Kelembutan senja memeluk ufuk barat langit Bali. Di tempat aku dan Nadia berada, aku terpana menyaksikan kebesaran Tuhan dalam tiap ciptaan-Nya. Kulihat Nadia memejamkan mata dan menengadah sembari merentangkan tangannya. Aku tersenyum dan merasa terpanggil untuk mengabadikan dua keindahan sekaligus yang ada di depan mata. Keindahan yang baru beberapa hari ini kusadari dari istri pertamaku juga keindahan swastamita* yang sebentar lagi akan berganti dengan gelapnya malam. Beberapa kali aku mengambil foto Nadia. Pantulan cahaa jingga membuat foto terlihat eksotik. Dia tidak tahu jika aku telah mengabadikan semuanya di dalam ponselku. "Yuk. Magrib," ajak Nadia. Aku mengangguk dan beranjak dari sebuah bangku panjang. Tidak lagi terlihat orang tua serta mertuaku di bangku yang mereka duduki

