07

1801 Kata
Part 7 Pagi hari yang cerah. Sinar mentari memasuki jendela kamar. Reymond memutuskan untuk berangkat kerja lebih pagi dari biasanya. Ingin menghindari Arlyn, lebih tepatnya menahan emosi ketika harus berbicara dan makan pagi bersama istrinya itu. Kedua pengawal yang biasanya mengawasi, Arlyn, ia tugaskan untuk memata-matai Nicholas dan Arlyn. Kini Reymond sedang duduk di ruangan kantornya. Hanya menatap layar ponselnya, menanti kabar dari dua pengawalnya. “Tuan Reymond,” panggil Faris. “Iya,” sahut pria itu sekenanya saja. Matanya masih terpaku pada layar ponsel. “Ada jadwal meeting dengan investor yang akan mendanai proyek hotel kita, Tuan,” ucap Faris. “Gantikan aku! Hari ini aku tidak berminat melakukan apa pun!” jawab Reymond ketus. “Tapi, Tuan!” protes sekretarisnya itu. “Tidak ada tapi! Atur sebagaimana seperti biasanya!” tegasnya tak bisa di ganggu gugat. “Baik!” jawab Faris menelan ludah. Sifat menjengkelkan bosnya itu sedang kambuh, ia harus memahami. Faris pamit, ia mendatangi berbagai pertemuan dan janji Reymond dengan rekan bisnisnya. Kadang Reymond benar-benar menyusahkannya. Namun, dia tidak bisa protes karena itu memang tugasnya. Dering ponsel Reymond berbunyi ada panggilan dari Arlyn. Reymond, menerima panggilan di detik-detik terakhir. “Halo,” sapa Reymond malas. “Maafkan aku Sayang, aku baru saja bangun,” ucap Arlyn. “Iya, tak apa!” jawab Reymond melihat Arlojinya yang sudah menunjukkan pukul delapan pagi. “Apa kamu sudah makan?” tanya Arlyn. “Belum,” jawabnya. “Apa Kamu ingin aku mengantar bekal makan untukmu?” tawar Arlyn merasa sangat bersalah karena bangun telat. “Tidak perlu!” tolak Reymond. “Bukankah Kamu harus ke toko buku?” Reymond balik bertanya. “Oh, iya,” sahut Arlyn mengingat janjinya dengan Nicholas. “Emm,” gumam Reymond pelan. “Ok Sayang, semangat kerjanya ya!” ucap Arlyn. Namun, belum selesai ia mengucapkan kalimatnya Reymond sudah mengakhiri panggilan telefonnya. Pukul sembilan tepat Reymond mendapat kabar dari suruhannya kalau mereka sudah menemukan apartemen milik Nicholas, tempat Arlyn dan mantan pacarnya janji ingin bertemu. Sedangkan, kedua pengawal Arlyn masih berada di sekitar rumah Reymond, untuk memata-matai dan mengawasi Arlyn dari kejauhan. Reymond hanya berdiam di ruangan, tak bisa konsentrasi melakukan pekerjaan atau hanya berjalan mengelilingi ruang produksi seperti yang ia lakukan saat berada dalam perusahaannya. ** Pukul sembilan tepat, Arlyn selesai bersiap. Ia sudah mandi, berpakaian dress kasual warna coklat s**u yang sangat cocok dengan warna kulitnya. Tak lupa ia juga memoleskan bedak tipis dan lipstik warna peach. Dengan flatshoes warna hitam dan tas warna senada, Arlyn melangkah keluar dari rumahnya. Ada sopir pribadi yang akan mengantarnya sampai ke AG Book’s. Arlyn duduk di kursi belakang, sesekali ia mengecek layar ponselnya memastikan di mana apartemen Nicholas. Mobil yang berjalan dengan kecepatan sedang dan lagu pop yang di putar si sopir membuat perjalanan Arlyn tidak membosankan dan tidak terasa ia sudah tiba di tempat kerjanya. Tanpa diketahui oleh wanita itu, kedua pengawal yang biasanya mengikutinya ke mana pun ia pergi, kini juga sedang mengawasinya dari jauh. Arlyn menyapa Rina yang sedang menjaga toko buku, hari sabtu biasanya banyak pengunjung di bandingkan hari lainnya. “Bagaimana pertemuan dengan Pak Nicholas kemarin Mbak?” tanya Rina penasaran. Gadis itu paham betul kisah cinta Arlyn dan Nicholas dari awal sampai akhir. Dari masa perkenalan, kisah manis, cerita mereka memadu kasih hingga Arlyn yang tak berhenti menangis selama tiga hari tiga malam karena kesalahan yang dilakukan Nicholas. Wajar saja bila Rina, sangat ingin tahu ketika mereka bertemu lagi, dengan suasana yang berbeda. Di saat Arlyn sudah berstatus menjadi istri orang. “Tak ada yang spesial, aku hanya menemuinya demi mencari tahu lebih banyak lagi mengenai Reymond,” jawab Arlyn tegas, membuat Rina diam dan tak banyak bertanya lagi. Sembari menunggu jam makan siang, Arlyn mulai membaca buku tentang kehidupan suami istri. Terutama mengenai bagaimana membuat Reymond memberikan perhatian lebih padanya. Pukul 11.32 Arlyn mendapat pesan dari Nicholas. Nicholas : [Aku sudah sampai di apartemen, aku harap kamu ke sini sendiri. Karena ada hal lain yang ingin aku jelaskan. ] Arlyn menggelengkan kepala, baru saja berniat mengajak Rina untuk menemaninya, tetapi Nicholas sudah terlebih dulu melarang. Arlyn : [Aku ingin mengajak Rina, terserah kamu mengizinkan atau tidak!] Nicholas : [Kalau kamu tidak datang sendiri! Aku tidak akan membuka pintu dan tidak akan memberikan apa yang kamu inginkan. ] Balasan pesan dari Nicholas membuat Arlyn meneguk saliva. Dia menyerah, tak ada yang bisa ia lakukan kecuali menuruti keinginan pria itu demi mendapatkan informasi lebih mengenai masa lalu suaminya. “Rin, aku akan menemui Nicholas sekarang juga,” pamit Arlyn lirih. “Iya, Mbak, hati-hati ya, aku akan mendoakanmu dari sini,” ucap Rina tulus. Cukup paham ketakutan yang di rasakan Arlyn. “Jaga toko ya, jangan tunggu aku, karena aku akan menemui suamiku setelah berhasil mendapatkan apa yang aku inginkan!” suruh Arlyn kepada karyawannya itu. “Siap Mbak!” sahutnya yakin. “Sebentar, apa tak masalah Mbak Arlyn menemui Pak Nicholas sendirian?” ungkap Rina khawatir. “Tenang saja! Hari ini tak ada pengawal yang mengikutiku, semua akan berjalan lancar dan baik-baik saja!” kata Arlyn mantap. “Baik, Mbak aku percaya!” Arlyn mengangguk pasti, ia meraih tas dan memesan taxi dengan aplikasi di ponselnya. Tak berapa lama, sebuah mobil menghampirinya. Ingin mengantarkan Arlyn ke tempat yang ia tuju. Tanpa di sadarinya, dua orang pengawal yang biasa menjaganya mengikuti Arlyn dari belakang. Tak membiarkan istri dari bosnya itu bebas dari pengawasannya. Taxi yang ditumpangi Arlyn berjalan dengan kecepatan penuh. Namun, kedua pengawal itu tak kalah gesit mengendarai mobilnya dan tetap bisa memastikan target dalam jangkauannya. Arlyn tiba di apartemen Nicholas. Masuk ke dalam lift dan menekan angka, sesuai dengan unit apartemen Nicholas berada. ** Setelah memastikan Arlyn masuk ke dalam mobil. Kedua pengawal itu mengikuti mobil yang di tumpangi. Satu pria fokus mengemudi, dan tidak membiarkan target luput dari pengamatannya. Satu pria yang duduk di sebelahnya, mencoba menghubungi Reymond melalui panggilan telefon. Cukup lama panggilan telefon tersambung, hingga beberapa sekian detik sudah ada sahutan dari, bosnya. “Hallo,” sapa Reymond gegabah karena sudah menunggu panggilan sejak tiga jam yang lalu. “Tuan, Nona Arlyn sedang pergi menuju apartemen milik Nicholas, kami masih terus memantau,” lapornya. “Ok, terus ikuti dan jangan sampai kehilangan jejak!” titah Reymond. “Baik, Tuan!” jawabnya. Klik! Reymond mengakhiri panggilan telefon. Ia mengambil kaca mata hitam, memakainya dan segera bergegas dari ruangan kantornya. Beberapa karyawan menunduk ketika berpapasan dengannya. Namun, Reymond acuh langkahnya lebar dan cepat menuju tempat parkir. Ia mengambil sendiri mobilnya dan mulai mengendarainya keluar dari perusahaan. Reymond terus memacu pedal gas menuju apartemen Nicholas Aiden. Berbekal dari orang suruhannya. Reymond tiba di apartemen, tepat setelah Arlyn masuk ke dalam lift. Ia menuju lantai bawah tanah, untuk memarkir mobil baru kemudian menuju ke lantai di mana unit apartemen milik Nicholas berada. Orang suruhannya sudah memastikan bahwa Arlyn telah masuk ke dalam unit apartemen milik Nicholas. Reymond duduk di sebuah ruangan bersama orang suruhannya itu. Mengatur strategi untuk mengakap basah Arlyn, tanpa menimbulkan keributan. Apa yang di rasakannya saat ini tidak dapat terbaca karena terhalang kaca mata hitam. Yang jelas, Reymond merasakan dadanya teramat berat. Ingin marah pada dirinya sendiri, entah mengapa ia merasa sakit hati dengan kenyataan yang ada di depan matanya. ** Arlyn berada di apartemen milik Nicholas. Pria itu ternyata dalam keadaan yang tidak baik. Nicholas berdiri di balkon apartemennya. Memandang keluar, memperhatikan langit mendung. Sebentar lagi akan hujan. Arlyn berjalan menghampiri mantan kekasihnya itu. Keheranan dengan kode pintu yang di gunakan adalah tanggal lahirnya. Wanita itu berdiri tepat di belakang Nicholas. “Aku tidak bisa berlama-lama,” kata Arlyn ia melipat kedua tangannya di depan d**a. “Aku akan memberikan ini, setelah kamu mendengar penjelasanku,” sahut Nicholas, ia menunjukkan flasdish berwarna hitam lalu kembali memasukkannya ke dalam saku jasnya. “Apa yang ingin kamu jelaskan?” tanya Arlyn, mencoba bersabar. “Aku tidak pernah tidur dengan wanita yang ada di dalam foto itu, Arlyn! Aku di jebak!” jelas Nicholas. “Lantas apa yang harus aku lakukan? Aku sudah menikah sekarang!” jawab Arlyn dengan kata-kata yang tidak menyakiti hati Nicholas. Sejujurnya Arlyn sudah tidak peduli tentang hal itu, yang ia utamakan adalah Reymond, Reymond, dan Reymond. Cintanya teramat besar untuk pria itu. “Apa kamu sudah melupakan semua tentang kita? Aku berani sumpah aku tak melakukan apa pun, hari itu aku sedang di klub malam dan tidak berniat untuk mabuk, tapi ada seorang pria yang mengajakku mengobrol, kemudian aku tidak sadar lagi hingga pagi menjelang!” cerita Nicholas jujur. “Tidak ada yang bisa aku lakukan, aku sudah menikah dan aku harus menjaga cinta dan setiaku hanya untuk suamiku, raja di hatiku!” tegas Arlyn. Nicholas bungkam, mengutuki dirinya sendiri. Hanya karena sebuah kecerobohan ia benar-benar kehilangan wanita sebaik, secantik dan setulus Arlyn Gracella. Satu-satunya wanita yang membuat hatinya luluh. “Aku sudah menepati janji datang ke sini dan mendengar penjelasanmu, berikan flasdisk itu padaku, dan aku akan segera pergi dari sini,” kata Arlyn. Nicholas memberikan flasdisk itu pada Arlyn, dan dengan satu hentakan ia merengkuh Arlyn dalam pelukannya. Bertepatan dengan itu, pintu apartemen terbuka. Reymond berdiri dan menyaksikan adegan mesra itu. Insting Reymond mengatakan kalau ia harus berpura-pura marah. Namun, benarkah Reymond hanya pura-pura marah atau sebenarnya dia memang marah. “Oh jadi ini, yang kamu lakukan! Kamu bilang bekerja, tapi ternyata berpelukan dengan pria lain!” teriak Reymond membuat Arlyn dan Nicholas kaget. Arlyn segera mendorong Nicholas dan menghambur ke arah Reymond. “Pulang sekarang!” bentak Reymond menarik kasar tangan Arlyn mengikutinya berjalan keluar dari apartemen Nicholas. Sedangkan Nicholas, di terdiam. Ini kali pertamanya bertatap langsung dengan Reymond. Dia menunduk dan berpikir sejenak, mengingat sesuatu. Kemudian, ia menengadah. Ingat akan satu hal, wajah Reymond hampir sama dengan pria yang 5 bulan lalu mengobrol dengannya di klub malam. “Apa yang sebenarnya terjadi!” gumam Nicholas mulai sadar akan sesuatu. Sementara itu di luar sana hujan mulai turun dengan sangat deras. Sama seperti tangisan hati Nicholas yang masih selalu memuja Arlyn, yang sudah sah menjadi istri orang lain. Nicholas duduk, satu tangan kiri merengkuh dadanya yang terasa amat berat. Air mata sudah merebak di pelupuk matanya. Seberat ini mengikhlaskan Arlyn, bersanding dengan pria lain. Haruskah ia merebut Arlyn kembali ke dalam pelukannya?? To be Continue. ==❤== Hai... Ini karya orisinal aku yang hanya exclusive ada di Innovel/Dreame/aplikasi sejenis di bawah naungan STARY PTE. Kalau kalian membaca dalam bentuk PDF/foto atau di platform lain, maka bisa dipastikan cerita ini sudah DISEBARLUASKAN secara TIDAK BERTANGGUNGJAWAB. Dengan kata lain, kalian membaca cerita hasil curian. Perlu kalian ketahui, cara tersebut tidak PERNAH SAYA IKHLASKAN baik di dunia atau akhirat. Karena dari cerita ini, ada penghasilan saya yang kalian curi. Kalau kalian membaca cerita dari hasil curian, bukan kah sama saja mencuri penghasilan saya? Dan bagi yang menyebarluaskan cerita ini, uang yang kalian peroleh TIDAK AKAN BERKAH. Tidak akan pernah aku ikhlaskan. dreams dejavu
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN