Seseorang Dari Masa Lalu

1792 Kata
Ponsel Rania berdering memecah kesunyian dalam kamarnya, wanita itu menggerakkan tangan kirinya meraba benda tipis yang terus berbunyi nyaring hingga membuat kepalanya pening. Ia menatap layar yang menampilkan nama si penelepon juga jam pada pojok kanan yang menunjukan pukul dua pagi. Waktu yang tepat ketika Rania benar-benar tengah tertidur dengan lelap. Wanita itu hanya menatap layar ponselnya dengan tangan lainnya memegang dahi hingga panggilannya berhenti dengan sendirinya, ia kemudian menekan tombol dan mematikan ponselnya kemudian meletakkan benda berwarna putih itu di bawah bantal. Namun ternyata efek yang ditimbulkan malah membuat Rania sulit tidur kembali bayangan tentang si penelepon membuatnya merasa tidak nyaman hingga menjadi gusar. Langkah kaki Rania tidak terdengar ketika ia menuruni anak tangga, ia tidak ingin menggangu pegawai rumahnya yang pasti sedang terlelap namun wanita itu tiba-tiba mendengar suara gaduh dari dapur yang membuatnya berjalan mengendap ke arah sana. Rania tidak merasa takut karena ia tahu tempat tinggalnya sangat aman dan hantu sepertinya tidak menyukai tempat yang terang seperti rumahnya yang memiliki pencahayaan yang baik. "Mbokkk!" pekik Rania, meski ia berkata bahwa tidak takut namun sepertinya wanita itu hanya tengah meyakinkan dirinya saja. "Non Rania?" wanita tua yang tengah membelakangi lawan bicaranya itu juga tampak sedikit terkejut, "Perlu sesuatu Non?" "Astaga, Mbok lagi apa jam segini?" "Anu Non ... anu, Mbok tiba-tiba lapar Non, masak mi instan." Wanita tua itu tersenyum sendiri karena merasa malu dipergoki memasak pada pukul dua pagi Mbok Narsih adalah pembantu satu-satunya di rumah Rania yang sudah bekerja untuknya selama lima tahun. Mbok Narsih yang merupakan wanita paruh baya yang saat ini berusia 52 tahun dengan perawakan sedikit gemuk dan sudah beruban ia hampir selalu menggunakan daster setiap kali bekerja dalam rumah. Wanita itu mungkin cukup tua untuk bekerja tapi Rania hanya merasa nyaman dengan Mbok Narsih sehingga daripada bekerja Mbok Narsih lebih seperti menumpang hidup dan membantu sebisanya. Wanita sebatang kara itu ia temui di stasiun kereta ketika membawa tas besar, kala itu ia bercerita baru saja di tipu seorang penyalur tenaga kerja yang mengatakan bahwa Mbok akan dipekerjakan di Jakarta namun hingga seharian menunggu orang yang dimaksud tidak kunjung muncul sedang belum ada satu suap makanan pun yang masuk ke dalam mulutnya padahal Mbok Narsih sudah tidak memiliki uang karena datang jauh dari Solo. Mbok menangis ketika Rania membawanya ke rumah dan membuatkannya makanan kemudian memintanya untuk tinggal di sana. "Kirain Mbok lagi sahur." Rania tersenyum. "Besok Non, hari Kamis." Mbok Narsih memang rutin puasa sunah setiap Senin dan Kamis kadang juga ia mengajak Rania jika wanita itu sedang tidak berhalangan atau tidak ada urusan pekerjaan yang memiliki janji makan siang. "Rania mau juga dong Mbok!" pinta Rania pada Mbok Narsih yang kembali sibuk dengan mi instannya. "Siap Non, Mbok buatkan!" jawabnya lagi-lagi dengan terkekeh sendiri. Mbok Narsih adalah orang yang periang dan gesit meski usianya sudah tua, ia juga menjadi tempat Rania bercerita ketika di rumah. Mbok menjadi pendengar yang baik dan tidak pernah menghakimi dirinya meski bagaimana Rania merasa salah. Rania merasa ia memiliki keluarga ketika bersama Mboknya. Aroma kuah mi instan tercium hingga ke meja mini bar yang berada di dapur, tempat itu menggunakan lampu temaram namun Rania menekan saklar lampu yang membuatnya menjadi lebih terang. Rania langsung menaikan tubuhnya ke atas kursi kayu dengan kaki yang tinggi hingga membuat kaki Rania sendiri menggantung. "Non ...." Panggil Mbok Narsih lirih. "Hmm?" jawab Rania sambil menyeruput mi dalam mangkuk miliknya. "Non Rania belum berencana pulang ke Bandung?" Deggggggg ... pertanyaan itu barangkali menjadi biasa bagi orang lain yang tinggal jauh dengan orangtuanya namun bagi Rania seperti membuka sebuah luka yang mencoba ia tutup rapat. Rania tidak suka membahasnya dengan siapa pun namun Mbok Narsih mengetahui terlalu banyak rahasia dalam hidupnya seolah bagi wanita tua itu Rania adalah buku yang terbuka dan siap dibaca. "Hehehe." Rania hanya tertawa kecil. Mbok Narsih paham betul kenapa Rania bersikap seperti itu, namun sebagai seseorang yang lebih tua dan menganggap Rania seperti putrinya sendiri ia ingin Rania bahagia dan memiliki hubungan yang baik dengan keluarganya. "Mbok sedih lihat Non Rania." Wanita itu sedikit berkaca-kaca. "Mbookkkk ...." Rania bangkit dari duduknya kemudian menghampiri wanita tua itu. Rasanya ia juga ingin menangis namun kejadian menyakitkan itu sudah lama berlalu, Rania sudah tidak punya cukup air mata untuk memikirkan orang-orang yang menyakiti dirinya. "Rania kan punya Mbok." Suara Rania terdengar parau. Wanita tua itu mengangguk, ia kehilangan suaranya sendiri karena tiba-tiba menjadi emosional padahal Rania sendiri baik-baik saja. "Mi instannya dingin Non." "Hahaha iya Mbok." Rania kembali ke kamarnya dengan perut yang terisi penuh hingga kantuknya menjadi hilang, ia memutuskan untuk mengambil sebuah buku dalam rak kecil di dekat pintu kamarnya dan membacanya sambil bersandar di head bed. Buku memang selalu menyenangkan namun terkadang juga membuatnya mengantuk hingga Rania memutuskan untuk melanjutkan tidurnya walau hanya beberapa jam lagi. Pukul 7 pagi ketika Mbok Narsih mengetuk pintu kamar Rania dan di jawab oleh wanita itu dari dalam. "Non Rachel telepon katanya Non Rania tolong aktifkan hapenya." Teriak Mbok agar suaranya terdengar hingga ke dalam. Rania baru teringat kalau ia mematikan ponselnya tersebut dan meletakkannya di bawah bantal. Ia kemudian menekan tombol on di samping sambil berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan wajahnya. Ponselnya terus berbunyi pendek namun berulang menandakan banyaknya chat yang masuk pada benda tipis yang mampu menampung banyak folder tersebut. Hingga yang terakhir adalah panggilan masuk dari Rachel. Rania menekan layarnya kemudian menyalakan speaker dan membiarkan sahabatnya itu mengoceh dari jarak aman telinganya. "Bosku tersayang kenapa hape lo bisa mati, hah?" "Pengen aja." Jawab Rania manja. "Ya whatever lah, pokoknya lo enggak boleh telat hari ini kita mau ketemu Pak Andry sama calon istrinya. Jam 9 oke?" "Oke." Panggilan terputus setelah Rania memberikan jawaban sementara ia sendiri masih sibuk dengan membersihkan wajahnya dan hendak menyikat gigi. Rachel dan Rania tidak berbeda keduanya sama-sama cerewet namun mengerjakan tugasnya dengan cepat hanya saja Rania memiliki sifat yang lebih dari sekedar cerewet. Pak Andry, Rania masih ingat pria yang hendak melangsungkan pernikahan di cafe miliknya sebuah tempat dengan interior yang membuatnya terkesan dan hari ini Rania akan bertemu langsung dengan wanita yang memiliki ide luar biasa tersebut. Wanita beruntung yang bertemu pria yang tepat. Ponsel Rania kembali bergetar sebuah panggilan masuk dari nomor yang sama yang sejak tengah malam menghubunginya, Rania ingin mengabaikannya namun satu sisi dalam dirinya ingin tahu ada apa hingga orang tersebut terus melakukan hal itu. "Ra-rania? astaga, kamu angkat telepon aku?" suara pria dari seberang sana terdengar sangat senang. "Urusan apa lagi?" tanya Rania malas. "Eum gini, gini, bisa kita ketemu dulu?" Rania membuang nafas dengan kasar ia memijat pelipisnya yang tiba-tiba mengalami migrain karena harus menghadapi orang ini. "Rey, please jangan ganggu hidup aku lagi!" "Ra-rania, aku perlu bicara sama kamu." Suara pria itu terdengar sedih dan memohon namun Rania tidak tergerak hatinya. Tanpa berkata apa-apa lagi Rania langsung mematikan ponselnya, ia benar-benar tidak habis pikir pria yang menjadikannya alat untuk menutupi penyimpangan seksual yang ia miliki kenapa harus mengganggu hidupnya lagi seolah apa yang ia lakukan tidak melukai Rania. Ia bukan hanya merasa terluka namun benar-benar di hina dan membenci kebodohannya sendiri karena menutup mata selama ini. Rania menyelesaikan kegiatan mandinya tanpa memikirkan lagi pria bernama Rey tersebut, ia kemudian bersiap untuk pergi ke tempat pertemuannya dan berjanji untuk bertemu Rachel di depan Cafe saja. Namun tanpa Rania sadari sebuah mobil yang terparkir di jalan depan rumahnya mengikuti Rania hingga wanita itu sampai di tempat tujuannya. Rania tidak menaruh curiga sama sekali dan sepertinya orang yang mengikuti Rania sedikit lebih waspada karena tempat tujuan wanita itu cukup ramai ia tidak mau membuat dirinya tampil mencolok atau bahkan membuat keributan. "Mbak Rania kenalkan ini Viola." "Halo Mbak, terimakasih buat bunga-bunganya yang cantik yaa." Ujar wanita cantik yang merupakan calon istri Andy. Wanita itu tidak terlalu tinggi dengan rambut curly sebahu, ia menggunakan celana jins berwarna biru dan kemeja putih off shoulder yang menampilkan kulit cokelatnya yang cantik. Viola juga seseorang yang mudah tersenyum dan itu membuat Rania semakin menyukainya. Pembicaraan tersebut berjalan santai sambil menikmati brunch (breakfast and lunch) karena Rania memang belum sempat sarapan. Wanita itu memesan hot americano seperti biasanya setidaknya kopi membuat harinya lebih bersemangat. Pembicaraan berlanjut mengenai permintaan Andy tempo hari yang sudah disetujui oleh Rania namun ternyata Viola memiliki beberapa keinginan lainnya yang bagi Rania dapat ia urus dengan mudah. "Makasih loh Mbak udah bantuin kita." Ucap Viola ketika ia berpamitan untuk pulang, ia juga memeluk Rania sambil tersenyum yang tentu saja dibalas Rania dengan perlakuan yang sama. Rania dan Rachel mengendarai mobil masing-masing dengan tujuan yang berbeda sebab Rania berencana mengecek bakery terlebih dahulu dan Rachel mengunjungi supplier bunga mereka. Rachel memang selalu bisa diandalkan, ia bisa mengerjakan semua hal dengan baik seorang diri dan itu membuat pekerjaan Rania sedikit lebih mudah. Mobil Rania sampai di tempat parkir bakery miliknya bersamaan dengan itu ponsel Rania kembali bergetar namun kali ini wanita itu tersenyum melihat panggilan masuk tersebut. "Hei." Sapa Rania lebih dulu, ia tiba-tiba berubah menjadi ceria kembali padahal pagi ini tampak sangat kesal. Rania menempelkan benda tipis itu di telinga dengan tangan lainnya meraih clutch bag dan beberapa berkas yang berada di kursi samping kemudian mencoba untuk turun dari mobilnya. "Perlu bantuan?" tanya Dave dari seberang telepon. Rania terkekeh mendengar pertanyaan Dave seolah ia tahu bahwa Rania sedang kerepotan padahal ia tidak menceritakan apa pun. Bruukkkkkk Tiba-tiba tangan seseorang menarik lengan Rania dan membuatnya berbalik dengan terkejut hingga semua berkas dan tasnya jatuh berserakan di lantai. Tangan itu begitu kuat dengan otot-otot lengan yang jelas terlihat dari balik kaos putihnya yang kini tengah mencengkram Rania dengan erat. "Reyyy!!" bentak Rania ketika ia menyadari pria itulah yang melakukan hal ini padanya. "Ran, kita perlu bicara!" Rey memaksa Rania untuk ikut masuk ke dalam mobilnya dengan menarik wanita itu. Namun Rania bergeming, ia menahan dirinya sekuat mungkin meski kesulitan karena sepatu heel-nya, "Aku udah ngomong baik-baik sama kamu tapi kamu enggak mau denger aku!!" bentak Rey. Pria itu mulai hilang kesabaran karena Rania tetap menolaknya sementara tidak ada siapa pun di luar yang bisa ia minta pertolongan karena mobil Rey menghalangi pandangan orang-orang yang berlalu lalang. "Lo gila, hah!!" Rania balik membentak Rey sambil terus berusaha melepaskan tangannya dari genggaman pria itu. "Gua enggak peduli elo mau benci atau gimana yang jelas lo harus ikut gua ketemu Mami sekarang!" Rania tidak mengerti kenapa ia harus bertemu Ibu Rey dan ia juga tidak mau lagi berurusan dengan pria itu ataupun lingkungannya. "Ayo!!!" Rey tidak menunggu jawaban Rania, ia kembali menarik wanita itu untuk masuk ke dalam mobil. "Bisa lepasin dia!" tiba-tiba tangan lain muncul dan mencengkram lengan Rey hingga ujung jarinya memutih karena cengkraman yang diberikan cukup kuat. "Lepas!!" ucap pria itu tegas, "Saya tidak suka calon istri saya dipegang pria lain!" "D-dave?" Rania terkejut bukan hanya karena kemunculan pria itu yang mendadak namun karena apa yang ia ucapkan juga membuat Rania terkesan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN