Bab 19 Ketahuan Mama

1022 Kata
Sofa ruang tengah. Tak terasa dua hari mereka terjebak di vila. Malam itu berlalu dengan hawa dingin yang makin menyeruak akibat hujan yang terus mengguyur pegunungan itu. Setelah berbicara dengan ibunya melalui ponsel dokter Tyo, Angela menggumam pelan. Dengan wajah resah, ia menyerahkan ponsel itu kepada pemiliknya. Tyo menerimanya dengan kawatir yang terdengar dari suaranya. "Ada apa? Kenapa malah sedih? Apa mama besok nggak bisa datang kemari?'' tanya Tyo setelah melihat wajah muram kekasihnya. Angela menggeleng tipis-tipis, "Bukan. Bukan itu yang kupikirkan. Mama bilang hasil medis kesehatanku sudah menunjukkan hasil yang baik. Dokter meminta kepastian kepada mama dan aku, mungkin jika aku sudah siap, aku akan menjalani operasi mata.'' "Wah, bagus dong. Terus kenapa sedih?'' tanya Tyo dengan lembut membelai pipi Angela. Angela merasakan aliran hangat di kedua pipinya. Ia tahu saat itu ia pasti sedang merona. "Aku takut gagal lagi, seperti waktu itu. Karena para dokter bilang, sekarang mataku sudah buta permanen. Dan ini bukanlah hal kecil untukku. Pasti rasanya akan sakit sekali. Kata dokter Gabby, jika sampai mengalami operasi mata yang kedua itu pasti rasanya lebih menyakitkan, karena harus membuka luka yang lama.'' Angela mengerjap-kerjapkan matanya dengan gelisah. Tyo merengkuh wajah mungil Angela ke hadapannya. Gadis itu hanya bisa pasrah dan bola matanya yang seolah-olah mencari sosok wajah kekasihnya. "Bukankah kau ingin melihatku?'' ucap Tyo dengan lembut. "Iya...'' sahut Angela dengan lemah. "Dan... Bukankah kau ingin membunuh laki-laki itu?'' kejar Tyo dengan bersungut-sungut. "Iya...!'' sahut Angela yang kini berapi-api. "Rasa sakit itu nggak akan ada apa-apanya, jika dibandingkan dengan semua yang telah terenggut dari dirimu. Dan aku yakin kau bisa melalui semua itu, Sayang.” Dokter Tyo membelai rambut panjang Angela. Mendengar itu Angela mulai menangis. Dan ia semakin terisak. Tyo merengkuhnya dalam pelukan, dan hal itu membuat tangis Angela semakin pecah karenanya. "Kau harus bangkit dari rasa terpuruk mu. Jika kau sayang mama papamu dan orang-orang di sekitarmu, maka kau harus bangkit. Kau tahu? Kau masih punya masa depan yang panjang yang masih bisa kau raih.'' Tyo menasihati sambil membelai lembut rambut Angela yang tergerai indah di punggungnya. Gadis itu mengangguk dalam isaknya. Lalu mereka hanya terdiam seolah menikmati kebersamaan itu seperti tak akan pernah terjadi lagi. Hingga tak berapa lama kemudian, Angela sudah kembali tenang dan bisa menguasai tangisnya. Tyo menghapus sisa air mata yang masih mengalir di kedua pipi gadis itu. Dengan lembut ia mencium kedua kelopak mata Angela yang berbulu lentik dan cantik. Angela melenguh kaget. "Kau ini selalu membuatku kaget!'' Angela mengomel sebagai protes atas perbuatan Tyo dan memukul pundak laki-laki itu. "Ya, abis gimana? Kalau ngomong dulu nggak surprised dong. Lagian, aku suka wajahmu yang kaget-kaget itu. Lucu banget,'' ucap Tyo membela diri dengan cekikikan dan membuat Angela merengut manja. Dan lagi-lagi Angela terpekik kaget saat Tyo menggendongnya tanpa memberitahunya lebih dulu. "Sudah malam, kau harus segera beristirahat,'' jawabnya saat Angela memprotesnya. Mereka lalu menuju kamar Angela yang terletak di kamar utama vila itu. Dengan pintu yang selalu terbuka seharian ini membuat kamar itu menghembuskan hawa dingin. Tyo meletakkan tubuh Angela dengan hati-hati di atas ranjangnya. Lalu ia duduk di samping ranjang dengan posisi berhadapan. Laki-laki itu terdiam menatap Angela yang terdiam menatap kosong ke sebuah arah. Merasakan kebisuan itu, Angela meraba-raba dan mencari sosok Tyo. "Tyo, ada apa?'' tanyanya setelah menemukan wajah kekasihnya. Tyo mencium jari jemari Angela yang ada dalam genggamannya. "Apa kau percaya padaku?'' tanya laki-laki itu dengan tiba-tiba. Angela tercenung, mengernyit heran dan membelalakkan bola matanya yang cantik. Ia terdiam untuk beberapa saat. "Tyo... Jujur aku nggak tahu... Tapi yang aku tahu, aku merasa kau orang yang baik. Sejak bertemu aku tak pernah melihatmu dengan mataku. Tapi aku merasakannya dengan hatiku. Dan... Dan apalagi yang bisa diharapkan dari gadis seperti aku? Aku buta, aku sudah tak punya popularitas apa-apa, aku broken home dan dengan track record yang sangat buruk, istri simpanan! Tapi... kau tahu semua itu, tapi masih saja selalu menolongku dan... dan kau mencintaiku.'' Angela terbata-bata dan menunggu bantahan dari kekasihnya. Namun tak ada ucapan yang terlontar dari mulut laki-laki itu. Laki-laki itu diam tak bergerak saat mendengar semua isi hati Angela. Gadis itu melepaskan jari jemarinya dari genggaman Tyo dan meraba-raba wajah laki-laki itu. Betapa terkejutnya ia saat mendapati pipi Tyo yang basah. "Kamu menangis? Ada apa, Tyo?'' Angela merengkuh wajah Tyo. Tyo menggenggam kedua tangan Angela dan mengecupnya dengan lembut. "Jika kau ada masalah, ceritalah padaku, kalau kamu nggak keberatan. Yah, walau pun mungkin aku nggak bisa membantu apa-apa...'' Angela mengernyit sedih. "Kau harus sembuh, Angela. Apa pun akan kulakukan untuk menyembuhkanmu!'' jawab Tyo sambil menarik tubuh Angela ke dalam pelukannya. Kali ini walau Angela terpekik kaget, ia tak memprotesnya. Ia merasakan pelukan Tyo tak seperti biasanya. Laki-laki itu memeluknya dengan erat, bahkan sangat erat. ‘Ada apa sebenarnya? Kenapa dia sampai menangis begini? Apa yang disembunyikannya dariku?’ batin Angela terus bertanya-tanya. *** "Lala... Sayang... Bangun, Sayang...'' Angela mengerjap-kerjapkan matanya beberapa kali, ia mengolet dan merenggangkan tubuhnya seraya bangkit dari tidurnya yang nyenyak. "Hei, anak perawan mama kenapa bangunnya siang banget gini sih? Emang ngapain aja semalam sampe bangun kesiangan?'' Suara Bu Riana mengejutkan Angela. "Mama? Ini beneran, Mama?'' pekik Angela merenggangkan kedua tangannya agar mamanya mendekat untuk memeluknya. Bu Riana terkekeh dan memeluk putri satu-satunya itu dengan sayang. "Mama bisa sampai sini? Alhamdulillah, ya Allah, Mama!'' Angela kembali memeluk ibunya erat-erat. Bu Riana cekikikan. "Heemm... kangen banget ya sama, Mama? Bukannya udah ada dokter Tyo?'' ledek Bu Riana setengah berbisik dan membuat Angela melepaskan pelukan ibunya dengan wajah merona malu. "Mama jangan bergosip, ah! Mama denger cerita dari siapa?'' bantah Angela berpura-pura marah. "Hei! Nggak usah pura-pura, ya? Semua orang juga sudah tahu,'' sahut Bu Riana dengan mencubit gemas pipi Angela dan membuat Angela memekik terkejut. "Aaahh...para bibi cerita apa sama, Mama? Kami nggak ngapa-ngapain, Ma, kami hanya ngobrol! Itu saja, kok!'' ucap Angela bersungut-sungut, namun rona merah merambat di wajahnya. "Eh, siapa yang bilang mama tahu dari para bibi?'' sela Bu Riana dengan tenang. "Terus?'' kejar Angela penasaran. "Mama tahu dari narasumber yang terpercaya!'' sahut Bu Riana dengan bersungut-sungut. "Mama, ih! Jangan kayak wartawan infotainment deh. Mama... Please!'' rengek Angela dengan suara memohon. "Sudah ngaku saja. Apa kamu suka dokter itu? Dan kalian pacaran?''
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN