Bertemu Adalah Awal Dari Rindu

1100 Kata
Tok ... ttokk ... ttookk .... Seseorang mengetuk pintu kaca ruangan Dave, pria itu bisa melihat Kania dari balik sana tengah tersenyum. Sekretarisnya itu tidak perlu aba-aba lagi untuk masuk ke dalam setelah atasannya memberikan tatapan menyetujui. "Dave ... undangan." Kania menyodorkan amplop berwarna gold dengan tulisan 'You Are Invited' dalam font Burgues Script yang indah dan logo sebuah Bank ternama. Dave meliriknya sekilas sambil menghela nafas kemudian bersandar pada kursinya. "Itu undangan launching produk asuransi Bank CN khusus buat member VVIP, undangannya buat sabtu besok yang artinya 2 hari lagi jam 7 malam." Dave tersenyum miring, "Well, Kania. Berarti gue gak perlu baca lagi kan?" Dave bersandar pada kursinya meletakan kembali undangan yang hampir di buka olehnya kemudian menatap Kania. "Perlu temen enggak buat ke sana?" Kania memberinya kode sambil tersenyum memamerkan gigi. "Harus?" kening Dave berkerut, "Ya udah ngajak lo aja." "Ehmm ...," Kania berdeham, "But sorry boss itu di luar jam kantor dan saya sudah punya janji." "Oke, sendiri juga gak masalah." Dave tampak acuh. "Don't worry Dave, gue udah kontak Rania dan dia free hari itu. Lo tahu hebatnya dia juga dapet undangan yang sama. Have fun yaa!" Kania pergi dengan langkah mundur sambil tersenyum sebelum akhirnya berbalik membelakangi atasannya. "Ra-rania? Serius?" Dave hampir berteriak terkejut. "Gak usah bilang makasih, naikin aja gaji gue." Kania melambai tanpa berbalik lagi, wanita itu dapat melihat antusiasme Dave hanya dari pertanyaannya saja. Dave mengetuk jarinya di meja berpikir satu dan lain hal sampai kemudian meraih ponselnya dan membuka kolom chat, menghapusnya beberapa kali dan menata tulisannya lagi selama hampir 2 menit namun pada akhirnya dia tidak mengirim apa pun. Dave terlihat frustasi dengan dirinya sendiri sampai kemudian tiba-tiba saja bagian atas profilnya bertuliskan 'typing' dan membuat Dave menunggu dengan jantung berdegup kencang juga nafas yang tertahan seolah ia hampir memenangkan lotre. "Dave." Pesannya masuk dan otomatis centang biru membuat si pengirim menyadari bahwa Dave tengah membuka kolom chat padanya. Rania pun terkejut sama dengan Dave. Dan dengan terburu-buru Dave hanya membalas satu hurup 'Y' yang membuat si pengirim mendengus kesal. Tanpa berpikir lagi ia menekan tombol panggilan dan menempelkan benda tersebut di telinga menunggu si penerima yang terkejut menjawabnya. "Ya Rania." Jawab Dave kaku, "kenapa?" Dave mencoba terdengar biasa saja ketika wanita itu menghubungi dirinya padahal jelas-jelas Dave terkejut dan senang dalam waktu yang bersamaan. "Kenapa?" Rania terdengar heran, "Aku ngeliat kamu typing dari tadi makanya aku chat duluan Dave. Apa mungkin aplikasi pesannya eror yaa?" "Aku? ahahaha mungkin ... eror kayaknya." Dave tersenyum kikuk, ia memberikan jawaban terbodoh dan tidak rasional selama hidupnya. "Ahh~ gitu yaa, oh anyway Dave Kania bilang kamu ajak aku buat acara Bank CN besok lusa?" Rania sedang memastikan lagi ia hanya tidak yakin sebab ajakan tersebut tidak datang dari pria ini secara langsung. Dave menarik nafas rasanya ia harus bersikap gentle dan berhenti bermain-main dengan perasaan keduanya dengan terus mengelak. "Iyaa," hening sejenak, "Kamu bisa?" Rania tersenyum dari balik teleponnya meski Dave tidak menyadari hal tersebut, "Kamu bisa jemput aku kan, nanti aku shareloc aja." Dave hampir melompat girang mendengar jawaban Rania itu bukan jawaban seperti iya atau tidak tapi Dave paham betul artinya ia terlalu pintar untuk tahu maksud Rania, ia segera membenarkan posisi duduknya saat tersadar bahwa dirinya hampir berdiri sambil menahan ponsel di telinga dan mendapati Kania menatapnya sambil tersenyum dari luar jendela juga Rania yang menyadari pekikan senang dari suara Dave. "Oke." Jawab Dave setelah akhirnya bisa mengontrol adrenalin yang berpacu dalam dirinya tadi. "Have a nice day Dave." Ucap Rania sebelum mengakhiri teleponnya tanpa menunggu jawaban dari pria di seberang telepon. Dave tidak bisa menyembunyikan senyum yang terus muncul di wajahnya itu pipinya bahkan terasa pegal saat ia mencoba mengontrol wajahnya sendiri. Memijitnya berkali-kali agar pipinya turun dan dapat ia kontrol. Kapan terakhir kali ia bertingkah kekanakan seperti ini, dan kapan terakhir kali Dave jatuh cinta. Ahh ... rasanya baru kemarin, saat ia juga jatuh cinta pada orang yang sama. Rania, dan berkali-kali. Dave sepertinya menyadari Rania juga tersenyum, entah kenapa ia merasa wanita itu memiliki sesuatu yang sama dalam dirinya. Dan benar saja, Rania tengah tersenyum sambil memainkan ponselnya di tangan bersandar pada sofa di kamarnya dengan sebelah sepatu yang terpasang. Iya, wanita itu tengah bersiap pergi ke florist sambil pandangannya terus menatap history chat dari Dave yang sebenarnya membosankan. Beberapa kali tersenyum melihat profil picture yang terpampang di sana. Namun tepat saat itu profil Dave terus saja menunjukkan bahwa ia tengah mengetik pesan padanya hingga membuat Rania terpaku dan melupakan kegiatannya saat itu. Dan tadi saat ia memberanikan diri menelepon Dave itu terjadi secara impulsif padahal beberapa waktu ke belakang ia berpikir untuk menjaga jarak pada pria yang berpotensi membuatnya jatuh cinta itu namun dirinya sendiri yang melewati batas. Rania menarik nafasnya sambil terus tersenyum ia tidak bisa mengontrol wajahnya sendiri dan menampar kedua pipinya berulang-ulang. Kemudian ponsel Dave bergetar lagi di sela lamunan juga senyumnya yang tidak ada habisnya ia hampir mengira itu adalah Rania sampai akhirnya disadarkan dengan nama kontak yang tertulis di sana berbeda dan jelas ia adalah orang lain, orang dari masa lalunya. Dave seketika terdiam menatap ponselnya tanpa ekspresi apapun senyumnya yang sedari tadi sulit ia kontrol kini berubah dengan sendirinya hingga getar dari benda tersebut berhenti. Sebuah pesan kemudian masuk namun Dave dengan cepat membalik layar ponselnya, ia dan Sany sudah benar-benar berakhir dan Dave tidak punya cukup energi lagi untuk berbicara apa pun dengan wanita itu. Apa pun. Sany memasang raut wajah kecewa meletakkan ponselnya di meja setelah mengirim pesan untuk Dave agar mau bertemu dengannya, namun ia tidak mendapat jawaban bahkan teleponnya pun di abaikan sama sekali, ia ingin berpikir positif bahwa Dave mungkin sibuk tapi sekali lagi dalam pikirnya ia sadar bahwa sebelumnya Dave tidak pernah seperti ini, di tengah rapat sekalipun pria itu akan mengangkat teleponnya meski hanya 5 detik untuk membuatnya tidak cemas. Setelah lebih dari sebulan ia tidak menghubungi wajar saja jika Dave mungkin berubah dan itu bukan sepenuhnya kesalahan pria itu. Sany mengurut pelipisnya yang tiba-tiba terasa sakit, 'Migrain lagi.' Pikirnya. Ia membolak-balik undangan di tangannya, undangan yang sama yang Dave miliki dengan tulisan yang sama dan namanya tertulis dengan tinta berwarna gold yang mewah. Persis. Ia mungkin harus pergi sendiri lagipula beberapa teman modelnya juga di undang setidaknya Sany tidak akan kesepian. Atau mungkin ia tidak udah datang, mengingat Dave juga pasti ada di tempat yang sama. Namun sekali lagi ambisinya mengalahkan perasaan Sany, ia tahu bahwa tempat itu penuh dengan banyak orang penting yang pasti bisa menunjang pekerjaannya, ia harus selalu menjaga hubungan dengan banyak orang yang suatu hari bisa saja menjadi kliennya juga. "Hmm ... kayaknya enggak ada pilihan lain."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN