Reymond dan Arlyn duduk bersebelahan di kursi belakang. Sang pria tak melihat ke arah wanitanya sama sekali. Dia sibuk dengan jadwal kerjanya siang ini. Reymond memilih untuk berangkat kerja hari ini, tak ada niat sama sekali berduaan dengan istrinya.
Sedangkan Arlyn, hanya duduk diam di kursi belakang, sembari menunduk. Ada tanda tanya besar yang mengganggu hatinya mengenai sikap Reymond. Apa yang membuat pria itu berubah. Dalam hati Arlyn ingin sekali bertanya. Namun, ia mengurungkan niatnya.
Di belakang kemudi ada Faris, sekretaris, asisten sekaligus orang kepercayaan Reymond. Pria itu, adalah orang yang paling dekat dengan Reymond. Mengetahui semua rahasia, kelebihan, dan juga kekurangannya. Termasuk rencana balas dendam ini, Faris orang paling tahu dan merancang semuanya. Hanya saja, Faris memiliki hati yang kadang lemah. Tidak tega melihat wanita merasa sedih dan sengsara, seperti yang terlihat pada raut wajah Nina Arlyn pagi ini.
Urusan pekerjaan, Faris dapat mengatasi semuanya. Namun, untuk urusan dengan Arlyn dan pernikahannya. Pria itu, hanya melakukan apa yang di titahkan Reymond saja.
Mobil pun sampai di pintu utama rumah mewah Reymond. Pintu terbuka otomatis. Faris menjalankan mobilnya menuju pekarangan rumah, lalu menghentikannya.
Ia keluar, membuka pintu untuk Arlyn dan Reymond, dan kembali menutupnya. Kemudian ia memarkirkan mobil di garasi.
Arlyn dan Reymond masuk ke dalam rumah, dengan langkah sendiri. Tidak ada kemesraan sama sekali. Seorang pelayan membuka pintu untuk mereka. Suasana dingin terasa diantara keduanya. Benar-benar tidak mencerminkan sepasang suami istri yang baru saja menikah.
“Bawa istriku ke kamarnya!” titah Reymond pada pelayan wanita itu.
“Baik Tuan,” sahut wanita itu. Tak lupa ia membawa koper yang di turunkan dari mobil. Arlyn hanya menurut dan mengikuti wanita itu ke lantai dua.
Setapak demi setapak Arlyn menaiki anak tangga. Tubuhnya yang berbalut dress warna biru laut dengan bahan adem, membuatnya merasa dingin. Firasat buruk menghantuinya melihat senyum sinis Reymond. Apa yang akan terjadi selanjutnya?
“Ini, kamarnya Nona,” pelayan wanita itu membuka pintu untuk Arlyn.
Dia masuk, dan pelayan itu ikut masuk ingin menata baju yang di bawa Arlyn dalam kopernya. Baru saja si pelayan membuka koper, Reymond tiba di kamar. Pria itu berdiri di pintu.
“Tinggalkan kita berdua!” suruhnya.
Tanpa menunggu lebih lama, pelayan wanita itu segera berdiri. “Baik, Tuan,” sahutnya lalu segera keluar dari kamar majikannya. Tak lupa ia menutup pintu.
Arlyn hanya berdua dengan Reymond, di ruang kamarnya.
“Setelah memiliki istri, aku hanya ingin istriku yang melayaniku, aku tidak mau para pelayan itu menyiapkan keperluan pribadiku,” jelas Reymond. "Menyiapkan baju, menyiapkan makanan, dan juga menyiapkan segelanya!" imbuhnya.
“Baik!” jawab Arlyn. Ia menunduk karena enggak bertemu pandang dengan Reymond.
“Faris sudah menyusunnya di sini!” ucap Reymond memberikan map berwarna biru muda pada Arlyn.
“Iya,” sahut Arlyn dia menerima map itu, tak sedikit pun berniat membalas tatapan Reymond.
“Nanti sepulang kerja, aku harap kamu bisa menjalankan tugasmu, Arlyn!” tegas Reymond.
“Iya,” jawab Arlyn menurut.
Kemudian, Reymond keluar dari kamarnya, untuk berangkat kerja.
Arlyn sendiri di dalam kamar. Ia ingin sekali membuka map itu. Namun, dia lebih penasaran mengenai Reymond dan masa lalunya.
Akhirnya, dia memutuskan untuk menelefon Papanya.
Panggilan tersambung.
“Halo,” sapa Pak Chandra.
“Halo, Pa, ada yang ingin aku tanyakan,” kata Arlyn dengan suara lirih.
Namun, tiba-tiba Reymond kembali masuk ke dalam kamar.
“Siapa yang kamu hubungi?” tanya pria itu, sembari berjalan mendekati Arlyn.
Klik! Arlyn segera mengakhiri panggilan telefon.
“Tidak ada!” jawab wanita itu.
“Jangan berani macam-macam!” ancam Reymond menatap istrinya tajam.
“Aku, tidak melakukan apa pun!” sahut Arlyn.
“Bagus, buka map itu dan belajarlah menjadi istri yang berguna!” titah Reymond tak sekali pun memberikan senyuman. Kemudian, dia mengambil salah satu arloji favoritnya dan bergegas keluar dari kamarnya. Berangkat kerja bersama sekretaris pribadinya.
Arlyn, mengunci pintu kamar. Dia membuka map warna biru muda yang ia taruh di atas ranjangnya. Ada dua lembar kertas ukuran A4 di tangannya.
Arlyn mencoba membacanya.
Aturan setelah menikah.
1. Wajib bangun lebih pagi dari suami.
2. Menyiapkan baju ganti.
3. Menyiapkan minuman di pagi hari.
4. Makan bersama.
5. Di rumah sepanjang hari, kalau pergi harus izin dengan suami.
6. Memasak makan malam khusus untuk suami di akhir pekan.
7. Harus tampil cantik dan seksi di malam hari.
8. Harus menawarkan melayani terlebih dahulu di malam hari.
9. Tidak boleh mengumpat di depan suami.
10. Tidak boleh marah di depan suami.
11. Harus berkata manis dan sopan di depan suami.
12.
Harus menyambut suami ketika pulang kerja
13. ...
Arlyn mengernyitkan dahinya, dia menggeleng kesal. Tidak kuat membaca aturan pernikahan itu lagi.
“Aku ini istrimu, bukan pelayan! Dan kamu suamiku, bukan majikan yang harus aku hormati!” protes Arlyn kesal. Peraturan itu terlalu memberatkan dirinya. Sebesar apapun rasa cintanya pada Reymond dia juga akan merasa kesal, dan marah jika diperlakukan tidak adil.
Dari pada bingung mencari tahu alasan Reymond, Arlyn memilih untuk tidur karena masih lelah dan kecapaian usai pesta pernikahannya kemarin.
Sepanjang hari ia tertidur, untuk mengurangi rasa lelahnya.
Kemudian, Arlyn pun terbangun karena suara dering ponselnya. Ada panggilan dari suaminya.
“Halo,” sahut Arlyn.
“Lima menit lagi aku sampai di rumah!” ucap Reymond.
“Iya,” jawab Arlyn malas, khas suara bangun tidur.
“Kamu sudah paham kan apa yang harus kamu lakukan, Arlyn!” tegas pria itu.
“Memangnya apa yang harus aku lakukan?” tanya Arlyn.
“Baca aturan pernikahan No. 12 dan No. 17,” jawab Reymond.
Klik! Pria itu mengakhiri panggilan telefon sebelum, Arlyn sempat menjawabnya.
Arlyn, mengucek kelopak matanya. Mengumpulkan nyawa. Meraih kertas yang ada di samping tubuhnya. Melihat aturan pernikahan poin 12 dan 17.
"Astaga!” umpat Arlyn dan segera beranjak dari tidurnya. Dia mengikat rambut, lalu keluar dari kamar. Berjalan menuruni tangga dan menunggu Reymond di ruang tamu.
Tak berapa lama terdengar suara mobil memasuki pekarangan rumah. Arlyn bersiap menyambut kedatangan Reymond. Dia berjalan ke arah pintu dan membukanya.
“Akhirnya, kamu pulang juga sayang, aku sangat merindukanmu!” ucap Arlyn lalu mencium punggung tangan suaminya.
Reymond tak menyahut. Mereka berjalan beriringan ke menuju ke dalam.
“Buatkan coklat hangat untukku!” pinta Reymond.
“Iya,” jawab Arlyn.
“Cepat dan bawakan ke kamar!” jelas Reymond.
Arlyn berjalan ke arah dapur, sedangkan Reymond menaiki tangga menuju kamarnya.
Sampai di dapur Arlyn dihampiri seorang pelayan paling muda yang berada di rumah itu.
“Selamat sore, Nona Arlyn, nama saya Desi, ada yang bisa saya bantu?” tawarnya dengan sopan.
“Aku ingin membuat coklat hangat untuk suamiku,” jawab Arlyn. Berjalan menuju pantry.
“Oh, baiklah, saya akan membantu, semua pelayan di rumah ini, sudah hafal dengan minuman kesukaan Tuan Reymond ketika pulang kerja,” ucapnya sembari mengambil cangkir.
Dia menuang tiga sendok coklat tanpa gula, lalu memberi setengahnya dengan air hangat dan setengahnya lagi dengan air dingin. Tak lupa ia mengaduknya.
“Coklat hangat untuk Tuan Reymond sudah siap!” kata Desi memberikan nampan kepada Arlyn.
“Terima kasih,” ujar Arlyn. Ia tersenyum sangat puas. Meski Reymond kejam, semua pelayan di rumah ini berpihak padanya.
“Tidak perlu berterima kasih Nona, ini tugas saya. Oh ya, aku jamin Tuan Reymond pasti suka,” jelas Desi sangat percaya diri.
Arlyn mengangguk yakin.
Dengan langkah pelan Arlyn berjalan, sampai di tangga ia lebih berhati-hati, karena tak biasa membawa minum di atas nampan. Jelas karena Pak Chandra selalu memanjakan dirinya sejak kecil, Arlyn anak terakhir dan perempuan satu-satunya. Pak Chandra dan kedua kakaknya amat menyayangi gadis itu.
Arlyn sampai di depan pintu kamar. Tangan kanannya memegang nampan, sedang tangan kirinya memutar daun pintu, dengan terus berhati-hati dan menahan nafas. Pekerjaan ini tak biasa di lakukannya.
Arlyn meletakkan nampan di atas meja. Kemudian, ia menyiapkan baju ganti untuk Reymond yang sedang di kamar mandi. Mencoba mengingat setiap aturan dan kewajiban yang harus ia lakukan.
Setelah menyiapkan semuanya. Arlyn duduk di kursi yang ada di balkon, sembari menunggui Reymond selesai mandi.
Sejak kecil, Arlyn sangat gemar membaca Manga yaitu komik atau cerita bergambar yang berasal dari jepang. Oleh karena itu, setelah kuliah ia tidak berminat bekerja di hotel milik papanya. Dia lebih suka membuka toko buku, ‘AG book’s’ yang penuh dengan komik.
Demi mempersiapkan pernikahannya dengan Reymond, Arlyn sudah dua minggu tidak datang ke toko bukunya. Dan Arlyn hari ini berniat menuruti keinginan Reymond agar diizinkan pergi ke AG book’s besok.
Reymond keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit di pinggang. Rambutnya basah dan acak-acakan.
Arlyn bergegas menghampiri suaminya. “Ini bajunya, Sayang,” ucap Arlyn memberikan baju tidur pada Reymond.
Reymond menerimanya dan memakainya. Dia mengeringkan rambut dengan handuk lalu bersandar dengan dua bantal di ranjangnya.
“Mana coklatnya,” pinta Reymond kembali membuka laptopnya. Dia sedang sibuk untuk proyek pembangunan hotel baru, sebagai rencana balas dendam.
Arlyn mengambilkan coklat itu.
“Ini, silakan di minum!” tawar Arlyn percaya diri.
Reymond meneguknya.
Arlyn hanya memperhatikan.
“Minuman apa ini! Kamu ingin membuatku diabetes ya! Ini terlalu manis! Buatkan lagi sana!” teriak Reymond, memberikan cangkir berisi coklat hangat itu pada Arlyn.
Arlyn membuang nafas kesal.
“Iya, akan aku buatkan lagi!” jawab Arlyn mencoba untuk sabar, keluar dari kamar dan berniat membuatkan lagi coklat hangat untuk suaminya.
Sesampainya di dapur, Arlyn mencicip coklat itu, menurutnya itu tidak manis, dan Desi tidak mungkin salah takaran karena setiap hari membuatkan coklat itu untuk Reymond.
Arlyn menuang dua sendok coklat, dan menuang air panas di coklat itu. Ia kembali ke kamar dan memberikan secangkir coklat hangat keduanya untuk Sang Suami. Pokoknya dia harus menurut agar Reymond mengizinkannya pergi ke toko buku besok.
“Ini, minumnya!” Arlyn memberikannya pada Reymond.
Reymond menyesap minuman coklat itu pelan.
“Aak,” teriak pria itu melepehkan minumnya dilantai.
“Kenapa?” tanya Arlyn sambil menggigit bibir bawahnya. Kali ini Reymond pasti akan membentaknya.
“Kamu mau buat lidah ku terbakar ya! Dasar tidak becus! Ambilkan air putih!” umpat Reymond kesal. Pasalnya, Arlyn lupa menaruh air dingin di minuman yang di buatnya.
Arlyn kembali ke dapur. Mengambilkan air putih untuk Reymond. Dalam waktu sepuluh menit ia sudah naik turun tangga selama dua kali. Membuat kakinya pegal.
“Aku mau mandi!” kata Arlyn sebelum Reymond sempat memerintahnya lagi.
Kali ini Arlyn tidak lupa membawa piama handuknya. Cukup satu kali saja ia lupa membawa handuk ke dalam kamar mandi. Tidak akan di ulanginya lagi.
Arlyn memperlama ritual mandinya malam ini. Di butuh waktu lebih lama untuk merenggangkan otot-otot tubuhnya karena berduaan dengan Reymond.
Selesai mandi Arlyn mengenakan piama berbahan satin berwarna putih. Kemudian, dia keluar dari kamar mandi.
Arlyn duduk di depan meja rias, menyisir rambut lalu mengoleskan pelembab di wajahnya. Dia mencoba mengingat aturan pernikahan.
‘Berpakaian seksi dan cantik sudah, kurang satu lagi!’ batin Arlyn.
Kemudian, Arlyn merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
“Sayang,” panggil Arlyn
Reymond melihat sekilas dan kembali sibuk dengan laptopnya.
“Malam ini, kita akan melakukan itu kan?” Arlyn mencoba menawari Reymond.
“Jangan berisik! Kamu tidak lihat aku sedang bekerja!” bentak Reymond.
Arlyn segera mengunci bibirnya. Ia mengganti posisinya miring, membelakangi Reymond. Tidak ada harapan baginya untuk pergi ke toko besok pagi.
Arlyn pun tertidur.
Pukul 23.17 Reymond menyudahi aktivitasnya di depan laptop. Ia mematikan, dan memasukkan benda itu ke dalam tas kerjanya.
Kemudian, ia melihat Arlyn yang sudah tidur dengan posisi terlentang. Dia dapat melihat dengan jelas d**a Arlyn yang indah dan menggoda. Semakin jelas karena wanita itu tidak mengenakan bra. Reymond mengalihkan pandangan ke arah lain. Tidak ingin tergoda. Ini masih terlalu cepat.
Pria itu menelan ludah, mencegah hasrat. Ingin melakukan sesuatu, tetapi di tahannya. Setidaknya dia harus bisa menahan diri, ini semua baru di mulai.
Bersambung.
==❤==
Hai...
Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE.
Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB.
Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya?
Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan.
dreams dejavu