Barra tidak mempedulikan Kayana yang terlihat kesal, Barra memilih menutup wajahnya dengan satu tangannya.
“Dasar pria aneh,”celetuk Kayana.
Ia pun langsung masuk kamar mandi, Kayana ingin merendam tubuhnya di dalam bathub. Baju-baju dan peralatan lainnya sudah tersusun rapi di dalam walk in closet, begitu juga dengan punya Barra. Oma sepertinya memang menyiapkan ini semua jauh hari.
Sabun yang ada di kamar mandi juga sabun favorit dirinya, beraroma vanila.
“Oma memang selalu tahu apa yang aku butuhkan,”gumam Kayana.
Ia pun membuka bajunya dengan perlahan, lalu masuk ke dalam bathub yang sudah berisi air hangat. Tubuhnya direndam dalam bak mandi tersebut sambil ia memejamkan matanya merasakan hangatnya air, merilekskan semua otot-otot tubuhnya.
Baru saja ia ingin tertidur, pintu kamar mandi sudah diketuk secara kasar oleh Barra.
“Cepatan woi, saya kebelet nih. Sudah nggak tahan!”
“Hallo ada orang di dalam?”
Barra terus berteriak di depan kamar mandi. Kayana yang masih berendam mengabaikan suara Barra, walaupun ia terganggu dengan suara gedoran pintu, tapi Kayana tetap saja cuek.
“Kalau kamu, nggak mau buka. Saya buka pake kunci serep nih,” teriak Barra lagi.
Membuat Kayana yang di dalam langsung melebarkan matanya. “Dasar cowok gila,” gumam Kayana.
Ia pun langsung, keluar dari bak mandi itu dan menuju shower menguyur tubuhnya sebentar di sana, terdengar dari dalam jika Barra sedang berusaha membuka kuncinya.
“Mana bisa kuncinya saja masih mengantung di sana,” gumam Kayana sambil tertawa kecil.
Kayana tidak tahu saja jika Barra mempunyai banyak cara. Kini Barra tengah bersiap ingin mendobrak pintu kamar mandi, Barra berhitung dalam hati saat hitungan ketiga dirinya langsung ingin maju ke depan pintu, tapi siapa sangka ternyata saat itu juga Kayana membuka pintunya. Akhirnya keduanya jatuh secara bersamaan dengan Kayana berada di bawah tubuh Barra. Keduanya untuk sesaat saling memandang. Kejadian di hotel tadi pagi terjadi lagi saat ini.
“Kamu lihat apa?” hardik Kayana.
“Sana jauh, awas aja ya, mencuri kesempatan.”
Barra langsung berdiri, begitu juga dengan Kayana. Kayana langsung membetulkan batrobenya yang sedikit terbuka.
Kemudian ia terus berjalan menuju lemari pakaiannya yang berada di walk in closet, meninggalkan Barra yang masih terbengong.
“Ah, sial. Bisa-bisanya saya tabrak dia, jadi gini deh,” gumam Barra lesu sambil melihat senjatanya di bawah yang kini tampak menenggang juga.
“Hanya gara-gara melihat dadanya saja sudah seperti ini,” batin Barra lagi yang merasa kesal sendiri.
Barra pun harus menidurkan senjatanya lebih dulu, kalau tidak akan bahaya jadinya. Kalau gini terus gua bisa gila ini, tangan ini nggak lama juga bakal tipis nantinya,” gumam Barra.
“Baru tinggal beberapa hari sama dia sudah seperti ini, sayang banget kan generasi penerus dibuang secara sia-sia.”
Barra terus saja mendumel sambil tangannya bekerja turun naik di bawah sana.
Setelah selesai ia pun langsung menguyurkan kepalanya di bawah shower agar lebih segar lagi.
“Sabunnya?”
Barra merasa heran dengan perlengkapan mandinya yang sama seperti di rumah. “ Apa mommy yang menyiapkan ini semua?” batin Barra.
Selesai mandi Barra keluar hanya menggunakan batrobe, ia celigak-celiguk mencari keberadaan Kayana, tapi ia tidak melihat istrinya itu ada di dalam kamar. Tidak ingin mengambil pusing, Barra langsung mencari bajunya yang ia tidak tahu terletak di lemari sebelah mana?
Barra pun memeriksa satu-persatu lemari yang ada di walk in closet itu, tanpa sengaja ia membuka lemari milik Kayana yang di dalam sana bergantung baju-baju haram yang kurang bahan.
“Untuk apa dia mempunyai ini semua?” Barra bertanya dalam hati. Bahkan baju-baju itu masih ada segelnya bergantung.
Lagi-lagi Barra menggelengkan kepalanya melihat semua itu bukan hanya itu Bara juga melihat dalaman Kayana semua tampak seksi di matanya.
“Astaga!!”
Dengan cepat Barra menutup rapat lemari itu lagi, tidak ingin mencari masalah lagi dengan sang junior.
Akhirnya ia menemukan letak baju-bajunya, ia pun memilih celana pendek dengan baju kaos. Sebelum meninggalkan ruangan itu Barra memperhatikan dengan begitu detail, ternyata sepatu beserta koleksi beberapa tasnya sudah ada di dalam lemari kaca sana. Ruangan serba putih itu terlihat begitu rapi dan bersih. “ sejak kapan mereka pindahkan ini semua?”
Barra kemudian membuka setiap lemari di sana, ternyata baju-baju kerjanya juga sudah ada di dalam lemari. Mengantung dengan begitu rapi.
Puas melihat, iapun langsung keluar dari ruangan itu. Barra keluar dari kamar ia ingin melihat-lihat apa yang ada di dalam rumah itu. Tadi dirinya berkeliling saja tanpa memperhatikan apa saja yang ada di sana. Rumah dengan lantai tiga itu ternyata begitu lengkap.
“Wow ada tempat fitnesnya juga, mana lengkap lagi?”
“Oma memang tahu, apa yang aku butuhkan!” gumam Barra.
Ruangan fitnes itu terletak di lantai dua, bersebelahan dengan ruang kerja. Di dalam ruang kerja sana ada terdapat banyak buku-buku, terlihat juga buku Kayana di dalam sana. Ruang kerjanya didominasi dengan warna navy,terlihat sedikit gelap.
Setelah melihat isi dalamnya Barra kembali lagi berkeliling, ia menuruni anak tangga hingga di lantai bawah, ruang tengah tempat berkumpul tadi dilaluinya begitu saja. Barra memilih untuk melihat belakang rumah.
Ternyata ada kolam renangnya juga, beserta tempat santainya. “Besar juga kolamnya,” komentar Barra.
Berjalan lagi ke belakang ia mendapatkan taman bunga. Dari jauh ia melihat Kayana yang sedang bercakap dengan tukang kebun. Kayana juga terlihat ikut menanam bunga, Barra dari jauh memperhatikan Kayana yang tampak sibuk dengan bunga- bunga itu.
Barra kembali ke dalam rumah, ia menuju dapur.” Bi, buatkan saya kopi,” pinta Barra.
“Baik tuan,” sahut bi Mun.
Barra kembali melangkahkan kakinya, kini ia menuju ruang tengah. Barra melintas di sebuah ruangan yang bertuliskan Allah.
“Musollah?” batin Barra.
Kemudian Barra kembali melangkah, iapun menyalakan televisi untuk mengusir rasa bosannya.
Masih asyik menonton tv tiba-tiba tvnya diambil ahli oleh Kayana. Kayana mengganti chenel tvnya membuat Barra kesel.
“Kamu, enggak lihat apa saya masih menonton di sini?”
“Kan kamu sudah dari tadi kini giliran saya yang menonton, saya mau nonton drakor kesayangan, sudah main nih. Mana saya telat lagi,” sahut Kayana tanpa mempedulikan Barra saat ini yang tengah jengkel dengan dirinya
“Ih, kamu ini memang ya,” geram Barra tangannya sudah ingin mengacak-acak Kayana tapi dibatalkannya.
“Tontonan apaan ini semuanya memakai bedak prianya.”
“Uust, nggak usah ribut. Kalau enggak mau nonton nggak usah di sini,”usir Kayana.
Kayana menatap fokus layar datar itu tanpa mempedulikan Barra yang sejak tadi tengah mengomel.
“Ya Allah, mesra banget jadi pengen digituin,” gumam Kayana pelan.
“Ck,” decih Barra yang mendengar gumaman Kayana.
“Kamu nggak usah ikut komentar ya. Diam aja,” sahut Kayana memperingatkan Barra.
Barra acuh, ia malah membuka ponselnya. Tidak lagi mempedulikan Kayana dengan celotehannya mengenai drakor yang ditontonnya.
Mengusir rasa jenuhnya Barra membuka email kantornya dan mengecek kerjaan di sana, beberapa hari tidak bekerja membuat dirinya sedikit merindukan suasana kantor.
Barra menjadi tegang saat ia memeriksa email mengenai laporan keuangannya kantornya saat ini.
“Kok bisa seperti ini?” gumam Barra dengan wajah yang sudah mengeras.
Bersambung...