Sany meninggalkan Vino begitu saja, ia ingin segera keluar dari gedung milik pria kurang ajar itu ia tidak peduli meski managernya itu memanggil namanya berkali-kali. Hingga ia memberi isyarat Vino untuk membuka mobilnya. Suara pintu mobil yang di tutup dengan kasar membuat Vino terdiam menatap Sany dengan tidak mengerti. Keduanya saling diam karena Vino tahu Sany bukan orang yang bisa diajak berbicara saat emosinya meluap. Dddddrrrrrtttttt ... dddrrrrrtttt .... "Halo Pak Lucas," Vino menjawab telepon dari pria itu dan membuat Sany membulatkan mata menatap tajam pada pria di sampingnya. "Baik, iya baik. Untuk teknisnya kita bisa bahas setelah semuanya siap." Vino menatap Sany dengan pandangan penuh misteri, "Baik, terima kasih." Vino menutup teleponnya sementara Sany masih menatap pr

