Bab 13 Kembali Ke Vila

1264 Kata
“Tapi? Aku takut! Gimana caranya? Gimana caranya biar nggak ketahuan?” cicit Angela dengan gelisah. "Peluk aku erat-erat dan tidurlah,'' bisik dokter Tyo di telinga Angela. Gadis itu menggeliat agak menjauhkan telinganya karena menahan geli, namun ia mengangguk sebagai jawaban dan segera merapatkan pelukannya serta membenamkan wajahnya pada pundak laki-laki itu. Kemudian laki-laki itu mulai bangkit dari duduknya dan mendorong pintu masuk yang ada di hadapannya. Angela merasakan entakan punggung laki-laki itu saat mendorong pintu yang berat itu. Tapi kali ini dia menuruti apa yang di perintahkan dokter Tyo untuk tetap diam seperti orang tidur, karena ia tahu kini mereka kembali memasuki kawasan rumah sakit. Terdengar suara-suara ramai, orang bercakap-cakap dan hiruk pikuk suasana khas rumah sakit. Angela tetap diam tak bergerak. Yang ia rasakan adalah aroma maskulin laki-laki itu. Wangi parfum yang segar dan menyenangkan itu menguar dan semakin lama semakin menusuk hidung mancung Angela. Sesaat ia seperti mengalami deja vu. Tetapi belum sempat ia memikirkan hal itu, tiba-tiba ia merasakan entakkan pada tubuhnya sekali lagi. Angela kembali tersadar dari lamunannya. Ia merasakan suhu ruangan yang sangat jauh berbeda yang tadinya dingin kini tiba-tiba berubah menjadi panas dan terasa agak menyengat. "Terima kasih, ya,'' sahut laki-laki itu kepada seseorang. Dan tiba-tiba Angela merasakan tubuhnya sedikit melayang. Gadis itu bergerak kaget. "Tenang, Nona ada di mobil saya,'' jawab dokter Tyo sambil mendudukkan Angela dengan sangat hati-hati dan segera memasangkan sabuk pengaman pada gadis itu. “Jangan kaget, saya mau menutup pintu mobil,” ucap dokter Tyo memperingati Angela. Setelah menutup pintu mobil dengan berhati-hati. Dokter Tyo terdengar berbicara dengan seseorang sebelum memasuki mobil dan melajukan kendaraannya menembus jalanan ibukota. “Kita berhasil, Nona! Sekarang Anda boleh beristirahat dengan tenang,” ucap dokter Tyo seraya membuat kursi yang di duduki Angela rebah dengan nyaman. Angela tersenyum dengan penuh kelegaan, namun sebulir air mata jatuh di pelipisnya, “Terima kasih, Dokter, saya benar-benar berterima kasih pada Dokter,” ucap Angela seraya menghadapkan tubuhnya agak condong pada laki-laki yang duduk di sebelahnya. Dokter Tyo menepuk punggung tangan Angela dengan lembut beberapa kali, “Iya, sama-sama. Sudah, sebaiknya Anda tidur.” *** Tak berapa lama mereka berjalan, tiba-tiba ponsel dokter Tyo berdering. Laki-laki tampan itu melirik ponsel yang terletak di sebelah kirinya, dan mendapati nama suster Marisa yang terpampang dalam layarnya sebagai pemanggil. Dengan tangan kirinya, dokter Tyo mengambil ponsel itu dan menekan tombol penerima sekaligus menekan tombol perbesar suara agar Angela juga dapat mendengar pembicaraan mereka. Wanita paruh baya itu memberitahukan bahwa ia dan Bu Riana masih terjebak di dalam rumah sakit, sehingga mereka akan menyusul jika keadaan sudah aman. Lalu wanita itu juga mengabarkan di rumah Angela sedang ramai-ramainya para wartawan berkumpul, jadi ia menyampaikan pesan dari Bu Riana agar sebaiknya Angela di bawa kembali ke vila, bukan pulang ke rumah seperti yang telah mereka rencanakan sebelumnya. Mendengar semua penuturan itu, Angela menghela napas panjang. Hingga beberapa lama setelah pembicaraan itu selesai pun ia masih terdiam seribu bahasa. Seolah begitu banyak pikiran yang berkecamuk dalam batinnya. Gadis itu menyandarkan kepalanya yang terkulai lemah dan sesekali mengerjap-kerjapkan matanya yang lentik. "Tidurlah, Nona, karena perjalanan kita masih sangat panjang,'' ucap dokter Tyo membelai kepala Angela sebagai rasa simpatinya sambil tetap mengemudikan kendaraannya dengan kecepatan stabil. Angela bergumam sebagai jawaban. Lalu laki-laki itu memutar musik instrumen yang mendayu-dayu melalui pemutar musik di mobilnya. Mendengar suara yang musik yang merdu dan lembut itu, Angela terlihat rileks dan mencoba menutup mata. Dan tak berapa lama ia pun terlelap. *** Angela terbangun dan membuka mata, saat mendengar suara pintu mobil yang terbuka dan tertutup. "Dokter? Dokter Tyo?'' panggil Angela sambil meraba-raba kursi pengemudi di sebelahnya. Gadis itu berubah panik saat dokter Tyo tak ada lagi di kursi kemudinya. ‘Loh! Ke mana dia? Kenapa berhenti? Ini di mana?' Jantung Angela berdegup kencang. Apalagi sayup-sayup ia mendengar suara desis air yang cukup keras. "Hujan? Apa benar saat ini sedang hujan?'' gumamnya dengan panik seraya meraba-raba kemudi mobil untuk membunyikan klakson mobil itu. Namun sebelum ia melakukan hal itu, tiba-tiba pintu mobil di buka dari luar. "Hei, kau sudah bangun, Nona?'' sapa dokter Tyo langsung duduk di belakang kemudi dan ia mengisyaratkan kepada Angela bahwa ia akan menutup pintu. Hal itu ia lakukan agar Angela tak terkejut karena suara pintu mobil yang tertutup. "Dokter, dari mana? Ini di mana?'' Angela bertanya dengan panik. "Oh, kita sedang ada di pom bensin, si merah sudah kehausan,” sahutnya dengan tertawa ringan. “Oh ya, ini ada makanan dan minuman, tadi saya mampir ke mini market sebentar. Karena sepertinya perjalanan kita bakalan lebih lama dari yang kita bayangkan,'' papar laki-laki itu meletakkan sebuah air mineral yang telah di buka penutupnya di tangan kiri Angela. Dan meletakkan botol yang berisi air itu di tangan kanan Angela agar memegang sedotan plastik yang sudah dicelupkan dalam botol kemasan itu. Gadis itu menggumam kaget saat dokter Tyo membuka masker yang ada di wajahnya. "Oh... Terima kasih, Dokter....'' sahut Angela yang langsung menggenggam minuman kemasan itu dengan pegangan kuat agar tidak tumpah. "Apa sekarang sedang hujan?'' lanjutnya sambil menyeruput air kemasan itu. Terdengar desahan napas lega dari laki-laki di sebelahnya setelah menenggak minuman yang sama dengan Angela. "Iya. Dan sekarang sudah mulai lebat. Padahal kita baru sampai perbatasan. Semoga nggak terlalu macet, biar nggak kemalaman di jalan,'' jawab laki-laki itu sambil mengemudikan mobilnya kembali menembus jalanan menuju puncak yang macet panjang dan padat. *** Menjelang malam. Akhirnya setelah berjam-jam berkutat dengan segala kemacetan dan hiruk pikuk jalanan, mereka memasuki daerah perbukitan yang menuju di mana vila Angela berada. Hujan yang mengguyur deras menutupi pandangan mata, sehingga dokter Tyo memacu mobilnya dengan kecepatan lambat. Ia tak mau mengambil risiko dengan tergelincir seperti tempo hari. Apalagi sekarang ia membawa Angela bersamanya. Tak berapa lama kemudian, akhirnya mereka sampai di jalanan sempit yang menyambungkan gerbang menuju vila milik Angela dan jalan lain untuk memutar arah. Namun betapa terkejutnya ia saat mendapati keramaian yang ada di depannya. Ia menyalakan lampu sorot untuk melihat apa yang terjadi. Lalu seorang laki-laki mendatangi mobil dokter Tyo yang langsung membuka jendela kacanya. "Ada apa, Pak?'' tanya dokter itu seorang laki-laki yang terlihat seperti warga sekitar yang sedang mengenakan jas hujan. "Ada longsor di depan, Den... Aden mau ke mana?'' sahut laki-laki paruh baya itu dengan logat khas Sunda yang sopan. "Waduh, longsor? Saya mau ke vila yang ada di ujung bukit itu, yang ada di gerbang biru itu, Pak,'' jawab dokter Tyo dengan wajah kawatir. "Oh, kalau mau ke sana lewat jalan situ aja, Den, agak memutar sedikit tapi masih bisa. Semoga besok jalan yang ini bisa di pakai lagi, sekarang belum bisa dikerjakan karena hujan. Takut longsor susulan, Den,'' papar laki-laki itu sambil menunjuk dengan jempol tangannya arah jalanan yang berbelok di belakangnya. "Oh, gitu. Kalau gitu saya lewat memutar saja. Terima kasih banyak ya, Pak,'' ucap dokter Tyo sambil mengangguk sopan yang di balas dengan hal yang sama oleh laki-laki paruh baya itu. Setelah itu dokter Tyo memundurkan mobilnya dan memutar dengan sangat hati-hati. Lalu ia membelok ke arah kanan sesuai petunjuk dari orang yang ia temui tadi. "Ya Allah, bagaimana ini?'' Angela duduk dengan gelisah. Dokter Tyo menggenggam jari jemari Angela seolah menenangkan. "Nggak apa-apa. Sabar ya...'' sahut laki-laki itu seraya kembali mengemudikan mobilnya dengan berhati-hati. Setelah beberapa lama, akhirnya mereka pun melihat gerbang tinggi yang bercat biru. Namun karena hujan yang terlalu deras, membuat mobilnya terjeblos ke tanah berlumpur. Berkali-kali, laki-laki itu memaksa mobilnya bergerak maju, namun yang ada ban mobilnya makin terperosok dan kini mobil mereka benar-benar tak bisa bergerak lagi. Angela terus menerus menggumam panik. Gadis itu mulai menangis ketakutan. “Ya Allah gimana ini? Apa kita akan terjebak di sini semalaman?”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN