Dalam dunia percintaan, tak hanya diisi oleh adegan romantis, gombalan sosweet dan cemburu. Ada juga satu perasaan yang suka tiba – tiba saja datang tanpa diundang, yaitu;kangen.
Tak hanya yang memiliki pasangan, kangen juga selalu datang kepada siapa saja. Seorang anak yang jauh diperantauan tiba – tiba kangen sama orang tua. Tukang odong – odong yang kangen sama anak – anak. Karyawan yang kangen nunggu gajian. Bahkan sampai tukang ojek yang kangen sama penjual gorengan. Kangen mau ngutang sebenarnya.
Orang yang dilanda rasa kangen biasanya cenderung selalu resah. Setiap harinya, selalu merasakan keresahan. Mau makan inget doi, mau mandi inget doi, Cuma pas mau selingkuh aja ingetnya Melody. #lah
Kangen yang paling nggak enak adalah kangen sama mantan. Coba bayangkan, ketika sedang boker. Lagi asik ngeden. Tiba – tiba kangen mantan. Ngeden lagi. Kangen lagi. Semakin ngeden. Semakin kangen. Gitu aja terus sampai ambien.
Merasakan kangen sama mantan itu rasanya kayak dibunuh secara perlahan, tau – tau besoknya lo udah mati aja. Apalagi kalau mantan lo adalah tipe orang yang ngangenin. Biasanya, kangen sama mantan itu selalu bercampur dengan rasa gengsi, mau bilang kangen gengsi, takut disangka masih ngarep. Akhirnya nggak enak makan, nggak enak tidur, kepikiran terus, ujung – ujungnya begadang semalaman. Lalu besoknya masuk angina. Nah, ini yang bikin kerokan selalu mujarab buat ngilangin masuk angin. Ya, orang – orang kayak lo itu.
Gue pernah Tanya sama salah satu temen cewek gue dikampus yang cakepnya biadab banget “Orang yang ngangenin itu yang kayak gimana sih?” temen gue jawab “Orang yang ngangenin itu, yang orang yang menyebalkan. Kadang bikin sedih, kadang juga bikin senang, terus tiba – tiba ngilang. Kan ngangenin” jawab temen gue “Gara – gara elo Cep, jadinya gue malah kangen sama mantan sekarang.” Dia pergi ninggalin gue dengan gaya balerian ambien.
Berdasarkan jawaban temen gue itu, sekarang gue jadi tau. Kalau ganteng dan cantik aja nggak cukup. Buat lo yang lagi PDKT dengan gebetan, gue sarannin jangan berkorban habis – habisan, tapi, berubahlah jadi orang yang ngangenin. Dengan begitu, pasti gebetan lo akan lo dapatkan.
Terus gimana sih caranya jadi orang yang ngangenin ? caranya nggak terlalu susah dan nggak terlalu gampang juga. Butuh ketekunan dan usaha yang konsisten. Pertama, lo harus jadi orang yang menyebalkan, misalnya, yang biasanya lo ngelap jari bekas ngupil ke baju sendiri, kedepannya, mungkin lo bisa ngelap jari bekas ngupil lo ke baju gebetan. Semakin lo sering melakukan hal itu, akan semakin terlihat menyebalkan lo dimata gebetan. Kedua setelah lo jadi orang yang menyebalkan, sampai gebetan lo mencap lo sebagai orang paling menyebalkan sedunia. Selanjutnya buat gebetan lo sedih, dengan cara ngumpetin sisir bulu ketek punya gebetan lo misalnya. Terus gebetan lo beli lagi sisir bulu ketek. Lo umpetin lagi aja sampai gebetan lo ngerasa sedih banget. Langkah selanjutnya, alias langkah ketiga, setelah gebetan lo sedih, buat dia merasa senang, mungkin bisa dengan cara ngajak dia jalan dan beliin sisir bulu ketek yang baru. Nah, langkah terakhir lo harus belajar menjadi ninja, agar bisa menghilang secara tiba – tiba. Sekian !
Kalau langkah – langkah itu lo lakukan dengan baik dan benar, niscaya, cewek cakep manapun akan dengan mudah lo taklukkan, kalau saingan lo wajahnya dibawah standar lo. tapi kalau saingan lo lebih segalanya dari lo, dia lebih ganteng, lebih keren dan tajir abis. Udah, deh, jangan ngarep ! begitulah ….. yang tampan pada akhirnya selalu kalah dari yang mapan.
Ada satu bentuk persahabatan erat antara kangen dan bulu mata, persahabatan yang mereka jalin melahirkan sebuah mitos, yaitu “ kalau bulu mata jatuh, ada yang kangen “ jika mitos itu benar adanya, gue pengen banget ngangenin Pevita Pearce sampai bulu matanya rontok semua. Lalu gue akan datang ke rumahnya dengan membawa sekarung bulu mata palsu. Dengan begitu, Pevita akan menganggap gue layak jadi calon imamnya. Gue yakin pasti Pevita akan jadi milik gue selamanya.
Tapi, gue juga agak takut sama mitos itu. Gimana kalau tiap hari Feby ngangenin gue sampai bulu mata gue habis ? dengan sangat terpaksa pasti gue akan memakai bulu mata palsu, agar mata gue terlindungi dari debu. Bukan apa – apa, setau gue, semua produsen bulu mata palsu membuat bulu mata palsu khusus untuk cewek dengan efek lentik, kalau gue dan seluruh cowok didunia ini memakai bulu mata palsu pasti akan sangat terlihat feminim. Terus apa bedanya cowok berjakun dengan cowok berpayudara ?
Emangnya enak ngeliat Ariel Noah nyanyi lagu kupu – kupu malam sambil ngedip – ngedip manja, atau ketika datang ke tempat gym yang biasanya dipenuhi cowok – cowok berotot kekar. Karena mitos itu, tempat gym jadi berubah menjadi tempat berkumpulnya cowok – cowok bermata lentik. Dunia ini pasti akan sangat menyeramkan.
Dan yang lebih menyeramkan lagi, kita nggak akan bisa bedain, mana cowok tulen dan mana cowok KW . Serem banget. Mudah – mudahan mitos ini hanya cerita yang dibuat – buat.
Rasa kangen biasanya sering banget dirasakan sama pasangan yang LDR ( Long Distance Relationship ) mereka nggak akan bisa bertemu dengan pasangannya setiap hari, apalagi kalau sampai menjalin hubungan internasinal. Indonesia – Zimbabwe misalnya, gue yakin, bukan cuma kangen yang menumpuk. Tapi kangen mereka juga bakalan berat diongkos.
Untuk mengatasi rasa kangen itu, biasanya pasangan LDR rajin berkomunikasi. Entah itu lewat SMS, telepon atau Video call tengah malam. Menurut gue ini enak banget, video call midnight, bonus kuota lebih berlimpah, kecepatannya juga bagus, jarang ngelag dan lebih sunyi lagi. Grrr….
Perihal masalah LDR, gue juga pernah mengalami hubungan itu, rasanya nggak enak banget. Waktu itu, kampus gue dan kampus Feby mengadakan program magang. Feby ditempatkan magang di kota Surabaya, sementara kampus gue, menempatkan gue magang di kota Bandung.
Sama seperti pasangan LDR pada umumnya, gue dan Feby berjanji akan saling setia dan selalu berkomunikasi. Tapi, baru aja sebulan program magang gue jalani, rasa insecure dan curiga menghampiri gue. Apa Feby bakalan setia ? Apa Feby kuat menjalani hubungan LDR ini ? Apa gue punya cukup kuota untuk berkomunikasi dengan Feby.?
Tapi, rasa insecure dan curiga itu seketika hilang, saat gue baca pesan Feby “Semangat sayang, jangan sampai telat datang ke tempat magangnya, lho.” Ya satu – satunya yang nggak berubah saat hubungan LDR adalah perhatian dari Feby. Untuk sesaat gue yakin, kalau hubungan kami akan berjalan lancar sampai program magang ini selesai.
Tapi, keyakinan itu hanya mampir sesaat. Malam itu, saat gue lagi asik makan sambil nonton tivi yang acaranya dibawakan oleh Om Mario Teguh, gue dibuat was – was dengan perkataan Om Mario Teguh “Didunia ini hanya 5% yang berhasil menjalani hubungan LDR. 95% sisanya gagal, penyebabnya adalah orang ketiga.”
Perkataan Om Mario Teguh bikin gue siaga satu. Gue harus meningkatkan system pertahanan dan perhatian, juga harus mengeliminasi segala kemungkinan yang bisa menyebabkan orang ketiga masuk kedalam hubungan kami. Gue yang biasanya menelepon Feby sehari sekali, kini jadi lebih rajin nelepon Feby, jadi dua puluh belas kali sehari. Ya biarpun resikonya, gue harus bolak –balik ke konter untuk mengisi pulsa. Endingnya? jatah gue semakin menipis.
Awalnya Feby bisa menerima sikap gue yang cenderung overprotektif, tapi lama kelamaan Febu juga mulai merasa rishi. Rasa takut kehilangan yang gue tunjukkan justru membuat kami seling ribut, dan akhirnya perlahan – lahan Feby mulai menjauh dari gue.
Karena sikap gue itulah, gue jadi ngerasa kalau hubungan gue sama Feby nggak kayak sepasang kekasih. Tapi lebih mirip debt collector dan nasbah macet kredit. Gue kejar . dia malah lari. Gue kerjar lagi. Dia lari lagi. Semakin gue kerjar. Dia semakin lari. Udah tau lari, kok, dikejar ?
Pernah suatu waktu Feby menghilang dan nggak mengabari gue selama seminggu. Gue ngerasa sikap Feby udah keterlaluan. Gue coba telepon dia, tapi nggak diangkat. Gue telepon lagi, masih nggak diangkat. Selama tiga jam gue coba menelepon Feby, tapi hasilnya nihil, dan nggak ada jawaban. Akhirnya gue lebih memilih menyerah, ternyata terus – menerus curiga itu melelahkan, gue lebih memilih buat ngasih kepercayaan sepenuhnya sama Feby dan memberinya ruang gerak. Ternyata mempertahankan pacar itu sulit banget, ibarat menggenggam capung. Terlalu longgar capungnya malah kabur, terlalu erat capungnya malah koit.
Gue pun mulai membiasakan diri tanpa berkomunikasi dengan Feby. Gue berpikir, mungkin, hubungan gue dan Feby akan berakhir seiring dengan berakhirnya program magang.
Seminggu setelah program magang selesai, Feby nggak ada menghubungi gue. Beberapa kali gue coba menghubungi dia tapi nomornya nggak aktif. Gue datengi kampusnya, tapi dia nggak ada disana. Terakhir gue dateng ke rumahnya, orang tua nya jawab “Feby masih di Surabaya, belum pulang ke Bandung, Cep.” Gue bingung apa yang harus gue perbuat.
Dari hati yang paling dalam, harus gue akui, gue ….. kangen Feby. Bahkan saking kangennya, gue selalu mencoba menghubungi balik semua nomor setiap menemukan Missed call. Seperti sore itu,saat gue selesai mandi, gue menemukan ada dua panggilan tak terjawab di handphone. Tanpa menunggu lama, gue langsung telepon balik nomor itu.
“Hallo, dengan siapa ini ?” Tanya gue, sesaat setelah panggilan gue diterima
“Hallo, Cep, ini dengan Sutamto, teman SMP kamu dulu, apa kabar Cep ?”
“Allahmdullilah kabar sehat, Bro.” jawab gue “Eh, tumben nelepon ada apa?”
“Jadi gini Cep, saya mau menawarkan bisnis yang menjanjikan, yang bisa menghasilkan keuntungan yang besar.”
“Bisnis gimana maksudnya ?”
“Kamu gabung dengan bisnis saya, terus kamu ngajak dua orang untuk gabung, dengan begitu, uang akan bekerja untuk kamu, Cep”
“Duh, jangankan ngajak dua orang, ngajak pa…….” belum sempat gue meneruskan kalimat, Sutamto langsung ngomong “Nah, kenapa nggak kamu ajak aja pacar kamu, Cep. Ayo dong ikutan bisnis yang menjanjikan ini.”
*PIP* Gue mengakhiri panggilan.
Cih, gue merasa terhina dengan tawaran bisnis MLM dari Sutamto. Demi mengejar target, dia rela memanipulasi kegalauan gue dengan mengajak gue gabung dibisnis MLM nya. Bukan apa – apa, setau gue, nggak ada orang yang kaya dengan ikutan bisnis MLM, yang ada malah bikin orang lain merana.
Gue masih inget banget dulu, saat semester satu ada agen MLM yang pernah nawarin ke kampus gue. Dan kata – kata yang sering mereka ucapkan “Hanya dua orang, anda bisa kaya.” Kaya dari Hongkong, elo aja nggak kaya –kaya, gimana gue mau percaya ? atau “Mulai sekarang, uang akan bekerja untuk anda.” Lo pikir uang punya ijazah buat ngelamar kerja ? daftar TK aja mereka nggak pernah.
Gue emosi kalau udah ngomongin MLM, kalau sampai suatu saat dijalan gue ketemu sama agen MLM, bakalan gue teriakin mereka “Mana katanya lo udah kaya, kok masih jalan kaki, bukan naik mobil.
Nah, saat emosi mulai memuncak, tiba –tiba ada panggilan dari nomor nggak dikenal lagi masuk ke handphone gue “Belum nyerah juga ini agen MLM.” Ucap gue, mengepalkan tangan.
“DENGERIN, YA ! LO AJAK DUA ORANG, DAN NGGAK USAH NGAJAK – NGAJAK GUE. DASAR MULTIKAMPRET LEVEL MARKETING !!!!” teriak gue, sesaat setelah gue terima panggilan itu.
“Hallo sayang… ini aku, Feby.” Jawab suara lembut diseberang sana
“Hah ?” gue kaget, ada hening beberapa detik “ Mau nawarin bisnis MLM juga?”
“Hah ? bisnis MLM ??” Tanya Feby memastikan kewarasan otak gue.
“Hehehe becanda deh..” gue salah tingkah
“Sayang, nanti malem ke rumah ya, aku udah di Bandung lagi, pengen ketemu dan pengen banyak cerita sama kamu.”
Mendengar kabar dari Feby membuat gue senang nggak kepalang, saking senangnya, pake celana aja sambil salto *lebay*.
Singkat cerita, jam 19.00 WIB gue udah sampai dirumah Feby, dia juga lagi anteng duduk dikursi teras rumahnya. “Sayang, aku kangen banget sama kamu, di Surabaya, nggak ada yang nyebelinnya, senyebelin kamu.” Ucap Feby, sesaat setelah gue duduk disampingnya.
Malam itu Feby banyak bercerita tentang pengalaman magangnya di Surabaya, begitupun gue. Akhirnya setelah terpisah cukup lama, gue bisa melepas rasa kangen sama Feby.
Ada pelajaran berharga yang bisa gue ambil dari pengalaman hubungan LDR yang pernah kami jalani. Ternyata kangen yang bercampur dengan rasa curiga itu nggak baik. Bukannya malah membuat pasangan nyaman, tapi malah membuat pasangan tertekan. Memberikan kepercayaan penuh pada pasangan juga perlu, karena secara tak langsung, pasangan akan merasa dihargai.
Seharusnya rasa kangen itu jangan dilawan, karena semakin dilawan malah jadi semakin kangen. Harusnya rasa kangen itu bisa kita nikmati, karena saat kita bertemu dengan pasangan dengan diiringi rasa kangen yang menumpuk, kita akan jadi lebih menghargai menghabiskan waktu bersama pasangan. Rasa kangen yang menumpuk akan terbayar lunas, saat kita bertemu dengan pasangan, dan melihatnya tersenyum kearah kita.