Rania menatap layar ponselnya sebelum memegang benda yang tergeletak di meja itu, nomor yang sama masih terus menghubunginya dan membuat Rania sedikit ketakutan karena ia tahu Rey pasti mendatanginya lagi.
Ponselnya kembali bergetar namun kali ini bukan dari Rey, wanita itu perlu menarik nafas dalam agar terdengar baik-baik saja dan melatih senyumnya meski siapapun penelepon di seberang sana tidak akan melihatnya.
"Hai Dave." Rania menyapa pria itu lebih dulu ia terus berusaha mempertahankan senyumnya karena bisa saja Dave khawatir.
Pria itu menarik nafas lega karena Rania menjawab panggilannya, "Aku seneng kamu baik-baik aja."
"Hmm, berkat kamu."
Keduanya kemudian terdiam, sepertinya kejadian tadi menimbulkan cukup banyak pertanyaan juga dalam benak Dave namun Rania masih menahan diri untuk bercerita. Ia mungkin pernah bercerita soal alasan kenapa dirinya gagal menikah juga karena pasangannya yang seorang Gay namun Dave tidak tahu bahwa Rey adalah pria yang dimaksud.
"Malam ini ada waktu?"
"Ya?"
"Ada banyak." Canda Rania sambil tertawa kecil.
Tawa Rania ternyata masih menular hingga mencairkan suasana diantara keduanya, "Jam 8 aku jemput ke rumah kamu ya."
"Jam 8 ... oke!" Rania berpikir sejenak sebelum mengiyakan, bukan karena ia tidak ingin pergi dengan Dave hanya saja ada pekerjaan yang belum ia selesaikan tapi sepertinya hari ini bisa menjadi pengecualian.
"Ahh Rania."
"Hmm?"
"Pakai baju santai aja, kamu udah cantik kok!"
Dave menepuk dahinya sendiri setelah mengeluarkan gombalan spontan yang ia miliki, ia tidak tahu asalnya dari mana kata-kata semacam itu yang jelas Dave tersipu sendiri dengan apa yang ia ucapkan.
Dave tidak menyadari bahwa ada orang lain juga yang merasakan hal yang sama, di usia Rania yang bukan lagi remaja rasanya pujian semacam itu adalah hal yang biasa ia dengar dari banyak orang tapi kenapa terasa berbeda ketika Dave yang mengatakannya?
"Chel, tolong urus sisanya yaa. Saya pulang lebih awal."
Rania menepuk bahu Rachel yang tengah serius menatap komputernya, bosnya itu terlihat buru-buru padahal waktu masih menunjukkan pukul lima sore dan Rania sangat jarang pulang lebih cepat seperti hari ini. Ia bahkan harus Rachel paksa pulang setiap kali masih sibuk di ruangannya sementara semua karyawannya sudah pulang lebih awal.
"Oke." Jawab Rachel pada dirinya sendiri.
Rania mengendarai mobilnya dengan perasaan senang, ia bahkan terus berpikir baju santai seperti apa yang Dave maksud dan memikirkan pakaian yang ia miliki satu persatu. Seharusnya ada diantara semua baju yang bertumpuk di lemarinya.
"Cari apa Non?" tanya Mbok Narsih ketika Rania langsung membuka lemari pakaian dan mematut dirinya di cermin beberapa kali.
"Mbok, Rania mau pergi tapi enggak ada baju. Gimana dong?" jawabnya dengan gaya manja seperti Rania biasanya.
Mbok Narsih tampak bingung dengan pernyataan bosnya itu ketika ia melihat tumpukan baju bersama gantungan bajunya di atas tempat tidur dan wanita itu masih berkata ia tidak punya baju?
"Memangnya Non Rania mau pakai baju yang seperti apa?" Mbok Narsih dengan sabar meladeni Rania.
"Baju santai Mbok, yang biasa aja gitu loh."
"Oalah Non, kalau gitu pake kaos sama celana jins aja. Non Rania toh sudah cantik jangan pusing sama pakaiannya Non."
Mbok Narsih ada benarnya juga, lagipula Rania tidak ingin dianggap terlalu antusias jika memakai sesuatu yang berlebihan padahal Dave sudah memintanya untuk terlihat santai.
"Apa selama ini pakaian gue kurang santai buat Dave?" Rania bergumul dengan pemikirannya sendiri meski ia sedang berendam di bathtub dan mencoba rileks.
"Apa Dave ngira gue terlalu glamor?"
"Atau Dave ngira gue pamer?"
"Hahh!" Rania membuang nafasnya kesal, wanita itu menjadi semakin overthinking padahal Dave bahkan tidak mengatakan apa pun.
"Oke cukup Rania waktunya siap-siap." Wanita itu memutuskan untuk berhenti menjadi si pemikir dan mulai beranjak dari bath tub miliknya.
Rania ternyata memang menjadi yang paling antusias ketika waktu masih menunjukkan pukul 19.30 dan ia sudah duduk di ruang tamu menunggu satpam memberitahunya jika ada tamu yang datang. Wanita itu mengenakan tanktop putih dengan outer transparan berwarna hitam selutut dan celana blue jins namun Rania tetap menggunakan heels sebagai bagian dari outfitnya meskipun haknya tidak terlalu tinggi.
Pukul 19.45 dan Rania mulai tidak sabar padahal sesuai janji Dave akan menjemput dirinya pukul 20.00 namun Rania tidak bisa diam dan terus berjalan ke sana ke mari.
Ttok ttookkk ttoookkk
Rania terkejut ketika pintu besar di rumahnya di ketuk, seketika itu juga tubuh Rania terasa lemas dan berkeringat. Ini adalah kali pertama Dave datang ke rumahnya dan lagi-lagi segala hal yang berhubungan dengan Dave selalu membuat Rania bertingkah aneh.
"Non, ini-"
"Iya Mang Ali. Makasih yaa." Rania tersenyum sambil memotong ucapan satpam yang berjaga di rumahnya.
Ini adalah kali kedua Dave menjemput Rania, ia berdiri di depan Rania dengan pakaian santai yang ia maksud, pollo shirt dan celana katun berwarna cream yang membuat Dave tetap saja terlihat spesial bagi Rania.
"Ahh, kita pergi sekarang." Ajak Dave.
Rania mengangguk kemudian berteriak untuk pamit pada Mbok Narsih yang sedang menonton televisi di ruang tengah.
"Siapa Mbok Narsih?"
"Ohh, yang kerja di rumah." Jawab Rania sambil masuk ke dalam mobil.
"Kamu akrab yaa sama pegawai rumah."
"Kalau enggak sama mereka, aku pasti sendirian Dave. Mbok Narsih sama Mang Ali itu udah kerja sejak aku punya rumah ini."
"Barulah aku tambah dua pegawai lainnya biar mereka enggak kesepian." Rania terkekeh sendiri.
"Oh yaa, seru dong. Aku juga ada Bibi di rumah yang udah ikut kita sejak aku bayi jadi kadang aku anggap ibuku ada dua."
"Wahh cerita kita enggak jauh beda yaa."
Keduanya tertawa menceritakan banyak hal sepele lainnya hingga tentang Mang Ali yang latah atau tukang kebun yang membuat tanaman bonsai milik Rania menjadi gundul. Sementara Jakarta sangat cerah meski sedikit macet namun keduanya sampai di tempat yang Dave tuju tepat waktu.
Tempat itu adalah sebuah lapangan dengan banyak food truck yang menjual aneka jajanan di sekelilingnya diterangi dengan lampu tumbler dan beberapa pernak pernik juga payung yang sengaja di gantung pada tali.
"Dave, aku baru tahu ada tempat kayak gini!" Rania terkejut barangkali selama ini ia kurang up to date terhadap tempat anak muda semacam ini.
Dave tersenyum, suara musik terdengar dari tengah keramaian sebuah panggung kecil di bangun untuk mereka yang ingin bernyanyi atau sekedar menikmati suara vokalisnya yang serak dan merdu. Seorang pria tengah menyanyikan lagu romantis dari Yovie And Nuno yang berjudul Janji Suci, sebuah lagu lama yang masih enak untuk di dengar.
Rania dan Dave memilih mejanya kemudian pria itu dengan senang hati memesan semua makanan yang Rania tunjuk dan ingin cicipi sementara Rania menikmati alunan musik yang terdengar juga langit malam yang mendadak tampak sangat cantik hingga dapat mengalihkan perhatian Rania.
Gadis itu mengedarkan pandangan mencari Dave bersamaan dengan Dave yang menoleh dan melambai pada Rania. Ahh lagi-lagi, Dave tidak tahu bahwa ia bisa juga melambaikan tangan pada seorang wanita.
Rania beruntung mengenal pria itu, seseorang yang baru ia temui namun sepertinya sudah mengambil separuh hati Rania dengan cara yang tidak terduga.
"Dave ... apa kamu layak untuk aku percaya?"