"Kapan-kapan aku yang traktir yaa."
Rania mengedipkan sebelah matanya sambil berbisik pada Dave ketika pria itu membayar bill mereka yang jumlahnya cukup untuk membeli 150 batang cokelat mahal.
"Uangku masih cukup untuk mengajak kamu makan di tempat ini setiap hari selama 2 tahun."
"Habis itu kamu bangkrut?"
Keduanya tertawa lepas hingga Rania harus menengok ke kiri dan kanannya karena takut mengganggu pelanggan yang lain. Dave tidak mengerti mengapa ia bisa mengeluarkan jokes semacam itu padahal ia benar-benar tidak mengatakan sesuatu yang sia-sia dalam hidupnya namun melihat Rania tertawa rasanya sukses membuat ia menjadi pria paling hebat di dunia.
"Rania, kamu mau aku ajak ke tempat ini lagi atau ke banyak tempat lainnya?"
"Berdua." Tambah Dave.
Rania sontak terdiam di tengah tawanya yang renyah tiba-tiba wanita itu batuk dan tersedak ludahnya sendiri hingga harus memegang dadanya yang sesak entah karena apa. Ucapan Dave memberinya cukup tekanan.
"Kamu mau ajak aku makan siang lagi?"
"Boleh, kapan?" Rania mengalihkan perhatiannya dengan mengambil minum dan mengaduknya dengan sedotan sementara Dave menatap wanita itu sambil tersenyum simpul.
"Setiap hari!" daripada pertanyaan hal itu lebih terdengar seperti pernyataan bagi Rania.
"Aku bukan lagi mengajak kamu pacaran, usia kita terlalu matang untuk hubungan kekanak-kanakan semacam itu tapi aku berharap kamu mau lebih mengenal aku."
"Dave ...." Jawab Rania lirih, hanya satu kata itu yang bisa keluar dari mulutnya saat ini.
"Rania, aku bukan butuh jawaban. Kamu hanya perlu percaya aku akan lakuin yang terbaik buat kamu dan aku pastikan kamu enggak akan menyesal sudah membuka diri buat aku."
Dave menatap tajam pada manik mata Rania, ia melihatnya sedikit berkaca-kaca dan mulai mengalihkan wajahnya dari Dave. Rania merasa sangat beruntung mendengar kata-kata luar biasa dari seorang pria seperti Dave, pria itu tahu bahwa Rania menyimpan luka hingga hari ini dan tidak meminta Rania untuk menerima Dave di hidupnya namun Dave berjanji untuk membuktikan bahwa ia layak untuk Rania menangguhkan segalanya.
"Kamu perlu tisu?" ledek Dave.
"DAVE!"
Rania tidak bisa menahan tawa atas lelucon receh tersebut meski ia memang membutuhkan tisu untuk mengusap air mata di sudut matanya.
Wanita itu perlu waktu untuk mengendalikan suaranya dan bertanya alasan Dave mengatakan hal itu padanya. Rania jelas merasakan hatinya berdebar setiap kali menatap pria itu namun ia tidak cukup berani untuk menyimpulkan bahwa itu adalah cinta.
"Teman hidup. Aku hanya berpikir akan sangat menyenangkan menghabiskan hari bersama seorang Rania."
Dave berhenti sejenak menata kata yang tepat untuk ia ungkapkan agar meyakinkan wanita itu, "Dulu aku tidak pernah berpikir untuk menikah rasanya terikat dan diatur oleh orang lain adalah hal yang memuakkan, hal itu juga mungkin karena lingkungan ku tidak memberi kesan positif tentang pernikahan."
"Kecuali ibu." Dave tersenyum ketika menyebut sosok wanita terbaik dalam hidupnya.
"Teman-temanku berpikir istri mereka adalah medusa yang siap mengeluarkan bisa tiap kali mereka melakukan kesalahan, mengatur keuangan hanya agar bisa mempercantik diri sendiri tanpa peduli suaminya tidak memiliki kemeja baru untuk bekerja."
"Menikah juga sepertinya membosankan, membayangkan harus menghabiskan sisa hidup dengan orang yang sama dan melihatnya menjadi tua." Dave terkekeh dengan pemikirannya di masa lalu.
"Tapi ku rasa aku berubah pikiran. Sepertinya aku ingin menghabiskan lebih banyak hari denganmu, berbagi lelucon sepele yang aku pelajari akhir-akhir ini, menceritakan bagaimana nilai saham sedang turun atau bahkan bagaimana ayahku berbicara dalam bahasa Jepang yang tidak aku mengerti."
Dave terdiam sejenak, mengatur ulang kata-katanya barusan dan menatap dalam pada mata Rania menunggu perintah apakah ia bisa melanjutkan usahanya pada wanita itu.
"Rania, kamu hanya perlu percaya dan lihat sebaik apa aku!"
Sekali lagi Rania terkesan dengan apa yang Dave ucapkan ia bahkan tidak bisa menjawab atau membantah perkataannya satu pun. Rania mungkin perlu mencobanya, mengenal Dave lebih jauh dan memberinya kepercayaan atas hati Rania sendiri. Ia cukup lama mengosongkan hatinya dan mungkin saja kali ini waktunya sudah tepat ketika ia bertemu orang yang tepat juga.
Rania kembali dengan aktifitas selanjutnya kali ini ia meminta Dave mengantarnya ke Red Shoes karena ia belum mengecek bakery miliknya sejak pagi hari dan Rachel pasti mengoceh. Keduanya tampak canggung selama perjalanan pulang, Dave juga merasa aneh karena mengatakan banyak hal pada Rania tadi padahal ia tidak pernah berucap semacam itu pada wanita manapun, bahkan Sany.
Kala itu ketika Dave meminta Sany untuk menikah dengannya, ia hanya berpikir bahwa segalanya sudah ia dapat dan hubungannya dengan Sany cukup lama sampai ia merasa bahwa tidak ada pilihan lain selain Sany yang bisa mendampingi dirinya. Namun penolakan yang ia dapat terus menerus membuat Dave sadar tujuan hidupnya dengan Sany tidak lagi sama.
Benar jika Dave yang berubah, ia yang tiba-tiba memikirkan soal pernikahan sementara Sany masih menjadi pribadi yang sama hal itu juga berlaku untuk ia yang tidak pernah menjadi prioritas Sany sejak awal.
"Kamu ... balik ke kantor?" tanya Rania sedikit ragu.
Dave tersenyum sambil mengedipkan kedua matanya sebagai jawaban, ia kemudian melambai ketika Rania melakukannya lebih dulu, wanita itu berdiri di tempat parkir dan menunggu Dave pergi lebih dulu dari sana.
"Astaga Tuhan, harus apa gue!!!!" Rania masih tidak percaya dengan apa yang terjadi pada dirinya.
Ia sudah ingin berteriak sejak Dave selesai dengan pemahaman yang ia sampaikan pada dirinya tadi namun Rania sadar ia harus mengontrol diri dari hal memalukan seperti itu.
Rachel memperhatikan Bosnya yang sejak tadi bersenandung sambil mengecek stok kue juga saat memeriksa catatan penjualan dan selama wanita itu ada di sana. Rachel tahu bahwa Rania memang cerewet dan berisik, tapi bersenandung? bukan seperti Rania yang biasanya.
"Ada kabar bahagia apa?" Rachel mengagetkan Rania dengan berbicara tepat dari belakang telinganya hingga Rania hampir saja melompat dari posisinya.
"Astaga, lo mau gue mati muda hah?" Jawabnya sewot.
"Udah jawab aja!" paksa Rachel.
"Apa? jawab apa?" Rania berpura-pura tidak mengerti namun sudut bibirnya tidak bisa menahan tawa yang hampir meledak.
Rachel tahu betul sejak mengenal Dave Rania menjadi lebih sering tersenyum, bahkan untuk seseorang yang selalu membuat orang lain tertawa Ranis adalah seseorang yang pendiam saat sendirian seolah dunianya mati ketika tidak ada siapapun di sekitarnya namun akhir-akhir ini Rania berubah.
"Lo jadian sama Dave?" pertanyaan Rachel tepat sasaran hingga membuat Rania memberi isyarat agar sahabatnya itu bicara lebih pelan.
"Bukan gitu." Bisik Rania.
"Dia ngelamar lo?" Rachel mulai jengkel dengan jawaban tidak pasti dari Rania, ia menyilangkan tangannya di d**a dan bersandar pada dinding di sampingnya.
"Bukan gitu juga ...." Rania mulai bingung bagaimana caranya menjelaskan apa yang baru saja terjadi.
"Dave bilang kita terlalu tua buat pacaran, tapi dia mau serius. Dave mau gue kenal dia lebih jauh dan semacamnya."
"Gak tau ahh gue malu!" Rania menutup wajahnya yang merah karena harus menceritakan hal romantis yang Dave katakan untuknya tadi.
Rachel tersenyum sambil menggeleng, ia dapat menangkap apa yang Rania ceritakan meskipun sedikit. Rachel kemudian memeluk bahagia sahabatnya itu.
"Gue bahagia buat elo Rania."