Manusia Es

1194 Kata
Kayana yang berada di sampingnya, kaget mendengar gumaman Barra. Walau pelan tapi masih bisa didengar oleh Kayana. Kayana langsung melihat Barra, memperhatikan laki-laki yang sudah sah menjadi suaminya. Wajah Barra berubah menjadi begitu tegang sambil melihat ponselnya. “Apa yang sedang terjadi?”batin Kayana. Karena tidak ingin semakin memperburuk keadaan Kayana memilih untuk diam saja tanpa bertanya. Wanita itu kembali memfokuskan dirinya ke layar datar di depan. “Saya ke ruang kerja dulu,” izin Barra yang langsung meninggalkan Kayana sendirian. Barra ingin mengecek kekacauan yang sedang terjadi di perusahaannya. Kayana menatap kepergian Barra penuh dengan tanda tanya? Hanya saja ia tidak ingin menanyakannya takut, jika Barra akan semakin marah. “Permisi mbak, makan malamnya sudah siap,” ucap bi Mun. “Oh, ya bi makasih,” sahut Kayana. Kayana menyelesaikan drakornya lebih dulu barulah ia menuju meja makan sambil menunggu Barra selesai kerja. Hampir setengah jam Kayana menunggu tapi Barra tak kunjung kembali. Kayana berinisiatif untuk menemuinya di ruang kerja. Ingin makan sendiri, ia tidak enak mengingat di rumah itu ada beberapa art, dan yang paling ia takutkan adalah jika artnya itu akan memberitahu semua yang terjadi di dalam rumahnya kepada oma maupun mommy. Kayana terus berusaha untuk terlihat baik di depan para art. Perlahan Kayana manaiki anak tangga satu-persatu, sampainya di depan ruang kerja ia masih ragu-ragu untuk membukanya. “ Buka nggak sih?” gumam Kayana di depan pintu. Tangannya sudah memengang handle pintu, tapi kembali diurungkannya lagi. “Gimana nih?” gumamnya lagi. Kini ia menggigiti kuku-kukunya. “Bismillah,” ucap Kayana. Perlahan ia membuka pintu kayu tersebut, ternyata Barra yang berada di dalam juga ingin membuka pintunya. “Kamu ngapain?” hardik Barra melihat Kayana yang sudah ada di depan pintu. “Saya mau panggil kamu makan malam,” sahut Kayana. Tidak menjawab, Barra langsung berlalu pergi menuruni anak tangga meninggalkan Kayana yang masih berada di depan ruang kerjanya. “Ih, jadi cowok kaku banget sih,” celetuk Kayana. Kayana kembali melangkahkan kakinya menyusul Barra yang sudah lebih dulu berada di meja makan. Kayana melayani Barra selayaknya suami. “Mau yang mana?” tanya Kayana saat ingin mengambilkan menu makan malam. “Semua tapi nggak usah banyak, sedikit-dikit aja,” sahut Barra. Kayana langsung mengambilkan semua menu yang ada di meja makan sesuai permintaan Barra. Setelah melayani suaminya barulah Kayana mengambil menu makanannya sendiri. Makan malam itu terjadi begitu hening, tidak ada obrolan yang mereka lakukan. Hanya ada suara sendok dan garpu mereka yang saling beradu dengan piring. Selesai makan, Barra langsung meninggalkan meja makan, tanpa berbicara kepada Kayana. “Begh, susah banget memang kalau nikah sama manusia es,” celetuk Kayana. “Apa kamu bilang?” tanya Barra yang masih bisa mendengar celetukan Kayana. Karena posisi Barra belumlah jauh betul dari meja makan. “Manusia es!” seru Kayana. Barra, langsung jalan ingin menghampiri Kayana tapi niatnya dibatalkan karena ada bi Mun yang datang ingin membersihkan sisa makan malam mereka. “Manusia es,” bisik Kayana saat jalan di depan Barra. Mata Barra langsung melotot mendengar umpatan dari Kayana. Ia pun langsung berlari kecil menyusul istrinya itu. “Maksud kamu apa? Bilangi saya manusia es?” tanya Barra dengan nada sedikit tinggi dan penuh dengan penekanan. Kini mereka tengah jalan menaiki anak tangga. “Loh, emang iya kan kamu manusia es! Enggak sadar apa?” “Kamu....” Tangan Barra sudah menggenggam erat di sisi tubuhnya, tapi ia tidak berani untuk mendaratkan di tubuh Kayana. Jadi ia hanya mendumel dalam hati saja. “Ingat ya urusan kita belum selesai,” hardik Barra yang kemudian meninggalkan Kayana sendiri. Barra memilih ke ruang kerja, malas berhadapan dengan wanita yang membuat dirinya badmood. “Baru sehari saja saya sudah stres menghadapi wanita itu, gimana jadinya jika saya harus tinggal selamanya dengan dia?” “Hhhuuufffttt....” Barra mengehelakan nafasnya. Kini ia duduk di kursi putar ruang kerja. Pencahayaan di ruangan itu dikasihnya sedikit remang. Barra tidak ingin bekerja, karena moodnya lagi hancur. Barra hanya ingin mengistirahatkan tubuh dan juga otaknya dari wanita yang begitu menyebalkan di hidupnya. *** Kayana yang di dalam kamar sejak dari tadi, merasa sedikit khawatir terhadap Barra. Pria dingin dan kaku itu belum terlihat hingga saat ini. Sudah hampir tengah malam tapi Barra belum kembali ke kamar mereka. “Apa ucapanku, melukai hatinya?” batin Kayana. Kayana melihat jam yang menempel di dinding sudah menunjukkan pukul 23: 16. “Ngapain sih dia di ruang kerja hingga larut seperti ini?” gumam Kayana bermenolog sendiri. “Biarin aja deh, bukannya kita harus mengurus masalah masing-masing,” ucapnya lagi. Kayana berusaha untuk tidak peduli dengan suaminya, ia memilih untuk merebahkan tubuhnya di atas ranjang king size dan memejamkan matanya. Menyambut alam bawah sadarnya. Saat Kayana sudah tertidur begitu pulas, barulah Barra masuk ke dalam kamar. Jam juga sudah menunjukkan pukul 01:56 dini hari. Wajah Barra terlihat letih, ia begitu capek dan sangat mengantuk. Tanpa membersihkan wajah, Barra langsung merebahkan tubuhnya di samping Kayana. Hanya butuh waktu yang sebentar saja Barra sudah mulai berada di alam bawah sadarnya. Matahari mulai masuk ke sela-sela gorden kamar mereka. Membuat pemilik kamar terganggu akan tidur panjangnya. Perlahan Kayana membuka matanya menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam rentina matanya. Kayana merasa ada beban yang menimpa tubuhnya begitu berat, dan saat manik mata itu terbuka dengan sempurna, iapun kaget dengan apa yang terjadi. “Aaarrrggghhh....” Kayana kembali berteriak histeris, sambil menjauhkan tangan Barra yang berada di perutnya. “Jauh sana.” Kayana berusaha untuk menjauhkan tubuh Barra, yang masih tampak pulas. Sepertinya Barra tidak terpengaruh oleh teriakkan Kayana. “Hey, Hello. Bangun woi,” ucap Kayana. Barra sekalipun tidak terganggu membuat Kayana merasa kesal. “Woi bangunnnn....” Kayana berteriak tepat di telinga Barra, pria itu langsung duduk.”Ada apa?” tanya Barra panik. “Bangun! sudah pagi, kamu nggak ke kantor?” tanya Kayana. Nada suara Kayana masih sedikit tinggi. “Kamu ya, bisa nggak suaranya itu pelan aja. Aku belum tuli tau,” hardik Barra. “Ye, nggak tuli tapi pendengarannya berkurang. Dari tadi kali saya bangunin kamu,” kilah Kayana. Kayana turun dari tempat tidur masuk ke dalam kamar mandi meninggalkan Barra yang masih merasa jengkel terhadap dirinya. “Jadi cewek, nggak ada baik-baiknya sih,” celetuk Barra. “Biarin,” sahut Kayana yang masih mendengar ucapan Barra Kemudian ia menutup pintu kayu kamar mandi. Di dalam kamar mandi Kayana cengengesan sendiri mengingat ekspresi Barra saat ia berteriak tadi. Pria dingin dan kaku itu begitu lucu saat kaget seperti tadi. Kain yang melekat di tubuhnya satu-persatu dilepaskannya, kaki jenjangnya terlihat begitu mulus. Kayana melangkah hingga di bawah guyuran air shower, sambil mendendangkan lagu kesukaannya dari penyanyi Indonesia. Kayana membersihkan tubuhnya. Selesai mandi Kayana langsung keluar, baru saja membuka pintu kamar mandi Barra sudah nyelonong masuk, membuat Kayana kehilangan keseimbangan yang menyebabkan Kayana jatuh di atas tubuh Barra. Batrobe yang digunakan Kayana sedikit terbuka melihatkan dadanya. Bibir keduanya bersentuhan. Barra memberanikan diri mendekatkan bibirnya, hingga bibir bawah Kayana berada dalam kulumannya. Kayana terpaku akan ketampanan dan tubuh atletis Barra, yang tidak menggunakan pakaian. Untuk sesaat keduanya kehilangan kesadaran. Degup jantung keduanya terdengar saling bersahutan. Barra berhasil memasukkan lidahnya ke dalam rongga Kayana. Membuat Kayana hanyut dalam permainannya. “Plak!” Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN