08

1603 Kata
Part 8. Reymond bukan tipe pria yang akan memarahi, istrinya di depan orang banyak. Hanya saja ia sedang berdebat dengan dirinya sendiri. Ada rasa aneh di hatinya karena melihat Arlyn dalam pelukan pria lain. ‘Dasar murahan!’ umpat Reymond dalam hati. Baru saja semalam Arlyn mengatakan keinginannya untuk memeluknya setiap malam. Namun, apa yang di lihatnya kali benar-benar membuktikan bagaimana Arlyn sebenarnya. Wanita yang munafik, mulutnya mengatakan kebohongan. Berbeda dengan isi hati dan pikirannya. Arlyn dan Reymond bersama orang suruhan dan pengawalnya berada di dalam lift. Lift bergerak turun, suasana begitu hening, hanya isakan Arlyn yang kadang terdengar. Reymond pun diam, kedua tangannya bersembunyi di saku celana. Bibirnya mengatup rapat, tetapi ekspresi wajahnya tak terlihat karena kaca mata yang bertengger dan menutupi apa yang terpancar di manik matanya. Orang suruhan Reymond dan dua pengawal, mereka pun hanya bisa diam. Terjebak dalam suasana yang sangat tidak nyaman. Pintu lift terbuka. Reymond berjalan terlebih dahulu diikuti Arlyn satu langkah di belakangnya. Lalu ketiga orang lainnya baru berani menapakkan kaki keluar dari lift. Arlyn meraih jemari tangan Reymond, tetapi pria itu tak menyambut. Acuh dan tak menghiraukan tindakan Sang Istri. Sampailah mereka di tempat parkir. “Aku akan pulang bersama Arlyn,” kata Reymond kepada ketiga anak buahnya. “Baik, Tuan!” sahut mereka kompak. Reymond berjalan ke arah mobil, diikuti Arlyn yang mengekor di belakangnya. Pria itu membuka pintu untuk istrinya. Kemudian, ia berjalan memutar, lalu duduk di belakang kemudi. “Aku bisa menjelaskan semuanya,” kata Arlyn membuka percakapan. Reymond tak menjawab. Dia melepas kaca mata hitamnya. Terlihat tatapannya yang dingin dengan bibir yang ia kunci rapat-rapat. Mobil mulai berjalan dengan kecepatan penuh. Tampak jelas Arlyn sangat ketakutan, dengan ekspresi suaminya. Dia hanya bisa menunduk dan sesekali mencuri pandang ke arah Reymond. Sangat datar tanpa ekspresi. Sementara di luar, hujan sedang turun dengan begitu derasnya. Mereka tiba di rumah. Reymond sengaja memarkirkan mobilnya di garasi. Jarak garasi dan pintu depan cukup jauh. Ia keluar terlebih dahulu dan berjalan sendirian menembus derasnya hujan. Arlyn berlari menyusul suaminya, yang masih tetap saja acuh. Dua orang pelayan membawakan payung, tetapi sudah terlambat karena Reymond dan Arlyn sudah sampai di teras dalam keadaan basah kuyup. Rambut dan semua mereka kenakan basah karena air hujan. Tanpa melihat ke arah Arlyn, Reymond berjalan masuk rumah. Arlyn harus berlari untuk mengejar langkah Reymond yang cepat dan lebar. “Berhenti! Aku bisa jelaskan semuanya!” teriak Arlyn yabg kesal karena Reymond tak menghiraukannya. Suaranya terdengar sampai-sampai seseorang yang baru saja tiba di rumah itu terbangun karena teriakannya. Reymond menghentikan langkahnya di ujung tangga, berpikir sejenak. Otaknya masih waras agar tidak melampiaskan kemarahannya pada Arlyn di depan para pelayannya. Akhirnya, Reymond meneruskan langkah tanpa memedulikan perintah Arlyn. Arlyn tidak tinggal diam, ia pun mengikuti suaminya masuk ke dalam kamar mereka yang berada di lantai dua. Reymond melepas jas dan kemejanya yang basah. Lalu, ia duduk di tepi ranjang mengibaskan rambut kepalanya yang berair. Arlyn berjalan menghampirinya, duduk bersimpuh. “Sayang, aku bisa menjelaskan semuanya,” kata Arlyn menggenggam erat tangan Reymond. Reymond masih diam tak sekali pun melihat ke arah istrinya. “Aku tadi hanya ...” Arlyn tidak meneruskan ucapannya. “Diam kamu, aku lihat dengan mata kepalaku sendiri, semuanya bahkan kamu tidak bisa menjaga harga dirimu, Arlyn!” ucap Reymond memotong perkataan Arlyn. Kemudian, ia menepis tangan istrinya. “Bukannya kamu menikahiku, karena tujuanmu yang tidak aku ketahui itu! Seharusnya kamu tidak marah, melihatku berpelukan dengan pria lain Reymond!” balas Arlyn yang merasa tidak terima dengan sikap Reymond. “Aku menikahimu memang karena sebuah tujuan! Tapi itu bukan berarti kamu bisa menemui semua pria yang kau sukai Semaumu sendiri Arlyn! Ingat kamu masih istriku dan kita baru saja menikah!” jawab Reymond tidak mau kalah. “Sayang, jujur saja Kamu cemburu kan?” tantang Arlyn. Sebenarnya wanita itu juga penasaran tentang isi hati Reymond yang sebenarnya. “Diam, kamu jangan banyak bicara!” bentak Reymond menarik paksa tangan Arlyn untuk berdiri. Mereka berdua berdiri. Saling menatap satu sama lain. “Mulai sekarang, aku tidak akan mengizinkanmu pergi dari rumah mengerti!” teriak Reymond. Arlyn mencoba melepaskan diri dari genggaman tangan Reymond, tetapi tangan suaminya begitu kuat hingga ia hanya bisa pasrah ketika Reymond menuntunnya masuk ke kamar mandi dan menguncinya di sana. Arlyn menurut, suara dan pandangan mata Reymond membuatnya ketakutan. Dia terduduk di lantai kamar mandi yang dingin. Bajunya yang basah membuat suhu tubuhnya semakin dingin. Lima belas menit berlalu. Reymond sudah mengenakan baju hangat. Ia merebahkan tubuhnya di ranjang yang hangat. Suara Arlyn meminta di bukakan pintu ia acuhkan. Ia memilih memejamkan mata dan menikmati tidur siang di cuaca yang dingin dan turun hujan ini. Reymond, terbangun. Ia turun ke lantai satu untuk menikmati coklat hangat. Tanpa di sangkanya, ada Justine, yang sedang duduk di ruang tengah lengkap dengan dua kopernya. ** Justine Ricardo, anak pertama dari David dan Jenny. Seperti yang di bilang mamanya, Jenny. Anak laki-lakinya itu, ia titipkan pada Reymond untuk belajar bisnis. Justine dan Reymond tumbuh bersama. Namun, sifat mereka sangat bertolak belakang. Jika Reymond dingin dan cuek. Justine hangat dan bersahabat. Reymond pandai dan Justine kebalikannya dia tak cukup pandai dan sepanjang hidupnya, kedua orang tuanya selalu membanding-bandingkannya dengan Reymond dalam hal apa pun. Karena, Reymond selalu melakukan apapun lebih baik sempurna di bandingkan dengan dirinya. Justine tiba di rumah Reymond terlebih dahulu, sebelum hujan turun. Hak itu membuatnya mendengar pertengkaran antara Reymond dan Istrinya. Mereka baru menikah tiga hari, dan itu benar-benar membuat Justine kesal. Reymond memang selalu kasar dan tidak mau mengalah, meskipun dengan wanita. Begitulah sikap Reymond sejak dulu. Keras kepala dan mau menang sendiri. Justine sedang duduk di ruang tengah kediaman rumah Reymond. Suara langkah menghampirinya dan Reymond sekarang sudah berdiri di sampingnya. “Kapan kamu tiba?” tanya Reymond angkuh, kedua tangganya masuk ke saku celana. “Sejak tadi, apa yang membuat Kakak Ipar berteriak seperti itu, jangan terlalu kejam dengan istrimu sendiri!” tegas Justine tanpa menatap ke arah Reymond sama sekali. “Jangan ikut campur, kamu tidak tahu apa-apa!” balas Reymond tidak terima. “Aku hanya tidak suka kamu berlaku kasar pada wanita, apa lagi wanita cantik seperti Kakak Ipar!” kata Justine, dari dulu itu memang hobinya, menjaili Reymond manusia super serius yang tidak bisa di ajak bercanda. “Urus masalahmu sendiri! Belajar mandiri dan jangan bergantung pada orang tuamu! Kamu baru berhak mencampuri urusanku!” sanggah Reymond dia kembali ke kamarnya lagi. Mengingat Arlyn yang sudah ia kunci di kamar mandi selama satu jam. Reymond setengah berlari merasa khawatir. Justine yang menangkap raut tak biasa dari wajah sepupunya itu, ikut berlari di belakangnya. Pintu kamar Reymond terbuka. Pria itu berlari menuju kamar mandi dan segera membukanya. Sedangkan Justine, berdiri di depan pintu, masih punya rasa sopan tidak berani masuk ke kamar Tuan rumah. Reymond mendapati Arlyn tak sadarkan diri di lantai kamar mandi. Wajahnya pucat, begitu pun dengan kaki dan tangannya. Reymond bergegas menggendong Arlyn mengangkatnya dan merebahkan tubuh istrinya di atas ranjang. “Lihat, apa yang baru saja kau perbuat Reymond!” lirih Justine dengan seringaian khasnya yang menjengkelkan. “Diam kamu!” balas Reymond. Ia segera menelefon dokter pribadinya. “Hallo!” sapa Dokter Edo yang sedang kerja di tempat praktiknya. “Cepat datang ke sini sekarang juga!” titah Reymond. “Tapi aku masih ...,” jawab Dokter Edo. “Cepat! Aku bilang cepat!” teriak Reymond sekuat tenaga. Kemudian ia kembali menghampiri Arlyn yang masih diam saja. “Arlyn bangun! Arlyn!” panggil Reymond khawatir. “Kamu sudah mencelakai Kakak Ipar!” ucap Justine tersenyum puas. Ia sangat senang melihat ekspresi Reymond yang ketakutan dan putus asa. “Diam kamu! Panggilkan pelayan segera datang ke sini!” perintah Reymond pada Justine setengah berteriak. “Aku tidak mau!” sahut Justine. Reymond yang kesal dengan sikap Justine mendorong pria itu menjauh dari pintu kamar. Ia berjalan menuju kamar dan berteriak meminta pelayan wanita agar ke lantai atas. Kemudian, Reymond kembali masuk ke dalam kamar. Ia mencoba menenangkan pikirannya. Berdiri, dengan dua tangan terlipat dan terus menatap wajah Arlyn yang masih diam saja. “Ada apa Tuan?” kata Desi setibanya di kamar Reymond. “Apa yang terjadi dengan Nona Arlyn?” mereka mulai mencerca Reymond dengan banyak pertanyaan. “Tolong gantikan baju Arlyn dengan pakaian yang kering perintah Reymond,” tenang dan berwibawa meski hatinya khawatir dengan keadaan Arlyn. Desi dan ketiga pelayan yang lain mulai mengganti baju Arlyn, termasuk Reymond juga ikut menyaksikannya. Ini untuk kali kedua ia melihat Arlyn telanjang, tanpa sehelai benang pun. Namun, kali ini ia lebih fokus dengan keadaan sang istri. “Kalian boleh kembali ke dapur, bawakan dua coklat hangat kemari!” suruh Reymond. “Baik Tuan,” Reymond berdiri di tepi ranjang, mengamati wajah Arlyn yang pucat. Pandangan matanya beralih melihat jam dinding. Sudah dua puluh menit tetapi dokter Edo belum juga tiba, membuatnya semakin khawatir saja. Pria itu terus menunggu. Sesekali ia melihat jam dinding dan raut wajah istrinya. Kedua tangannya terlipat di depan d**a, dengan kepala menunduk. Meyakinkan diri, bahwa istrinya akan baik-baik saja. Bersambung. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN