya agar tidak terlihat oleh siapapun yang ada di dalam ruangan itu. “Jika… Jika Pangeran tidak sanggup melakukannya, maka saya mohon pada anda… Baginda!” Ucap Aruba yang mengangkat wajahnya ke arah Raas yang hanya terdiam melihatnya dengan tatapan dingin. Tentu saja Raas tidak akan melakukan permintaan tersebut, apalagi ketika dirinya sudah di yakinkan jika Aruba bukanlah Poltergeist.
Menyadari jika sang Raja pun enggan untuk memenuhi keinginannya, ia pun menoleh ke arah belakang dan berkata, “Siapa pun, tolong buunuh saya! Jiwoo… Hhh… Hhh… Tolong bunuh saya!” Ucap Aruba yang kemudian menundukkan kembali kepalanya dan tak sanggup menatap pada sang sahabat yang sangat menangisi kematiannya saat itu. Tangan kiri Aruba mengepal dengan kuat seakan mencoba untuk meremas lantai marmer yang dingin itu.
Mereka semua terdiam ketika mendengar isak tangis dari Raja yang sedang berlutut itu, tak ada satu pun dari mereka yang berani berbuat sesuatu di saat ini. Ketika Raas sendiri hanya terdiam di tempatnya. Tangisan itu berlangsung cukup lama, hingga membuat Ratu Clara yang melihat kejadian itu pun ikut menangis karena merasakan apa yang Aruba rasakan saat ini.
Raas pun akhirnya memutuskan untuk berjalan menghampiri Aruba, sementara para Raja dan Ratu hanya bisa memperhatikannya tanpa tahu harus berbuat apa dalam situasi itu.
Raas yang berdiri di hadapan Aruba itu sedikit merundukkan tubuhnya namun tidak membungkuk dan tidak duduk sama seperti Aruba, ia hanya merendahkan sedikit tubuhnya agar dapat menyamakan tinggi wajahnya dengan wajah Aruba yang masih tertunduk itu. “Mengapa kau berkata seperti itu, Aruba?” Itulah pertanyaan yang Raas tanyakan yang juga menjadi pertanyaan dari semua orang yang ada di dalam ruangan itu. Mengapa Aruba meminta dirinya untuk segera di bunuh? Mengapa ia begitu menginginkan kematian kembali di saat dirinya dapat bangkit dari kematianya yang sebelumnya?
Aruba yang menangis itu menghentikan tangisannya dan terdiam, membuat semua orang termasuk Raas dan Ea pun ikut terdiam menunggu jawaban yang akan Aruba berikan. Sementara Jiwoo yang juga ada di sana hanya bisa terdiam karena ia sadar jika saat ini bukanlah waktu yang tepat untuk berada di pihak Aruba ataupun mengikuti permintaan dari Aruba tadi.
“S-saya… Saya tidak sanggup, Baginda! Saya tidak sanggup jika nanti saya harus membunuh anda!” Itulah jawaban yang di ucapkan oleh Aruba yang sukses membuat seisi ruangan itu terkejut meskipun tidak mengerti dengan kesimpulan dari jawaban itu.
Mereka hanya mengerti jika Aruba tidak ingin membunuh Raas, namun yang tidak mereka mengerti adalah apa alasan dari Aruba sehingga dirinya harus membunuh Raas? Kapan itu dan mengapa dirinya mengatakan kata harus di dalam ucapannya itu? Itulah yang menjadi sebuah pertanyaan di dalam benak semua orang termasuk Raas sendiri.
Meskipun di penuhi dengan pertanyaan, tetapi Raas tetap mencoba untuk tenang dan tidak terpancing dengan ucapan itu. Raas pun memilih untuk menepuk pelan bahu Aruba, “Mengapa anda harus membunuh saya?” Itulah sebuah pertanyaan yang langsung Raas tanyakan pada Aruba, ia pun menggunakan kesempatan itu untuk mengetahui alasan tersebut. Tetapi Aruba hanya terdiam dan tidak menjawab pertanyaan dari Raas. Sehingga Raas kembali memanggil nama dari Raja di hadapannya itu yang tiba-tiba memperlihatkan raut wajah yang berbeda dari sebelumnya, “Aruba?” Panggilnya. Saat ini Raas merasa ada sesuatu hal yang janggal dari Aruba, karena ia seperti berhadapan dengan dua orang yang berbeda yang berada di dalam satu tubuh yang sama. Namun sepengetahuan Raas, Raja Aruba tidak memiliki kepribadian ganda atau semacamnya.
Aruba tiba-tiba berdiri dari posisinya, membuat seluruh Raja yang ada di sana kembali mengeratkan genggaman tangan mereka pada gagang pedang yang mereka bawa, itu semua mereka lakukan ketika mereka pun menyadari perubahan raut wajah Aruba yang berubah dengan sangat cepat. “Hhh…” Raja yang paling di segani banyak orang ketika hidupnya dulu itu pun menghembuskan napasnya dengan pelan. Sementara Raas yang tadi berjongkok kini mendongak menatap pada Aruba sebelum akhirnya ia berdiri dari posisinya.
“Saya yakin jika Find telah menyampaikan sesuatu hal pada Anda dan Adam. Dan itulah hal yang saya maksud, Baginda! Anda harus melakukannya karena kami tidak ingin menyakiti anda!” Itulah ucapan yang Aruba ucapkan saat Raas dan Raja itu saling berhadapan satu sama lain.
“Anda, benar-benar Aruba kan?” Sebuah pertanyaan yang keluar dari mulut Raja Guam itu membuat seluruh Raja termasuk Aruba menoleh padanya, sementara Raas hanya melirik dengan ujung matanya menatap pada Raja berumur paling tua itu. Aruba tidak menjawab dan hanya menganggukkan kepalanya dengan pelan untuk membenarkan jika iya dirinya memanglah Aruba.
“Tapi bagaimana mungkin? Bagaimana bisa, anda dapat hidup kembali?” Itulah pertanyaan selanjutnya yang kembali Guam tanyakan pada Aruba sekaligus mewakilkan pertanyaan-pertanyaan yang sama yang di pikirkan oleh seluruh orang yang ada di dalam ruang perundingan tersebut.
Mendengar pertanyaan itu, Raas pun kembali menatap pada Aruba. Ikut menunggu jawaban dari pertanyaan yang ia tanyakan pada dirinya sendiri selama ini.
“Saya…” Aruba menyipitkan matanya dan mencoba mengingat-ingat, “Saya tidak ingat!” Jawabnya pada akhirnya, menyerah karena dirinya tak dapat mengingat satu kejadian pun sebelum ia bangun dari tidurnya yang ternyata adalah kematiannya.
“Bohong!” Teriak Raja Sagiso dengan cukup keras. Membuat semua orang kini beralih menatap padanya dan melihatnya yang sedang menatap Aruba dengan tatapan yang tajam. “Anda pasti menyembunyikan sebuah kebenaran!” Sambung Sagiso yang menuduh pada Aruba.
Jiwoo yang mendengar tuduhan itu pun segera membela sahabatnya tersebut, karena ia merasa jika dirinya tidak bisa diam saja melihat sang sahabat terus menerus di berikan tuduhan yang nantinya dapat membunuh nyawa dari sahabatnya itu. “Lalu apakah anda memiliki sebuah bukti jika dirinya berkata bohong, Raja Sagiso?!” Itulah ucapan pembelaan dari Jiwoo untuk Aruba yang membuat seisi ruangan kembali menjadi gaduh, antara Jiwoo dan pihak yang tidak mempercayai Aruba.
Sementara Raas yang ada di hadapan Aruba itu mengabaikan seluruh kegaduhan tersebut dan mulai berpikir, ‘Apakah kedatangan Raja-Raja ini kembali ke dunia adalah untuk memecah belah persatuan serta kepercayaan di antara kami?’ Itulah yang Raas pikirkan yang akhirnya membuatnya tenggelam dalam pikirannya itu.
Ibunda ratu Ziona, Ibu dari Raas pun memperhatikan seluruh kekacauan yang terjadi serta kebingungan Raas yang kini berdiri di tengah ruangan menghadap pada Aruba. Ziona pun akhirnya berdiri dari duduknya dan berkata, “Jauhkan Raja Aruba dari semua orang!” Ucapan itu membuat mereka semua terdiam, dan Raas membuka matanya kemudian menatap pada sang Ibunda.
Raas pun sadar dengan maksud dari ucapan sang ibu dan merasa semakin yakin jika apa yang ia duga tadi adalah benar. Ia pun menganggukkan kepalanya dengan samar pada sang Ibu yang melirik padanya, “Prajurit!” Raas berteriak dengan kencang, membuat seluruh prajurit yang ada di dalam ruang perundingan itu berlari menghampirinya.
“Tahan Raja Aruba di dalam penjara khusus! Perketat penjagaannya dan jangan biarkan satu orang pun datang mengunjunginya, kecuali aku!”
To be continued