Bab 12 Situasi Darurat

1206 Kata
"EEEMMM!'' pekikan Angela tertahan di tenggorokan. Usaha berontaknya pun sia-sia pada seseorang yang kini tengah mendekapnya dari sisi dengan erat. Hingga ia mendengar suara seseorang yang ia kenal di telinganya. "Sssttt... Tenang, Nona, ini saya, Tyo,'' bisik dokter Tyo di telinga Angela. Mendengar suara laki-laki yang dikenalnya, gadis itu berhenti memberontak dan melemahkan cengkeraman tangannya. Lalu laki-laki tampan itu melepaskan tangannya yang membekap mulut Angela. "Tenanglah, Nona...'' bisik dokter Tyo sambil mengangkat tubuh Angela dalam gendongannya. Angela terpekik kaget. "Dok...ter? Dokter, mau apa?'' cicit Angela yang panik dan spontan melingkarkan kedua tangannya di leher kekar laki-laki tampan itu. Dengan langkah yang cepat, dokter muda itu membawa Angela melewati sebuah lorong dan menuju pintu yang keras, hingga Angela merasakan entakkan punggung laki-laki itu untuk mendorong paksa pintu. "Wow! Kamar mayat!'' ucap dokter Tyo memekik tertahan. "APA?" pekik Angela histeris yang membuatnya refleks merapatkan pelukannya pada leher laki-laki itu dan mengerang ketakutan. "Hei, kenapa? Apa, Nona takut? Tenang saja, ‘kan... '' "’Kan aku buta! Ah, iya aku lupa! Toh aku udah nggak bisa ngelihat ini? Kenapa aku harus takut?'' sahut Angela memotong perkataan dokter Tyo. Lalu ia menarik kedua tangannya dari leher dokter itu dengan wajah kesal. "Hei, nggak gitu. Saya cuma mau bilang, tenang saja ‘kan ada saya. Anda nggak perlu khawatir. Itu maksudnya. Lagi pula orang mati nggak akan bangun lagi ‘kan?'' ucap dokter itu menjelaskan dengan tawa kecilnya. Angela mendengus kesal dan membuang muka. Dokter itu terkekeh melihat tingkah Angela yang merengut. "Ya, walau ada beberapa kasus spesial yang sangat jarang terjadi, kalau mayat bisa bangkit...'' "Iiiih...apa-apaan sih? Kenapa malah di lanjutin?'' pekik Angela marah memukul d**a bidang dokter itu. Laki-laki itu mendesis mengingatkan suara Angela di sela tawanya. Gadis itu langsung mendekap mulutnya yang tertutup masker. ''Ya sudah, bentar dulu,'' ucap dokter itu menurunkan Angela dan menyandarkannya pada sebuah dinding dan mengarahkan tangan Angela untuk berpegangan pada sebuah besi yang berbentuk tabung kecil dan memanjang. "Jangan bergerak, baik-baik saja di sini, ya. Sebentar,'' ucap dokter itu tiba-tiba menghilang. Angela panik dan terus menerus mendesis memanggil dokter itu yang telah menghilang di balik pintu. "Sial! Kenapa aku malah ditinggalin sendirian? Ini di mana coba? Apa beneran ini di kamar mayat?'' keluhnya dengan berdebar-debar tak karuan. Angela merutuk dan mendengus kesal. Ia hanya bisa terdiam menunggu sambil menajamkan telinganya untuk mendengar sesuatu yang kiranya ia bisa jadikan sebagai petunjuk. Akan tetapi, tak ada suara apa pun yang terdengar. Gadis itu tiba-tiba bergidik ngeri teringat ucapan dokter Tyo. ‘Apa benar ini di kamar mayat? Aaaggkk! Aku harus pergi dari tempat ini! Sialan!' rutuk gadis itu dengan kesal sekaligus takut. Ia hampir saja menangis. Angela menggeser tubuhnya perlahan-lahan dan meraba-raba pegangan besi yang ada di tangannya. Ia meraih gaun panjangnya, memastikan roknya tak tersangkut apa pun. Ia terus berpikir, benda apa yang sedang dipegangnya dan kenapa terasa kokoh. Ia terus menyusuri besi bulat panjang itu yang tiba-tiba seperti berbelok dan menukik, berbarengan dengan kakinya yang tiba-tiba tak menemukan tanah pijakan. Akibatnya Angela terjungkal ke depan. ‘Oh! Aku akan jatuh! Mati aku!’ Namun, sepasang tangan memeluk perutnya dari belakang dan menariknya kuat-kuat. Gadis itu terpekik dan terkejut bukan kepalang. "Bandel banget sih, udah di bilang jangan ke mana-mana juga!'' tegur dokter Tyo dengan nada seperti menegur anak kecil pada Angela. "Gimana aku bisa tenang! Dokter bilang ini di kamar mayat!'' pekik Angela dengan mendesis marah. "Justru karena aku bilang begitu biar Nona nggak ke mana-mana. Padahal nih....'' Laki-laki itu menggendong Angela dan mendudukkannya di sebuah anak tangga. Angela melenguh kaget saat tangan dokter Tyo memegang pergelangan kakinya dan menggeserkannya pada lantai tangga itu. "Jadi ini di tangga darurat?'' pekik Angela sangat syok. Gadis itu memukul lengan dokter Tyo dengan kesal. "Itulah... Makanya jangan ke mana-mana. Untung tadi saya datang tepat waktu,'' omel dokter Tyo. "Sudah tahu di sini berbahaya, kenapa malah membawaku ke sini? Malah ninggalin aku sendirian pula!'' bantah Angela bersungut-sungut sambil melepas masker yang menutupi mulutnya untuk memastikan agar dokter itu tahu akan suara kemarahannya. Dan lagi-lagi membuat Angela memukul lengan laki-laki itu. "Tempat yang paling berbahaya adalah tempat yang paling aman. Anda tahu istilah itu, ‘kan? Lagi pula kalau Anda menuruti kata-kata saya untuk diam, Anda akan aman dan tempat ini tak akan berbahaya.'' “Alesan!” omel Angela menggumam sekedarnya, walau ia mengakui kebenaran kata-kata itu. Gadis itu tetap menahan kesal. "Tadi saya melihat dari balik kaca, suster Marisa sangat panik mencari Anda. Dia menangis. Makanya saya memberi tahu padanya kalau Anda bersama saya.'' Dokter Tyo menjelaskan sambil ikut duduk di tangga teratas tempat itu. Angela hanya bergumam sebagai jawaban mendengar ucapan laki-laki itu. Untuk beberapa saat mereka hanya terdiam. Merasakan situasi yang tiba-tiba canggung itu, jantung Angela berdegup sangat kencang, dan hatinya sangat sibuk dengan pikiran yang tak tentu arah. Apalagi tiba-tiba laki-laki itu juga diam tak bersuara. Ia merasakan panas menjalari kedua pipinya. Kebisuan mereka membuatnya serba salah. Angela mendekap wajahnya dengan salah tingkah dan mengira-ngira apa yang sedang dilakukan laki-laki itu. "Dokter... Dokter sedang apa?'' bisik Angela tanpa mengalihkan wajahnya pada laki-laki itu yang duduk di sampingnya. Gadis itu menatap lurus ke depan. Laki-laki itu tak menyahut ataupun bergerak. Angela menunggu beberapa saat, tetapi tetap tak ada jawaban. Gadis itu memberanikan diri untuk bergerak, menengok ke arah laki-laki itu, meraba-raba dan menggapai laki-laki yang duduk bersandar di susuran tangga dengan posisi yang ternyata sedang menghadapnya. Angela meraba-raba wajah laki-laki itu. Jari-jemarinya merasakan embusan napas ringan yang keluar dari hidung mancung laki-laki itu. "Apa, Dokter tidur...?'' gumam Angela yang langsung tersentak kaget, saat jari-jemarinya berhasil meraih mata laki-laki itu dan merasakan kelopaknya dan bulu mata lentik itu bergerak-gerak seolah sedang berkedip. "Ooohh!'' pekik Angela sangat terkejut dan spontan menarik tangannya menjauh. Namun terlambat, laki-laki itu menarik tangan Angela dan meletakkan punggung tangan gadis itu di bibirnya. Lagi-lagi Angela tersentak kaget karena merasakan embusan napas laki-laki itu yang menerpa punggung tangannya. Angela semakin bingung karena dokter itu tetap tak bersuara. Hanya bibirnya yang bergerak perlahan menyusuri punggung tangan dan jari-jarinya. Gadis itu terpekik dan tak bisa menahan tangannya yang gemetaran, tetapi ia tak bisa menarik tangannya menjauh. "Sebaiknya kita pulang sekarang.'' Akhirnya dokter Tyo membuka suaranya yang merdu dan dalam. Angela menggumam kaku. Laki-laki itu mendekat dan menggendongnya. Mereka berjalan menyusuri tangga, setapak demi setapak dengan sangat hati-hati. "Dokter, kenapa lewat tangga? Apa, Dokter nggak capek? Ini lantai berapa?'' cecar Angela dengan gugup dan waswas. Laki-laki itu tak menjawab, yang terdengar hanya napasnya yang semakin berat seolah menahan beban berat apa yang diangkatnya. Tiba-tiba Angela merasakan dokter itu terhuyung dan membuat mereka hampir jatuh tersungkur. Angela terpekik ketakutan dan sontak memeluk leher laki-laki itu. Pelukannya makin erat saat mendapati pijakan langkah laki-laki itu mulai terburu-buru. Sesaat, Angela merasakan laki-laki itu berhenti dan meletakkan Angela dalam pangkuannya. Terdengar napas laki-laki itu terengah-engah. Angela hanya diam saat laki-laki itu memasang masker untuk menutupi wajahnya kembali dan membenahi selendang yang membungkus kepalanya. Lalu tangan laki-laki itu mendorong perlahan kepala Angela untuk bersandar di bahunya. “Apa, Nona percaya pada saya?” tanya dokter Tyo dengan lembut dan membuat Angela terkesiap untuk sesaat sebelum akhirnya ia mengangguk dengan yakin. “Iya, Dokter. Saya percaya pada, Dokter,” ucap Angela dengan suara yakin. Dokter Tyo menghela napasnya, “Baiklah. Bersiaplah, Nona. Kita akan keluar dari persembunyian kita sekarang! Ayo, kita hadapi bersama!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN