Sany sudah berada di sebuah perusahaan produksi di mana ia di minta untuk datang dan melakukan casting. Vino adalah orang yang tidak pernah absen menemani Sany kemanapun wanita itu pergi bukan hanya karena pekerjaan yang mengharuskannya melakukan hal itu tapi juga karena Sany tidak memiliki orang lain selain dirinya.
Wanita itu sedikit gugup namun ia menutupinya hanya agar terlihat profesional bahkan di depan Vino sekalipun. Keduanya sudah menunggu selama 20 menit namun Sany memang datang lebih awal karena terlalu bersemangat padahal biasanya Vino akan mengeluh karena harus membangunkan wanita itu dengan susah payah.
"Jangan lupa naikin gaji gue kalo projek ini sukses." Bisik Vino di sela kebosanan keduanya.
Sany tersenyum melirik sahabatnya sekilas, "Jangankan gaji, lo bahkan gue bolehin nginep di apartemen gue."
"Itu privilege? gue gak butuh, yang lain aja!" Vino mengibaskan tangannya di depan Sany.
"Liburan selama seminggu, deal?"
"Deal!!" akhirnya ada satu hari dalam hidup Vino di mana ia tidak direpotkan dengan segala urusan Sany dan keribetan hidupnya selama ini.
"Yes! gue mau ke Bali aja yang deket."
Sany mengangguk sambil terus tersenyum, "Bali boleh juga, yahh walaupun gue udah sering ke sana."
"Anjing! lo ikut?"
"Semangat Vin, bentar lagi kita liburaaannn." Pekik Rania dengan suara paling pelan yang ia mampu.
Vino hanya bisa menggeleng karena ulah sahabatnya itu, ia sepertinya memang tidak diperbolehkan bersenang-senang sendirian tanpa Sany. Lagipula Sany memang tidak memiliki banyak teman jadi akhirnya ia akan menghabiskan lebih banyak waktu bersama Vino. Meskipun terus mengeluh tentang satu dan lain hal, Vino mencintai pekerjaannya ini.
"Sany Andriana?"
"Silahkan ikut saya." Seorang wanita dengan setelan formal menyapa Sany dan memintanya untuk ikut dengannya menuju ruangan produser yang Sany tuju.
Kantornya cukup besar dan memiliki banyak pegawai yang tampak sibuk mengerjakan bagiannya masing-masing sementara Sany melenggang di koridor dan berpapasan dengan beberapa orang yang terpesona dengan dirinya hingga menoleh beberapa kali.
Sany datang untuk menemui seorang produser yang ia temui pada acara Bank CN tempo hari di mana pria itu kini tengah duduk di kursinya dengan santai merebahkan punggungnya pada sandaran yang nyaman dan menyambut Sany ketika wanita tadi meninggalkannya di ruangan tersebut. Pria itu mengenakan jas hitam dengan kemeja putih yang kancingnya sengaja ia buka hingga dadanya yang berbulu nampak jelas.
Sany mengernyit ketika pria itu mendekat dan merangkulnya seolah keduanya adalah teman lama meski hal seperti ini tidak asing baginya. Lucas adalah pria berdarah Italia yang memiliki garis wajah tajam dan tinggi kurang lebih 190cm, tatapannya selalu seperti itu seolah menelanjangi lawan bicaranya hingga setiap orang menjadi gugup.
"Silahkan duduk." Pintanya sambil tersenyum.
Sany kemudian duduk di depan pria bernama Lucas tersebut namun tatapan yang pria itu berikan membuatnya sedikit tidak nyaman. Lucas menatap Sany dari atas hingga bawah dengan jenis tatapan yang aneh.
"Sany Andriana, seorang model yang sekarang mulai banyak tawaran untuk main film, well untuk di dunia model sendiri nama kamu patut diperhitungkan."
Sany hanya bisa tersenyum mendengar pujian yang dilontarkan untuknya hanya saja Sany merasa ada yang aneh atau tidak nyaman dari pria di depannya ini hingga ia berkali-kali menghindari eye contact yang pria itu lakukan.
"But, Sany ... kamu tentu tahu film kali ini disutradarai oleh seorang Narayan Adijaya dan itu tentu kelasnya berbeda dengan film kamu sebelumnya." Lucas menggerakkan kakinya agar saling tumpang tindih dengan kedua tangan yang ia sandarkan juga pada sofa.
"Iyaa Pak Lucas-"
"No, no, no, no!" pria itu menginterupsi ucapan Sany, "Panggil saya Lucas."
"Ah, baik. Saya tentu tahu bagaimana film yang Pak Narayan buat selalu menjadi box office dan suatu kehormatan besar jika saya bisa bermain untuk filmnya."
Lucas mengangguk kemudian berdiri dari duduknya, pria itu memang mempesona namun terlihat berbahaya. Sany sudah tahu sejak pertama bertemu dengannya beberapa waktu lalu namun ia tidak bisa menghindar ketika tawaran besar datang bahkan dari seseorang yang ingin ia hindari.
Lucas membungkuk ketika ia sudah berada di belakang Sany, pria itu mengusap rambut Sany dan mencium ujungnya hingga membuat Sany bergerak dan berpindah posisi untuk melindungi dirinya.
"Tolong jaga etika anda!!" Sany mengeratkan giginya hingga terdengar bunyi dari mulutnya sendiri.
Wanita itu ketakutan dan terkejut, meski ia sering melakukan sentuhan saat melakukan pemotretan bahkan beradegan mesra saat shooting namun apa yang Lucas lakukan adalah hal yang berbeda.
Pria itu tampak tidak terkejut dengan respon yang Sany berikan ia bahkan tampaknya tidak terpengaruh dengan ucapan wanita itu, langkahnya kemudian membawa Lucas kembali ke tempat duduknya menatap Sany yang marah pada apa yang ia lakukan.
"Well, saya pastikan kamu bisa jadi pemeran utama tanpa perlu casting lagipula ini bukan kali pertama kamu akting jadi saya yakin kamu bisa melakukannya tapi kamu tidak bisa menolak untuk bertemu saya sesering yang saya inginkan."
Lucas lagi-lagi tersenyum miring yang bagi Sany tampak menakutkan seolah pria itu adalah jelmaan iblis yang bisa membaca pikiran Sany saat itu juga. Ambisi Sany membuatnya kesulitan mengambil keputusan, satu sisi ia tidak ingin berurusan dengan pria menakutkan ini namun sisi ambisiusnya mengharuskan Sany untuk melakukannya.
"Kesempatan ini tidak datang dua kali. Kamu tahu betapa pemilihnya saya terhadap orang-orang yang bekerja sama dengan saya."
Sany tetap diam, kali ini ia tidak menolak tatapan tajam dari pria bernama Lucas itu. Sany yang marah mampu melawan aura menakutkan dari matanya hingga Lucas pun hampir terkejut. Ia tidak pernah kalah dalam permainan saling menatap ini namun Sany sepertinya sama kuatnya dengan dirinya.
Lucas penasaran bagaimana wanita itu akan bereaksi ketika ia menaklukannya dan Lucas tidak pernah gagal dengan rencananya sendiri.
"Saya anggap kamu setuju."
Lucas kemudian bangkit dari sofa dan kembali ke kursi kerjanya semula membiarkan Sany tetap duduk di sana dengan tatapan yang sama.
"Kontraknya akan saya kirim ke manager kamu." Ucap Lucas ketika Sany hendak pergi dan berbalik badan tanpa mengucapkan apa pun lagi.
Sany hampir meledak karena merasa di lecehkan, ia bahkan menggigit bibirnya sendiri hingga meninggalkan bekas dan bodohnya Sany ia merasa gagal membela harga dirinya ketika pria itu bersikap kurang ajar. Langkah kaki Sany menghentak lantai dan menimbulkan bunyi ketika ia membuka pintu dan pergi hal itu membuat Lucas tersenyum meski Sany tidak bisa melihatnya
Lucas, pria berusia 38 tahun yang tampak mempesona di usianya yang sudah matang dengan segala yang ia miliki namun Lucas dan Sany adalah pribadi yang sama-sama tidak menginginkan pernikahan bagi Lucas ia berhak mengatur ke arah mana ia akan hidup, ia juga tidak suka hidupnya di campuri oleh siapa pun termasuk wanita.
Namun dalam perjalannya tersebut ia tertarik dengan Sany, setelah sekian lama Lucas tidak bermain-main dengan emosi wanita ia melihat Sany adalah seseorang yang sepadan untuk ia ajak bermain. Ia tidak sabar melihat bagaimana wanita itu memuja dirinya dan memohon agar Lucas tidak melepaskannya.
Sekertaris Lucas tampak terkejut dengan respon wanita yang baru saja keluar dari ruangan atasannya tersebut, padahal setahu dirinya Sany sudah di tetapkan menjadi pemeran utama untuk film terbaru yang mereka produksi meski beberapa orang menentang Bosnya menginginkan Sany sejak awal. Namun melihat Sany berwajah marah saat keluar ruangan, mungkinkah Lucas berubah pikiran?