“Dimana Find?”
Itulah pertanyaan yang di tanyakan oleh Raas pada Aruba yang masih menatapinya. Para Raja dan Ratu yang tadi tidak mempercayai jika Raas dan Adam telah bertemu dengan mendiang Raja Find pun kini mulai mencurigai terjadinya sesuatu yang awalnya akan Raas bicarakan dengan mereka semua, mengingat perundingan ini di adakan secara mendadak. Namun kehadiran Aruba itu membuat semuanya menjadi tidak terkendali bahkan sebelum perundingan itu di mulai.
Seluruh orang yang ada di dalam ruang perundingan itu dapat melihat bagaimana Raja Aruba menggelengkan kepalanya, dan tersenyum pada Raas seraya menjawab, “Saya tidak mengetahui di mana keberadaannya, Baginda… Saya tidak memiliki sebuah kemampuan telepathy seperti anda dan Raja Adam.” Itulah jawaban yang ia berikan pada Raas. Jawaban yang seolah dirinya menyindir sang Raja di hadapan seluruh pemimpin lainnya yang kini hanya bisa terdiam. Dan beruntunglah Aruba karena Raas tidak merasa tersinggung dengan ucapan tersebut, meski pada akhirnya beberapa Raja yang belum mengetahui hal itu kini menjadi tahu.
Raas yang dapat menarik kesimpulan jika Aruba juga telah mengetahui Find juga mengalami hal yang sama sepertinya, bangun kembali dari kematian. Maka Raas pun segera menggunakan kesempatan itu untuk menggali lebih dalam sebuah informasi yang mungkin saja bisa ia dapatkan.
“Lalu, apakah kau mengenal Rome? Apakah ia juga kembali sama sepertimu dan Find, Aruba?” Itulah pertanyaan pertama yang ingin Raas pastikan. Dirinya ingin memastikan perihal sang paman yang di kabarkan telah hidup kembali.
Seluruh Raja dan Ratu yang tidak mengenal siapa Rome itu hanya terdiam kebingungan, sementara beberapa yang telah mengetahuinya ikut menunggu jawaban yang akan Aruba berikan pada Raas.
Raas dapat melihat dengan jelas bagaimana raut wajah dari Aruba yang berdiri di hadapannya itu berubah saat ia menanyakan tentang Rome. Tatapan Raja Aruba itu berubah menjadi dingin dan terkesan sinis pada Raas, bibirnya yang tadi tersenyum kini melengkung ke bawah dengan angkuh.
Raas mendengar Aruba mengatakan sebuah hal yang cukup membuatnya kebingungan, “Baginda… Saya tidak pernah bermaksud untuk mengkhianati anda, atau berniat untuk mencelakai anda… Namu—”
Click! Raas terkejut, dan Aruba menghentikan ucapannya ketika sebuah pedang yang dingin itu berhasil menempel di leher Aruba.
“Jangan pernah berniat untuk menyerang Paduka!” Dan ucapan tersebut akhirnya membuat semua orang yang ada di dalam ruangan itu, termasuk Raas sadar jika saat ini tangan kanan dari Raja Aruba telah menggenggam gagang pedang yang bertengger di pinggangnya. Namun tak ada satu orang pun yang menyadari hal itu sebelumnya, termasuk Raas, Mart, serta Keluarga Kerajaan Monitum yang duduk di depan dan berhadapan langsung dengan Aruba.
Seisi ruang perundingan itu memang terkejut dengan hal tersebut, namun di saat yang bersamaan, mereka juga terpukau dengan kecepatan dari Raja Steven yang bahkan tidak terlihat ketika ia berlari untuk menghentikan Aruba. Mereka semua merasa hal aneh telah terjadi dalam ruangan itu, mereka semua seolah terhipnotis dan fokus hanya pada raut dari Raja yang seharusnya telah meninggal dunia itu. Sehingga tidak menyadari pergerakkannya yang hampir mengeluarkan pedang miliknya.
Sring! Click!
Tidak butuh waktu lama dari Steven mengatakan hal tersebut, sebuah pedang juga kini telah menempel di leher Raja dengan umur hampir Empat puluh lima tahun itu. Jiwoo adalah orang yang dengan berani melakukannya demi membela Aruba yang kini tengah di todong oleh Steven.
“Jangan coba-coba untuk mengancamnya!” Itulah ancaman balasan yang di ucapkan oleh Jiwoo pada Steven.
Kejadian tersebut pun akhirnya membuat seluruh Raja yang ada di dalam ruangan itu mengeluarkan pedang milik mereka, terkecuali para Ratu dan Putri. Adam yang duduk di dekat Raas pun segera mengeluarkan pedangnya dan berdiri dari tempatnya untuk mendekat ke arah anggota Keluarga Kerajaan Monitum.
Raas pun melihat pemandangan di mana di hadapannya berdiri tiga orang Raja yang saling menodongkan pedang, sementara Raja-Raja lainnya berdiri dengan pedang mereka yang siap mereka gunakan kapanpun. Pemandangan yang sungguh menegangkan sekaligus mengerikan.
Ziona, selaku Ibu dari Raja tertinggi dalam ruangan itu pun dengan cepat menegur sang putra dan menuntut agar Raas menghentikan semua kejadian ini dan mengambil alih situasi.
“Raas!” Itulah teriakan yang akhirnya membuat Raas dengan keras menggebrak meja yang ada di hadapannya.
Brak! “Cukup!” Teriakan kali ini lebih kencang dari sebelumnya. Para Raja yang berdiri dengan emosi mereka pun akhirnya terdiam saat Raas berkata, “Aku tidak memerintahkan kalian semua untuk mengeluarkan pedang kalian dan bertarung di dalam ruangan ini!” Itulah teguran yang di berikan oleh Raas pada seluruh pemimpin bawahannya itu.
Raas kemudian menatap pada Aruba dengan sangat tajam, menyadari semua ini di mulai karena Raja itu yang pertama kali memegang pedang miliknya. Aruba yang melihat tatapan itu pun akhirnya mengangkat kedua tangannya ke atas, memperlihatkan jika dirinya tidak akan mengeluarkan pedang miliknya dalam keadaan apapun. “Maafkan saya, Baginda. Mungkin semua ini terjadi karena saya menggenggam pedang milik saya. Namun itu adalah sebuah kebiasaan yang tidak dapat saya lepaskan begitu saja!” Aruba menjelaskan apa alasan dirinya memegang gagang pedang yang ada di pinggangnya itu.
Dan meskipun Aruba telah mengangkat tangannya ke atas, Raja Steven tetap tidak menarik pedangnya kembali dari leher Aruba. “Paduka! Sepertinya sudah jelas bahwa dia bukanlah Aruba… Aruba tidak akan bersikap seperti ini!” Ratu Rwanda yang sedari tadi terdiam akhirnya membuka suara dan berdiri dari duduknya.
Jiwoo yang mendengar ucapan itu pun menghembuskan napasnya dan merasa kecewa pada seluruh Raja dan Ratu yang tidak percaya pada Aruba, dan justru mereka menuduh Jiwoo sebagai pembangkang karena telah mempercayai jika Aruba yang ada di dalam ruangan itu adalah Raja Aruba yang asli, sahabat lamanya.
Raas yang mendengar ucapan-ucapan dari para Raja dan Ratu yang umurnya jauh lebih tua darinya pun sedikit tidaknya merasa terpengaruh. Ia kembali menatap pada Aruba yang terdiam di hadapannya dan menatap padanya dengan raut wajah yang sangat datar. Raas pun akhirnya mulai merasa curiga dengan sosok lelaki di hadapannya itu, maka ia ingin segera mengakhiri hal ini dengan membacakan sebuah mantra penghukum kematian yang pernah ia bacakan pada seorang pengkhianat yang akhirnya meninggal dan menjadi abu setelah ia bacakan mantar ini. “Guil—”
“Tunggu sebentar Kak!” Raas terdiam ketika ia mendengar teriakan dari Ea yang berusaha menghentikannya. Ia pun menoleh ke arah Ea yang kini berdiri dari duduknya dan berjalan mengambil pedang yang sedang di genggam oleh Raja Adam saat itu.
Dengan langkah yang tidak goyah, Ea berjalan menghampiri Aruba. Membuat seluruh mata kini tertuju pada sang Pangeran yang amat sangat di lindungi oleh Raas itu.
Kini Ea tengah berdiri tepat di hadapan Aruba, dan Jiwoo yang melihat jika sang Pangeran yang maju dari tempatnya itu tak bisa berbuat apa-apa karena ia tidak mungkin menghadapi anggota Keluarga Kerajaan Monitum. Sebab Jiwoo bukanlah seorang pembangkang ataupun pengkhianat. Jiwoo hanya terdiam dan terlihat berusaha untuk menguatkan dirinya sendiri, akan kematian yang akan kembali menimpa sahabat karibnya itu. Jiwoo bahkan menyalahkan dirinya sendiri yang telah memutuskan untuk membawa Aruba menemui Raas.
Genggaman tangan Ea pada pedang yang ada di tangannya itu semakin menguat, ia pun menarik napasnya ketika seluruh ingatan tentang kejadian yang pernah ia lalui bersama Aruba di dalam sel Kerajaan Judas ketika ia di culik pun kembali terlintas dalam pikirannya. Seketika ada perasaan sedih yang menyelubungi hati sang Pangeran, dan ia ingin menangis saat membayangkan bagaimana orang-orang itu menyiksa Aruba hingga akhirnya kematian menjemput Raja yang telah melindungi dirinya itu.
Raas tidak mengetahui apa yang akan di lakukan oleh sang adik saat ini, sementara Ea yang kini mengangkat pedangnya ke atas itu bertekad jika dirinya harus membuktikan jika lelaki di hadapannya ini adalah Aruba yang asli yang dulu pernah berjuang bersamanya menghadapi para pengkhianat itu.
Meskipun saat ini tangan Ea bergetar karena ragu, namun dirinya tetap ingin memastikan hal yang harus ia pastikan, dari pada jika sosok di hadapannya ini harus meninggal karena mantra dari sang kakak yang pastinya tidak ingin mendengarkan penjelasan apapun.
Ketika Ea mengayunkan pedangnya untuk menebas kepala Raja di hadapannya itu, Aruba yang menjadi sasaran pun memejamkan matanya dengan erat. Dan di saat itulah Ea dapat memastikan jika sosok di hadapannya ini benar-benar Aruba. Pedang yang bergerak itu berhenti tepat sebelum bilahnya mengenai leher dari Raja di hadapannya itu.
Seluruh orang yang melihat hal itu pun cukup terkejut dengan apa yang di lakukan oleh sang Pangeran. Karena Ea bukanlah orang yang akan melakukan hal ini pada siapapun.
“Mengapa anda ketakutan? Bukankah seorang Poltergeist tidak akan pernah merasa takut, meskipun yang mereka hadapi adalah sebuah kobaran api yang sangat panas!” Ucap Ea yang merupakan sebuah pembuktian sekaligus sebuah sindiran yang sengaja ia tujukan pada mereka semua yang menuduh Aruba sebagai Poltergeist, termasuk sang kakak yang hampir saja membacakan mantra penghukum tadi.
Dan hal tersebut pun akhirnya mampu membuat mereka semua bungkam.
To be continued