03

2014 Kata
Chandra Lesmana, ayah Arlyn Gracella, membuka beberapa usaha seperti resto dan kafe di beberapa tempat di Jakarta. Namun, dia tetap fokus dengan ‘King’s Hotel' sebagai usaha utamanya. Pasalnya, King’s Hotel adalah usaha yang di rintisnya pertama kali. Tanpa King’s Hotel kekayaan Chandra Lesmana tidak akan seperti sekarang. Pria paruh baya itu, bukanlah pria yang cerdas. Hanya saja ia sangat pekerja keras. Meraih posisinya di titik sekarang. Reymond, yang mengetahui hal itu sudah menyusun rencana yang begitu matang. Ia akan mendirikan hotel yang lebih mewah, letaknya tidak jauh dari King’s Hotel. Sesuai rencana setelah menikah ia segera, merealisasikan pembangunan hotel. Ia sudah menyerahkan pengerjaannya pada sebuah perusahaan konstruksi milik sahabatnya sejak tinggal di Amerika. Ya! Tentu saja karena rancangan dari arsitek dari perusahaan konstruksi itu, sangat sesuai dengan seleranya. Pagi hari. Alarm ponsel Arlyn berbunyi, ia bergegas bangun dari tidurnya. Mematikan alarm dan kembali merebahkan tubuhnya dengan posisi miring menghadap ke arah suaminya. Pria yang sedang tidur itu memang sangat tampan. Kulit putih, alis tebal, rahang lebar, dan garis pipi yang tegas membuatnya terlihat berkarisma. Jambang yang di biarkan tumbuh. Arlyn ingin sekali mencoba menyentuhnya. Namun, dia mengurungkan niatnya. Tidak! Jangan membuat kesalahan. Kemudian Arlyn bergegas, beranjak dari tempat tidurnya. Segera mandi, seperti biasa. Mandi pagi selalu bisa mengembalikan semangatnya. Kemudian, ia bergegas menuju dapur. Ingin membuatkan coklat untuk Reymond sebelum ia terbangun. Arlyn membuat coklat sesuai arahan Desi kemarin. Berharap Reymond akan menyukainya. Sampai di dalam kamar, Reymond ternyata sudah bangun. “Pagi, Sayang, aku bawakan coklat hangat untukmu?” tawar Arlyn. Berjalan mendekati pria itu. Reymond, mengambil cangkir itu. Meminumnya tanpa banyak bicara. “Sayang,” panggil Arlyn. Reymond, menoleh! Melihat dengan sebelah mata. “Bolehkah aku pergi ke toko buku hari ini?” tanya Arlyn. “Tentu, ada dua orang pengawal yang akan mengawasimu!” jawab Reymond tanpa melihat istrinya. “Kenapa harus ada pengawal, aku bisa jaga diri!” ucap Arlyn. “Ikuti saja! Tidak perlu protes!” tegasnya dengan suara yang berat. “Baik,” jawab Arlyn menurut. Suasana kembali hening. “Semalam apa yang kamu kerjakan hingga larut?” tanya Arlyn mendekati Reymond. “Aku, sedang berencana akan membangun sebuah hotel,” jawab Reymond ramah. Mood-nya pagi ini sedang membaik. “Baguslah, aku akan selalu mendukungmu. Kalau perlu bantuan, aku siap membantu!” kata Arlyn antusias. Namun, Reymond hanya tersenyum sinis. Memikirkan wanita itu sendiri yang akan membantu, menghancurkan usaha papanya. “Aku akan mandi sekarang!” ucap Reymond mengetes Arlyn. “Aku akan menyiapkan air hangat dan baju!” jawab Arlyn dengan penuh ceria. Tidak menjadikan aturan dari Reymond sebuah beban yang memberatkannya. Wanita itu melakukan dengan senang hati, karena rasa cinta yang ada di dalam hati. Reymond menggelengkan kepala, kesal! Bagaimana bisa Arlyn seceria itu melakukan pekerjaan seperti itu. Arlyn membuka pintu kamar mandi. “Sayang, air hangatnya sudah siap,” ucapnya dengan bibir menyunggingkan senyuman. Reymond masuk ke dalam kamar mandi. Tidak lupa menutup pintu. “ARLYYNN!!” teriak Reymond dari dalam kamar mandi. Mata Arlyn membelalak, menebak kira-kira kesalahan apa yang telah ia lakukan. Dengan tergesa Arlyn menaruh setelan jas hitam di atas tempat tidur. Kemudian, ia berjalan menuju kamar mandi. Cklek! Pintu kamar mandi terbuka. Dia mendapati Reymond sedang berdiri di ujung dan sudah setengah telanjang. Baju atasnya sudah ia lepas. Ekspresinya ketakutan melihat ke arah bawah wastafel. “Kenapa?” tanya Arlyn menatapnya dengan keheranan. “Jauhkan hewan kecil itu dari sini!” perintahnya. Arlyn mengikuti arah pandangan Reymond. Dia mendapati ada kecoak di bawah wastafel. Arlyn menahan tawa, tidak terpikir olehnya Reymond takut dengan serangga itu. “Apa yang Kamu tertawakan! Segera keluarkan serangga itu dari sini!” perintah Reymond kesal. “Iya, Sayang,” jawab Arlyn. Keluar dari kamar mandi, untuk mencari sapu. Kemudian, ia mengeluarkan kecoak itu dari dalam kamar mandi. Reymond kembali melanjutkan ritual mandinya. Sedangkan Arlyn memutuskan untuk menelefon Rina, karyawan di toko bukunya. Panggilan telefon tersambung. “Hallo,” sapa Rina. “Hallo, Rin, aku punya tugas buat kamu!” ucap Arlyn. “Iya, Mbak, apa yang bisa saya bantu,” jawabnya tegas. “Tolong cari percetakan atau toko buku yang masih mempunyai koleksi surat kabar di tahun 2001 dan 2002, ya?” pinta Arlyn yang memang tidak mendapat jawaban apa pun di google search saat mencari tahu mengenai orang tua Reymond. “Baik, tapi sepertinya akan sedikit lama karena saya harus menelefonnya satu persatu,” jawab Rina. “Iya, tak apa, sudah dulu, ya!” “Iya, Mbak!” Klik! Panggilan telefon berakhir. Reymond keluar dari kamar mandi dengan, handuk yang melilit di pinggangnya. “Siapa yang kamu telefon?” tanya Reymond. “Karyawanku,” jawabnya. “Kamu boleh ke Toko buku hari ini, asal bisa pulang sebelum jam dua, aku tidak ingin saat Paman dan Bibiku tiba di sini, Kamu tidak ada di rumah!” tegas Reymond. “Iya, aku akan pulang sebelum jam dua,” sahut Arlyn. Reymond mulai mengenakan bajunya satu persatu. Lalu dia mengingat kejadian saat Arlyn menertawakannya tadi. “Arlyn!” panggil pria itu dengan suara keras dan dahi mengeriput karena tidak suka dengan sikap istrinya. “Iya, Sayang,” jawabnya lirih. Nada suara Reymond, menyiratkan bahwa pria itu sedang marah. “Kenapa tadi Kamu menertawakanku? Hah!” protes Reymond sembari mematut di depan cermin. “Tidak, aku tidak tertawa!” jawab Arlyn mengelak. “Mulai nanti malam, setiap aku mandi, kamu harus memastikan tidak ada serangga kecil itu di kamar mandi!” suruh Reymond. “Iya,” jawab Arlyn menahan tawa. Baginya Reymond yang takut kecoak benar-benar lucu. “Beraninya kamu mengulanginya lagi! Apa itu lucu, aku memang tidak suka dengan kecoak!” ucap Reymond dengan suara lebih keras. “Tidak, Sayang!” jawab Arlyn. “Mana mungkin aku berani menertawakanmu!” ucapnya lagi. “Sudahlah!” Reymond kembali fokus memperhatikan wajahnya di depan cermin. “Sayang!” panggil Arlyn. Reymond tak menyahut, masih dongkol karena Arlyn berani menertawakannya. “Sayang!” Arlyn kembali memanggilnya. “Apa sih? Berisik!” Reymond sibuk menyisir rambutnya ke belakang. Arlyn kembali menahan tawa melihat Reymond yang sudah bersiap untuk keluar dari kamar. “Sayang!” kini Arlyn memanggil dengan suara lebih keras. “Diam kamu! Aku sedang tidak ingin mendengarkanmu bicara!” bentak Reymond. Pria itu berjalan menuju pintu. “Tunggu Sayang! Aku Cuma ingin bilang kalau kamu belum memakai celanamu!” ucap Arlyn kemudian menutup bibirnya menahan tawa. Reymond menghentikan langkahnya. Melihat dirinya sendiri. Sudah memakai kemeja putih, jas hitam di lengkapi dasi, tetapi ia lupa memakai celana panjangnya. Reymond berjalan ke depan meja rias, lalu memakai celana panjangnya dengan kilat. “Berhenti tertawa atau aku?” ancam Reymond menatap sinis ke arah Arlyn. Arlyn menunduk menahan tawanya sekuat tenaga. Reymond keluar dari kamar dengan membanting pintu sekuat tenaga. Arlyn segera menyusul Reymond ke bawah tak lupa ia membawa tas kerja suaminya. Sembari menuruni anak tangga Reymond memikirkan bagaimana membalas perlakuan Arlyn barusan. Beraninya wanita itu menertawakannya sebanyak dua kali benar-benar keterlaluan. Dia duduk di kursi utama meja makan. Menyuruh pelayan untuk segera membawa makanan yang sudah tersaji kembali ke dapur. Arlyn sampai di ruang makan. “Apa Kamu belum memasak untukku?” tanya Reymond datar. “Bukankah pelayan sudah memasak?” protes Arlyn. “Mereka belum memasak, dan aku hanya ingin masakanmu!” jawab Reymond. “Tunggu, di peraturan pernikahan aku hanya memasak di weekend saja!” jelas Arlyn mulai gegabah. Tidak bisa masak. Reymond mengalihkan pandangan ke jam tangannya. Masih cukup banyak waktu untuk mengerjai Arlyn. Lagian, dia kan bos, tak apa kalau terlambat datang bekerja, atau tidak usah berangkat kerja sama sekali. “Buatkan aku makanan, atau aku tidak akan mengizinkanmu, keluar rumah hari ini!” ucap Reymond penuh penekanan tak terbantahkan. “Tapi ...,” protes Arlyn. “Tidak ada tapi! Cepatlah memasak sekarang! Aku akan menunggunya!” kata pria itu menguasai emosi lawan bicaranya. “Baik,” jawab Arlyn. “Apa yang harus aku masak?” tawar Arlyn. “Terserah, aku bisa makan apa saja!” jawabnya santai di sertai ekspresi puas. Otaknya bekerja sangat lancar ketika memikirkan untuk menjaili istrinya. Arlyn pergi ke dapur. Ruangan itu kosong. Entah semua pelayan tak ada di tempat itu. Reymond, mungkin menyuruh mereka pergi dari sana. Arlyn membuka kulkas. Dia mengambil sayur dan ayam. Sayur akan di masak sop, dan ayam akan di jadikan ayam goreng. Cukup simpel karena semua orang bisa memasaknya. Sementara itu, Reymond memberitahu Faris kalau hari ini ia akan berangkat terlambat. Dan absen dari rapat pagi ini. Dalam waktu tiga puluh menit, Arlyn berhasil membuat sop, dan ayam goreng. Dengan percaya diri wanita itu menghidangkannya pada Sang suami. “Silakan dimakan,” tawar Arlyn. Kemudian, ia menyiapkan piring beserta sendok, dan garpu. “Apa kamu lupa kalau aku sudah tinggal di Amerika selama 18 tahun? Aku tidak terbiasa sarapan dengan menu makanan seperti ini! Bisa membuatku sakit perut dan tidak semangat kerja seharian!” kata Reymond sembari melirik menu makanan yang di sajikan istrinya. Arlyn terkesiap, menelan ludah. Merasa sedih, padahal ia sudah berusaha memasak sebisanya. Namun, Reymond tak berniat mencicipinya sama sekali. “Aku akan berangkat kerja sekarang!” ucap Reymond berdiri. Mengambil tas dan pergi begitu saja. Acuh, dengan apa yang dirasakan Arlyn saat ini. Arlyn duduk di kursinya. Dia memakan sop dan ayam goreng yang baru ia masak. Dadanya terasa berat. Merasa ada yang tidak beres dengan pernikahannya. Ya! Reymond tak seperti yang ia kenal sebelum mereka menikah. Dering Arlyn berbunyi. Ada panggilan telefon dari Rina. Wanita itu menghembuskan nafas panjang menyudahi, rasa sesak di d**a. “Hallo, Rin,” sapa Arlyn. “Hallo Mbak Arlyn, jadi datang ke toko?” tanya Rina di seberang telefon. “Sebentar lagi aku akan berangkat,” jawabnya. “Saya sudah menghubungi beberapa orang yang mungkin bisa membantu kita, untuk mendapatkan apa yang Mbak Arlyn cari!” kata Rina. “Di mana kita bisa mendapatkannya!?” tanya Arlyn antusias. “Kebanyakan dari rekan sesama toko buku dan percetakan hanya menyimpan surat kabar paling lama sepuluh tahun sebelumnya, atau sekitar tahun 2010. Untuk surat kabar tahun 2000-an kita bisa mencari ke surat kabarnya langsung,” jelas Rina. Karyawannya itu memang selalu cekatan. “Baiklah, tak apa aku akan berusaha untuk mendapatkannya!” Arlyn selalu pantang menyerah. “Apa Mbak Arlyn yakin? Itu artinya Mbak Arlyn akan menemui Nicholas!” Rina memberi tahu. “Jika memang harus, aku tidak keberatan bertemu dengan pria itu!” jawab Arlyn menghembuskan nafas panjang teringat kembali tentang Nicholas, mantan kekasihnya. “Okay, Mbak! Aku akan memberi tahu jika ada kabar terbaru,” kata Rina. “Iya, siph!” Klik panggilan telefon di matikan. Arlyn terdiam, menatap kosong ke arah piringnya. Ingatan buruk mengenai Nicholas, muncul kembali di kepalanya. Nicholas Aiden pria usia 29 tahun. Anak konglomerat negeri ini. Termasuk penguasa media dan surat kabar. Dia adalah anak dari salah satu pemilik stasiun TV, pewaris satu-satunya. Pria itu sudah menjalin hubungan dengan Arlyn selama empat tahun. Saling mencintai, menyayangi, dan memuja satu sama lain. Rencananya tahun ini mereka akan melanjutkan hubungan itu ke jenjang yang lebih serius. Namun, semua itu tinggal kenangan. Karena, tepat ulang tahun ke empat, hari jadi mereka. Arlyn, menerima foto yang membuat hatinya tercabik-cabik. Entah siapa yang mengirim foto itu. Yang jelas foto itu berhasil membuat Arlyn terluka dan marah. Tidak ingin menemui Nicholas lagi. Di dalam foto itu, Nicholas sedang tidur dan di sebelahnya ada wanita bertelanjang sedang memeluknya. Arlyn, begitu marah dan hancur melihatnya. Sejak saat itu Arlyn memutuskan untuk mengakhiri hubungannya dengan Nicholas dan tidak akan menemui pria itu lagi. Akankah Arlyn menemui Nicholas demi mendapatkan informasi mengenai Reymond? Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN