Makanan telah di hidangkan. Dokter Tyo terpaksa harus makan di kamar Angela untuk menemani gadis itu makan dengan bantuan bibi Isah. Setelah itu mereka menyiapkan obat penurun panas untuk Angela.
“Apa Pak Dokter juga sedang makan, Bi?” tanya Angela pada Bibi Isah yang sedang menyuapi Angela.
Dokter Tyo sengaja berdeham beberapa kali untuk memperdengarkan suaranya, bahwa ia berada di dekatnya. Dan hal itu membuat Bibi Isah tersenyum lebar. Apalagi dengan celetukan Angela yang seolah sengaja terus memancing dokter Tyo agar bersuara.
“Kasihan loh, Bi. Kalau belum makan nanti Pak Dokter sakit. Dokter ‘kan juga bisa sakit ‘kan?” sambung Angela yang membuat Bibi Isah akhirnya terkekeh karena melihat wajah dokter Tyo tampak menahan kesal dan menghela napas panjang.
Lalu laki-laki itu seolah sengaja membunyikan sendok dengan piringnya, “Masakannya enak banget, Bi. Saya nggak pernah makan, makanan seenak ini, terima kasih ya, Bi,” ucap dokter Tyo yang malah berbicara dengan Bi Isah yang mengucapkan terima kasihnya dengan tersenyum malu.
“Tentu saja, Pak Dokter. Makanan Bibiku ini adalah makanan terbaik di seluruh dunia,” puji Angela dengan wajah berbinar-binar dan membuat Bibi Isah semakin terkekeh senang.
“Ah, Non ini bisa aja. Masakan Bibi mah begini-begini aja,” sahut Bibi Isah yang membuat Angela tersenyum manis pada wanita paruh baya itu seraya mengucapkan terima kasihnya.
Setelah meminum beberapa obat atas petunjuk dokter Tyo, Angela merasa mengantuk, padahal ia masih ingin membalas kemarahannya pada dokter Tyo. Namun laki-laki itu seolah menjaga jarak dan meninggalkan kamar gadis itu untuk menuju kamar tamu.
‘Dia kenapa sih? Aku dicuekin terus, apa dia marah sama aku, karena aku jadi beban dia dan buat dia terjebak di sini? Semua gara-gara aku. Pasti dia nyalahin aku diem-diem. Awas aja ya,’ ancam Angela dalam hati dengan kesal.
Hingga akhirnya Angela menemukan sebuah ide agar laki-laki itu bisa kembali ke kamarnya, dan ia pun sengaja membuat ulah. Ia sengaja menyenggol gelas yang ada di sisi meja. Keributan itu berhasil membuat semua orang kembali ke kamarnya dengan panik, termasuk dokter Tyo.
“Aww...’’ pekik Angela merasakan luka gores di jarinya. Bibi Isah sangat panik melihat luka di jari Angela. Tetapi, dokter Tyo menyuruh bibi Isah dan Bibi Nuri membersihkan pecahan kaca dari gelas itu saja, sedangkan luka di jari Angela, itu adalah tugasnya.
“Terima kasih, Bi,” ucap dokter Tyo kepada Bibi Isah yang telah selesai membersihkan pecahan gelas itu dengan di bantu Bibi Nuri yang pergi membawa pengki bekas gelas.
“Sama-sama, Den Mas Dokter. Kalau butuh apa-apa lagi, nanti manggil aja, ya? Saya ada di kamar belakang,” ucap bibi Isah dengan senyum mengembang di wajahnya yang mulai renta.
“Iya, terima kasih, Bi. Nggak apa-apa, bibi istirahat saja. Saya yang akan menjaganya di sini. Bibi nggak usah khawatir, saya nggak akan macam-macam kok,’’ ucap dokter Tyo kepada bibi Isah.
Tetapi bukannya menunjukkan sikap marah atau kawatir, bibi Isah malah tersenyum-senyum menanggapi ucapan laki-laki muda itu. Melihat reaksi yang tak terduga itu, dokter Tyo segera memalingkan wajahnya menutupi malu. Ia segera pergi ke kamar obat yang tersedia untuk mencari obat merah dan plester luka untuk Angela.
Bibi Isah dengan cepat membersihkan sisa pecahan gelas itu, sebelum dokter Tyo kembali ke kamar. Hal itu membuat dokter Tyo semakin aneh dan canggung.
Dokter Tyo duduk di tepian ranjang Angela yang terlihat merengut karena perlakuan kasar dokter Tyo saat membubuhkan obat luka itu dan memlesternya.
“Aw...sakit! Bisa pelan-pelan nggak sih?” gerutu Angela merengut.
“Nih, buat pasienku yang bandel,’’ omel dokter Tyo sambil menekan jari Angela dengan gemas. Gadis itu meringis kesakitan.
“Jadi aku yang bandel? Aku yang salah? Padahal siapa yang sudah menci... Eemmm...’’ Dokter Tyo segera membekap mulut Angela. Mau tak mau laki-laki itu mendekat dan berbisik pada gadis itu.
“Iya, iya... maafkan aku. Aku yang salah. Seharusnya aku nggak melakukannya lagi. Tapi...kamu memang salah karena kamu terus aja godain aku!’’ desis dokter Tyo dengan suara lembut namun tajam.
“Apa?’’ Angela berusaha memberontak dari dekapan laki-laki itu, “Kok jadi salahku? ‘Kan bener, kamu nyalahin aku karena semua ini dan bikin kamu terjebak di sini! ‘Kan kamu sendiri yang tiba-tiba datang dan bawa aku pergi!” imbuh Angela dengan bersungut-sungut hingga membuat dokter Tyo membekap mulut Angela sekali lagi karena suara Angela yang semakin meninggi.
“Sssttt... Bisa diem nggak?” tegur dokter Tyo dengan suara berbisik dan membuat Angela melenguh pasrah.
“Ya, kaulah yang terus menggodaku, sampai-sampai aku nggak bisa berhenti untuk jatuh cinta sama kamu, setiap aku melihatmu,’’ bisik laki-laki tampan itu di bibir Angela yang tertutup oleh telapak tangannya.
Angela mengernyitkan kedua alisnya dalam-dalam dan mengedipkan kelopak matanya dengan cepat menunjukkan degup jantungnya yang berdebar dan gugup.
Belum sempat Angela memprotes, lalu dengan cepat Tyo menarik tangannya dan membenamkan bibirnya ke bibir Angela. Gadis itu terpekik kaget untuk sesaat, namun akhirnya menerimanya dengan pasrah. Tanpa sadar ia melingkarkan kedua tangannya di leher kekar laki-laki itu.
Ciuman itu makin dalam dan menuntut, Angela mengerang saat laki-laki itu membelai wajahnya dan memeluk pinggangnya dengan erat. Mereka terengah saat dokter Tyo menyudahinya.
“Tyo...’’ panggil Angela dengan berbisik dan meraba wajah dokter Tyo.
“Ya?’’ jawab dokter Tyo dengan lembut di bibir Angela dan mengecupnya ringan.
“Aku cacat, aku buta....’’ gugu Angela dengan raut wajah sedih.
“Tapi aku mencintaimu,’’ potong laki-laki itu menggigit lembut bibir Angela, yang langsung di balas dengan hal kecupan lembut oleh gadis itu. Namun demikian sesaat kemudian tiba-tiba ia terisak.
“Hei...ada apa?’’ tanya dokter Tyo dengan lembut dan menghapus air mata gadis itu.
“Kenapa kau jatuh cinta padaku? Aku gadis buta, aku nggak akan sembuh, Tyo...’’ gugu Angela dengan terisak.
“Kau akan sembuh, kau pasti sembuh. Kalaupun tidak, nggak masalah, asalkan kau menerimaku walau tanpa melihat wajahku yang nggak ganteng ini,’’ jawab dokter Tyo dengan suara ragu-ragu dan membuat Angela terkesima untuk sesaat dan lalu membuatnya cekikikan.
“Kenapa malah cekikikan gitu?” sela dokter Tyo terdengar ikut tertawa. Sungguh tawa yang merdu di telinga Angela.
“Tapi semua orang bilang kamu ganteng banget, jadi apa semua orang itu bohong? Yang jelas mamaku nggak mungkin bohong. Dan yang jelas saat ini kau mencintaiku dan sedang bersamaku. Apalagi? Apalagi yang aku harapkan?’’ ucapnya sambil meraba hidung mancung laki-laki itu dan mengelusnya dengan senang.
“I love you too, Tyo,’’ lanjutnya seraya meraba alis dan mata dokter itu yang berkedip.
“I love you more Angela,” jawab laki-laki itu di bibir Angela dan membenamkan bibirnya ke bibir kekasih barunya itu.
Angela terpekik, namun ia hanya bisa pasrah saat ciuman kekasihnya itu makin dalam dan intens. Hingga membuat pikirannya langsung kosong. Hanya Tyo yang ada dalam hati dan benak Angela. Merajai semua yang ia miliki saat itu.
‘Tyo... Aku mencintaimu...! Ya Allah, jangan pisahkan aku dengan Tyo, seperti Engkau telah memisahkan aku dengan Andri....’