Kau Masih Mencintainya?

1125 Kata
"San, come on!" Vino memperingatkan Sany dengan usaha terakhir yang ia bisa sebab pria itu tahu betul tatapan mata Sany sudah berbeda dan itu artinya Sany sudah tidak bisa di kontrol lagi. Benar saja, wanita itu kembali menuruni anak tangga dengan heels merahnya berjalan ke arah mobil BMW hitam yang terparkir melintang di depan karena hanya menunggu seseorang sebentar saja kemudian hendak keluar lagi, tangan Sany dengan sigap mengetuk kaca mobil bagian kiri di mana Rania duduk, Rania sempat menatap Dave dengan bingung sampai akhirnya pria itu sendiri yang memutuskan untuk keluar dan melihat apa yang terjadi. "Sebentar, ya." Ucap Dave sambil tersenyum menatap Rania sekilas sebelum akhirnya ia benar-benar menghampiri wanita itu. Ketika Dave keluar Sany langsung melipat tangan di d**a dengan angkuh dan marah, ia tidak mengerti kenapa Dave bersikap seperti ini sepanjang pertengkaran yang terjadi diantara keduanya Dave tidak pernah membuat keputusan untuk meninggalkan dirinya dan membuat Sany benar-benar terluka. Dave membuka kaca mata hitam yang ia gunakan kemudian menatap Sany dengan kesal dan sedikit terkejut, Dave tidak tahu bahwa Sany ada di tempat itu juga mungkin karena perhatian Dave juga tertuju pada Rania saja. Keduanya diam saling menatap tanpa berusaha mengatakan apa pun, mata Sany sedikit merah dan Dave tahu wanita itu terluka hatinya hingga pintu mobil terbuka dan Rania keluar dari sana. "Dave, ada masalah?" Dave menatap wanita itu sambil tersenyum singkat, "Enggak, enggak kok ... cuma ketemu temen lama." Jawabnya. Sany tampak benar-benar terkejut dengan pengakuan Dave ingin rasanya ia menjerit dan menjelaskan siapa dirinya namun Sany hanya bisa memalingkan wajahnya ke arah lain juga menahan diri untuk tidak menangis meski hampir saja air matanya jatuh. "Oh, hai!" Rania menyapa Sany sambil tersenyum sumringah. Wanita itu memang selalu begitu ia tidak mengerti siapa wanita di hadapannya namun yang jelas ia tidak memiliki masalah apa pun hingga harus bersikap tidak sopan. Sany tersenyum juga menatap Rania dalam hatinya seakan ia siap mengatakan apa saja tentang ia dan Dave, tentang hubungan keduanya yang masih ambigu namun Sany tahu ia tidak licik seperti itu untuk merusak hubungan orang lain dengan bersikap arogan dan merasa paling memiliki. Dave mulai tidak nyaman, terbersit dalam hatinya bagaimana ia rindu wanita itu namun Dave sekali lagi ingat bahwa apa-apa yang berhubungan dengan Sany sudah selesai sejak wanita itu tidak lagi satu tujuan dengannya, tidak menemukan paham yang sama dan ia tahu bahwa sebuah hubungan selesai ketika tidak ada akhir yang mereka tuju. Ia kemudian menatap Rania, wanita yang tengah memberi banyak waktu menyenangkan untuknya, seseorang yang membagi bahagia dan luka terdalam dari serpihan memori hidupnya yang kelam. Sejauh ini, hal itu adalah yang paling sulit dilakukan mengingat tidak ada siapapun yang ingin berkubang dengan luka lalu menceritakannya seolah ia baik-baik saja. Tapi Rania melakukannya untuk Dave. "Kita pergi sekarang?" Dave tersenyum pada Rania memberinya isyarat agar wanita itu kembali masuk ke dalam mobil. Rania mengiyakan kemudian tersenyum pada Sany yang masih mematung di tempatnya mengabaikan Rania yang kembali masuk ke dalam mobil sedang bola mata Sany terus mengekor mengikuti arah kepergian Dave. Sany membuang nafasnya dengan kasar ketika mobil Dave melaju meninggalkan dirinya begitu saja. Dave tidak pernah dingin dan cuek padanya, Sany tahu betul pria itu memberinya banyak toleransi meski kesalahan Sany fatal bagi Dave. Namun kali ini ia tahu rasanya kehilangan. Tubuh Sany ambruk di jalanan yang kotor, gaunnya menyapu tempat itu namun Sany tidak peduli, juga meski kendaraan yang lalu lalang menaruh perhatian kepada dirinya. Ia benar-benar tidak peduli. "Gak apa-apa ... elo kuat San!" tangan hangat Vino memeluk kepala Sany membenamkan wajah cantik wanita itu di dadanya dan membiarkan Sany menumpahkan emosinya sejenak. Vino tidak bisa melakukan hal lain selain menguatkan temannya itu, Sany juga tidak membutuhkan kata-kata motivasi atau saran dan kritik tentang keputusan dan tindakannya yang bertolak belakang. Wanita itu hanya butuh di peluk dan dibiarkan menangis hingga ia merasa cukup. Sementara Rania tidak menanyakan apa pun soal wanita yang baru saja keduanya temui di depan cafe seolah Rania tahu bahwa ada hal lain dari kedua orang tersebut dan Rania hanya ingin Dave yang mulai bercerita. Dave hanya diam saja, tatapannya lurus ke depan namun Rania tahu pikirannya tidak sedang di sini. Dave tampak mengerutkan keningnya sejak tadi seakan ada hal yang begitu berat dan menyiksa dirinya beberapa kali ia menopang kepalanya dengan tangan yang bersandar pada kaca mobil kemudian berpindah posisi lagi. Dave tampak gelisah. "Dave, apa enggak sebaiknya kamu pulang aja?" Rania berbicara dengan lembut karena tidak ingin mengejutkan pria itu. "Dave ...." "Ah, iya?" Dave terkejut, "Sorry ya Rania." Rani tersenyum menatap pria yang tengah menatapnya dengan tidak nyaman selagi lampu menyala merah dan menghentikan mobil tersebut. "Rania, mau ikut aku ke suatu tempat?" Wanita itu mengangguk tanpa mengatakan apa-apa lagi, dan Dave senang dengan jawaban yang Rania berikan. Mobil itu langsung melaju ke arah yang berbeda menuju pantai di utara ibukota yang padat. Ancol. Rania bertepuk tangan dengan riang ketika keduanya berada di tepian melihat ke lepas pantai yang dipenuhi dengan wisatawan. Meski ini bukan kali pertama namun rasanya sudah lama sejak Rania datang lagi ke sana. Wanita itu melepas sepatunya tanpa perintah, ia ingin menginjakkan kakinya di pasir yang berwarna abu dan berlari ke arah ombak datang. Dave tersenyum melihat tingkahnya yang mengundang tawa. Rania berbalik dan menatap Dave yang memperhatikannya, tangan wanita itu melambai dengan rambutnya yang diterpa angin kencang membuat Rania terlihat berbeda. "Daavvveeeee ...." Rani kembali melambai ketika Dave hanya diam saja melihatnya hingga kemudian pria itu bergerak dan melangkah mendekat. Dave melepas sepatunya juga bukan karena mengikuti apa yang Rania lakukan namun karena gulungan ombak hampir membuatnya berjalan dengan sepatu yang dipenuhi air dan juga pasir. "Hari ini aku mau jadi pendengar, kamu bisa cerita apa pun Dave." Rania menatap pria yang tengah duduk di atas pasir di sampingnya sambil memegang butir kelapa. "Apa pun?" ulang Dave. Rania mengangguk sambil tersenyum, ia tahu saat Dave mengajaknya pergi ke tempat yang tidak menjadi agenda keduanya pria itu pasti memiliki sesuatu untuk diceritakan atau mungkin untuk dipendam. "Perempuan yang tadi kita temuin, Sany. Mantan aku." Rania sudah bisa menebak hal itu, bukan sesuatu yang aneh mengingat tatapan keduanya yang intens dan berbeda tadi. "Orang yang tiga tahun terakhir jadi yang paling spesial, jadi prioritas dan yang aku kasih segalanya." Dave tersenyum miring. "Tapi juga jadi orang yang gak ngelakuin hal yang sama." "Kamu masih cinta dia?" Rania tidak bisa menahan rasa penasaran dalam dirinya. Dave terdiam sejenak memikirkan jawaban paling jujur dari dirinya, "Aku pasti bohong kalau bilang enggak." Seketika itu juga ada rasa nyeri dalam d**a Rania hingga ia harus membuang nafasnya yang ia tahan sejak tadi. "Tapi daripada perasaan cinta itu sendiri hal yang paling penting adalah kita gak mungkin sama-sama lagi. Perasaan itu juga berubah." "Dan kamu," Dave menatap Rania dengan lembut, "Aku rasa kamu punya andil dalam hal ini."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN