Calon Istri

1127 Kata
"D-dave?" Rey tampaknya sedikit terkejut namun lama kelamaan ia malah tertawa seperti orang kurang waras Dave bahkan sampai melepaskan tangannya pada lengan Rey kemudian menarik Rania agar berada di belakangnya. Setidaknya berada dalam jangkauan Dave membuat wanita itu merasa cukup aman. "Jangan bohongin gue, Rania itu enggak mungkin bisa jatuh cinta sama cowok lain!" jelasnya dengan percaya diri. Rey bertolak pinggang dan menatap Dave dengan cara merendahkan seolah dirinya adalah yang paling superior. Ia merasa menjadi yang paling lama mengenal Rania sehingga tahu bagaimana wanita itu dsn hatinya. Namun Dave tetap tenang meski pria itu cukup menguras emosinya. "Oh ya? saya rasa kamu tidak cukup mengenal Rania, dan kalau saya jadi Rania saya tentu saja akan dengan mudah melupakan pria seperti kamu." "Maksud lo apa, hah!!" Rey maju beberapa langkah dan membuat Rania menarik Dave untuk mundur. Rania tampak sedikit ketakutan dan hanya bisa memegang kemeja belakang Dave, ia tidak tahu ada urusan apa Rey menemuinya lagi juga dengan sikapnya yang sangat kasar tersebut. "Saya rasa Rania juga tidak ingin bertemu anda jadi dia tidak punya alasan untuk menjelaskan hubungannya dengan saya kepada anda." Dave berusaha untuk tenang dan tidak ikut emosi. Dave melirik jam di pergelangan tangannya, "Waktu saya tidak banyak!" "Mau pergi sekarang atau saya terpaksa panggil polisi?" Dave menaikan sebelah alisnya, "Saya tidak main-main kalau kamu berani menyentuh dia lagi akan saya pastikan kehancuran kamu sendiri!" Dave menatap nanar pada Rey, ucapan tajamnya dapat di pastikan benar sebab ia tidak suka di usik, nyali Rey langsung hilang terbukti dari sorot matanya yang pudar dan membuat pria itu memutuskan untuk pergi. Kali ini. "Rania, aku masih harus bicara sama kamu!" Lutut Rania lemas, ia hampir ambruk di belakang Dave sebelum akhirnya pria itu sendiri yang berbalik dan menolong Rania memegang lengannya dan membawa wanita itu masuk ke mobil Dave yang sudah terparkir lebih dulu. Dave mengambil botol minum dari kursi belakang membuka tutupnya kemudian menyodorkannya kepada Rania tanpa mengatakan apa-apa, tangan wanita itu gemetar ketika menerima botol yang Dave berikan hingga Dave mengambil inisiatif untuk membantunya minum. "Semua baik-baik aja." Dave menenangkan wanita itu sambil mengusap bahunya. Senyum hangat yang Dave berikan membuat Rania merasa lebih baik, juga sikap Dave saat menolongnya tadi memberikan rasa aman pada diri Rania, waktu Dave datang tadi seolah Tuhan sedang membuktikan bahwa pria itu adalah orang yang Dia kirim untuk Rania. Wanita itu bersandar pada kursi mobil menutup matanya dengan sebelah tangan sementara Dave menatapnya dari samping sambil tersenyum. Dave bukan tidak penasaran namun ia ingin memberikan Rania ruang untuk bercerita lebih dulu. "Ada banyak pertanyaan di otak kamu, bukan?" ucap Rania. Posisinya masih sama, ia belum bergerak sama sekali. "Hei, pertama kali aku ketemu kamu waktu dikenalin Kania. Kami tahu suara kamu yang manja dan centil itu ganggu banget." "Daavee~" "Tapi setelah kita bersalaman dan kamu ngeluarin jokes receh itu, aku enggak bisa ngerti kenapa bayangan kamu terus muncul." "Tapi Dave ...." "Rania." Dave memotong ucapan wanita itu. Rania terkejut dan membuka matanya menatap Dave yang tengah menatapnya juga, "Kita masih punya waktu jadi jangan buru-buru dan memaksa membuka diri." "Masih ada besok, lusa atau tahun-tahun selanjutnya. Kamu bisa cerita kapanpun kamu siap." Rania benar-benar tidak tahu harus mengatakan apa, Dave yang kaku dan cuek mengatakan hal menyentuh dengan wajahnya yang seolah biasa saja. Dave tidak tahu ada jantung yang tiba-tiba berdetak lebih cepat ketika mendengar ucapan itu keluar dari mulutnya. "Hmm, masih ada besok, lusa juga tahun-tahun berikutnya." Ulang Rania sambil tersenyum. Wanita itu kemudian masuk ke dalam toko setelah merasa lebih tenang, Dave juga memutuskan untuk kembali ke kantor karena ia hanya mampir untuk membeli beberapa kue. Keduanya saling melambaikan tangan sebelum mobil Dave menghilang dari pandangan. Beberapa jam setelah Rania mulai sibuk dengan pekerjaannya, Rachel muncul dan memberinya laporan supplier juga keuangan Bakery untuk Rania cek namun wanita itu mulai malas mengerjakan pekerjaannya yang sebenarnya cukup banyak. "Kenapa lo?" "Lagi enggak bisa mikir." Rania menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi. Ia masih terganggu dengan kehadiran Rey lagi setelah selama ini menghilang, atau Rania yang menghindar. Namun Rey cukup tenang dan tidak mengganggunya atau bahkan mencoba menarik wanita itu kembali dalam hidupnya hingga Rania berpikir ia memang tidak cukup berarti untuk Rey. Tapi hari ini, ketika Rania sudah memulai hidupnya yang baru pria paling tidak tahu diri itu muncul seolah bukan apa-apa, mengajaknya bicara seakan keduanya memiliki hubungan yang baik-baik saja. Membawa nama ibunya dalam percakapan penuh paksaan tersebut. Rania mendengus seraya menutup matanya sendiri, membayangkan pernah hidup dengan pria seperti Rey saja membuat Rania geli terhadap dirinya sendiri. Ia masih beruntung karena mengetahui segalanya sebelum hubungan mereka lebih jauh. "Ran?" panggilan dari Rachel membuat wanita itu tersadar dari pemikirannya sendiri. "Are you okay?" Rachel tampak sedikit khawatir, ia tahu betul Rania adalah orang yang ceria dalam situasi apa pun Rania sangat jarang menunjukan kesedihan yang ia rasakan namun hari ini tampaknya sesuatu yang tidak baik menimpa sahabatnya itu. Rachel menarik kursi di seberang meja Rania bersandar pada bagian belakangnya kemudian menatap wanita itu dengan intens namun Rania belum juga bereaksi. Ia mungkin perlu sedikit lebih banyak waktu untuk berpikir. "Rey tiba-tiba aja dateng lagi." Jelas Rania sambil berpindah posisi menopang kepalanya dengan tangan di atas meja. "Dari semalem dia telepon gue terus." "Itu sebabnya hape lo mati sampai pagi?" "Yup!" Rania mengangguk. Rachel sudah paham apa yang menjadi alasan Rania tampak kacau, ia tahu betul kisah keduanya hingga Rachel berusaha sebisa mungkin tidak membahas pria itu meski pernikahannya dengan Rania batal. Rachel selalu memberi Rania waktu untuk menjadi lebih terbuka. "Dia bilang gue harus ketemu Maminya, enggak ngerti deh." Rania tampak malas menceritakan hal tersebut namun ia tetap ingin membuat perasaannya lebih baik. "Terus jawaban lo?" "Lo bilang apa ke dia, hah?" Rachel memberondong Rania dengan pertanyaan. "Enggak ada." Rania menegakkan duduknya kemudian mengangkat kedua bahu sebagai jawaban. "Dave dateng dan dia ngusir Rey." "Lo becanda?" Rachel tampak tidak percaya. "Rey maksa gue, dia hampir nyeret gue ke mobilnya dan beruntungnya ada Dave di sana." Rania sedikit ngeri jika membayangkan hal apa yang baru saja menimpa dirinya, selama mengenal Rey ia tidak pernah bersikap seperti itu hingga membuat Rania terkejut. "Chel, lo kalo tahu apa yang Dave bilang bakal lebih enggak percaya." Tambah Rania. "Oke gue tahu lo jujur, jadi jangan buat gue penasaran!" Rachel berbicara dengan cepat karena tidak sabar. "Dia bilang gue calon istrinya." Jawab Rania ragu. Rachel melongo, ia bahkan hampir lupa menutup mulutnya yang terbuka dengan telapak tangan. "Gilaa!!! temen gue bentar lagi jadi sultaaann!!!!" Rania menggeleng, "Lo kira selama ini gue kurang kaya apa?" Meski menampik ucapan sahabatnya namun Rania merasa senang mendengarnya meski ia berusaha untuk tidak tersipu di depan Rachel. "Hidup lo bener-bener penuh kejutan Ran." Rania mengangkat kedua bahunya sambil tersenyum, sejujurnya daripada kehadiran Rey kembali Rania lebih memikirkan hal menyenangkan dari apa yang Dave ucapkan. Calon istri.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN