"Astaga Tuhan ... Sany bangun San." Vino tampak shock entah karena apa, pandangannya kosong namun tangannya terus bergerak membangunkan Sany yang masih tertidur.
"Lo bilang gue enggak ada kerjaan hari ini, jadi ngapain lo ke sini!!" bentak Sany jengkel.
Wanita itu menarik lagi selimutnya yang tadi disingkap oleh Vino, kepalanya langsung pusing dan mual karena dibangunkan dengan cara yang luar biasa mengejutkan sampai nyawanya seolah tersentak ketika kembali sadar. Vino benar-benar mengesalkan.
"Enggak, lo harus denger gue dulu!"
Vino lagi-lagi menarik selimut yang menutupi tubuh Sany dan melemparnya ke lantai dengan sembarangan, tubuh Sany yang mengenakan t-shirt oversized terbuka sedikit pada bagian pahanya yang sempurna namun Vino tidak tertarik bukan karena ia tidak suka wanita namun pemandangan semacam ini ia temui setiap hari di lokasi pemotretan. Vino sudah kebal. Ia bahkan menganggap Sany sama saja dengan yang lainnya.
"Wake up darl!" pria itu menarik tangan Sany dan menyandarkan tubuh wanita itu di head bed.
"Sumpah kalau sampe apa yang lu bilang enggak penting, I will kill you!"
"Whatever you want." Vino lalu duduk di tepian tempat tidur dan merentangkan tangannya sambil tersenyum, "Lo tahu Pak Narayan kan?"
"Hmm, semua orang di dunia entertainment tahu dia." Jawab Sany malas.
"Denger baik-baik yaa! Elo dapet tawaran film layar lebar garapan Pak Narayan!!!!!" Teriak Vino dengan girang.
Tubuh pria itu siap menerima pelukan dari Sany karena berita yang membahagiakan ini namun sampai Vino selesai dengan kabar yang ia bawa tidak ada respon berarti dari modelnya itu.
"Jangan bercanda, masih pagi!" ucap Sany sambil menguap, ia tidak percaya kalau dirinya ditawari bermain dalam film karya sutradara ternama sekelas Narayan Adijaya.
Dari sekian banyak karyanya di industri film layar lebar mimpi besar Sany adalah bermain di film garapan Narayan karena filmnya yang selalu sukses dan masuk box office Indonesia.
"Apa gue di gaji buat bercanda?" jawab Vino lemas sambil menurunkan kembali tangannya.
"Bohong, kan? lo lagi bohongin gue?" Sany kini menegakkan tubuhnya dan menatap tajam pada Vino menelisik jawaban dari sorot matanya.
Vino terdiam namun ia juga menatap Sany dan meyakinkan wanita itu bahwa apa yang ia sampaikan benar adanya, Vino baru saja mendapat telepon langsung dari seorang Produser di mana Sany diminta untuk datang dan melakukan casting. Produser itu adalah salah satu orang penting yang mereka temui saat acara Bank CN. Hari di mana Sany ingin pergi karena melihat Dave bersama wanita lain namun Vino dengan segala upayanya sukses membuat wanita itu tetap tinggal dan hari ini ia mendapatkan buah dari kesabarannya.
"Sumpaaahhhhhh?" wanita itu kini berteriak menggantikan Vino, ia langsung memeluk tubuh Vino yang tidak siap seperti sebelumnya namun lama-kelamaan Vino juga merasakan euforia yang sama.
Sany menunggu hari ini sejak lama, dan ia tidak bisa menahan dirinya untuk tidak melompat bahagia begitupun dengan Vino yang melompat di atas tempat tidur Sany.
"Vinnnn sepatu lo!!" bentak Sany ketika menyadari managernya itu memakai sepatu ke atas tempat tidur.
"Kali ini gak apa-apa deh karena gue lagi senengggg~"
Keduanya kembali melompat di atas tempat tidur tanpa peduli bahwa kamar Sany berubah menjadi wahana bermain.
"Astaga kak, lo semua gila ya?"
"Yara, naik cepet!!" Sany menjulurkan tangan agar temannya itu ikut naik dan melompat.
Ketiganya tertawa sambil berangkulan dan melompat hingga kaki mereka terasa pegal dan ambruk di tempat tidur yang berantakan seperti kandang babi.
"Oke, jadi jelasin ada hal bahagia apa?" tanya Yara dengan nafas tersengal. Ia kelelahan dan kakinya lemas karena lompatan yang baru mereka lakukan.
"Sany ... Hah, hah, hah, Sany dapet tawaran main film." Jawab Vino dengan nafasnya yang hampir habis.
"Serius kak? selamat yaa keren banget." Yara memeluk tubuh Sany yang berkeringat dan berbaring di sampingnya.
"Sutradaranya siapa?"
"Narayan Adijaya." Jawab Sany dengan bangga, ia tidak bisa memungkiri perasaan bahagia dalam hatinya.
Yara terdiam sejenak, ia tidak merespon jawaban Sany hingga wanita itu berdiri dari tempat tidurnya dan mengikat rambutnya yang berantakan.
"Beresin lo semua ya, gue mau mandi!"
Vino masih terbaring di tempat tidur Sany karena kelelahan sedang Yara terduduk di tempat yang sama, namun pikirannya mulai menjangkau hal lain. Ia tampak gelisah sambil meremas jari tangannya satu sama lain.
"Kak Vin,"
"Hmm?"
"Kok bisa Kak Sany dapet tawaran main film Pak Narayan?" tanya Yara penasaran.
"Oh itu, kita ketemu Pak Hengky sutradara yang garap film pertama Sany waktu acara minggu lalu dan Sany dikenalin sama banyak orang kayaknya termasuk seorang produser yang ternyata lagi kerjasama sama Pak Narayan ini."
"Sany itu hebat banget tahu, dia selalu totalitas dalam ngerjain sesuatu sampai dia dapat apa yang dia mau." Hal itu juga merujuk pada kesabaran Sany malam itu.
"Lo juga harus gitu, suatu saat lo pasti bisa hebat kaya Sany." Vino menepuk bahu Yara kemudian bangkit untuk membereskan selimut yang tergeletak di lantai karena ulahnya.
"Kak, gue balik duluan ya." Yara berjalan tanpa menunggu jawaban Vino bahkan pamit pada Sany.
"Tumben itu anak aneh gitu." Ucap Vino pelan,
Padahal baik ia dan Sany tidak pernah mengundang Yara untuk datang, gadis itu muncul semaunya setelah satu kali pernah Sany ajak untuk mampir dan minum kopi. Lalu Yara datang lagi dan lagi seolah ia berteman dekat dengan seniornya itu namun Sany tidak keberatan selagi Yara tidak mengusik apapun dalam hidupnya. Sany tidak suka hal itu.
Yara berjalan menyusuri koridor dengan langkah yang di hentakkan pada lantai hingga menimbulkan gema, ia berpapasan dengan petugas kebersihan yang biasanya disapa olehnya namun kali ini Yara berjalan cepat tanpa memperdulikan sekitar.
"b******k!!!" bentak Yara ketika ia memasuki mobil dan membanting pintunya dengan keras.
"Aaaarrrggghhhhhh!!!!!" ia berteriak sambil memukul setir mobil dengan kasar hingga beberapa orang yang lewat melihat ke arahnya dengan penasaran.
"Apa lo anjing liat-liat gue!!!!" Yara membentak setiap orang yang hendak menghampirinya.
Mood gadis itu berubah drastis hanya karena Sany mendapat pekerjaan besar sedang Yara bahkan hanya menjadi figuran dalam satu judul film yang tidak terlalu hits. Ia kesal karena apa yang Sany inginkan selalu didapatkan sedang Yara harus bekerja ekstra keras untuk mencapai hal itu.
Yara mendekati Sany agar bisa memanfaatkan seniornya itu, ia perlu tahu koneksi yang Sany punya dan bagaimana ia bisa mencapai semuanya dengan mudah. Yara tidak pernah menganggap Sany sebagai teman, baginya Sany adalah saingan. Tidak ada teman dalam kamus hidup Yara.
"Vin, Yara ke mana?" tanya Sany ketika ia keluar dari kamar mandi dan masih mengenakan bathrobe.
Vino mengangkat bahu sambil menaruh bantal di tempatnya semula sebagai bagian akhir dari proses merapihkan kamar Sany.
"Itu anak rada aneh." Ucap Vino.
"Emang lo enggak aneh?"
"Serius, ada yang aneh tapi gue gak tahu apa." Vino tampak serius menceritakan kecurigaannya namun Sany hanya menganggap itu sebagai sesuatu yang biasa.
Ia tidak betul-betul mengenal Yara namun selama ini gadis itu berperilaku baik bahkan untuk seorang model yang hidup di lingkungan penuh drama persaingan. Sany tidak ingin berpikiran buruk apa pun sebelum ia melihat atau menyaksikannya langsung.