Kedatangan Mendiang Raja Yang Paling di Segani

1339 Kata
Saat itu Raas tidak hanya melihat Clara yang berlari ke dalam ruang perundingan tersebut, tetapi wanita itu datang bersama Raja terpercaya yang ia percayai untuk memegang separuh dari Kerajaan yang ia pimpin saat ini. Dan ketika keduanya telah sampai di hadapan Raas, mereka pun membungkuk hormat pada sang Raja tertinggi seraya berucap, “Hh… Hhh… Baginda! Maafkan atas keterlambatan kami!” Itulah ucapan yang di sampaikan oleh Raja Jiwoo pada Raas, yang tentu saja kedatangan keduanya yang bersamaan itu mengundang pertanyaan di benak para Raja dan Ratu lainnya, terutama Raja Robert, kekasih dari Ratu Clara. Lelaki itu terlihat cemburu meskipun dia sedang berada satu ruangan dengan Raas yang bisa melihat kecemburuan tersebut. Raas tidak menjawab ucapan itu dan hanya memberikan sebuah isyarat pada Prajurit tadi untuk kembali ketempatnya. Kemudian dirinya kembali menatap pada dua pimpinan Kerajaan di hadapannya tersebut yang datang terlambat. “Terlambat bukanlah kebiasaan yang kalian berdua miliki, Jiwoo! Clara! Aku rasa ada suatu hal yang membuat kalian datang terlambat ke mari! Hal apa itu?!” Tanya Raas yang merasa cukup kesal karena telah di buat menunggu lama oleh kedua pemimpin yang ada di bawah pimpinannya itu. Ia pun sempat menyindir keduanya dengan mengatakan jika seharusnya mereka tidak datang terlambat. Raas melihat Ratu Clara hendak membuka mulutnya dan hendak berbicara padanya, namun Raja Jiwoo yang berdiri di samping wanita itu segera menghentikannya dengan memberikan sebuah isyarat tangan pada Clara. Tentu saja sikap itu dapat terlihat jelas oleh para Raja dan Ratu yang ada dalam ruangan itu, termasuk Raas, dan juga Keluarga Kerajaan Monitum yang memang di wajibkan mengikuti perundingan kali ini. Raas menyipitkan matanya pada Jiwoo dan menunggu ucapan yang akan keluar dari mulut pria gagah tersebut, “Baginda, dengan tidak mengurangi rasa hormat saya pada anda! Izinkan saya menjelaskan semua permasalahan ini, dan biarkan Clara duduk di tempatnya.” Itulah kalimat yang terucap dari mulut Jiwoo. Sikap Gentleman yang ia tunjukkan terhadap Clara di depan seluruh Raja dan Ratu itu pun mengundang kecurigaan yang semakin besar, sehingga beberapa dari mereka berbisik satu sama lain. Namun Raas mengabaikan bisikan-bisikan tersebut dan tetap fokus menatap pada Jiwoo yang terlihat serius dengan ucapannya. Raas melirik pada Ratu muda nan cantik di hadapannya itu, kemudian ia menganggukkan kepalanya dengan singkat. Memberikan sebuah jawaban jika dirinya mengiyakan permintaan tersebut. Jiwoo yang berdiri di hadapan Raas itu pun memberikan isyarat pada Clara untuk duduk di tempatnya setelah mendapatkan persetujuan dari Raas tadi. “Jadi, cepat jelaskan!” Ucapan itu keluar dari mulut Raas saat dirinya tidak mau menunggu lebih lama lagi. Tuntutan tersebut pun mampu membuat Jiwoo kembali menatap padanya dan menganggukkan kepalanya. Raas dapat melihat Raja gagah di hadapannya itu mengambil napas sedalam yang ia bisa, kemudian menegakkan tubuhnya sebelum mulai menjelaskan, “Mungkin Baginda dan kalian semua yang hadir di sini akan menyebut saya gila, jika saya hanya menceritakan hal ini. Maka saya memutuskan untuk membawa serta bukti dari apa yang akan saya ceritakan pada kalian, termasuk pada anda, Baginda Raas!” Ucap Jiwoo yang kemudian berbalik dari tempatnya, berjalan keluar dari ruang perundingan tersebut. Raas hanya terdiam menyipitkan matanya ketika Jiwoo berjalan kearah ujung lorong dan berbelok ke arah kiri sehingga menghilang dari padangannya. Sementara para Raja dan Ratu lainnya saling menatap kebingungan dengan apa yang sedang Raja itu lakukan. Raas yang masih menunggu kehadiran kembali Jiwoo itu tetap menatap ke arah ujung lorong. Raas pun terdiam saat ia melihat Jiwoo yang kembali berjalan dari ujung lorong di hadapannya menuju ke ruangan itu, kedua mata Raas terbalalak dengan pupil yang melebar dan bergetar saat melihat seseorang yang berjalan, atau lebih tepatnya di tarik oleh Jiwoo agar mengikuti langkahnya. Raas sangat mengenali lelaki itu, tentu saja Raas sangat mengenalinya. Raja dan Ratu lainnya yang tidak bisa melihat lorong di luar ruangan itu, kebingungan saat mereka melihat reaksi dari Sang Raja yang terlihat shock. Namun saat Jiwoo sudah sampai ke dalam ruang perundingan yang megah tersebut, rasa penasaran mereka pun menghilang. Saat melihat kedatangan Jiwoo membawa seorang Raja yang seharusnya telah meninggal dunia satu tahun yang lalu. Rasa tidak percaya pun memenuhi ruang perundingan yang biasanya di gunakan untuk mereka merundingkan masalah-masalah yang terjadi menimpa Kerajaan. Jiwoo berhenti tepat di tengah ruang perundingan itu, ia menatap pada Raas yang kini terdiam dan tidak dapat mengeluarkan satu patah kata pun saat ia melihat Aruba dengan nyata berada di hadapannya. Sring! Sring! Suara desingan dari beberapa pedang yang keluar dari sarungnya itu pun terdengar menggema di ruang besar tersebut. Membuat Jiwoo yang berdiri di samping Aruba, menoleh pada Raja Steven, Raja Robert, Raja Guam, dan Raja Sagiso yang mengeluarkan pedang mereka. Sriingg! Dan hal yang cukup mengejutkan itu terjadi, ketika hampir seluruh Raja muda dari Tanah Valerian itu mengeluarkan pedang mereka secara bersama-sama, saat melihat sang Raja di todong oleh empat Raja lainnya tersebut. Raas yang berada di atas takhta nya itu tidak melakukan apa-apa dan hanya memperhatikan Aruba yang kini menoleh ke arah Raja Steven yang mulai melangkah dari tempatnya. Jiwoo yang mengetahui pergerakan kaki dari Raja tersebut pun segera menoleh dan berucap, “Dia bukan seorang Poltergaist, Steven!” Ujarnya pada Raja Steven. Raas yang mendengar pernyataan dari Jiwoo pun semakin memincingkan kedua matanya, dan kembali mendengar ucapan dari Raja lainnya. “Jiwoo! Jangan tertipu dengannya hanya karena dia mirip dengan Raja Aruba! Ingatlah dia adalah seorang Poltergeist, dan Aruba telah meninggal dunia tahun lalu!” Raja Mart adalah Raja yang baru saja mengatakan hal tersebut, seraya berdiri dari kursinya ia menatap pada Jiwoo dengan sangat serius. Namun Jiwoo sepertinya tidak ingin mendengar ucapan mereka dan percaya dengan keyakinannya, ia pun menghalangi tubuh Aruba saat Raja Mart ikut mengeluarkan pedang miliknya. Keadaan ruangan itu semakin terlihat kacau, Adam yang mengalami hal yang hampir serupa dengan yang Raja Jiwoo alami saat ini pun memilih untuk diam dan melirik pada Raas. Menunggunya mengambil tindakkan untuk meredakan situasi saat ini. “Baginda!” Itulah yang Adam ucapkan pada Raas yang memang dekat dengan tempat duduknya. Membuat Raas tersadar akan situasi itu dan segera menghentikan semua yang terjadi di ruangan tersebut dengan berteriak. “Turunkan senjata kalian semua!” Teriakan Raas itu mampu membuat mereka semua melirik padanya dan segera menurunkan pedang mereka kembali ke dalam sarungnya. Meskipun tangan mereka tetap bersiaga pada gagang pedang yang bertengger di pinggang mereka itu. Raas kembali duduk di atas singgasana nya dan menatap pada Jiwoo serta Aruba yang kini kembali menatap padanya. “Jiwoo! Bawalah Aruba untuk mendekat padaku!” Itulah perintah yang di ucapkan oleh Raas yang sukses membuat mereka semua terkejut, termasuk Adam yang kini menoleh dengan cepat pada sang Raja. Karena bagaimanapun juga, meskipun Adam telah percaya jika Find yang tadi ia temui bukanlah Poltergeist, tetapi ia belum dapat memastikan apakah sosok Aruba di hadapan mereka ini juga bukanlah Poltergeist. Jiwoo menganggukkan kepalanya dengan patuh, kemudian menoleh ke arah Aruba yang ikut menganggukkan kepalanya dan berjalan tanpa paksaan menghampiri Raas. Aruba yang saat itu berjalan menghampiri Raas, tidak pernah mengalihkan tatapannya sedikitpun dari sang Baginda yang ada di hadapannya itu. Dan hal tersebut membuat Raas merasakan sebuah perasaan yang aneh di dalam dirinya. “Apakah…” “Jadi, sepertinya anda dan Adam telah bertemu dengan Find tadi siang. Benar begitu, Baginda?” Raas terdiam saat pertanyaan itu berhasil memotong ucapannya. Pertanyaan yang keluar dari mulut Aruba yang kini menatapnya dengan sangat serius. Yang juga berhasil membuat seisi ruangan terdiam tidak mempercayai pertanyaan yang baru saja keluar tadi. Tetapi keterkejutan mereka itu belum apa-apa, karena setelah jawaban itu mereka semua semakin merasa terkejut saat melihat bagaimana Raas yang menganggukan kepalanya, membenarkan pertanyaan dari Aruba itu. Raja Steven yang memang tidak kembali duduk di kursinya, memincingkan kedua matanya menatap pada Aruba. Sementara Raja Mart, Raja yang sebenarnya bukan jajahan Raas itu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan untuk menghampiri Raas. Ia bersiaga di dekat takhta temannya itu karena ia takut jika ada sebuah hal tak terduga yang tiba-tiba terjadi menimpa sahabat dekatnya itu. Raas yang masih menatapi Aruba dengan sangat serius saat itu pun mengajukan sebuah pertanyaan yang tidak pernah di duga oleh siapapun yang ada di dalam ruangan itu. “Dimana Find?” To be continued
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN