Satu Ranjang

1286 Kata
Kayana yang dalam tidurnya merasa ada yang memperhatikan, dengan cepat ia membuka matanya dan mendapatkan Barra sudah berada tepat di depan wajahnya. “Kamu....” Kayana langsung duduk dan menutup batrobenya dengan kuat. Matanya memandang Barra dengan sangat tajam. “Kamu mau apa?” tanya Kayana dengan sengit. “Sudah mau ditolong nggak terima kasih lagi, itu tadi kening kamu ada nyamuknya,” kilah Barra. “Bohong!” hardik Kayana, yang tak percaya ucapan Barra. “Ya sudah kalau kamu nggak percaya,” sahut Barra yang langsung meninggalkan Kayana dan naik ke atas ranjang. “Jangan,” teriak Kayana yang berhasil menghentikan kaki Barra ketika akan naik ke atas tempat tidur. “Kenapa?” tanya Barra kini wajahnya mengerut menatap Kayana. “Enggak boleh, sayang! Nanti rusak,” jawab Kayana pelan. “Terus mau tidur di mana? Ini hotel dibayar buat kita tidur, ngapain tidur di sofa kalau ada tempat tidur yang empuk,” protes Barra. Tanpa mempedulikan Kayana yang tidak rela jika kelopak itu berhamburan, Barra langsung saja naik menutupi tubuhnya dengan selimut. Sebelum ia benar-benar menutup matanya ia melihat ke arah Kayana yang menatap lirih kelopak mawar tersebut. “Wanita aneh,” batinnya. Barra memejamkan matanya tanpa mempedulikan Kayana lagi, yang masih berdiam diri di sofa. “Kan jadi berantakan,” gumam Kayana pelan, tapi masih bisa di dengar oleh Barra. Melihat Barra yang acuh dan sudah menutup matanya, membuat Kayana kembali membaringkan tubuhnya di sofa dan menutup matanya juga. Barra yang ternyata belum tertidur membuka matanya kembali saat ia merasa jika Kayana sudah tertidur lagi. Perlahan Barra menurunkan kakinya dan jalan mendekat ke arah Kayana. Melihat Kayana yang melingkar kedinginan membuat Barra juga merasa kasihan. Dengan gerakan pelan Barra mengangkat tubuh wanita itu, memindahkannya ke tempat tidur yang lebih nyaman lagi. Barra juga menutup tubuhnya dengan selimut. Barra juga ikut tidur di atas ranjang yang sama, tepat di sebelah Kayana, hanya saja Barra membatasinya dengan guling di tengahnya. Walaupun Kayana sudah tertidur ia tidak ingin jika Kayana mendekat ke arahnya. Kelopak mawar yang indah tadi, kini sudah berantakan dan jatuh di mana-mana. Akhirnya Barra juga tertidur dengan membelakangi Kayana. *** Matahari mulai menampakkan sinarnya dan masuk ke sela-sela gorden jendela kamar mereka, membuat Kayana terbangun merasakan hangatnya sinar itu. Perlahan Kayana membuka matanya, menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam rentina matanya. Sungguh matanya masih berat untuk terbuka, tapi Kayana memaksa untuk terbuka. “Aaarrrggghhhh....” Kayana teriak sekuat mungkin saat mendapati tubuhnya berada di atas ranjang yang sama dengan Barra. Ia mengecek semua anggota tubuhnya, tapi ia tidak merasakan apa-apa. “Kamu kenapa sih teriak mulu, nganggu aja. Saya masih ngantuk,” gerutu Barra. Barra kembali membalikkan tubuhnya dan tidur, tidak lupa ia menutup telinganya dengan satu bantal. Membiarkan Kayana dengan penuh tanda tanya di kepalanya. Masih memikirkan apa saja yang dilakukannya semalam, tapi ia juga tidak bisa mengingat apa-apa selain dirinya melarang Barra untuk tidak naik di atas tempat tidur. “Kenapa bisa saya ada di sini?” batin Kayana. Kembali Kayana mengecek anggota tubuhnya jika merasa ada yang sakit, tapi semua masih sama, ia tidak merasakan apapun itu. “Apa dia sudah melakukannya? Tapi kenapa aku nggak merasakannya?” Kayana terus bertanya sama dirinya sendiri. Tidak mendapatkan jawaban yang cukup puas membuat Kyana membangunkan Barra. “Hey, bangun,”panggil Kayana. “BANGUN!” Kayana kembali berteriak, kali ini tepat di telinga Barra. Membuat Barra yang baru saja tertidur langsung duduk tegak. “Ada apa lagi sih?” tanya Barra kesal. “Kamu apakan saya semalam?” tanya Kayana dengan sinis. “Kamu, ya,” geram Barra yang menggelapkan tangannya dan membuangnya di udara. “Bisa nggak kalau nggak usah nganggu orang,” pinta Barra. “Enggak bisa, karena kamu harus jelaskan sama saya. Kenapa saya bisa berada di atas ranjang berdua sama kamu. Kamu nggak aneh-aneh kan sama saya 'kan?” “Ck,” decih Barra. “Kamu nggak ingat apa, kalau kamu sendiri yang berjalan dan tidur di sana,” bohong Barra. “Emang begitu?” tanya Kayana raut wajah Kayana kini tampak bingung dengan cerita Barra. “Ah, nggak mungkin. Saya bukan orang yang bisa jalan sambil tidur.” Kayana membela dirinya. Ia yakin jika ia tidak melakukan yang dituduhkan oleh Barra. Barra yang melihat Kayana bingung sendiri, ia pun tertawa dalam hati. Kemudian ia berdiri ingin masuk ke kamar mandi meninggalkan Kayana yang masih asyik dengan lamunan dan pertanyannya. Namun, siapa sangka saat ia melihat Barra bergerak dan ingin masuk ke dalam kamar mandi dengan cepat pula ia melangkah turun menyusul Barra. “Tunggu,” teriak Kayana. Barra langsung menoleh ke arahnya. “Saya masuk duluan ya kebelet,” ucap Kayana yang berlalu di depan Barra. “Ih, enak aja saya juga kebelet nih,” sahut Barra yang sudah menarik lengan Kayana agar keluar dari sana. “Saya dulu, ‘kan saya perempuan,” sahut Kayana lagi. “Emang kenapa kalau kamu perempuan? Saya nggak peduli tuh. Saya dulu ya,” balas Barra. Kedua manusia berbeda jenis itu saling tarik menarik ingin masuk ke dalam kamar mandi. Brugh! Keduanya jatuh tepat di depan pintu kamar mandi dengan posisi Kayana berada di atas tubuh Barra. Untuk sesaat keduanya diam, mata keduanya saling menatap penuh damba. Sampai oma dan mommy datang menganggu kedamaian mereka untuk sesaat. “Wah...wah, belum puas apa semalam masih mau lanjut pagi ini. Tapi kenapa harus di depan kamar mandi juga sih?” ucap oma Luna membuat keduanya langsung bangun dan membetulkan batrobe mereka masing-masing. Wajah Kayana sudah mulai memerah, ia malu karena oma dan mommy melihatnya berada di atas tubuh Barra. “Mommy kenapa nggak ketuk dulu sih!” protes Barra. “Maaf mommy kira kalian masih tidur,” sahut Airi sambil tertawa kecil. “Maafin oma juga ya,” sambung oma Luna. “Ini mommy sama oma bawakan pakaian kalian, ini juga tas dan ponsel kalian berdua,” ucap Airi yang langsung menyerah barang bawaannya itu pada Barra dan juga Kayana. “Makasih ya mi, Oma,” sahut Kayana. “Ya, sudah kalian mau mandi apa mau lanjutkan yang tertunda tadi,” goda Airi lagi. “Sudah lah my,”sela Barra. “Kami tunggu di luar, kita sarapan bareng,” ucap Oma Luna lagi. Kedua wanita yang berbeda usia itupun akhirnya meninggalkan pasangan baru itu. Bibir keduanya tidak berhenti tersenyum melihat anak-anak mereka yang sudah mesra walau hanya dengan waktu yang singkat. Berbeda dengan Kayana dan Barra. Kini Kayana tengah memerahi Barra dengan nada pelan. Ia menyalakan Barra atas apa yang terjadi tadi. Barra yang tidak ingin mengalah pun, balik meyalahakan Kayana. Keduanya terus saja beradu agrumen, sampai mommy dan oma lama menunggu keduanya keluar kamar. “Kalian masih lanjut ya? Kok lama,” teriak Airi dari luar. Kayana langsung masuk ke dalam kamar mandi dan menguncinya tanpa memperdulikan Barra yang masih berdiri di depan kamar mandi. Kayana memengangi dadanya, jantungnya berdetak begitu cepat seperti ingin lepas dari tempatnya. Di dalam kamar mandi Kayana mencoba untuk mengatur kembali ritme jantungnya itu. Tarikan dan hembusan nafas terus dilakukannya sampai benar-benar jantungnya berdetak normal. Selesai mandi, Kayana masih menggunakan batrobe dan baju kotornya diletakkan dalam Paper bag. Saat Kayana keluar, dengan cepat Barra masuk ke dalam sana. Ia benar-benar ingin membuang kandungan kemih yang sejak tadi penuh. Setelah keduanya rapi dan berpakaian lengkap. Barra dan Kayana jalan berdua beriringan agar tidak menimbulkan kecurigaan kepada Oma dan mommynya. “Sudah selesai?” tanya Airi. “Sudah my, ayo,” ajak Barra langsung. Keempat orang itu langsung keluar kamar menuju restoran yang sudah dipesan oleh Airi. “Oh, ya nanti kita sama-sama cek out ya. Kami ada hadiah buat kalian,” ucap Oma Luna. “Apaan oma?” tanya Kayana. “Rahasia,” sahut Airi. “Semoga saja bukan hal aneh lagi,” batin Barra. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN