Es Yang Mencair

1106 Kata
Pagi ini Rania sudah memarkirkan mobilnya di sebuah gedung perkantoran di daerah pusat ibukota, sebuah gedung dengan 12 lantai yang keseluruhannya dimiliki oleh satu perusahaan saja. Pencapaian luar biasa dari seseorang yang usianya masih cukup muda untuk memiliki semua hal ini. Rania terkesan, padahal ini bukan kali pertama ia mendatangi tempat tersebut namun karena Rachel melongo melihat fasilitasnya hal itu membuat Rania juga melakukan hal yang sama. "Gila, lo kalo nikah sama dia jadi sultan Ran." Bisik Rachel ketika keduanya berjalan memasuki lobby. "Hehehehe jangan ngomong aneh-aneh." Jawab Rania dengan mulut terkatup. "Apalah gue yang remahan rengginang ini." Rachel berkelakar dan membuat Rania tertawa. Rania bukan tipe orang yang memikirkan hal itu sebagai sesuatu yang utama, karena dirinya sendiri adalah seorang pekerja keras dan bukan dari keluarga kekurangan meski ia juga membangun bisnisnya seorang diri tanpa campur tangan orang tuanya. Anggaplah jikapun benar Rania dan Dave berjodoh maka apa yang Dave miliki adalah nilai plus bukan semata-mata karena hal itu hingga Rania memilihnya. Rania tiba-tiba menggeleng sambil tersenyum, gara-gara Rachel ia membayangkan hal yang terlampau jauh dari kenyataan. Sesuatu yang harus ia hindari atau Rania akan sakit lagi. Keduanya menghampiri bagian resepsionis dan memperkenalkan diri, petugas wanita yang berdiri di balik meja langsung mengecek nama Rania dalam daftar kemudian mengantar Rania dan Rachel menuju lift yang membawa mereka ke lantai di mana ruangan Dave berada. "Hai!" Kania menyambut sahabatnya itu ketika Rania menghampiri mejanya yang berada di luar ruangan Dave. Keduanya berpelukan kemudian sedikit mengobrol basa basi, Rania masihlah seorang Rania yang menyenangkan bagi teman-temannya ia tidak pernah berpura-pura tidak mengenal temannya meski mereka memiliki kasta yang berbeda, wanita pekerja keras itu selalu berpikir bahwa dirinya juga bukan siapa-siapa. Rania ingin dipandang sebagai dirinya seorang bukan anak dari pengusaha hotel di Bandung. Kania kemudian membawa Rania pada sebuah ruangan besar yang dikelilingi kaca tebal di mana ada sofa dan meja kerja dengan Dave di sana. Pria itu tampak terkejut ketika mendapati Rania berdiri di hadapannya. Wanita itu mengenakan blouse berwarna mauve dan celana hitam dengan bagian bawah yang melebar menampilkan kaki Rania yang panjang dan ramping, rambutnya ia buat curly pada ujungnya namun sedikit berantakan dan malah menambah kesan seksi meski ia menutup semua bagian. "Dave." Panggil Rania untuk kedua kalinya ketika Kania bahkan tidak berhasil menyadarkan bosnya itu. "Oh sorry, sorry, aku gak sadar." Dave mengusap wajahnya yang merona sebelum ia bangkit dari duduknya. "Eum, maksudnya aku enggak fokus." Ralat Dave sendiri. "Kenalin, Rachel." Ucap Rania memperkenalkan wanita di sampingnya pada Dave. Dave yang menghampiri keduanya kemudian berjabat tangan dengan Rachel sementara sahabatnya itu tidak berhenti mencubit Rania. "Gilaa dia cakep banget Ran." Pekik Rachel dengan suara pelan sebisa mungkin, ia mencuri obrolan ketika Dave berbalik dan mengajak keduanya untuk duduk. "Eum, Kania. Kamu bisa cek apa tim Pak Heri sudah siap?" "Tadi beliau sudah konfirmasi kalau meeting bisa dimulai 20 menit lagi." Dave mengangguk sambil duduk di depan Rania, sesekali ia melirik wanita di hadapannya itu dengan malu-malu namun Rachel bisa menangkap sinyal yang Dave berikan untuk sahabatnya. Entah kenapa Rachel malah tersipu melihat bagaimana Dave menyukai Rania, ia juga bahagia karena akhirnya Rania bisa benar-benar bahagia dan bukan berpura-pura saja. "Mau minum kopi atau teh dulu?" tawar Dave. Rania melirik jam di pergelangan tangannya kemudian menggeleng, ia tidak ingin meminum tehnya dengan terburu-buru dan lebih memilih untuk menolak saja. "Kalau gitu kita bisa bahas projek ini sambil jalan menuju ruangan meeting." Dave mempersilahkan Rania berdiri lebih dulu. Keduanya benar-benar profesional, pembicaraan yang mereka lakukan sepanjang perjalanan murni membahas pekerjaan dan planning yang Rania buat untuk kedepannya. Keduanya bertukar ide dan menjadi pendengar ketika yang satu menjelaskan begitupun sebaliknya. Hanya Rachel yang diam dan benar-benar menjadi pendengar diantara keduanya, ia semakin terpukau dengan cara kerja mereka. Meeting tersebut berlangsung hampir satu jam dan tim perencanaan yang di pimpin Pak Heri benar-benar matang dalam mempersiapkan projek ini, Rania juga merasa sangat diuntungkan sebab nama brandnya akan tercantum juga di sana seolah kerjasama ini lebih banyak menguntungkan dirinya. "Bagaimana kalau kita makan siang bersama untuk merayakan kerja sama ini?" usul Dave. Rania jelas setuju, namun karyawan Dave tampak sedikit terkejut karena ini adalah kali pertama bos mereka mengajak makan bersama, Dave mungkin memberi karyawannya reward seperti voucher makan atau menginap atas pencapaian mereka namun hadir langsung di sana? belum pernah terjadi. "Pak Dave ikut juga?" tanya Pak Heri ragu. Rania yang tengah bertepuk tangan kecil langsung menaruh perhatian pada pertanyaan yang dilontarkan tersebut. "Ikut dong!" jawab Rania mendahului, Dave tersenyum pada wanita itu dan semua orang jelas melihatnya. "Tapi kalau Pak Dave sibuk, enggak apa-apa kita bisa pergi sendiri kok Pak." "Saya bisa kok, kalian yang pilih tempatnya biar saya yang traktir." Dave langsung menjawab cepat. Kali ini semua karyawan tampak senang juga, hal ini akan jadi sejarah baru di mana atasan mereka duduk satu meja untuk makan bersama seolah hal itu tidak akan mungkin pernah terjadi. Pak Heri memilih sebuah restoran steak yang tidak jauh dari kantornya agar menghemat waktu juga karena Jakarta macet di jam makan siang. Mereka bisa menyeberangi lampu merah dan sampai di tempat tujuan tanpa perlu kendaraan apa pun. "Pernah makan di sini?" tanya Dave pada Rania ketika pria itu mensejajarkan langkahnya. Rania mengangguk, "Rib eye steak disini enak banget." "Oh ya?" "Atau wagyu A5 yang melted dan pake butter sauce yang simple." "Kamu tahu banyak soal makanan." Ucap Dave pelan dan hal itu membuat Rania terkikik sendiri. Dave bahkan belum pernah makan di tempat itu meski jaraknya lebih dekat dari kantornya daripada tempat Rania, alasannya sederhana karena ia makan siang di ruangannya sendiri atau makan di luar bersama janji meeting yang ia miliki. Keduanya bercanda mengenai hal sepele lainnya, Dave selalu sukses tertular tawa Rania yang renyah dan mereka tidak sadar kalau keduanya berjalan paling depan dan pemandangan tersebut menjadi bahan gosip semua orang yang ada di belakang mereka. Makan siang luar biasa itu menjadi penutup hari di mana Rania langsung pamit untuk kembali ke Bakery ia juga perlu mengecek florist miliknya dan melakukan beberapa pemeriksaan yang tidak bisa diwakilkan. Hingga wanita itu baru bisa pulang ke rumahnya pukul 10 malam ketika toko kuenya juga tutup. Rania bahkan tidak sempat mengecek ponselnya sejak ia datang ke florist dan baru sadar bahwa Dave mengirim pesan 2 jam yang lalu. Wanita itu mengetik beberapa kata sambil tersenyum kemudian merebahkan tubuh lelahnya di atas tempat tidur namun tidak lama ponselnya bergetar, sebuah panggilan masuk dari Dave. "Hai." Sapaan canggung yang sama setiap kali Dave menghubunginya. "Hai juga." Percakapan keduanya mengalir begitu saja bahkan meski mereka baru bertemu siang ini namun sepertinya ada saja hal menarik yang ingin keduanya bagi bersama, hingga Rania yang kelelahan tertidur ditemani suara Dave yang menenangkan. "Selamat tidur Rania."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN