Malam Pertama

1199 Kata
Barra keluar kamar mandi, langkahnya sejenak terhenti melihat Kayana. Kayana diam mematung di depan tempat tidur mereka, ia menatap kelopak bunga mawar yang berbentuk hati begitu indah di atas sana. “Kamu ngapain berdiri di situ?” tanya Barra. “Saya mau tidur tapi....” “Tidur aja,” timpal Barra. Padahal Kayana belum selesai berbicara, sudah dipotong saja dengan Barra. “Sayang!” cicit Kayana. “Itu cantik,” lanjut Kayana lagi menunjukkan bunga yang bertebaran di atas tempat tidur itu. “Tidur aja di sofa kalau gitu,” lanjut Barra yang langsung meninggalkan Kayana yang masih bengong berdiri di sisi tempat tidur. “Eh, tunggu. Kamu mau ke mana?” tanya Kayana langsung mengikuti Barra keluar kamar. Barra menghentikan langkahnya saat diketahuinya Kayana menyusul. Bruk! Tanpa sengaja Kayana menabrak d**a Barra. “Kenapa berhenti mendadak sih,” celetuk Kayana sambil mengusap jidatnya yang terbentur d**a bidang Barra. “Kamu ngapain ikuti saya?” tanya Barra. “Sepi kalau di kamar sendiri,” sahut Kayana pelan. “Masa? bukannya kamu takut sendirian di dalam sana.” “Kamu mau ke mana?” tanya Kayana lagi tanpa merespon ucapan Barra yang mengatakan dirinya takut. Barra langsung kembali melangkah dan duduk di sofa yang ada di ruang depan itu. Tanpa mempedulikan Kayana yang masih mengikuti dirinya. Kayana juga ikut duduk di sofa itu, di samping Barra. Keduanya bingung mau ngapain, ponsel mereka pun tidak ada. Untuk mengusir rasa bosan Barra menghidupkan televisi yang ada di ruangan itu. Walaupun sebenarnya Barra bukan orang yang suka menonton televisi. Hingga langit berganti gelap keduanya masih bertahan duduk di sofa itu tanpa mengeluarkan sepatah katapun. Dengan berbalut batrobe keduanya memandang layar televisi yang menyajikan gosip selebriti tanah air. “Krukkk....” Perut Kayana tanpa diminta berbunyi, refleks tangan Kayana langsung menuju perutnya. Barra langsung menatap Kayana dengan tajam. “Lapar,” lirih Kayana. “Kamu kan bisa pesan makan di restoran melalui telepon itu,” ucap Barra menunjuk telepon yang disediakan. “Boleh, saya pesan?” tanya Kayana. “Ya pesan aja, kamu juga nantinya yang bayar,” celetuk Barra. “Bagaimana mau bayar? ‘kan dompet aku masih sama Oma.” “Tagihannya minta disatukan aja,” usul Barra. Kayana berdiri ia mendekat ke arah telepon dan ternyata di sana sudah tersedia daftar menu makanan yang dihidangkan. “Kamu mau?” tawar Kayana. “Nih.” Kayana memberikan daftar buku menu pada Barra. Barra mengambilnya dan mulai melihat setiap gambar dan tulisan yang ada di buku tersebut. Barra menyebutkan makanan yang diinginkannya, tanpa menatap wajah Kayana. Dengan cepat Kayana pun menulisnya. “Sudah?” tanya Kayana lagi. Barra mengangguk dan menutup kembali buku menunya. Kayana langsung menekan nomor telepon yang terhubung langsung ke area restoran. Selesai memesan makanan, Kayana kembali bergabung dengan Barra. “Bagaimana nanti jika mereka mengantarkan makanan sedangkan kita nggak bisa buka pintunya?” tanya Kayana yang kembali mengingat jika mereka dikunci dari luar. “Suruh saja mereka buka sama kunci lain, pasti mereka punya kunci serepnya, sekalian saja kita minta kuncinya,” usul Barra membuat Kayana langsung tersenyum bahagia mendengarnya. “Kamu pintar juga ya rupanya,” celetuk Kayana. “Memangnya kamu, katanya presiden direktur Bank ternama tapi kok pikirannya lemot gini,” sahut Barra mengejek Kayana. Kayana diam ia tidak lagi menjawab ucapan Barra cukup membuat hatinya sedikit luka. Bukan maunya untuk memimpin perusahaan itu, hanya karena tuntunan. Kalau disuruh memilih, Kayana ingin melanjutkan hobinya menjadi desainer. Tapi impiannya itu pupus saat ia diperintahkan untuk menggantikan sang Oma memimpin perusahaan milik keluarganya. Tak lama terdengar suara pintu terbuka kedua manusia yang duduk di sofa sama-sama menoleh. “Permisi, ini saya membawakan pesanan ibu dan bapak,” ucap pelayan restoran. “Oh, iya letakkan saja di atas meja itu,” sahut Kayana menunjuk meja mini bar yang ada di ruangan itu sambil ia jalan mendekat. “Silahkan menikmati,” ucap pelayan itu lagi dan berlalu pergi, tapi saat di ambang pintu langkahnya terhenti mendengar Barra memanggilnya. “Maaf boleh kami minta kuncinya?” tanya Barra pelan. “Maaf bapak, ibu. Kami diperintahkan untuk tidak membuka pintu kamar ini ataupun memberi kuncinya. Kecuali bapak dan ibu meminta makan,” sahut pelayan pria itu dengan sopan. Setelah mengatakan itu, pria itu langsung keluar dan mengunci kembali kamar mereka dari luar. Barra mengacak rambutnya kasar. “Uhhfftt....” Hembusan kasar terdengar dari mulut Barra. “Makan,” tawar Kayana, yang sudah mulai menyuapkan makanannya ke dalam mulut. Tanpa mempedulikan Barra yang sedang memperhatikan caranya makan. Hingga makanan yang di piringnya habis tak tersisa tidak ada pembicaraan di antara keduanya. Setelah makan Kayana mencuci piringnya sendiri, sebenarnya tidak apa jika piring itu tidak dicuci, tapi Kayana tidak ingin terlihat kotor saja. Selesai makan, Kayana kembali ke dalam kamar. Di kamar ia melihat pemandangan luar hotel dengan lampu, yang menghiasi jalanan. Duduk di balkon kamar sambil merasakan dinginnya udara malam saat ini. “Apa yang akan kulakukan ke depannya hidup bersama pria seperti itu, baru sehari saja kata-katanya menyakitiku,” gumam Kayana pelan. Udara yang semakin dingin membuat Kayana tidak kuat merasakannya. Apalagi saat ini dirinya hanya menggunakan batrobe saja, dilapisi dengan baju tanpa bahan itu. Masuk ke dalam kamar, Kayana kembali memandangi tempat tidur yang begitu indah dihias dengan kelopak mawar merah berbentuk hati. Tidak ingin merusak keindahan itu, Kayana memilih membaringkan tubuhnya di atas sofa yang letaknya tidak jauh dari tempat tidur. Sofa itu cukup untuk menampung dirinya yang kecil dan mungil itu, matanya terus memandangi tempat tidur yang terlihat begitu indah di matanya. “Seandainya aku menikah dengan orang yang menyanyangiku pasti ini merupakan malam pertama yang indah buatku bukan seperti ini,” gumam Kayana pelan. Merasa miris dengan nasibnya saat ini. “Kamu apa kabar? Apa masih ingat sama saya atau kamu juga sudah menikah?” Kayana bermenolog sendiri, pikirannya kini mengingat sang mantan yang sampai saat ini tidak ada kabarnya. Kayana terus mengkhayal akan dirinya berada di atas tempat tidur itu bersama dengan orang yang mencintainya. Sampai tak terasa ia tertidur di sofa itu. Barra masih di luar menyelesaikan makanannya. Setelah makanan itu habis, Barra masuk ke kamar. Niatnya ke kamar yaitu ke kamar mandi untuk membuang air yang sudah memenuhi perutnya. Namun, langkahnya terhenti melihat Kayana yang berada di sofa. Barra melangkah mendekat hingga di sisi sofa, memperhatikan wanita yang sudah sah menjadi istrinya itu dengan tatapan heran. Barra menggelengkan kepalanya melihat Kayana yang tampak pulas, rambut yang menutupi wajahnya disingkirkan perlahan oleh Barra. Batrobe yang tak sengaja naik melihatkan paha mulus Kayana. Barra berkali-kali menelan salivanya melihat pemandangan itu. “Ck,” decihnya. Iapun langsung pergi ke kamar mandi. Kandungan kemihnya sudah menerobos ingin Keluar. “Hanya melihat pahanya saja, kamu kok jadi tenggang begini,” gumam Barra, saat melihat juniornya tegak berdiri. Terpaksa Barra harus mengeluarkan hasratnya juga, karena sang junior tidak ingin tidur kembali. Hingga hasrat itu keluar dengan sempurna. Barulah Barra keluar dari kamar mandi. Barra kembali ke sisi Kayana yang masih tertidur, perlahan ia membetulkan batrobe istrinya itu hingga menutup sebagian pahanya. Duduk mensejajarkan tubuhnya dengan sang istri yang berbaring di sofa, menatap wajah Kayana begitu dalam. Kayana yang dalam tidurnya merasa ada yang memperhatikannya dengan cepat ia membuka matanya dan mendapatkan Barra sudah berada tepat di depan wajahnya. “Kamu....” Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN