Julian berlagak menjadi sosok pria yang baik. Dia mengantarkan kekasihnya ke tempat kerja, memberinya kecupan, dan akan sebelum perpisahan. Seperti yang dia pelajari dari kehidupan orang - orang di sekitarnya. Seumur - umur, Julian tidak pernah melakukan hal semacam itu. Kehidupan percintaan baginya hanya fana saja. Itu yang dia pikirkan sebelum bertemu Helena. Kini, dia ingin mengubah statement yang pernah tertancap di kepala dengan menjalani kehidupan layaknya manusia. “Aku akan menjemputmu nanti,” kata Julian sesaat setelah Helena turun dari mobilnya. “Oke. Aku akan menelponmu saat pekerjaanku sudah selesai.” Helena tersenyum, lalu melambaikan tangan seiring langkah mundurnya. Julian membalas sekadarnya. Dia tutup kembali kaca jendela dan bergegas pulang. Dalam hati dia meyakini kal

