Tidak Ada Yang Sengaja Jatuh Cinta

1117 Kata
Rania yang terkejut menghilangkan batasan dalam dirinya dengan Dave lalu menatap mata pria itu, mencari jawaban dari kejujuran Dave soal perkataannya karena ia masih tidak percaya. "Jangan bercanda dehh!" jawab Rania dengan nada manja seperti biasanya, sekuat tenaga ia berusaha terlihat tidak terpengaruh dengan pengakuan Dave. Namun pria itu hanya tersenyum, ia tahu betul Rania mulai terpengaruh. Pipi wanita itu berubah merona meski langit senja sedikit mengaburkannya namun Dave cukup melihatnya dengan jelas. "Kamu tahu, tidak ada orang yang dengan sengaja jatuh cinta. Aku juga kamu tidak berencana untuk menjadi seperti ini, kan?" Pria itu mengatakan isi hatinya yang paling dalam mencoba mengetuk Rania dengan upaya yang bisa ia berikan. Padahal sebenarnya Dave tidak perlu hal itu sebab Rania sudah jatuh perlahan. Keduanya menatap matahari yang mulai menghilang di ujung lautan, seolah benda besar itu habis di telan dengan perlahan memberi rona jingga sepanjang mata memandang dan apa yang terjadi terasa lebih intim lagi, Rania ingin duduk lebih lama hanya untuk menikmati keindahan itu bersama Dave di sampingnya juga karena ia tidak punya cukup waktu untuk menikmati hal semacam ini sebelumnya. Rania dan Dave yang menghabiskan waktu mudanya dengan bekerja, berjuang hingga mendapatkan hasilnya di usia yang terbilang dini untuk mencapai semua ini hingga amat jarang pergi keluar sekedar duduk santai dan menikmati senja seperti ini. Rasanya mengesankan ketika hal itu keduanya lakukan bersama seseorang yang cukup berarti. Dave pulang ke rumahnya setelah mengantar Rania lebih dulu, keduanya menikmati makan malam sebelum memutuskan untuk beranjak dari area pantai. Meski Rania tidak lapar karena baru saja menghabiskan banyak cake di cafe tadi siang tapi bisa menghabiskan waktu lebih lama bersama Dave membuatnya memilih untuk mengiyakan ajakan tersebut. "Dave kamu sudah makan malam?" tanya Ibunya ketika ia baru saja pulang ke rumah. "Udah bu," Dave menghampiri wanita tua yang tengah menonton TV di tengah rumah bersama ayahnya. Ia mencium punggung tangan kedua orangtuanya sambil tersenyum. Dave melihat ayahnya yang tidak pernah luput dari menikmati teh hijau mungkin juga karena kebiasaan yang tidak bisa hilang begitu saja mengingat Ayah Dave adalah orang Jepang juga karena pria itu menyukainya. Dave berubah pikiran, ia duduk di samping kedua orang tuanya sejenak memperhatikan betapa menyenangkan menghabiskan masa tua berdua bahkan ayahnya sudah tidak sibuk mengurusi urusan perusahaan kecuali ia memeriksa laporan yang diberikan padanya padahal jika dipikirkan sekali lagi orang tua Dave tentu sudah melewati banyak hal hingga sampai sejauh ini. "Dave, kalau kamu besok enggak sibuk bisa antar ibu beli kue?" "Kue?" "Anaknya tante Giska ulang tahun, ibu mau kasih kue aja." Tante Giska adalah panggilan yang Dave ucap karena sebenarnya Giska sendiri adalah Adik ibunya yang paling kecil dimana ia memiliki seorang anak bernama Wisnu yang berusia 8 tahun. Ibu Dave memang menyukai anak kecil sehingga Wisnu sering diantar ibunya untuk menghabiskan waktu di rumah ini. "Boleh, besok sekalian Dave beli hadiah buat Wisnu." Dave tiba-tiba tersenyum sendiri, entahlah setiap kali orang berbicara tentang kue dan bunga Dave akan ingat pada Rania, seakan seluruh toko kue di dunia adalah milik gadis itu sehingga ia akan datang ke sana tanpa punya pilihan lain lagi. "Ibu tenang aja Dave tahu toko kue yang enak dan Wisnu pasti suka." Esok hari ketika jam istirahat, Dave menolak ajakan Kania untuk pergi makan siang bersama karena ia ada janji dengan ibunya namun pria itu tampak mengenakan jasnya dengan rapi dan membereskan rambut juga kembali menggunakan parfum. "Ke mana emangnya?" "Oh itu, keponakan gue ulang tahun dan Ibu minta antar beli kue." Jawab Dave sambil merapikan dasi yang ia gunakan. Kania memasang ekspresi lucu meledek jawaban sahabatnya itu sambil mendekat menghampirinya, ia mengendus seperti seekor kucing kemudian berkomentar mengenai parfum yang di pakai Dave. "Abis berapa botol?" ledek Kania sambil tersenyum. Dave tidak menjawab, ia sepertinya tidak bisa membela diri atau berbohong di depan sahabatnya itu. Kania terlalu berbahaya karena tahu banyak hal tentang dirinya. "Gitu dong, mulai kenalin ke ibu biar calon mertua sama menantu akrab." "Hahahaha ... udah pergi sana nanti Ibu nungguin." Kania tertawa dengan leluconnya sendiri ia kemudian menginterupsi sebelum Dave berhasil membuka mulut dan berargumen sesuatu yang jelas akan Kania bantah. Wanita itu meninggalkan ruangan Dave dengan tawanya yang belum berhenti, ia ikut senang untuk Dave sebab perlu waktu tiga tahun untuk terus mendengar curhatan sahabatnya itu tentang hubungannya yang abu-abu dan kali ini Dave sedang memasuki babak baru dalam perjalanan cintanya. Seorang juru parkir membantu Dave memposisikan mobilnya dengan baik di depan sebuah toko kue dengan nama Red Shoes. Dave turun lebih dulu kemudian membantu ibunya berjalan dengan merangkul bahunya. Ini kali pertama Dave datang ke toko kue Rania sebab beberapa kali ia mencobanya karena Rania yang membawa kue tersebut atau Kania yang aktif promosi. Tempat parkirnya ramai namun cukup luas dan yang Dave datangi adalah toko pertama milik wanita itu, Dave juga menghubungi Rania sebelum datang ke tokonya berpura-pura bertanya apa ia punya stok birthday cake hingga pengakuan jujur bahwa ia akan membawa ibunya ke sana. Rania tentu terkejut, meskipun kedatangan Ibu Dave bukan untuk bertemu dirinya secara langsung namun ia tetap tidak bisa menyembunyikan rasa gugupnya hingga Rania meminta karyawannya untuk mengecek kebersihan juga stok birthday cake agar tidak di jual untuk sementara. Beberapa kali wanita itu menengok ke arah jendela memastikan apakah pria itu sudah datang atau belum hingga kali ketiga Rania melakukannya, orang yang ia tunggu sudah mulai terlihat. Dave tampak gugup ketika Rania muncul dan menghampiri ia juga ibunya hingga Ibu Dave kebingungan menatap kedua orang yang saling pandang di hadapan dirinya. "Dave ?" Ibu Dave mengusap lengan putranya dan tersenyum pada Rania seolah meminta maaf karena sikap lancang putranya. "Ahh, Ibunya Mas Dave ya?" Rania kembali bersikap manja sambil mencium tangan ibu Dave, sesaat ia mengigit bibir bawahnya karena malu dengan dirinya sendiri setelah menyebut Dave dengan sebutan Mas padahal ia tidak pernah melakukannya. "Cantik sekali, ibu dengar kamu yang merintis bisnis kue ini?" Ibu Dave menyentuh pipi Rania dengan hangat dan membuat wanita itu tersipu malu. "Alhamdulillah Ibu, belum sebesar perusahaan Mas Dave." Setiap kali mengucapkan kata Mas, Rania akan melirik Dave sambil menggigit bibir bawahnya seolah ia menyesal mengucapkan hal itu. Ibu Dave adalah seseorang yang ramah dan hangat, pertama melihat wajahnya saja Rania merasa bahwa wanita tua itu membuatnya merasa mengenal Ibu Dave sudah sejak lama ia bisa dengan leluasa menjadi dirinya sendiri dan Ibu Dave memberi respon positif. Ia kemudian menuntun Ibu Dave dan mengajaknya ke counter birthday cake kemudian menunjukan beberapa koleksinya sambil menjelaskan sedikit mengenai base kuenya atau motif yang cocok. "Panggil Mas boleh juga, sayang aku bukan orang Jawa." Bisik Dave ketika Rania berdiri di belakang ibunya. Wanita itu menatap Dave dengan wajah memelas agar Dave berhenti meledeknya namun Dave malah terus tertawa dan mengejek Rania hingga wajah wanita itu merona. "Ehmm ... Dave, Ibu mau yang ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN