"Dave ... Ibu mau yang ini."
Dave dan Rania terkejut dan seketika saling diam ketika Ibunya berbalik dan menatap kedua orang yang tampak gugup tersebut namun wanita tua itu memilih untuk tidak membahasnya sekarang lagipula ia menyukai kesan pertama yang Rania berikan untuknya.
"I-ibu sudah dapat kuenya? biar Rania bantu karyawan untuk packing yang cantik. Sebentar yaa ...."
Rania buru-buru pergi ke balik counter dan mengambil kue yang Ibu Dave maksud tadi dengan cekatan ia membungkusnya menggunakan kotak berwarna navy yang cantik dengan pita dan kartu ucapan yang sudah di isi oleh ibu Dave.
Dave membungkus beberapa kue yang ia tahu merupakan jenis yang paling favorit juga karena Dave pernah mencobanya beberapa waktu lalu. Chocolate Red Velvet. Pria itu tersenyum menatap kuenya sendiri sebuah pemandangan yang jarang ibunya lihat dan membuatnya mengerutkan kening.
Dave mengingat bahwa cake tersebut memiliki banyak andil dalam kedekatannya dengan Rania selain karena Kania tentu saja.
"Rania, kapan-kapan main ke rumah ya nanti Ibu buatkan masakan spesial." Ibu Dave mengusap lengan wanita itu dengan lembut sambil tersenyum hangat wanita tua itu seperti mengetahui ada hal lain dari hubungan anaknya dengan Rania. Sesuatu antara dua orang dewasa.
Rania semakin merasa terharu, ia bahkan secara impulsif memeluk Ibu Dave yang entah mengapa mengingatkan ia terhadap ibunya sendiri meski dengan karakter yang jauh berbeda. Rania tiba-tiba menjadi emosional dan sedih sudah lama ia tidak pulang ke Bandung padahal kota itu cukup dekat dari Jakarta di mana dapat ia tempuh dalam waktu 2.5 jam saja namun ada alasan lain mengapa Rania tidak ingin pulang. Mungkin nanti saat Rania siap ia akan pulang dengan sendirinya. Saat ini ia masih ingin menghindari semuanya.
"Pulang dulu ya." Bisik Dave pada Rania di belakang ibunya.
Rania menjadi tersipu malu tiap kali Dave melakukan hal-hal semacam itu, padahal ia hanya meminta ijin untuk pulang namun terasa berbeda ketika pria itu yang mengatakannya. Rania melambai ketika Ibu Dave membuka kaca mobilnya dan melakukan hal yang sama pada wanita itu.
Dave tersenyum sepanjang perjalanan pulang bersama ibunya, ia tidak bisa menahan gerak bibirnya yang menunjukan hal itu meski ingin ia sembunyikan.
"Ibu suka Rania," ucap Ibu Dave tiba-tiba hingga membuat putranya menoleh, "Apa Dave juga suka Rania?"
"Hahahaha ... pertanyaan jebakan ternyata."
"Loh, kan ibu cuma penasaran."
"Gimana Rania menurut Ibu?" tanya Dave setelah ia terdiam dan memilih kata yang tepat pada ibunya.
"Ibu kaya kena sihir loh Dave." Ibu Dave berkelakar.
"Sihir?"
"Ada orang-orang yang kasih energi positif ke lingkungannya, orang yang buat kita tersenyum bahkan hanya karena melihat dia."
Dave mengangguk mendengar penjelasan ibunya, juga tentang bagaimana wanita itu amat ramah pada semua orang bentuk ramah yang berbeda seolah Rania ingin merangkul semua orang dan tidak memberi jarak dengannya. Dave jadi ingat hari itu di mana dia diperkenalkan dengan Rania pertama kali, dirinya yang selalu serius dan kaku berubah menjadi lebih rileks hanya dalam beberapa kata yang Rania ucapkan.
"Kania bilang Dave sudah tidak berhubungan dengan Sany?"
Deggggggg ... tiba-tiba wanita tua itu membahas Sany, seseorang yang sejujurnya tidak ingin ia bicarakan sebab Dave juga tahu ibunya tidak menyukai wanita itu, meski tidak perlu diutarakan dengan jelas namun Dave tahu cara hidup Sany dan ibunya bertolak belakang.
"Ibu tidak pernah ikut campur urusan Dave, kamu berhak memilih yang terbaik buat kamu. Mungkin Sany punya beberapa kekurangan dan tidak cocok sama kamu tapi bukan berarti dia tidak berubah."
Dave masih saja diam, kekurangan yang ibunya maksud tentang Sany sudah dia terima sejak lama namun Sany sendiri yang menolak untuk menerima Dave menjadi bagian dalam hidupnya, Sany sendiri yang membuang Dave ke dalam usaha yang sia-sia. Dave tidak menyesal, ia melakukan yang terbaik yang ia bisa dan pilihan Sany sendiri untuk tidak meraih tangan yang Dave ulurkan padanya. Tiga tahun adalah waktu yang cukup untuk Dave berjuang, ia memiliki batas dan tahu kapan saatnya berhenti.
"Makasih ya Bu." Dave mengusap bahu ibunya sambil menatap wanita itu sesaat.
Dave tahu betul Ibunya tidak menyukai Sany namun wanita tua itu selalu memberi ruang bagi putranya untuk mengambil keputusan paling tepat. Di atas segalanya kebahagiaan Dave tentu saja yang utama.
Dave begitu menghargai kedua orang tuanya, ia masih ingat ketika mengutarakan keinginannya untuk membuat usaha roti sendiri tanpa campur tangan mereka juga nama besar orang tuanya untuk mencari investor. Ibu Dave adalah orang yang mendukung ia sepenuhnya meski membutuhkan waktu cukup lama untuk menjadi seperti sekarang ini namun dukungan yang orang tuanya berikan tidak pernah surut. Itulah juga kenapa Dave ingin pasangannya nanti adalah orang yang melakukan hal yang sama terhadap orang tuanya, yang mencintai ibunya seperti Dave melakukannya juga.
Mobil Dave melaju menuju perumahan elite di daerah Selatan di mana Tante Giska tinggal bersama putranya Wisnu, tidak ada pesta ulang tahun yang diselenggarakan karena tante Giska lebih suka merayakannya bersama keluarga kecil mereka, meniup kue dan menikmatinya di meja makan jikapun ada pesta mereka biasanya merayakan di sekolah Wisnu.
"Mbak!! ya ampun repot-repot datang ke rumah." Giska memeluk Ibu Dave dengan hangat kemudian memeluk keponakannya yang sudah dewasa juga.
"Enggak repot kok, Wisnu mana?" Ibu Dave mengedarkan pandangannya ke sekeliling namun tidak lama Wisnu sendiri yang berlari dan memeluk tantenya itu tanpa perlu di panggil lagi.
Dave memberikan hadiah yang ia beli sebelum ia dan ibunya datang berkunjung, sebuah mainan robot berukuran besar yang disukai Wisnu beserta beberapa pernak perniknya.
"Kak Dave kok tahu Wisnu mau mainan robot?" tanya anak kecil itu dengan polos.
"Loh tahu dong! bukannya Wisnu tiap hari kirim foto robot itu ya?" Dave meledek Wisnu sambil menyipitkan matanya.
"Oh iya Wisnu lupa." Anak kecil itu menepuk dahinya sendiri sambil tertawa.
Suasana rumah besar itu menjadi ramai hanya dengan kehadiran Dave dan ibunya, juga Wisnu yang sudah membuka kado yang Dave berikan dengan antusias.
"Kuenya enak loh Gis, kamu coba ya!"
"Wah Red Shoes ya mbak? aku langganan banget di sana." Ucap Giska ketika melihat logo pada cake boxnya.
"Oh yaa?"
"Yang punya tokonya masih muda loh mbak, cantik lagi. Cocok sama Dave kayaknya." Giska tertawa dengan ide yang ia lontarkan sendiri.
Sementara Dave dan Ibunya saling melempar pandang dengan malu-malu, seolah saling memberi isyarat tentang hal yang hanya mereka saja yang mengetahuinya.
Keduanya pamit setelah menghabiskan waktu hampir satu jam dan Dave harus kembali ke kantornya karena ada pekerjaan yang belum selesai dan Kania sudah sangat berisik memarahinya karena pergi keluar terlalu lama.
Dave turun lebih dulu sebelum membukakan pintu mobil untuk ibunya dan membantu wanita tua itu turun perlahan.
"Dave."
"Iya bu?"
"Soal ajakan Ibu sama Rania, itu bukan basa basi yaa."
Dave tersenyum menatap Ibunya yang sudah berada di luar mobil. Ia sejujurnya mengira bahwa ibunya main-main saja karena ia mengucapkan sesuatu yang hampir sama setiap bertemu orang lain.
"Nanti Dave sampaikan."
"Jangan lupa."
"Iya Bu." Dave melambai sebelum akhirnya menjalankan mobilnya pergi.