Rumah Baru

1314 Kata
Setelah melakukan sarapan pagi bersama, Barra dan kayana beserta mommy dan oma melakukan cek out. Keempatnya langsung naik mobil oma disupiri Doni. Doni ini merupakan asisten oma Luna, ia yang menjaga oma dan membantu oma untuk menjalankan bisnis keluarga sebelum Kayana terjun ke dunia bisnis. “Kita mau ke mana oma?” tanya Kayana, saat yang mereka lewati bukanlah arah jalan pulang ke rumahnya. “Mungkin ke rumah pria itu,” batin Kayana. Belum lagi oma menjawabnya Kayana sudah menjawab sendiri, ia tahu jika dirinya nanti akan tinggal bersama pria yang begitu dingin. “Mau jadi apa gua nanti,” batin Kayana lagi. “Kita ke mana ni mom?” kini giliran Barra lagi yang bertanya pada mommynya. “Jadi buka ke rumah dia?” gumam Kayana dalam hati. “Sudah kalian ikut saja, nanti juga bakal tahu,” sahut Airi seraya tersenyum. Oma Luna yang duduk di depan bersama Doni juga ikut tersenyum melihat ke dua cucunya itu tampak bingung dengan jalanan yang mereka lalui. Perjalanan mereka akhirnya sampai di tujuan. Doni memasukkan mobilnya langsung ke dalam pagar, pagar dengan menggunakan sensor itu langsung terbuka. “Ini rumah siapa?” gumam Kayana saat mereka masuk ke dalam pelataran rumah besar dan mewah. Rumah yang tak kalah besar dari rumahnya. Rumah bergaya Eropa modern itu langsung memanjakan mata Kayana. Rumah dengan bangunan tiga lantai mempunyai halaman yang begitu luas, terdapat pakiran yang juga sangat luas cukup menampung 3-4 mobil di dalamnya. “Ayo kita masuk,” ajak oma Luna. Pertanyaan Kayana saja belum dijawab, tapi oma malah membawa mereka masuk ke dalamnya. Di dalam rumah itu semua sudah lengkap furniturnya dan ada beberapa art yang bertugas. “Oma ini sebenarnya rumah siapa sih?” tanya Kayana yang begitu penasaran, karena sejak tadi mereka masuk tidak bertemu dengan pemilik rumah melainkan art saja. “Duduk dulu kita di sana ya,” ajak Oma ke ruang tengah. Ruangan yang besar ada televisi di sana, interiornya begitu indah ruangan yang didominasi berwarna abu muda itu terlihat begitu elegan. “Ini,” ucap oma lagi sambil menyerahkan map berisi dokumen rumah. Kayana mengernyitkan dahinya bingung, begitu juga dengan Barra. Keduanya sama-sama bingung dan dengan reflek mereka saling menatap. “Sudah nggak usah bingung lagi, kalian buka aja,” suruh mommy Airi kepada duanya. Dengan rasa yang begitu penasaran Kayana membuka map itu dan ternyata isinya adalah surat rumah atas nama mereka berdua serta di dalam sana ada ucapan selamat atas pernikahan keduanya. “Ini?” Kayana masih tidak yakin dengan apa yang dibacanya. Barra mengambil ahli kertas itu, kemudian ia membacanya dengan begitu teliti. “Jadi ini?” “Iya, ini hadiah dari oma buat kalian. Kalian suka?” tanya oma Luna. “Tapi oma ini sangat besar kalau hanya untuk kita berdua?” sahut Kayana. “Ih, kamu gimana sih. Ini kan juga nanti akan di tempati sama anak-anak kamu. Oma mau cicit dari kalian yang banyak jadi rumah ini akan rame,” jelas oma Luna. Membuat Airi tertawa mendengarnya, tapi berbeda dengan pasangan suami-istri yang berada di depannya. Mereka malah diam dan saling menatap. “Nanti mobil kalian akan ke sini sama dengan sopirnya. Bukan begitu Airi?” “Iya Oma, mommy sudah ngomong sama Anggi, nanti dia akan ke sini.” “Silahkan diminum,” ujar Art yang mengantarkan minum dan beberapa cemilan untuk mereka. “Mereka, art sini?” tanya Kayana. Oma mengangguk. “Oma akan panggil semua yang akan membantu kalian mengurus rumah ini ya,” ungkap oma Luna. Oma pun memanggil semua art yang ada di rumah itu. Mereka sudah mulai bekerja sejak tiga hari yang lalu sebelum pernikahan itu dilakukan. Semua berjejer rapi di depan sang majikan. Rata-rata semua sudah berumur. ”Coba kalian sebutkan nama dan bertugas di mana?” pinta oma Luna. “Coba dimulai dari kamu,” suruh oma Luna kepada art yang berdiri paling kanan. “Saya biasa dipanggil Mun, nyonya. Tugasnya di dapur.” “Saya Ati, tugas saya bersih-bersih.” “Saya Atun, saya mencuci dan nyetrika.” “Saya Asep, di belakang ngurus kebun.” “Saya Deden, jaga di depan gantian dengan Amar dan Very, tuan nyonya.” Kayana tersenyum,” salam kenal semuanya ya, saya Kayana. Ini suami saya Barra. Enggak usah panggil saya nyonya, panggil saya mbak saja,” pinta Kayana. “Iya mbak, “ sahut mereka serempak. “Kalian bisa kembali bekerja,”ucap oma Luna. Mereka pun menundukkan sedikit kepalanya lalu meninggalkan ruangan itu. “Makasih ya oma,” ucap Kyana. Ia langsung mendekat dan mencium pipi oma. Airi melebarkan matanya menatap Barra, lewat tatap itu Airi memerintahkan Barra untuk mengucapkan terima kasih. Barra menghela nafasnya.” Makasih ya oma,” ucapnya kemudian. Ia pun berdiri dan jalan mendekat oma Luna. Mengulurkan tangan untuk berjabat tangan, kemudian ia mencium punggung tangan yang sudah tampak kerutannya itu. “Iya, semoga rumah ini penuh dengan keberkahan dan kalian bisa hidup bahagia di rumah ini ya,” ucap oma Luna. “Amin....” Kayana langsung mengaminkan ucapan oma nya itu. Berbeda dengan Barra yang hanya diam mendengar, tanpa merespon ucapan oma Luna. Airi menggelengkan kepalanya melihat sikap Barra yang masih saja terlihat dingin, padahal dirinya sudah memberikan aba-aba jika Barra harus bersikap friendly. “Kalau gitu mari kita pulang, kita biarkan mereka istirahat pasti mereka lelah,” ajak Oma Luna kepada Airi. “Bentar oma aku mau berikan sesuatu pada mereka.” “Ini,” lanjut Airi. Airi memberikan tiket tour keliling Eropa ke tujuh negara.”Ini apa my?” tanya Barra. “Ini untuk bulan madu kalian.” “Tapi my?” “Sudah ambil saja, kalian bisa gunakan kapan saja yang kalian inginkan karena di sana belum tertulis kapan ingin digunakannya. Karena mommy memesankan yang spesial untuk kalian.” “Huuufffttt....” Barra menghela nafasnya. Airi melihat putranya menggelengkan kepalanya lagi, putranya begitu dingin, dan susah sekali untuk dirubah sikap dinginnya itu. “Kalau gitu kami pulang dulu ya, kamu jaga baik-baik Kayana, habiskan waktu kalian dengan baik,” pamit Airi. “Makasih ya my, hadiahnya,” ucap Kayana saat bersalaman dengan mertuanya, tidak lupa ia mencium pipi kanan dan kiri Airi secara bergantian. Begitu juga dengan Oma Luna ia mencium pipi omanya. “Kamu nggak boleh dingin gini terus kasian istri kamu,” bisik Airi di telinga Barra. “Ehm....” Barra hanya membalas dengan dehemananya saja. Mereka mengantarkan oma dan mommy hingga pintu depan, setelah mobil yang digunakan oma dan mommy Airi menghilang di balik pagar besi baru lah Kayana masuk ke dalam. “Di mana kamarnya?” gumam Kayana. “Kenapa kamu tadi nggak tanya?” timpal Barra. Karena Oma tadi tidak menjelaskan keadaan rumah itu. “Bi, boleh temani saya untuk melihat semua yang ada di rumah ini?” pinta Kayana pada bi Mun. “Oh, baik mbak. Ayo silahkan!” Kayana mengabaikan Barra yang tadi bertanya kepadanya. Pria bermata coklat itu masih berdiri di belakangnya, tapi ditinggal begitu saja oleh Kayana. Bi Mun, mengajak Kayana mengelilingi rumah besar yang sekarang sudah menjadi rumahnya. Rumah impiannya sejak dulu, dulu ia pernah bercerita jika sudah memiliki keluarga sendiri Kayana ingin memiliki rumah yang begitu indah banyak taman bunga di dalamnya. Dan rumah yang diberikan Oma-nya sesuai dengan apa yang dicita-citakan nya. Terdapat banyak bunga di taman belakang. Barra yang sejak tadi dicueki Kayana tetap mengikuti wanita itu ke mana perginya sampai mereka berada pada kamar utama, kamar yang akan mereka tepati. “Akhirnya!” seru Barra yang langsung merebahkan tubuhnya di atas ranjang besar. “Makasih ya bi,” ucap Kayana. “Sama-sama mbak, saya ke bawah dulu. Kalau Mbak butuh sesuatu telepon saja ke bawah,”sahut Bi Mun. “Iya bi.” Setelah bi Mun meninggalkan kamar mereka. Kayana langsung menutup pintunya dan mendekat ke arah Barra yang tidur telentang dengan berbantalkan lengannya kaki masih menyentuh lantai marmer. “Kamu ini punya mulut nggak sih, nggak permisi main masuk aja,” protes Kayana. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN