Sederhana Seperti Saling Menyapa

1121 Kata
Pagi itu Pak Heri, orang kepercayaan Dave yang mengurus proyek kolaborasi dengan Rania datang menghadap. Ia membawa beberapa berkas yang perlu mereka bahas juga meeting yang harus di hadiri oleh Rania juga. "Kita akan buat ini limited edition Pak dengan mencantumkan Red Shoes juga pada bagian depan lalu kita akan buat untuk dua varian saja yang Red Velvet dan Chocolate Red Velvet." "Kenapa yang varian chocolate kita tidak ambil karena itu jadi bahan pertimbangan sebab kita sendiri punya jenis yang hampir sama." Dave hanya mengangguk setiap kali pegawainya itu menjelaskan rincian yang teamnya buat, ia tahu mereka memiliki banyak ide hebat hingga Dave hanya perlu melakukan sentuhan akhir saja. "Masalah detail lainnya kita bahas langsung dengan Red Shoes." "Oke, kapan?" "Kalau bisa besok sore Pak!" Dave lalu memanggil Kania dengan menggunakan telepon yang berada di sudut kanannya, ia meminta sekretarisnya itu untuk mengecek jadwalnya besok sore dan memastikan agenda meeting yang Pak Heri minta bisa dilaksanakan sesuai permintaan. "Baik Pak, nanti saya juga hubungi pihak Red Shoes untuk membuat appointment." "Atau mau Bapak saja yang melakukannya?" Pak Heri tampak menatap Kania dengan pandangan bingung, ia tahu bahwa keduanya adalah teman tapi menyuruh atasannya melakukan pekerjaan tersebut rasanya tidak pantas karena ini menyangkut urusan formal. Sindiran semacam itu hanya diketahui oleh Dave dan Kania sendiri, pria itu bahkan tersipu saat Kania mengatakannya. Memikirkan bahwa ia memiliki alasan untuk menghubungi Rania saja sudah sangat menyenangkan. "Kamu aja yang urus ini kan menyangkut pekerjaan." "Baik Pak!" "Memangnya Pak Dave ada urusan dengan Red Shoes selain pekerjaan?" pertanyaan Pak Heri jelas membuat Kania dan Dave saling pandang dengan tatapan lucu. Dave kehilangan kata-kata, ia tidak bermaksud untuk menjawab pertanyaan dari pegawainya juga. Rasanya terlalu cepat untuk mengakui ada sesuatu antara ia dan Rania pada orang lain. "Ada bisnis diluar urusan kantor juga." Jawabnya cepat. Dave tampak sedikit gugup dengan terus menggerakkan matanya ke arah lain sementara Kania pun tidak dapat menahan senyumnya. Hanya Pak Heri yang tampak tidak merespon. Sementara itu Rania sedang sibuk di florist miliknya, memeriksa beberapa order yang masuk termasuk event skala besar yang harus dikerjakan, ia juga memeriksa bunga yang datang dari supplier dan memastikan semuanya dalam kondisi baik. "Chel, besok kita meeting sama perusahaan Dave yaa tadi Kania telepon soalnya." "Lah, kita belum prepare apa-apa loh!" Rachel tampak tidak setuju dengan agenda mendadak tersebut. "Tenang aja, kita cuma denger presentasi dulu aja kalau ada yang kurang nanti kita bahas lagi." "Oh, oke!" Ponsel Rania kembali bergetar ketika ia tengah memeriksa laporan di komputer miliknya, sebuah panggilan masuk dari Dave yang membuatnya terkejut. "Hei, ternyata bos besar punya banyak waktu luang juga yaa." Celoteh Rania. "Hahaha ... enggak banyak, tapi cukuplah kalau untuk makan siang." "Makan siang?" Rania tampak bingung dengan maksud pria itu. "Yuk!" ajaknya, "Aku di depan florist." "Hah?" Rania segera melihat dari jendela lantai dua menyingkap tirai transparan yang menutupi bagian tersebut dan menemukan Dave yang sedang bersandar di samping mobil hitam miliknya, pria itu menggunakan kemeja dengan bagian lengan yang di gulung sampai siku dan mungkin juga pagi ini ia menggunakan dasi namun sudah tidak ada di tempat seharusnya. Rania tersenyum, ia segera berlari ke arah pintu keluar dengan antusias hingga pandangan dari karyawannya yang tertuju pada kehebohan Rania membuatnya jadi tersenyum salah tingkah. "Keluar dulu yaa, meeting ... ada meeting, iya." Ucap Rania sambil berjalan menuruni tangga dengan langkah cepat, para karyawannya saling pandang karena tidak ada yang bertanya ke mana bos mereka pergi namun wanita itu menjelaskan panjang lebar. Rania merapikan rambutnya yang sedikit berantakan karena ulahnya sendiri, ia mulai berjalan santai dan memperbaiki suaranya sebab tenggorokan Rania terasa kering dan menyapa Dave yang menatap ke arahnya di tengah teriknya matahari sehingga Dave mengernyitkan keningnya. "Hai." Rania menyapa lebih dulu. "Hai, apa kabar?" Jawab Dave canggung, seolah ini adalah kali pertama keduanya bertemu. "Hahaha baik, baik banget sama kaya kemarin." Dave tampak malu-malu saat mempersilahkan Rania untuk naik ke mobilnya, ia kemudian menjalankan mobil tanpa ragu sebab tujuannya sudah ditentukan dan Dave sudah memesan tempat untuk makan siang keduanya. "Bukannya saya sudah reservasi tadi?" Dave kesal sebab ketika sampai di restoran tujuan mereka namanya tidak tercantum di sana. Pelayan perempuan berseragam itu kemudian mengecek daftar reservasi sekali lagi namun tetap tidak menemukan nama Dave atau Davin di sana hingga Manager restoran datang dan menanyakan masalah yang terjadi. "Mohon maaf atas kekeliruan yang terjadi Pak Dave, bisa bapak tunjukan bukti reservasi bapak?" tanya Manager tersebut. Dave merogoh saku celananya dengan sedikit kesal namun karena Rania menenangkan dirinya hal itu sedikit membantu Dave agar tidak marah seperti yang biasa ia lakukan pada orang-orang yang tidak profesional menurutnya. Dave kemudian menunjukan bukti reservasi pada web resmi restoran tersebut namun hal itu malah membuat Manager pria tersebut tersenyum simpul. "Ekhm ... begini Pak Dave, betul memang reservasi dilakukan di restoran kamu namun Bapak menekan bulan yang salah. Ini untuk bulan depan Bapak." Pria itu menunjukan bulan yang berbeda dari seharusnya namun di tanggal yang sama hingga Dave mengusap wajahnya sendiri karena begitu teledor. Pagi ini ketika nama Red Shoes disebut ia tidak berpikir panjang dan segera menghubungi Rania bertanya apa wanita itu punya waktu luang siang ini dan ketika Rania mengatakan bahwa ia tidak sesibuk Dave pria itu langsung melakukan reservasi untuk makan siang. Kegiatan yang biasanya dilakukan Kania untuknya namun karena Dave tidak ingin menjadi bahan ledekan sekretarisnya itu akhirnya ia melakukannya sendiri dan entah karena apa Dave salah memasukan bulan yang harusnya 10 atau Oktober menjadi 11 atau Nopember. "Pak Dave, karena anda sudah datang saya bisa memberikan satu meja kosong. Kebetulan kami punya satu reservasi yang dibatalkan." "Sound's good!" Dave langsung sumringah dan menatap Rania dengan senang. "Dave padahal kita bisa makan di tempat lain kalau memang tempatnya penuh." Bisik Rania ketika keduanya diantar masuk ke dalam. "Tempat ini warm and cozy banget menurutku, dan aku yakin kamu juga akan suka." Dave tersenyum melihat wanita di sampingnya. Selera Dave tentu saja selalu bagus, Rania tahu betul dari cara Dave memilih pakaian yang dikenakan juga tempat lain yang pernah Rania kunjungi bersama Dave dan benar saja resto tersebut bergaya dinasti China dengan banyak pilar besar juga lambang shio di langit-langitnya bernuansa merah yang bercahaya dengan banyak lilin. Tempat duduknya dibuat eksklusif dengan batas kayu dan mempunyai jarak yang cukup jauh dari meja lainnya memberi setiap customer cukup privasi untuk menikmati makanan mereka. Rania terkesan dan merasa berada di negara lain karena interiornya hanya saja pengunjung tidak boleh membawa kamera kecuali ponsel mungkin juga karena setiap orang membayar mahal untuk sebuah privasi. "Keren banget Dave." "I do my best." Lagi-lagi pandangan keduanya saling beradu dan menimbulkan percikan aneh dari matanya, baik Dave maupun Rania tengah bicara dengan dunia yang hanya ada mereka saja di dalamnya. Pembicaraan yang tidak terucap namun mereka pahami. Sebuah kata yang disebut, jatuh cinta.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN