Merelakanmu Adalah Usaha Terbaikku

1112 Kata
Rania tiba-tiba bertanya pada dirinya sendiri apa yang tengah ia lakukan sekarang, berdiri di depan cermin wastafel setelah menonton film bersama Dave. Kegiatan itu jelas tanpa skinship apa pun namun ia yakin jantungnya tidak dapat Rania kontrol untuk berdetak secepat ini. Rania menarik nafas memperhatikan rona merah di pipinya yang bukan berasal dari blush on tentu saja. Ia tahu bagaimana masa lalu masih menghantui tapi sepertinya menolak Dave amat bertolak belakang dengan keinginan hatinya dan kali ini otaknya tumpul lagi-lagi tidak bekerja sebagaimana mestinya. "Raniaaa ... apa yang lo lakuin!!" wanita itu kesal ketika pantulan dirinya sendiri pada cermin tengah menata senyum sebaik mungkin. Ia sudah kehabisan waktu, Dave menunggunya di luar dan Rania harus menemuinya. Entahlah, tadi saat di dalam bioskop lampunya redup sehingga ia tidak terlalu khawatir apa rona merah di wajahnya bisa Dave lihat tapi sekarang? pencahayaan di Mall ini bekerja dengan sempurna. Wanita itu menepuk sponge cushion lagi di pipinya berharap wajahnya terlihat senatural mungkin. "Kemana kita?" tanya Dave ketika Rania sudah berdiri di depannya, "Kamu enggak sibuk kan hari ini?" Rania dengan refleksnya menggeleng cepat membuat Dave tertawa dan Rania menjadi salah tingkah, oh ayolah! dirinya bukan lagi remaja yang tengah di mabuk cinta dan ia sudah cukup berpengalaman dalam hal semacam ini tapi sekarang? ia tampak begitu bodoh. Dave memutuskan untuk berjalan saja melihat beberapa toko yang menarik perhatiannya tanpa bermaksud untuk membeli sesuatu, ia sangat jarang melakukan hal seperti berbelanja atau semacamnya kecuali memang sangat di butuhkan. Sampai pada sebuah toko yang menjual peralatan makan, Rania yang tertarik mengajak Dave untuk masuk ke dalam. Ia jatuh cinta pada satu set gelas mug berwarna hijau tua yang klasik yang bagi Dave itu hanya sekedar cantik saja. Tidak lebih. "Kamu tahu, setiap kali lihat peralatan makan kaya gini aku selalu mikir satu saat kalo aku udah nikah aku mau beli semuanya." Rania tersenyum, "Lucu ya?" ia bahkan menertawakan pemikirannya sendiri. "Ahh ... Iyaa, lucu." Seru Dave sambil memandang senyum wanita itu. Dave tahu lucu yang ia dan Rania maksud tidak sama dan pria itu sadar bahwa perasaan sukanya pada wanita ini semakin bertumbuh di mulai dari hal sepele yang keduanya bagi dan tidak pernah ia bagi bersama Sany. Dave tiba-tiba saja mengingat wanita itu, wanita yang sampai hari ini tidak lagi menghubunginya setelah hari dimana Dave memutuskan untuk mengakhiri harapan yang ia bangun pada Sany, setidaknya ia membebaskan wanita itu dari keterikatan terhadap dirinya. Sany yang selalu menginginkan kebebasan meski ia mengatakannya dengan samar seolah takut Dave menyadarinya dengan jelas namun perlahan ia sendiri yang membuat Dave akhirnya menyerah. Lamunannya terhenti ketika Rania melambai dari depan ternyata gadis itu sudah menemukan benda lucu lainnya, Dave tersenyum melangkah mendekati wanita itu. Sekarang tangan Dave yang penuh dengan belanjaan milik Rania, yang lucunya semua hanyalah alat makan juga mug cantik yang ia sukai sejak masuk ke dalam toko. Dave tidak keberatan membawa semua benda yang sebenarnya berat ini rasanya lebih tidak etis membiarkan wanita itu kerepotan sendiri. Meski ia tidak biasa membawa benda semacam ini, Sany biasanya membeli pakaian atau tas juga sepatu yang lebih ringan namun anehnya bersama Rania malah lebih menyenangkan, mungkin juga karena wanita itu terus mengoceh menceritakan banyak hal menarik. "Gimana bakery kamu?" tanya Dave ketika keduanya kini sudah duduk menikmati americano seperti biasa di sebuah cafe yang sangat cozy. "Lancar, as always." Rania tersenyum, "Oh ya, harusnya sekali kali kita ketemu di sana, aku punya menu baru." Jelasnya antusias dan Dave menanggapinya dengan tidak kalah antusias. Namun tidak lama Rania sadar ucapannya tadi terkesan seperti ajakan untuk bertemu lagi daripada memberi poin pada memperkenalkan menu barunya seperti yang sebenarnya Rania maksudkan. Dave sepertinya menyadari hal itu ia tersenyum mendapati ide Rania untuk bertemu lagi, setidaknya wanita itu tidak keberatan bertemu di luar urusan bisnis dengannya. "Ibu aku juga pasti suka banget sama cake kamu," Dave menarik nafasnya, "Kapan-kapan boleh aku ajak ibu ketemu kamu?" ucapnya dengan ragu. Rania mematung, tiba-tiba saja ia menahan nafas dengan sukarela keningnya berkerut memandang Dave dan otaknya mencoba menganalisa maksud dari ucapannya tersebut. Dan bodohnya ia blank, tidak ada penjelasan apa pun yang relevan untuk mengartikan maksud Dave atau mungkin karena Rania malah terpesona dengan sosok di hadapannya yang tersenyum canggung. Rona kemerahan itu sepertinya muncul lagi di wajah Rania, ia merasakan wajahnya panas seperti ada atmosfer aneh di sekelilingnya kemudian ia membuang nafas sambil tersenyum tak kalah canggung. "Maksud aku, ketemu ibu ... eum, biar dia tahu siapa yang punya ide bikin cake seenak ini. Gitu." Dave tertawa kaku menutupi kegugupannya sendiri dan Rania dengan mudah menyadari hal itu. Wanita itu mengangguk, "Boleh banget, aku malah seneng kalo ada yang mengapresiasi apa yang aku buat." Jelas Rania ketika sudah berhasil mengontrol dirinya sendiri. Sementara seorang wanita memasuki lobby sebuah gedung dengan logo terkenal "ZTV" mengenakan atasan off shoulder berwarna cream dan button skirt putih di atas lutut yang memperlihatkan kakinya yang cantik. Rambutnya ia ikat membentuk cepol berantakan dengan beberapa anak rambut yang menjuntai menampilkan bagian leher dan bahunya yang seksi. "Saya ada meeting dengan pak Hanu." Ucap pria yang datang bersamanya pada resepsionis di bagian depan. "Baik, saya cek sebentar. Atas nama siapa bapak?" "Sany Andriana." "Baik, silahkan naik lift sebelah kanan menuju lantai 12. Pak Hanu sudah menunggu di ruangannya." Kemudian keduanya pergi setelah Sany membalas senyum resepsionis tersebut dengan ramah, beberapa orang yang lewat terlihat memandanginya dengan terang-terangan mengingat wanita itu begitu luar biasa bahkan hanya dengan berdiri saja. "Masih pusing?" tanya pria di sampingnya ketika mereka baru memasuki lift. Sany tersenyum, "Lumayan." Jawabnya sambil memijat kepalanya sendiri dengan lembut tidak ingin merusak rambut yang sudah ia rapikan sejak pagi. "Lain kali jangan ke club kalo lu tahu mau ada meeting-" Sany memutar bola matanya dengan jengkel memotong pembicaraan sebelum managernya itu mengomelinya lebih lama lagi, "Ya oke Bapak Vino. Come on lu udah ceramah dari tadi pagi. Jadi please stop it." Wanita itu mulai muak sementara Vino hanya mengangkat bahu sambil menarik nafas kesal. Sany memang seorang alcoholic tapi akhir-akhir ini kebiasaannya minum semakin buruk, ia bahkan melupakan beberapa pemotretan dan endors yang harusnya bisa selesai tepat waktu menimbulkan beberapa kerugian yang tidak di pedulikannya. "Perlu gue telepon Dave biar lu enggak gini lagi?" "Jangan lewatin batas Vin." Jawabnya flat namun terdengar seperti sebuah ancaman. "Oke, tapi lu inget San. Di luar sana banyak banget model baru yang bisa jadi ambil semua yang lu dapetin hari ini. Lu enggak bisa bertahan di dunia modeling dengan mental kaya gini." "Gue tahu lu cinta banget modeling dan lu tahu gimana caranya buat bangkit kaya sebelumnya, jangan buat gue kecewa." Vino tersenyum menepuk bahu sahabatnya itu dan menjulurkan kepalanya ke depan melihat wajah Sany yang kini tampak mulai memikirkan ucapan tersebut. "Kasih gue waktu, ini enggak mudah!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN