Sebuah Permintaan

1115 Kata
Rania tanpa sadar ikut bernyanyi ketika lagu milik Ed Sheeran dimainkan, sebuah lagu romantis yang ingin semua wanita dengar dari pasangannya. Tangan Rania sesekali mencomot French fries dari piring dengan hafal tanpa melihatnya, tatapan wanita itu mengarah ke atas panggung hingga lagunya mencapai klimaks. Wanita itu menoleh ke kiri ketika sebuah benda terasa di sudut bibirnya, Dave ternyata menyodorkan minuman Rania tepat di sampingnya hingga membuat wanita itu tersenyum. "Lagunya bagus?" tanya Dave. Rania menjadi merasa tidak enak karena ia terlalu fokus dengan lagu yang ia dengar, "Ahh aku terlalu serius kayaknya." "Sorry ...." Rania memamerkan deretan giginya yang rapih seperti seorang gadis kecil. Dave hanya tersenyum menanggapi jawaban Rania, matanya tidak berhenti menatap siluet Rania dari samping dan mulai berpikir mengapa semua hal tentang wanita ini terasa pas di dirinya. Seolah Rania mencocokan diri dengan Dave namun pria itu sendiri tahu bahwa itu hal yang tidak mungkin untuk seorang wanita yang berdiri sendiri. Dave selalu merasa dirinya layak untuk wanita manapun namun bersama Rania ia merasa bahwa ia tidak cukup baik, untuk seseorang dengan masa lalu yang hampir sama Rania pasti sulit menerima orang lain lagi dan hal paling luar biasa dari itu semua adalah Dave tidak ingin menyerah, ia masih menyukai Rania meski punya agenda ekstra untuk meyakinkan wanita itu. Lagunya hampir memasuki bait terakhir dan Dave berdiri tanpa mengatakan apa pun pada Rania hingga membuat wanita itu kebingungan dan mengira Dave pergi karena kesal padanya namu pria itu mengarah ke sisi stage dan berbicara dengan vokalisnya lalu ia naik ke atas panggung. Rania bertepuk tangan ketika tahu Dave duduk di kursi yang ditempati vokalis tadi ketika bernyanyi, ia tidak tahu apa rencana Dave namun Rania merasa ingin menyemangati pria itu saja. "Maaf teman-teman semua saya mengganggu waktunya." "Ekhem ...." Dave berdehem memperbaiki suaranya yang tercekat di tenggorokan, padahal berdiri di depan banyak orang bukanlah hal biasa bagi Dave bahkan di depan pejabat penting sekalipun tapi malam ini di hadapannya ada Rania, perempuan yang membuatnya memberanikan diri untuk berdiri di stage semacam ini. "Rania, terima kasih sudah memberi aku kesempatan untuk mengenal kamu. Terima kasih sudah bersedia bersama-sama menghapus luka dari masa lalu." Dave menatap Rania dengan penuh arti hingga membuat wanita itu merasakan ketulusan yang Dave tawarkan. "Hari ini aku enggak bawa cincin juga janji manis untuk hubungan yang selalu baik-baik saja. Tapi Rania, kamu tahu aku berusaha, aku ingin menciptakan bahagia versi aku dan kamu, menjalani semuanya dengan sederhana dan membiarkan takdir Tuhan bergerak dengan sendirinya. Tapi Rania ... terima kasih sudah datang di hidupku yang membosankan ini." Tepuk tangan riuh juga suara sorak dari beberapa orang mengawali tuts keyboard yang dimainkan sebuah lagu romantis dari Badai yang tentu saja ingin di dengar oleh setiap wanita juga. Rania mengenal lagu ini, Dave mengulangnya beberapa kali ketika mereka menaiki mobil pria itu sebuah lagu romantis untuk mengutarakan maksud kepada pasangan, sebuah lagu yang diciptakan karena memikirkan seseorang yang di cintai. Dave masih terus mengulang lagunya, tatapan hangat yang ia berikan pada wanita di sisi kiri itu membuat semua orang tahu untuk siapa lagu itu dinyanyikan. Pun Rania, ia tidak dapat menahan haru mendengar sebuah lagu paling romantis dalam hidupnya seolah setiap katanya diciptakan untuk meyakinkan Rania yang ragu dan seakan liriknya dibuat pas dengan apa yang terjadi antara ia dan Dave. Lagunya berakhir dengan tepuk tangan meriah, suara Dave mungkin tidak sebagus vokalisnya namun ia membawakan lagu tersebut dengan hati sehingga Rania lebih menyukai versi Dave sendiri. Dave berterima kasih kepada semua pengunjung yang mendengarkannya dengan sedikit malu-malu, ia bahkan baru pertama kali melakukan ini, pria itu sedikit membungkuk sebelum ia turun dari panggung dan menghampiri Rania, wanita itu mengusap sudut matanya dengan terburu-buru sebelum Dave menyadari bahwa ia meneteskan air mata. "Hei." Dave duduk di samping wanita itu lagi. "Hei Dave." Rania terkekeh entah kenapa kata yang pertama Dave ucapkan selalu sapaan seperti itu. "Lagunya bagus." "Buat kamu." Dave menatap Rania lembut. Sudahlah, Rania tidak ingin menahan dirinya lagi untuk tidak jatuh cinta pada pria bernama Dave ini. Bagaimana mungkin Rania menolak seseorang yang membuatnya tersenyum setiap kali menatap wajah tampannya juga perhatiannya dan rasa aman yang Dave tawarkan untuk Rania. Rania memukul bahu Dave pelan sebelah tangannya yang lain refleks menutup mulutnya yang mengeluarkan suara tangisan sedang Dave langsung memeluk wanita itu untuk pertama kalinya. Ia benar-benar menjadi pria yang lain, ketika semua mata menaruh perhatian pada keduanya Dave tetap memeluk Rania di depan umum. "Rania ...." Panggil Dave ketika kedua tangannya tengah memegang setir dan matanya fokus ke depan. "Hmm?" jawab Rania cepat. "Jangan merasa terbebani yaa, aku cuma mau ungkapkan hal yang belum aku ungkapkan ke kamu." Dave menatap wanita di sampingnya sekilas, "Juga pelukan tadi, apa aku perlu minta maaf untuk itu?" "Aku tidak menyesal karena melakukannya tapi kalau menurut kamu apa yang aku lakukan sepihak, aku tentu harus tahu diri." Dave seolah mencari jawaban dari pertanyaan samar yang ia berikan, seandainya Rania menginginkan maaf darinya karena ia sudah lancang artinya wanita itu tidak memiliki perasaan yang sama atau mungkin tidak yakin dengan Dave. Lidah Rania kelu, ia bingung dengan jawabannya sendiri meski ia sangat ingin menjawab semua sesuai kata hatinya namun satu sisi dalam diri Rania masih perlu meyakinkan diri lagi entah tentang apa wanita itu menarik ulur dirinya sendiri tanpa sadar, belum lagi Rey yang tiba-tiba muncul kembali bukan membuatnya ingin bersama pria b******k itu lagi namun membuat trauma yang Rania simpan selama ini kembali menguat. "Dave ...." "Ya?" "Aku rasa kamu enggak perlu minta maaf." Pelukan yang Dave berikan membuat Rania merasa aman dan nyaman, meski ketakutannya belum hilang namun Rania tidak ingin menjadi munafik dengan membohongi dirinya sendiri. Sedang Dave tersenyum tipis meski dalam hatinya berbunga-bunga setidaknya ia tidak mencintai wanita itu seorang diri. Sejauh ini, mengetahui hal itu saja sudah cukup. Hari ini keduanya melangkah lebih jauh, melewati satu step awal di mana banyak ketakutan menghantui diri masing-masing namun keduanya mencoba menghapuskan hal itu. "Ah, Rania ... kamu ingat Ibu ajak kamu buat main ke rumah." Ucap Dave ketika pria itu mengantar Rania hingga ke depan pintu rumahnya. "Mm ... iyaa Dave." "Minggu depan, bisa?" "Ahh ... Hehehe." Rania mengusap tengkuknya sendiri, "Itu bukannya basa basi aja yaa Dave?" Dave menggeleng pada wanita itu sambil tersenyum, kedua tangannya ia masukan ke dalam celana yang ia kenakan. Bahkan dalam keadaan gugup sekalipun Rania masih sempat memperhatikan gerakan kecil yang Dave buat. "Aku rasa Ibu enggak basa basi untuk hal semacam itu." "Ahh ... gitu yaa." Rania masih tampak kebingungan dan gugup tentu saja. "Cuma ketemu dan ngobrol aja Rania, biar Ibu juga kenal kamu." "Iya Dave." Rania akhirnya mengiyakan ajakan tersebut. Keduanya tersenyum saling memandang sebelum akhirnya sama-sama kalah dalam permainan menatap. Dave pamit pulang setelah mengucapkan selamat malam pada wanita cantik itu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN