Bab 20 Tentang Andri

1050 Kata
Jantung Angela seperti berhenti berdetak. Gadis itu ternganga gelagapan. "Mama tahu dari mana kami...'' Angela menggantungkan ucapannya dengan gugup. "Sudah, jawab aja! Iya atau tidak?'' sela Bu Riana dengan suara tenang namun dalam. Mendengar suara ibunya yang terdengar tegas. Angela menganggukkan kepalanya dengan ragu-ragu seraya menggumam kecil. "Apa? Mama nggak denger. Yang kenceng kalau ngomong,” tegur Bu Riana dengan suara semakin tegas. “Oh, jadi enggak ya? Oke, kalau memang enggak... Mama akan usir dokter....'' "IYA, MA! IYA...! Angela suka dia! Dan kami baru jadian kemarin itu!'' sela Angela dengan terburu-buru dan malu sekaligus, memotong ucapan ibunya untuk mencegah ibunya yang hendak mengusir dokter Tyo. Angela meraba-raba untuk meraih ibunya karena takut akan apa yang diucapkan ibunya. Namun demikian, Bu Riana langsung memeluk putri satu-satunya itu dengan erat dan membuat Angela terpekik kaget. "Mama...? Sebenarnya ada apa? Dan mama tahu dari mana masalah ini?'' tanya Angela ragu-ragu dalam pelukan ibunya. "Dokter Tyo sendiri yang bilang pada mama tadi pagi.'' Bu Riana melepaskan pelukannya pada Angela yang tercengang tak percaya. "Hah? Dokter Tyo? Tadi pagi? Dia sendiri?'' gugu Angela kebingungan seraya masih memegangi kedua tangan ibunya. "Hei, sekarang sudah jam dua siang, Sayang... Makanya mama heran kamu nggak bangun-bangun mimpi apa sih sampai nyenyak begitu?'' Bu Riana cekikikan sambil membelai rambut putrinya yang tergerai berantakan. "Ya sebenarnya tadi pagi udah bangun kok, sarapan sama Bibi Isah, minum obat dan kayaknya Lala ketiduran lagi deh...” papar Angela dengan tawa kecil. “Eh, tapi...tapi, Ma, dia ngobrol apa aja sama Mama? Nggak mungkin dong dia tiba-tiba dia ngaku gitu aja?” tanya Angela terdengar sangat penasaran. Bu Riana membenahi duduknya di ranjang bersama Angela. Wanita itu menghela napas dengan berat, seolah memendam sesuatu. "Yah... Banyak sih yang diomongin, salah satunya dia bilang dia benar-benar tulus mencintaimu dan serius padamu. Dan dia berjanji akan mengupayakanmu untuk sembuh dan mencarikan donor mata untukmu, Sayang,'' papar Bu Riana sambil membelai rambut Angela dan merapikannya. Angela tercenung diam, ada perasaan aneh dan mengganjal dalam hatinya. "Hanya itu?'' tanyanya singkat, seolah kecewa. "Lah, memangnya apalagi? Apa ada yang lain yang harus dibicarakan?'' Ibunya balik bertanya. Angela mengendikan bahunya tanda 'mungkin saja.' "Lalu sekarang dia ada di mana?'' sambung Angela seraya meraih tangan ibunya. "Pulang.'' Bu Riana menjawab dengan singkat dan jelas. "Pulang? Apa maksud, Mama?'' Angela menengok mengikuti suara ibunya. "Ya, tadi pagi setelah bicara sama Mama, dokter Tyo pamit pulang,” sahut Bu Riana seraya menghela napas. “Jadi, sebenarnya, waktu itu dia baru saja sampai Jakarta, setelah menjenguk saudaranya yang kecelakaan di Sukabumi. Belum lagi ia sampai ke rumahnya, dia langsung ke rumah sakit untuk mengisi laporan atau apa itu dan hari itu dia menyempatkan untuk menyapamu sebelum pulang ke rumahnya. Tapi malah berujung terjebak longsor di sini," papar Bu Riana dengan helaan napas panjang. Angela mendekap mulutnya karena terkejut mendengar semua penuturan ibunya. "Sumpah, Ma, dia nggak cerita apa pun mengenai masalah itu. Dia sama sekali nggak ngomong apa-apa sama Lala, Ma,'' ucapnya dengan sedih teringat kebersamaan mereka yang sering terisi oleh pembicaraan satu arah darinya. "Lala nggak sadar, ya? Ini sudah 3 hari loh kalian berduaan di sini? Kalian nggak ngapa-ngapain, ‘kan?'' bisik Bu Riana di telinga Angela. Seketika hawa panas merayapi kedua pipi gadis itu. "Ma-maksud, Mama?'' gugu Angela terdengar gugup. "Mungkin saja....'' Bu Riana sengaja menggantungkan ucapannya untuk memancing reaksi Angela. "Ma... Tyo itu laki-laki yang baik. Kalau dia memang berniat macam-macam sama Lala, untuk apa dia berterus terang sama Mama?'' sergah Angela membela diri. "Mungkin dalam keadaan sekarang Angela nggak bisa membela diri jika ada apa-apa. Tapi, Mama bisa lihat ‘kan, Lala nggak kenapa-kenapa? Lala bahkan merasa lebih sehat karena dia, Ma. Mama boleh nggak percaya sama dia, tapi mama bisa lihat Lala sekarang bagaimana, ‘kan?'' lanjutnya dengan wajah muram, namun bersungguh-sungguh. Bu Riana tersenyum seraya membelai wajah Angela, "Iya, Mama percaya Lala, Sayang. Dan Lala benar. Kalau memang dokter Tyo bukan pria baik-baik ia nggak akan membawamu pulang kemari. Dia bisa saja menculikmu minta tebusan misalnya atau bahkan memperkosa Lala dan apa pun bisa terjadi,” ungkap Bu Riana dengan nada lembut. “Mama benar-benar khawatir, Mama sampai nggak bisa tidur mikirin ini itu. Dia laki-laki asing yang baru kita kenal. Yah... Walaupun kita tahu di mana dia bekerja. Tapi, tetap saja, Mama khawatir banget dengan keadaanmu, Sayang,” imbuh Bu Riana kembali memeluk Angela. “Tapi kenapa Lala seakan-akan sangat mempercayainya dan mengenalinya?'' Bu Riana menatap putrinya lekat-lekat. "Lala nggak tahu, Ma. Apa Mama pernah denger, kalau orang buta itu hatinya lebih tajam?'' sahut Angela dengan suara diplomatis. "Yah... Lala benar, Nak...'' Bu Anggara melenguh pasrah. "Entah kenapa, Lala merasa, setiap ada dia, Lala merasa aman dan nggak takut lagi. Entahlah, Ma... Rasanya Lala nggak sendirian dalam gelap. Kemarin dia juga sempat menanyakan itu pada Lala. Lala hanya bisa menjawab itu. Lala nggak bisa melihatnya dengan mata Lala, tapi Lala merasakannya dengan hati Lala.'' Gadis itu menunduk dengan muram. "Terus kenapa malah sedih gitu?'' sela Bu Riana seraya menyentuh dagu dan wajah mungil Angela. "Tapi Lala nggak tahu apa-apa tentang dia, Ma. Siapa dia dan bagaimana keluarganya. Apa jangan-jangan dia sudah beristri? Lala nggak berani nanya apa-apa. Dan entah kenapa Lala tiba-tiba percaya saja padanya dan.. dan... Tiap dekat dengannya Lala selalu merasa deja vu. Hampir Lala berpikir dia itu Andri... Karena perasaan Lala saat bersamanya itu mirip saat bersama Andri, tapi beda... Entahlah...'' Angela mengendikan bahu dan mulai menitikkan air matanya. Bu Riana menghapus air mata itu dengan jari jemarinya. Ia menahan diri untuk tidak marah saat nama laki-laki itu disebut kembali oleh Angela sejak beberapa bulan terakhir, ia sempat melarang siapa pun untuk menyebut nama itu di depannya. "Tapi, ‘kan... Tapi ‘kan kalau itu Andri pasti Mama mengenalinya? Dan dia bukanlah dokter... Dia juga sudah membuangku...'' Pecah sudah tangis Angela dan tanpa berkata apa pun lagi, Bu Riana merengkuh Angela ke dalam pelukannya. Wanita itu hanya diam seribu bahasa, ia menahan tangisnya sendiri agar tak terdengar oleh Angela dan menangis diam-diam. "Mungkin ini saatnya Mama berterus terang padamu, La,'' ucap wanita setengah baya itu membuka suara setelah sekian lama terdiam menunggui tangis Angela yang tersedu-sedu. "Maksud, Mama?'' tanya Angela dengan suara sengau. "Sebenarnya Andri sering datang mengunjungimu ke rumah sakit,'' ucap Bu Riana dengan pelan namun pasti. Angela duduk dengan tegak karena rasa terkejutnya, “Apa? Apa maksud, Mama....”
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN