Bab 18 Peri Merah

1456 Kata
"Apa?'' pekik dokter Tyo yang spontan diiringi dengan gelak tawanya. Angela memukul-mukul d**a Tyo untuk diam. Ia malu kalau sampai suara tawanya terdengar oleh para asisten rumah tangganya, karena pintu kamar dalam keadaan terbuka lebar. Setelah bisa menguasai tawanya, laki-laki itu menarik Angela ke dalam pelukannya. Angela berusaha mengelak, tapi laki-laki itu lebih kuat menguasainya. "Apa kekasihku sedang cemburu, heemm?'' tanyanya dengan lembut dan berbisik di telinga Angela. Gadis itu menggeliat menjauh. "Geli...iiihh...'' pekik Angela yang lagi-lagi di sambut tawa renyah laki-laki itu. "Sebentar deh...'' ucap Tyo tiba-tiba. Dan ia bergegas meninggalkan Angela setelah mencium kening dan punggung tangan gadis itu. Angela terpekik kaget saat tiba-tiba laki-laki itu menggendongnya dan mendudukkannya di sebuah kursi roda. "Kita mau ke mana, Tyo?'' tanya Angela kebingungan. "Sudah ikut aja,'' jawab Tyo dengan bersenandung kecil mendorong perlahan kursi roda itu. Sampailah mereka di beranda samping vila, yang menampilkan sebuah pemandangan indah membentang hampir di seluruh wilayah itu. "Dingin, ya?'' tanya Tyo saat ia melihat Angela menggigil memeluk dirinya sendiri. Tanpa menunggu jawaban gadis itu, Tyo mengalungkan selimut rajutan hangat melingkar di sekeliling bahu dan leher Angela, lalu ia memeluk Angela dengan erat walau sesaat dan menggendong gadis itu untuk duduk di sebuah kursi kayu yang memanjang yang terletak di teras samping. Mereka duduk bersandarkan dinding bangunan itu yang di naungi oleh atap yang tak terlalu tinggi. "Apa ini di beranda samping?'' tanya Angela sambil meraba-raba tempat duduk dari kayu yang panjang yang terletak di teras samping tempat itu. "Hebat! Bagaimana kau bisa tahu? Apa ini tempat favoritmu kalau lagi ngambek?'' puji laki-laki itu walau terdengar seperti meledek. "Jangan ngeledek deh. Ya, habis di mana lagi? Dulu aku memang suka duduk di sini kalau lagi main ke sini. Kadang hanya diam di sini aja, perasaanku jadi tenang,'' papar Angela dengan suara merenung. Ada gurat kesedihan di sana dan Tyo merasakan hal itu. "Entah kenapa aku merasa masih bisa melihat semua pemandangan yang terbentang di hadapanku saat ini. Ya mungkin karena perasaan saat itu muncul kembali,'' Angela menerawang jauh seolah mengenang masa lalunya. "Perasaan?'' Tyo mengulang dengan nada menggantung aneh, hal itu membuat Angela tersentak dari lamunannya. "Ya... Aku senang berlibur ke sini untuk menikmati istirahat setelah lelah menyelesaikan sederet kontrak drama dan film layar lebar. Duduk diam di sini sambil minum kopi atau teh jahe, lemon tea hangat rasanya udah waaaah banget,'' ungkap Angela sambil tersenyum manis. "Sesederhana itu?'' gugu Tyo tak percaya. "Iya... Sesederhana itu. Nggak lebih. Kadang aku bisa sampai ketiduran di sini. Eeemm ya, kadang aku juga melatih akting di sini. Ya, seperti itulah... Tempat ini seperti kamar kedua buatku, kalau siang hari, ya...'' senyum Angela makin mengembang saat ia merasakan tangan Tyo memeluk pundaknya dengan gemas. "Memang kenapa kalau malam hari?'' sela Tyo dengan cepat. "Ya kali, Pak! Mau lihat apa di sini malam-malam? Yang ada malah ditemenin sama jurig!'' sahut Angela bersungut-sungut. Tyo tergelak mendapati jawaban Angela dengan ekspresi yang polos sambil memukul lengannya. "Oh, ya, peran apa yang paling kau suka saat bermain film atau drama? Rasa-rasanya aku heran loh, kok orang bisa menjadi orang lain seperti itu,'' tanya Tyo sambil memainkan rambut Angela yang tergerai dengan indah di pundaknya. Gadis itu bergumam. "Wanita Dalam Bayangan. Aku suka banget film itu dan aku bener-bener suka saat memerankan karakter Malida dalam film itu.'' "Apalagi film itu ‘kan yang membuatmu mendapatkan penghargaan sebagai artis wanita terbaik dan artis pendatang baru terbaik waktu itu?'' potong Tyo balik bertanya yang langsung disambut cekikikan oleh Angela. Gadis itu mengangkat wajahnya untuk menghadap wajah kekasihnya. Ia meraba wajah tampan itu dengan jari jemarinya. "Nggak nyangka, ya, seorang dokter sepertimu masih sempat mengikuti berita-berita Infotainment begitu... Bahkan sampai hafal penghargaan yang kudapat.'' Angela terkikik senang. Tyo menggigit ringan jari Angela yang ada di wajahnya dan membuat gadis itu terpekik kaget. Hal itu membuat kesenangan Angela buyar seketika. "Iiihh...bikin kaget aja sih!'' omelnya sambil mencubit pipi Tyo dengan gemas. "Lagian siapa suruh ngeledek. Ya, memang aku nggak tahu banyak sih, tapi ‘kan yang aku tahu film itu memang sempat heboh banget...'' "Ya, karena gosip ku sebagai istri simpanan ‘kan? Dan Malida, peran dalam film itu juga mengisahkan hal yang sama. Jadi semua orang menganggap ku memerankan diriku sendiri dalam film itu. Bahkan sampai beberapa orang mengira aku sengaja membuat skandal agar film itu jadi trending topik. Semua orang mengenalku, semua orang membicarakan ku... Sebagai istri simpanan. Bahkan... apa kau tahu, aku pernah dalam beberapa bulan tak pernah sekalipun keluar rumah gara-gara berita itu? Tapi mereka dengan santainya menuduhku 'aku sengaja membuat skandal!'' Angela mengungkapkan dengan sangat lancar seolah bagai bendungan jebol yang meluncur begitu saja dalam satu tarikan napas. Ada getaran sarat emosi dalam setiap perkataannya. Tyo terdiam. Laki-laki itu kaku seketika. Ia tak tahu harus bagaimana setelah akhirnya ia tanpa sengaja mengorek luka paling dalam dari gadis itu. Angela bergerak beringsut dari pelukannya dan seolah menjauh. "Ah, maaf... Aku nggak bermaksud begitu, aku hanya... Hanya senang berbicara tentang profesi seseorang yang di luar duniaku. Maafin aku...'' ucapnya sambil mengaitkan jari jemarinya pada jemari Angela. Gadis itu hanya menggumam tak jelas. "Ya, image ku sebagai seorang artis yang terkesan sombong dan glamor sudah sangat melekat. Entah...tiba-tiba saja seperti itu. Entahlah...'' Angela menghela napas panjang, lalu diam. Mereka hanya terdiam untuk beberapa saat lamanya, sambil menikmati embusan angin yang kembali menyeruak dingin. Mereka diam, kaku dan membisu. "Hei...Kau mau dengar cerita nggak?'' ucap Tyo dengan tiba-tiba memecah kesunyian di antara mereka. “Jangan bilang kau mau mendongeng si kancil?'' potong Angela sambil mengernyit. Tyo terkekeh, "Ini cerita lebih bagus dari si kancil tahu. Mau denger nggak?'' Tyo menggaruk kepala Angela dengan gemas. Gadis itu tersenyum dan mengangguk setuju. *** Rumah Lentera. Di sebuah bukit nun jauh di sana... "Tunggu... tunggu... Ini bukan Teletub*** 'kan?'' potong Angela menahan tawa. Tyo merengkuh Angela dengan gemas. "Hei! Bisa diem nggak? Dengerin duluuu...'' Angela terkikik mendengar nada kesal dalam suara laki-laki yang duduk di sebelahnya. ''Aku ulangi lagi, awas, ya main potong-potong!'' ancamnya sambil menguyup kepala Angela dengan gemas yang membuat gadis itu lagi-lagi cekikikan. Rumah Lentera. Di sebuah bukit nun jauh di sana... Ada sebuah kampung peri. Mereka tinggal dalam rumah-rumah yang berhiaskan lentera warna-warni. Di antara mereka ada satu rumah yang sangat terang, paling terang di antara rumah-rumah peri yang lain. Rumah itu milik salah seorang peri yang pendiam dan penyendiri, namanya peri Merah. Ia tak seperti peri-peri yang lain, ia dianggap cacat oleh teman-temannya karena tak mempunyai sayap, makanya ia tak pernah bersenang-senang di alam terbuka seperti yang lain. Karena itu, peri-peri yang lain menjulukinya peri merah cacat dan mengucilkannya. Hingga suatu hari, terjadilah badai yang memporak-porandakan kampung peri. Hampir semua rumah di kampung itu rusak akibat badai. Namun, rumah lentera milik peri Merah masih berdiri kokoh dengan nyala lentera yang masih terang. Semua sangat heran dan mereka pun memohon kepada peri Merah untuk memberinya tumpangan berteduh di rumahnya. Karena mereka tak bisa tinggal di kegelapan. Dengan senang hati peri merah mempersilahkan teman-temannya memasuki rumahnya. Mereka sangat terkejut melihat isi rumah peri Merah yang penuh dengan lukisan lentera yang sangat indah dan hiasan batang-batang pohon yang kokoh dan indah. Lalu lukisan itu ia hiasi dengan nyala api yang berasal dari lentera utamanya. Kini para peri itu sangat malu dan meminta maaf atas perbuatan jahat mereka kepada peri Merah dan memuji kepandaian peri Merah dalam membuat lentera yang indah. Keesokan harinya mereka bergotong royong membuat rumah-rumah baru untuk mereka tinggal. Dan peri Merah ikut membuatkan lentera-lentera yang indah untuk teman-temannya. Akhirnya mereka hidup berdampingan dengan bahagia, mereka tak lagi mengucilkan peri Merah yang sedikit berbeda di antara mereka. "Nah selesai deh... Begitu ceritanya,'' tutup Tyo sambil membelai kepala Angela yang menghela napas dengan berat. "Kenapa aku merasa peri Merah itu mirip denganku? Aku cacat dan...'' "Hei!'' potong Tyo sambil merengkuh Angela dan memegang wajah gadis itu untuk menghadapnya. “Jangan pernah berpikir seperti itu. Jangan pernah menyerah! Kau pasti sembuh!'' Angela gemetar menahan tangisnya mendengar ucapan kekasihnya. Ia benar-benar tak bisa berpikir apa-apa lagi selain menangis. "Apa kau tahu? Aku sangat bersyukur, di saat aku jatuh terpuruk dalam titik terendah hidupku, Allah mengirimkan mu. Bahkan tunanganku pun malah meninggalkanku tanpa berita sampai sekarang. Rasa-rasanya aku nggak akan pernah memaafkan kedua kakak adik itu,'' ucap Angela di sela isak tangisnya. "Apa yang akan kau lakukan jika kau bertemu mereka?'' tanya Tyo tiba-tiba. "Arlanlah penyebab semua ini. Jika aku bisa bertemu dengannya, maka aku akan membunuhnya dengan tanganku sendiri!'' sahut Angela dengan bersungut-sungut penuh kemarahan yang membiaskan di wajahnya yang cantik. "Baiklah. Kalau begitu kau harus sembuh! Kalau kau ingin melakukan semua itu,'' sahut Tyo menyemangati. "Ya! Aku pasti sembuh!'' pekik Angela berurai air mata dalam pelukan Tyo. "Tapi bukankah sebagai peri Merah kau akan memaafkan mereka?'' pancing Tyo di sela isak Angela. Gadis itu menggeliat dalam pelukannya. "Aku Angela! Aku bukan peri Merah!''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN