Helena menelan saliva. Bisikan lelaki itu bak angin surga yang berusaha meruntuhkan benteng pertahanannya. Semakin hari, pria itu semakin kurang ajar. Semakin menegaskan kalau pekerjaan sebagai penerjemah ialah alasan yang dibuat – buat demi mendapatkannya. Kata – kata Julian tadi bak bualan saja bagi Helena. Dia yakin, pria itu memiliki banyak wanita yang bentuk tubuhnya lebih seksi dan menggoda. Helena menduga, mungkin ada sesuatu dalam dirinya yang membuat Julian penasaran. Sehingga menempatkan Helena di dekat lelaki itu, agar lebih mudah mencari tahu. Apa yang sebenarnya kamu inginkan dariku? Batin Helena. Lelaki itu pergi dan Helena masih terdiam di tempat. Beberapa kali dia menarik napas. Dia tepikan amarah yang bisa saja menjeratnya untuk mengambil tindakan bodoh. Helena lantas

