Aku Yang Menyedihkan

1133 Kata
"Ok, one ... two ... three ... pose!" Cekrek ... Cekrekkk "Good, one more!" Cekrek, cekrek, cekrek. "Ok Sany good!" Fotografer yang sejak tadi berkutat dengan kameranya menunjukan hasil jepretan yang ia dapat dan langsung terhubung di laptop yang berada di atas meja kepada pria yang terus memberikan arahan tersebut hingga pria itu mengangguk dan bertepuk tangan bangga dengan hasil kerja hari ini. "Nice! Nice! hari ini cukup ya Sany thank you darl." Pria yang mengarahkan gaya pada Sany selama pemotretan itu memeluk Sany dengan hangat, Sany mengenalnya dengan nama Mas Krisna seseorang yang terjun langsung untuk mengecek hasil foto dari model untuk cover majalahnya. EndTop. Krisna bukan sekali ini memakai Sany sebagai modelnya, alasannya tentu karena jam terbang wanita itu sudah tidak bisa di remehkan, ia juga bisa mendapat hasil yang diinginkan dengan cepat tanpa perlu banyak mengulang. "Langsung balik?" tanya pria berusia 40 tahunan itu dengan basa basi. "Yup, abis ini ada acara soalnya." "Clubbing?" Tebakan Krisna sepertinya benar melihat ekspresi terkejut yang Sany tampakkan di wajahnya. Bukan rahasia umum kalau seorang Sany Andriana adalah ratunya lantai dansa, ia menghabiskan lebih banyak malam di tempat semacam itu daripada tempat tidurnya yang nyaman meski lelah seharian bekerja Sany selalu punya cukup energi untuk mendatangi tempat gemerlap tersebut. "Yeah, you know that." Jawab Sany cuek. "Hai San ...." Beberapa orang model wanita menghampiri Sany yang tengah duduk di kursinya menunggu Vino membereskan barang-barang yang ia bawa, Sany hanya tersenyum menjawab sapaan yang dilontarkan padanya. Bukan tanpa alasan, ia tahu betul apa yang mereka bicarakan di belakang Sany dan beberapa akan dengan terang-terangan mengatakannya langsung. "Lancar pemotretannya?" Sekali lagi Sany diam, ia lebih memilih mengecek ponselnya dan menganggap tidak ada siapapun yang mengajaknya bicara. Hal itu jelas membuat si penanya menjadi jengkel sendiri. "Anyway, kemaren gue lihat cowok lo yang pengusaha tajir itu dateng ke acara sama cewek lain bukan sih?" "Serius?" tanya wanita lain yang juga ada di sana, sebuah drama percakapan yang mereka persiapkan sejak awal. "Mata gue mulai rabun kali ya San masa sih seorang Sany Andriana kalah sama perempuan lain yang jelas-jelas bukan saingan berat dia." Sany tampak jengkel namun ia tidak bisa membantah selain hanya menatap sinis pada orang-orang tersebut, ia sedang tidak mood untuk bertengkar apalagi membahas hal yang jelas menyakiti dirinya sendiri. "Gue rasa daripada ikut campur urusan orang lain lo semua mending improve diri kalian supaya bisa saingan sama model sekelas Sany deh." Ujar seorang wanita yang tiba-tiba muncul diantara kerumunan kecil tersebut. Yara, seorang gadis muda berusia 25 tahun yang meniti karir modelnya sejak remaja merasakan jatuh bangun yang kurang lebih sama dengan yang Sany rasakan hingga kesamaan tersebut membuat keduanya sering berbagi cerita setiap kali ada waktu senggang. "Anak baru, cari muka banget lo!!" Bentak wanita yang melontarkan kalimat tidak menyenangkan pada Sany. Keduanya terlibat keributan kecil dengan saling sindir menggunakan bahasa yang amat halus sampai membuat jengkel mendengarnya dan Sany hanya bisa memijit pelipisnya yang tiba-tiba sakit. Bisa jadi juga karena ia belum makan sejak siang hari. "Beres Vin?" tanya Sany ketika pria itu menghampirinya dengan beberapa tas yang memenuhi kedua tangannya. Seolah Vino adalah malaikat yang datang untuk menyelamatkan Sany dari situasi yang melelahkan tersebut. "Yuk!" Vino memberi isyarat agar Sany segera menyusul langkahnya. "Hmm ... Maurin, makasih buat infonya tapi setahu gue bukannya lo gak di undang ke acara itu?" Wajah wanita bernama Maurin yang sejak tadi menyudutkan Sany langsung berubah merah, teman-teman yang berada di sampingnya pun merasakan hal yang sama meski mereka juga merasa dibohongi oleh Maurin. Terlebih beberapa orang ikut mencuri dengar percakapan tersebut. Sany kemudian beranjak dari kursinya, merapikan rambutnya dengan santai menikmati pemandangan wajah Maurin juga teman-temannya yang sedang ia permalukan balik. "Ahh, satu lagi." Sany berhenti ketika berdiri di samping Maurin, "Kalau mau ngelonte jangan sama orang yang gue kenal, nanti lo malu kalau pamer barang mewah." "Bye Maurin~" Sany tidak sempat menoleh lagi padahal sepertinya akan ada pemandangan menyenangkan lebih dari yang ia bayangkan ketika mempermalukan teman seprofesinya itu. Bukan mau Sany membuka aib wanita itu tapi Maurin salah sasaran jika ia berharap bisa menjatuhkan harga diri Sany dengan cara seperti tadi. Ia bukan anak baru di dunia model dan persaingan saling menjatuhkan seperti ini hanyalah drama kecil dari banyak hal yang sudah ia lewati. "Langsung ke Nightlife aja Vin." Pinta Sany ketika ia baru saja merebahkan tubuhnya di sandaran kursi mobil dengan nyaman. "Lu gak balik dulu?" Sany tidak menjawab, ia hanya membuka kaca jendela ketika mobil melewati jalanan ibukota yang sudah mulai lengang. Waktu menunjukkan pukul 10 malam di mana udaranya terasa sedikit dingin dan lembab namun tidak mengurungkan keinginan Sany untuk menjulurkan tangannya keluar. Ia menyandarkan kepalanya pada pintu mobil dan melihat pemandangan di luar dengan bosan, Jakarta selalu begini saja Sany hampir hafal semua jalur yang ada di kota tersebut juga kondisinya pada jam yang sama. Mobilnya melaju melewati terowongan gelap di mana ada beberapa orang yang tengah duduk dan beristirahat, beberapa yang hidupnya tidak layak dan memilih tidur di tempat seperti itu. Pandangan Sany beradu dengan seorang anak kecil yang menatapnya dengan tatapan menyedihkan memegangi perutnya yang kempis dengan kedua tangan. Sany memutuskan untuk menutup kaca jendela bersamaan dengan sampainya mereka di ujung terowongan, wanita itu menatap kaca spionnya untuk menengok ke bagian gelap dari jalanan itu karena terowongannya tidak memiliki lampu penerangan yang cukup. Anak kecil itu tidak lagi tampak. "Pulang aja Vin." "Oke, nanti gue tunggu di bawah yaa." "Enggak, lo juga pulang. Gue mau tidur malam ini." Wajah Vino mendadak sumringah, dari sepanjang karirnya menjadi manager Sany tidak ada satu malam pun yang wanita itu habiskan tanpa alkohol, baik itu di kamarnya sendiri atau di bar yang ia datangi hingga Vino sendiri sering kekurangan jam tidurnya dan mengikuti gaya hidup Sany. "Lo sakit?" tanya Vino khawatir, "Enggak ... enggak ...." Vino menggeleng sendiri, ia tahu betul bahkan jika Sany sakit sekalipun ia akan tetap minum alkohol seolah itu adalah obat mujarab. Mood Sany berubah, ia ingin pulang saja meskipun mungkin saja beberapa jam setelah merebahkan tubuhnya di tempat tidur ia akan bangun dan mengambil sebotol wine di mini bar miliknya kemudian menghabiskan malam yang sunyi seorang diri. Hidupnya tiba-tiba terasa membosankan tanpa kehadiran seseorang yang memperhatikan dirinya, seolah ia pernah menyukai saat Dave memarahinya yang mabuk setiap malam atau terlambat pemotretan. Sany mendengus kala ingatannya mendadak muncul, padahal ia benci sekali diatur dan dimarahi Dave setiap hari namun ternyata hal sepele semacam itu yang membuatnya juga rindu. Wanita itu mengeluarkan ponselnya dari dalam clutch berwarna gold yang sejak tadi berada di atas pangkuannya membuka layar flip-nya dengan cepat dan mengecek pesan yang masuk, terlalu banyak namun tidak ada dari pria itu seakan Dave sudah menghilang dari buminya Sany. Wanita itu menjadi orang yang paling menyedihkan dari berakhirnya kisah cintanya dengan Dave. Dan yang paling menyedihkan dari itu semua adalah Sany tidak bisa menutupinya meski ia ingin.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN