Bab 17 Kecemburuan Angela

1271 Kata
Menjelang pagi. Bi Isah yang sudah terbiasa bangun pagi-pagi buta untuk menyiapkan sarapan pagi itu sangat terkejut, saat mendapati dokter Tyo tidur dengan posisi duduk di tepian ranjang Angela dengan saling berpegangan tangan. Sementara Angela tertidur pulas dalam balutan selimut yang hangat. Bibi Isah dan bibi Nuri tampak canggung, tapi mereka tertawa senang. Dengan berjingkat-jingkat mereka menutup kembali pintu kamar dengan perlahan-lahan. Walaupun begitu tetap saja suara pintu itu terdengar nyaring di tengah kesunyian malam. KLEK! Dokter Tyo terlonjak dari tidurnya setelah mendengar bunyi nyaring pintu itu. Laki-laki itu celingukan dan melihat Angela yang masih tertidur dengan dengkur halusnya. Ia mendekatkan wajahnya ke wajah kekasihnya dan mengecup kening gadis itu dengan sayang. Setelah melepaskan genggaman tangannya, ia merenggangkan otot-otot badannya yang terasa kaku. Lalu ia beranjak ke kamar mandi. Tapi ia lupa peralatan mandinya ada di kamar tamu. Maka ia pun beranjak ke kamar tamu. Saat berjalan di lorong untuk menuju kamarnya, laki-laki itu melintasi ruangan yang terhubung dengan dapur. Dengan masih menahan kantuk dan sesekali menguap, sayup-sayup ia mendengar percakapan kedua wanita penjaga vila itu. "Rupanya dokter Tyo menjagai Non Angela semalaman, ya? Sepertinya mereka pacaran ya, Nur?'' Bibi Isah terdengar senang dengan tawa riangnya. "Lah iya atuh, Teh... Sejak awal kayaknya Tuan dokter sudah suka sama si Non Angela. Sama-sama cakep pula euh... Anak-anaknya pasti nanti cakep-cakep juga...'' sahut bibi Nuri cekikikan menimpali. "Lha he'eh... Amiiinn... Cantik-cantik pisan pastinya mah...'' jawab bibi Isah dengan antusias. "Lagian kasihan pisan si Eneng kita, sedih ngeliatnya sekarang jadi gitu. Kapan sembuhnya ya, matanya itu. Sedih saya, Teh...'' lanjut bibi Nuri seperti hendak menangis. "Iya, Nur, semoga saja dokter itu nggak ninggalin si Eneng seperti pacarnya dulu itu. Kasihan banget... Eneeeng... eneng... Saya nggak berhenti-henti doain Non Angela,'' Bibi Isah agak gemetar menahan tangis. "Iya, Teh, si eneng kita yang cantik dan baik hati. Tapi kenapa gitu orang-orang di tipi ngatain si eneng itu sombong? Tsk...'' ucap Bibi Nuri dengan berdecap seperti menahan kesal. Dokter Tyo termangu mendengar semua pembicaraan kedua wanita yang kental dengan logat Sunda itu. Ia mendesah dalam diam. Namun, lamunannya buyar seketika saat ia mendengar langkah kaki mendekat. Laki-laki itu dengan langkah cepat bergegas melanjutkan perjalanannya menuju kamar tamu. Dengan hati-hati ia membuka dan menutup pintu. Laki-laki itu mengacak-acak rambutnya dengan gusar. Ia melihat jam dinding yang menunjukkan pukul tiga lebih empat puluh lima menit pagi. Hawa dingin menyeruak karena rintik hujan yang masih tersisa. Laki-laki itu terdiam seribu bahasa. Hanya sesekali mendesah panjang seolah napasnya terasa sangat berat. Dan akhirnya kembali terlelap setelah sekian lama gelisah dalam rebahnya. *** Angela tersentak kaget dari tidurnya karena mendengar bunyi nada dering dari ponsel dokter Tyo yang tertinggal di kamarnya. Gadis itu mengernyit dan meraba-raba. "Tyo?'' panggilnya setengah berbisik. Tapi tak ada jawaban sama sekali. Sekali lagi ia memanggil, tetap sunyi. Kini ia yakin laki-laki yang baru beberapa jam yang lalu menjadi kekasihnya itu sedang tak ada di kamar bersamanya. Maka gadis itu mencoba memaksa kembali tertidur, namun di tengah ruangan yang beratap tinggi dan lengang itu membuat suara dering ponsel dan getarannya yang pelan itu seolah menggema di seluruh ruangan, dan itu sangat mengganggunya. Tak berapa lama, ia mendengar seseorang membuka pintu kamar. Gadis itu membuka matanya. Bertepatan bunyi ponsel itu juga berhenti. "Tyo? Kaukah itu? Sepertinya ada telepon masuk.'' Angela menguap seraya mengolet. "Ini saya, Non. Bi Isah,'' sahut bibi Isah dengan senyum mengembang di wajahnya. "Aaahh... Oh, Bibi...'' sahut Angela terkejut dan menahan malu karena memanggil dokter Tyo dengan nada yang akrab tanpa menggunakan profesinya sebagai dokter. "Lah, ini saya kemari juga karena mau nyari Den dokter, eh ternyata nggak ada. Apa mungkin balik ke kamar tamu, ya? Tapi tadi pas di ketuk-ketuk juga nggak ada suara di kamar tamu?'' Bibi Isah balik bertanya. "Memangnya kenapa Bibi nyariin dia?'' Angela bertanya seraya mencoba bangkit dari tidurnya. "Itu, sarapannya sudah saya siapkan. Tapi dari pagi tadi kok nggak ketemu, saya pikir tadi habis dari kamar tamu balik ke sini. Oh iya, apa Non mau mandi sekarang? Ini sudah jam sembilan pagi, nanti biar bisa sarapan bareng Den Dokter.'' Mendengar nada bicara Bibi Isah yang terkesan tahu akan sesuatu di antara mereka, membuat wajahnya bersemu merah. Gadis itu mencoba mengalihkan pembicaraan. "Ah, iya boleh. Eemm...oh, iya, Bi, apa mama menelepon? Apa ada kabar dari mama? Kapan mama sampai?'' tanyanya memberondong dan membuat Bibi Isah tergelak. "Haduh nanyanya kok borongan gitu ya...'' jawab wanita itu dari dalam kamar mandi yang terletak hanya beberapa meter dari ranjang Angela yang tersekat oleh sebuah pintu. "Iya, Non, tadi pagi-pagi sekali nyonya telepon, katanya nggak bisa lewat karena ada longsor di jalan masuk sini,'' papar wanita itu dengan suara berubah kawatir. "Lah iya, lha wong hujannya semalaman dereeesss pisan, mana petir-petir gitu, jadi kayak badai. Serem kata saya,” lanjutnya sambil menyiapkan handuk kecil dan baskom yang berisi air hangat untuk menyeka majikan mudanya itu. Lalu Bibi Isah mulai dengan tangan gadis itu terlebih dulu. "Saya aja semalem nggak denger suara Den dokter ngetuk-ngetuk pintu depan. Lah itu suara petir melulu, mana saya malah ketiduran di belakang. Hampura atuh neng, kasihan si eneng cantik ini sampai kedinginan begitu. Tapi, untungnya ada Den dokter,” ucap Bibi Isah berceloteh dengan riang, berbanding terbalik dengan apa yang di ceritakannya. CKLEK! Terdengar suara pintu terbuka dengan tiba-tiba dan membuat bibi Isah menghentikan ucapan dan aktivitasnya untuk sesaat dan menatap seseorang yang datang. "Oh, maaf...! Maaf...! Harusnya aku ketuk dulu tadi.'' Dokter Tyo terkejut melihat bibi Isah yang sedang menyeka lengan dan pundak Angela yang terbuka. Maka ia langsung menutup pintu dengan setengah membanting. Terdengar suara teriakannya meminta maaf sekali lagi karena tak sengaja. Mendengar itu bibi Isah cekikikan. Hal itu membuat Angela makin bersemu merah. "Kenapa pak dokter panik begitu ya? Padahal bukannya pak dokter biasa ngerawat banyak pasien? Biasa ngelihat orang buka baju? Pasti banyak pasien-pasien cewek kitu ‘kan, Neng?'' Bibi Isah berceloteh tanpa memikirkan perasaan Angela yang tiba-tiba terasa nyeri. ‘Oh, bener juga, sebagai dokter pasti dia memeriksa banyak pasien perempuan ‘kan?’ keluh Angela dalam hati. Memikirkan itu, ada rasa cemburu merayapi hatinya yang membuatnya merengut tanpa sadar. Api cemburu mulai menguasai hatinya. Namun demikian hal itu membuat Bibi Isah salah paham karenanya. "Si Neng, pasti sudah laper ya? Cemberut kitu. Sabar ya, sebentar lagi selesai," ucapnya dengan tawa riang. Angela makin bersemu merah. Gadis itu menutupi wajahnya dengan serba salah. Hingga aktivitas pagi itu selesai, Bibi Isah meninggalkan Angela dan memanggil dokter Tyo untuk masuk ke kamar Angela atas permintaan Angela. "Ke mana saja kau? Dari tadi ponselmu terus berbunyi, pacarmu kali tuh...'' ucap Angela kepada dokter Tyo yang kini berdiri di hadapannya. Laki-laki itu terkekeh melihat segurat cemburu yang terpancar dari wajah Angela. "Aku tadi melihat mobilku yang terperosok. Lalu di bantu sama mang Asep dan beberapa warga akhirnya mobil itu bisa terangkat,'' papar Tyo menuju ponselnya yang telah terisi penuh. Laki-laki itu mencabut kabel pengisi daya dan merapikannya di atas meja. Lalu ia bergabung di atas ranjang bersama Angela. Gadis itu memalingkan wajahnya. "Hei, yang telepon itu suster Marisa. Eh, ada chatnya,'' ucapnya lalu terdiam untuk membaca pesan itu. "Wah gawat! Ibumu dan suster Marisa mungkin besok atau lusa baru bisa sampai sini, karena ada beberapa titik longsor di sekitar wilayah ini. Pantesan tadi juga warga ngelarang aku balik Jakarta sekarang. Takut ada longsor susulan, ini aja sekarang gerimis lagi,'' papar dokter Tyo yang hanya di jawab sepatah gumaman saja oleh Angela. Hal itu membuat laki-laki itu keheranan. "Ada apa sih? Kok tiba-tiba ngambek gitu?'' tanya laki-laki itu meraih dan menggenggam jari jemari kekasihnya. "Apa kamu juga selalu begini dengan pasien-pasienmu? Apa kau selalu merayu mereka seperti ini?'' tanya Angela dengan wajah masam dan membuat Tyo terkejut. “Apa?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN