"Rania, besok malam ada waktu?" "Aku mau kamu ketemu Ayah." "Ya?" "Bukannya akhirnya kita memang harus menuju ke arah yang lebih serius, ralat jika aku salah." Dave menatap wanita itu, menunggu jawaban dari permintaannya yang ia harap tidak hanya datang dari dirinya saja, Dave sudah mengatakan tujuannya sejak awal. Itu juga menjadi alasan kenapa ia tidak mau berpacaran namun berproses mengenal Rania lebih dekat. "Eum." Rania mengangguk, Dave hampir tidak percaya bahwa wanita itu tidak menolak meski ia tampak gugup. "Aku mau." Dan jawaban tersebut menyadarkan Dave bahwa ia tidak sedang bermimpi. Dave tentu senang, setelah proses yang ia lalui bersama Rania, meski ini bukanlah lamaran yang ia berikan namun Rania memberi lampu hijau dengan setuju untuk melangkah lebih jauh. "Terima kas

