Bab 14 Hari Yang Berat

1070 Kata
“Jangan panik. Tolong tunggu sebentar, ya,” ucap dokter Tyo menenangkan Angela, namun mendengar suara dokter Tyo yang terdengar terburu-buru dan panik, Angela pun semakin panik. “Tunggu! Dokter mau ke mana? Jangan pergi! Jangan tinggalin saya, Dokter!” pekik Angela dengan panik. “Saya nggak ke mana-mana. Saya hanya akan mengecek ban mobil dulu. Tunggu sebentar,” ucap dokter Tyo seraya memegang wajah Angela untuk menenangkan gadis itu. Hingga Angela mengangguk setuju, akhirnya laki-laki itu pun bersiap untuk keluar dari dalam mobil. Lalu dokter Tyo keluar dari mobilnya dan dengan menggunakan senter dari ponselnya ia melihat ban mobil depannya yang terperosok cukup dalam. Dalam sekejap tubuhnya sudah basah kuyup oleh derasnya air hujan. Melihat kemungkinan kecil untuk bisa melajukan mobilnya, dokter Tyo kembali ke dalam mobil dan berbicara dengan Angela yang menunggu dengan waswas. "Nona, tunggu di sini sebentar, ya, saya akan berjalan ke vila dan mengambil jas hujan dan kursi roda untuk Nona dan....” "Enggak! Enggak! Nggak mau! Tolong jangan tinggalin saya sendirian di sini! Saya nggak mau!'' pekik Angela mulai berurai air mata memotong ucapan dokter muda itu. "Tapi hujannya deres banget loh, nanti....'' "Nggak apa-apa! Biarin! Pleeeease....'' potong Angela memaksa. Dokter Tyo terdiam bingung. Laki-laki itu memandang keadaan sekelilingnya yang gelap gulita, hampir tak ada cahaya lampu. Dan ia memperkirakan jarak vila yang terlihat masih cukup jauh beberapa meter ke depan. Setelah menimbang-nimbang demi keselamatan Angela, akhirnya laki-laki itu pun menyetujuinya. "Baiklah, saya akan bawa Nona dulu ke dalam. Semua barang-barang di tinggal di sini dulu,'' ucap dokter Tyo seraya melihat ke dalam mobil. "Dokter, semua barang-barang saya sama suster dan mama. Jadi saya nggak bawa apa-apa selain badan saya,'' ujar Angela dengan bersungut-sungut. Laki-laki itu terkekeh sambil membuka kembali pintu mobil, setelah ia membukakan sabuk pengaman yang terpasang di badan Angela dan memapah gadis itu keluar mobil dengan hati-hati agar gadis itu tak membentur mobil. Angela terpekik saat merasakan dinginnya guyuran air hujan membasahi tubuhnya. "Aaaghhhk...dingin....'' pekik Angela dengan senang seperti anak kecil yang sudah lama tak main hujan. Dokter Tyo terkekeh melihat tingkah Angela yang kekanak-kanakan. Lalu ia menyandarkan Angela di pintu mobil, sementara ia membawa tas ransel pribadinya dan mengunci mobil. Mereka berjalan perlahan-lahan menembus hujan yang mengguyur dengan derasnya. Walaupun dokter Tyo sudah memeluk pinggang Angela dan memapahnya berjalan, tetap saja kaki gadis itu berkali-kali terpeleset karena tanah berlumpur yang mereka pijak. Hal itu sungguh mengkhawatirkannya, apalagi gadis itu baru saja keluar dari rumah sakit. "Nona, tunggu, duduk sebentar ya,'' ucap dokter Tyo mendudukkan Angela. Angela duduk dengan patuh dan menunggu dalam diam. Setelah laki-laki itu menggendong tas ransel kecilnya di d**a, laki-laki itu meraih kedua tangan Angela untuk memeluknya dari belakang. "Dokter, kenapa ini?'' gugu Angela kebingungan. "Anda percaya saya, ‘kan?” sela dokter Tyo pada Angela yang langsung mengangguk patuh. “Peluk saya sekuat mungkin. Saya akan menggendong Nona di belakang. Karena jalanannya cukup menanjak, saya harus berpegangan untuk berjalan. Anda paham?'' Angela mengangguk sebagai jawaban, lalu ia melingkarkan kedua lengannya pada leher dokter Tyo. Dan laki-laki itu mengangkat kedua kaki Angela ke atas pinggangnya. “Dokter...Saya takut....” gugu Angela dengan suara gemetar, “Tapi...Apa Dokter baik-baik saja?” “Iya, nggak apa-apa. Pokoknya Nona pegangan yang kuat ya,” sahut dokter Tyo dengan napas terengah. Dalam guyuran hujan yang lebat menyebabkan tanah berlumpur dan berbatuan yang licin, membuat dokter Tyo berjalan sangat lamban. Apalagi dengan membawa Angela di punggungnya. Setelah berusaha dengan keras melalui jalanan yang menanjak itu, akhirnya mereka sampai di pelataran vila. Laki-laki itu terengah-engah seraya meletakkan Angela dengan sangat hati-hati di lantai teras. "Dokter? Apa Anda baik-baik saja?'' tanya Angela untuk ke sekian kalinya sambil berusaha meraih apa saja yang bisa di raih dari sang dokter. Laki-laki itu tersenyum melihat Angela begitu mengkhawatirkannya, bahkan dengan kondisinya yang lebih memprihatinkan. Dokter Tyo menggenggam kedua tangan Angela yang terasa sangat dingin. Gadis itu gemetaran dan giginya gemeletuk karenanya. Laki-laki itu melepaskan kacamata hitam Angela dan menyimpannya dalam tas ransel, lalu ia mengusap wajah Angela yang basah karena hujan. "Saya nggak apa-apa, Non. Sebentar, ya,'' jawab dokter itu kembali berdiri dan menuju pintu masuk vila itu yang tertutup rapat. Lalu mengetuknya keras-keras dan memanggil bibi Isah. Karena tak ada jawaban apa pun, laki-laki itu mengintip melalui jendela kaca yang ada di sisi-sisi pintu. Ia baru menyadari, bahwa lampu bagian dalam vila dalam keadaan mati. "Ya Allah, apa lagi ini? Ayolah, Bi...'' gumam dokter Tyo mulai tak sabar. Apalagi melihat kondisi Angela. Sekali lagi, ia menggedor-gedor pintu itu lebih keras, agar terdengar dan terus memanggil-manggil. Namun tak satu pun ada jawaban. Laki-laki itu benar-benar panik, saat ia mendapati Angela bergetar hebat karena menahan dingin. Ia segera menggendong Angela dan memangkunya di depan pintu itu. "Dok...ter...'' Angela mulai menggigil dan mengigau dalam pelukan dokter Tyo. “Sabar, ya. Sebentar, ya, Non,” hibur dokter Tyo dengan suara lembut di wajah Angela yang memutih pucat pasi. Tiba-tiba ia teringat sesuatu. Lalu dokter Tyo mengambil ponselnya yang ada dalam tasnya, ia bermaksud menelepon suster Marisa untuk menelepon bibi Isah agar cepat-cepat membukakan pintu vila. Akan tetapi sekali lagi ia harus menghadapi kesialan yang beruntun. Ponselnya kehabisan baterai. Dengan mendengus kesal, ia memasukkan kembali benda itu ke dalam tasnya dan kembali beralih kepada Angela yang menggigil dalam pangkuannya dengan posisi miring. Ia memeluk erat-erat gadis itu. “Dok...Ter....” gugu Angela dengan gigi gemeletuk menahan dingin yang kini benar-benar menjalari ke seluruh tubuhnya. “Astagfirullah... Sabar, ya...” gumam dokter Tyo dengan lembut pada Angela. Dan dengan cepat ia mengusap dan membersihkan wajah Angela dari basahnya air hujan dan rambutnya yang berantakan. Dokter Tyo merasa sangat sedih saat melihat keadaan Angela yang terlihat sangat menyedihkan dan memilukan, hingga ia meraih Angela ke dalam pelukannya dan mengecup kening Angela dalam-dalam. “Bertahanlah, sebentar....” bisik dokter Tyo sebelum akhirnya ia mencoba menggedor-gedor pintu vila dengan kakinya. Sekali lagi usahanya tak membuahkan hasil dan hal itu membuatnya frustrasi. Lagi-lagi ia memeluk Angela yang mulai meracau. Walau mereka sama-sama basah kuyup dan kedinginan, ia tetap mencoba melakukannya. Ia memeluk dan menggosok-gosokkan telapak tangannya ke telapak tangan Angela dan meniup serta menciumi tangan Angela sampai tangan gadis itu terasa hangat walau sedikit. "Bertahanlah... Bertahanlah... Sebentar lagi ya,'' bisik dokter itu di telinga Angela. Sempat ia berpikir mendobrak pintu atau memecahkan jendela kaca, namun bagian dalam jendela itu terdapat teralis dari besi. Jadi percuma saja. Hingga dokter Tyo merasakan tubuh Angela perlahan mulai lunglai dalam pelukannya. “Ya Allah... Non? Jangan! Angela? Angelaaaa...!”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN