“Bangun! Angela...!” pekik dokter Tyo seraya memegang wajah Angela dan menggosok-gosokkan telapak tangannya sendiri untuk menghangatkan wajah Angela yang semakin pucat.
Hingga terdengar gumaman lemah dari bibir Angela, dokter Tyo hampir menangis karena lega dan dengan kesal ia menendang pintu itu berkali-kali dan berteriak sekuatnya untuk memanggil bibi Isah. Dan kini usahanya pun membuahkan hasil.
Akhirnya tak berapa lama, pintu pun terbuka. Betapa terkejutnya Bibi Isah mendapati keadaan dokter Tyo yang sedang memangku Angela yang terkulai lemah dan menggigil kedinginan. Wanita paruh baya itu berteriak histeris dan segera mendatangi keduanya.
"Ya Allah gustiiii... Maafkan sayaaaa... Saya ketiduran di kamar belakang! Maafkan saya, Non, Pak Dokter! Mari masuk! Ya Allah... Hujannya sangat lebat jadi saya nggak denger apa pun, Ya Allah gusti! Si abah kemana wae? Ya Allah itu kenapa si eneng?'' pekik wanita itu dengan wajah penuh penyesalan. Ia terus berbicara karena panik dan mulai menangis seraya memanggil-manggil Nuri.
Bergegas bibi Isah berlarian menuju kamar mandi dan menyiapkan air panas untuk memandikan Angela seraya memanggil kembali bibi Nuri yang datang tergopoh-gopoh. Diikuti dokter Tyo yang menggendong Angela dengan kedua tangannya langsung menuju kamar mandi dan meletakkan gadis itu pada bak mandi yang telah terisi oleh air hangat.
"Aden juga harus mandi cepat-cepat, Den dokter,'' ucap bibi Isah dengan panik.
"Apa Bibi kuat menggendong Nona sendirian?'' tanya dokter Tyo sambil mengusap wajahnya yang basah.
"Saya akan gendong dengan si Nuri saja. Aden lekas-lekas mandi. Nur, tolong siapkan baju untuk pak dokter!'' ucap bibi Isah kepada dokter Tyo dan bibi Nuri yang langsung meninggalkan kamar Angela untuk melaksanakan perintah bibi Isah.
"Nggak, jangan deh, nanti malah jatuh, bisa bahaya... Gini aja, saya akan mandi cepat-cepat, saya yang akan membawanya ke kamar setelah bibi berdua selesai memandikan dan mengganti semua bajunya.'' Dokter Tyo memberi perintah dengan berbagai pertimbangan, karena kondisi Angela yang sudah memprihatinkan.
"Iya baik! Baik, Pak Dokter!'' jawab bibi Isah dengan gugup, lalu ia segera menutup pintu kamar mandi selepas dokter itu meninggalkannya dan menuju kamar tamu yang tersedia, serta beberapa baju milik ayah Angela yang telah di siapkan oleh bibi Nuri sebagai baju ganti untuknya.
Tak berapa lama, dokter Tyo telah selesai mandi dan mengganti pakaiannya. Laki-laki itu meminum teh jahe hangat yang telah di siapkan bibi Nuri di meja yang ada dalam kamar Angela. Sambil ia menunggu kedua wanita itu memandikan majikan mudanya.
Dokter Tyo terlihat lebih rileks saat menikmati teh itu, hingga ia baru sadar ia harus menelepon seseorang. Ia beranjak dari kursinya dan mencari ponselnya dalam tas ransel kecilnya yang ia tinggalkan di kamar tamu. Ia membawa ponsel itu ke kamar Angela dan menancapkan kabel pengisi daya baterai itu.
Tak berapa lama kemudian, pintu kamar mandi terbuka, bibi Isah menatap dokter Tyo dengan panik.
"Ada apa, Bi?'' tanya laki-laki itu meletakkan ponselnya begitu saja di meja. Ia bergegas mendatangi wanita itu.
"Non Angela panas tinggi, Dok. Gimana ini? Tapi kami sudah selesai memandikannya,'' jawab Bibi Isah dengan panik.
"Oh, nggak apa-apa. Sini biar saya gendong keluar,'' ucap dokter Tyo dengan tenang dan melangkah masuk ke dalam kamar mandi. Lalu ia bergegas mengangkat tubuh Angela ke dalam gendongannya.
"Bi, ganti lagi ya bajunya. Ini roknya setengahnya basah,'' kata dokter Tyo seraya meletakkan tubuh gadis itu di atas ranjang. Dan bergegas meninggalkan kamar itu agar kedua wanita itu bisa mengganti baju Angela dengan leluasa.
Saat ia keluar dari kamar itu, ia melihat seseorang memasuki pelataran vila dan membuka tudung jas hujannya. Laki-laki paruh baya itu melepaskan jas hujannya dan meletakkannya begitu saja di atas pagar tembok yang mengelilingi teras. Laki-laki itu terkejut melihat sosok dokter Tyo yang sedang menatapnya heran.
"Bapak siapa?'' tegurnya mengernyit bingung. Laki-laki paruh baya itu tersenyum dan dengan membungkuk sopan, ia mendekat.
"Saya Asep, Tuan, saya suami nyi Isah, saya ikut jaga pila ini, tapi tadi saya lagi bantu warga karena ada longsor,'' jawab mang Asep dengan logat khas sunda yang kental.
"Oh iya! Longsornya, apa sudah teratasi, Mang? Mobil saya juga terperosok tadi di ujung jalan sana! Ini saya mau ke sana,'' papar dokter Tyo kembali teringat apa yang dialaminya.
"Oohh he'eh, tadi saya melihat Aden pas putar balik. Saya juga lihat mobil Aden, di sana. Tidak apa-apa. Di sini teh aman, lagian nanti saya ikut jagain juga,'' jawab laki-laki itu yang langsung membuat dokter Tyo terlihat tenang.
"Syukurlah kalau begitu, baru saja saya akan melihat mobil saya,'' sahut dokter Tyo dengan suara lega.
"Mangga atuh, Den, saya mau pamit dulu mau ambil cangkul dan alat-alat dulu.'' Mang Asep mohon diri dengan tergesa-gesa. Melihat laki-laki yang tampak sibuk itu, dokter Tyo mengekorinya tanpa sadar.
"Apa ada yang bisa saya bantu, Mang?'' Dokter Tyo menawarkan bantuan. Tapi ditolak halus oleh laki-laki paruh baya itu, karena ia tahu dokter Tyo pasti lelah setelah melakukan perjalanan jauh dan harus menggendong Angela dalam keadaan hujan.
Saat itu bertepatan bibi Nuri memanggil dokter Tyo untuk melaporkan keadaan Angela yang demam tinggi dan menggigil. Laki-laki tampan itu bergegas menuju kamar Angela dan duduk di ranjang di mana gadis itu terbaring. Ia segera memerintahkan kepada kedua wanita itu untuk menyiapkan teh jahe hangat dan sup hangat. Kedua wanita itu bergegas meninggalkan kamar dan mengerjakan apa yang di perintahkan sang dokter.
Sementara itu dokter Tyo meraih minyak angin yang di balurkan ke kedua telapak kaki dan tangan Angela yang menggigil dan sesekali mengigau. Laki-laki itu terus menggosok-gosokkan telapak tangan Angela dengan telapak tangannya secara bergantian, hingga telapak tangan itu mulai menghangat. Ia juga memeluk Angela dengan lembut.
“Non? Angela?” panggil dokter Tyo dengan lembut, “Apa kamu bisa denger suaraku? Angela?” ulang dokter Tyo terus menerus memanggil Angela.
Gadis itu menggumam tak jelas saat dokter Tyo memanggil-manggil namanya. Tak berapa lama kemudian, bibi Nuri membawakan teh jahe yang langsung diserahkan kepada dokter Tyo agar langsung di minumkan kepada Angela. Bibi Nuri bergegas meninggalkan kamar itu untuk membantu bibi Isah menyiapkan makanan untuk keduanya. Suasana yang tadinya tenang seolah jadi hiruk pikuk karena panik, melihat kondisi Angela.
Dokter Tyo terus mencoba membantu Angela untuk minum, tapi gadis itu tak meresponsnya, ia hanya menggumam tak karuan. Mau tak mau dokter Tyo meminum air jahe itu dan meminumkannya dengan mulutnya. Sedikit demi sedikit hingga Angela mengecap minuman yang meleleh di sekitar mulutnya. Perlahan gadis itu mulai bergerak walau belum membuka mata.
"Eeemm... Mama... Tyo...'' gumamnya mulai terdengar jelas. Dokter Tyo meletakkan gelas minuman itu di meja. Dan menepuk-nepuk pipi Angela dengan sayang.
"Hei, bangun... Angela... Bangun...'' bisik dokter itu di bibir Angela.
Angela tetap tak bergeming, gadis itu hanya melenguh pelan. Melihat bibir menarik Angela yang menantang itu, dokter Tyo kembali membisikkan suaranya ke bibir gadis itu lalu tanpa sadar ia mengecup bibir itu dengan lembut. Bertepatan Angela membuka matanya dan merasakan sentuhan lembut di bibirnya, gadis itu terpekik kaget.
Namun bukannya melepaskannya, laki-laki itu terus menelusuri bibir Angela dengan bibirnya. Hingga suara gelegar kilat mengagetkan keduanya, yang lalu membuat mereka tertawa cekikikan.
"Apa yang kamu lakukan, Pak Dokter?” gugu Angela dengan mengerjapkan matanya seolah berharap bisa melihat wajah laki-laki itu.
"Tyo, panggil saja aku Tyo, karena hari ini aku sedang tidak praktik, jadi Tyo saja,'' potong dokter Tyo berbisik.
Angela menatap laki-laki yang berada sangat dekat padanya, walau ia tak bisa melihat wajahnya. Angela sangat yakin akan perasaannya. Angela menyusuri wajah laki-laki itu dengan jari jemarinya, dari alisnya yang tebal, hidung yang mancung dan kokoh hingga ke bibirnya yang tebal dan berisi. Laki-laki itu mengecup jari jemari Angela.
"Sudah jangan menggodaku, nanti para bibi akan masuk,'' elak dokter Tyo dengan lembut.
Mendengar hal itu Angela terlihat kecewa. Apalagi saat ia merasakan pelukan laki-laki itu merenggang dan menyandarkannya pada tepian ranjang.
"Tadi ‘kan, Dok... maksudku, Tyo sendiri yang mulai menggodaku, sekarang kenapa jadi aku yang di salahkan!'' Angela terdengar gusar.
"Ssssttt...sudah...sudah, aku pergi dulu,'' desis laki-laki itu menjauh dan beranjak dari ranjang. Laki-laki tampan itu keluar dari kamar Angela dan mengutuk dirinya dalam hati karena lagi-lagi ia tak bisa mengendalikan dirinya. Ia menguyup wajahnya dengan gusar.
Angela tersenyum saat mendengar keluh laki-laki itu, “Kendalikan dirimu, Tyo. Kendalikan!”