Kembali ke Kantor

1115 Kata
“Aduh, kamu kenapa sih?” rintih Barra sambil mengelus pipinya yang di tampar Kayana. “Awas, jangan mencari kesempatan,” hardik Kayana. Kayana langsung berdiri dan membetulkan batrobenya yang sudah terbuka melihatkan sedikit gundukkan kembarnya. “Eh, bukannya kamu menikmati juga? Jangan sok lah,” protes Barra. “Kamu, memang menyebalkan!” seru Kayana yang langsung meninggalkan Barra di depan kamar mandi. Ternyata pipi Kayana kini mulai memerah karena ucapan Barra tadi. Hal yang pertama dilakukan Kayana saat berada di dalam walk in closet adalah berdiri di depan cermin memperhatikan wajahnya yang begitu malu dengan ucapan Barra. Tangannya memengangi jantungnya yang berdegup begitu kencang. “Hhhuuuffttt....” Kayana menghela nafasnya pelan, mencoba mengatur ritme jantung, agar berdetak normal kembali. Dirasa Kayana sudah cukup. Ia pun langsung menggunakan baju kerjanya, dan merias wajahnya dengan sedikit make-up agar terlihat lebih fress. Barra sudah keluar dari kamar mandi dan berjalan mengarah pada lemari pakaian, semua itu bisa dilihat Kayana dari pantulan cermin di depannya. Lagi-lagi Kayana menarik nafasnya dan membuangnya secara perlahan, tidak ingin kembali jantungan kayana langsung mempercepat make up-nya dan keluar dari ruangan itu. Kayana langsung turun ke bawah meninggalkan Barra yang masih memakai baju kerjanya. Semua dilakukannya sendiri tanpa bantuan sang istri seperti suami istri pada umumnya. Selesai menggunakan pakaian dan menata rambutnya, tidak lupa ia menggunakan parfum untuk membuat dirinya terlihat semakin mempesona. Selain tampan, Barra juga dikenal para karyawannya pria dengan wangi yang begitu memanjakan hidung mereka. Tidak jarang banyak para karyawannya mencari perhatian jika di depannya , berharap Barra mau memperistri salah satu dari mereka. Walaupun sikap Barra menyebalkan dimata mereka. Namun, ternyata impian hanya impian. Kini mereka harus menelan pil pahit karena sang presiden direktur telah menikah. Barra keluar dari kamarnya dengan begitu rapi. Suara sepatu pantofel miliknya bergema di penjuru ruangan. Perlahan ia menuruni anak tangga satu-persatu, kepalanya sedikit dinaikkan. Sampainya di meja makan Barra langsung duduk di tempatnya. Lagi-lagi Kayana terpaku untuk sesaat. “Ambilkan saya makan,” titah Barra membuyarkan lamunan Kayana. Kayana langsung berpura-pura untuk mengalihkan perhatian, ia pun langsung mengambilkan sarapan pagi untuk suaminya. “Aku sama pak Adam aja ke kantornya,” ucap Kayana memberitahu. “Yang mau ngantar kamu juga siapa?” sahut Barra dingin. “Ih kamu, saya kan Cuma memberitahu saja,” ujar Kayana lagi. “Emangnya penting?” Kayana diam, ia tidak menjawab ucapan Barra lagi. Kini tangannya yang di bawah sudah mengenggam begitu kuat, hingga kuku tangan itu memutih. Rasa kesalnya semakin mendalam mendengar ucapan suaminya itu. Kayana merasa sudah sangat kenyang, ia pun mengakhiri sarapannya dan langsung berdiri.”Eh, kamu mau ke mana?” tanya Barra yang melihat Kayana sudah mulai menjauh. “Saya duluan ada hal yang harus saya lakukan di kantor,” sahut Kayana ketus. Setelah berucap, Kayana kembali melangkahkan kakinya menuju pintu depan. “Ayo pak, kita berangkat sekarang,” ajak Kayana pada pak Adam. “Baik mbak, langsung ke kantor?” tanya pak Adam memastikan. Kayana mengganguk. “Iya pak, banyak kerjaan yang harus saya selesaikan, beberapa hari tidak ke kantor membuat pekerjaan saya menumpuk.” Pak Adam langsung melajukan mobilnya menuju Corporindo. Masih pagi tapi jalanan sudah tampak ramai. Macet pun terjadi di mana-mana. “Masih pagi, tapi macetnya sudah parah gini ya pak? Kapan kota ini bebas dari kemacetan,” ujar Kayana yang berada di bangku penumpang belakang. “Ya, gitulah mbak. Ibu kota selalu saja macet,” sahut pak Adam. Mengisi perjalanan, Kayana membuka macbooknya, melihat email yang masuk. Sambil memeriksa dan membaca satu-persatu email masuk tidak terasa perjalanannya sampai di gedung Corporindo. Pak Adam turun dan membukakan pintu buat Kayana. “Silahkan mbak.” “Terima kasih ya.” Kayana jalan masuk ke dalam gedung pencakar langit itu, semua tertunduk sedikit sambil mengucapkan selamat atas pernikahannya. Pernikahannya bukanlah rahasia, karena semua karyawan mengetahuinya. Namun, hanya beberapa orang dari mereka yang diundang. Sudut bibirnya terus mengembang lebar menanggapi ucapan selamat dari para karyawan. “Fi, Antar berkas yang harus saya tanda tangani sekarang ke ruangan saya,” pinta Kayana sebelum ia masuk ke dalam ruangannya. “Baik Bu,” sahut Fiona sang seketaris. Kayana menunduk dan melanjutkan kembali langkahnya masuk ke dalam ruangan yang besar itu. Di depan pintu kayu itu tertulis presiden direktur. Kayana duduk di kursi kebesarannya, beberapa hari tidak ke kantor membuat dirinya sedikit merindukan suasana kantor. Sebelum ia menyalakan laptop yang berada di atas meja kerja. Kayana menikmati lebih dulu pemandangan ibu kota dari atas. Meja kerja yang terletak di dekat kaca besar memudahkan Kayana untuk melihat indahnya pemandangan di luar. “Masuk,” sahut Kayana saat mendengar pintunya di ketuk. Fiona masuk membawa tumpukan kertas di tangannya.”Ini Bu, semua sudah saya bawakan. Ada lagi yang ibu butuhkan?” tanya Fiona. “Enggak, terima kasih ya,” sahut Kayana. “Baik Bu. Kalau gitu saya permisi, kembali ke ruangan.” Kayana mengangguk. Kayana menyalakan laptopnya dan mulai memeriksa satu-persatu berkas yang tadi diberikan Fiona. Dengan teliti ia membaca dan memahami semua isinya. *** Di sisi lain. Barra, juga kini sudah berada di kantor dengan menggunakan mobilnya sendiri yang disupiri oleh Anggi. Duduk di kursi putar, Barra kembali mengecek krusial perusahaannya yang terjadi penurunan di bulan lalu. “Ke ruangan saya sekarang,” titah Barra di sambungan telepon dengan Agam. Tidak butuh waktu yang lama, Agam langsung datang menghampiri dirinya. “Ada yang bisa saya bantu pak?” tanya Agam pelan. “Apa yang terjadi di lapangan kenapa terjadi penurunan di bulan kemarin?” tanya Barra langsung tanpa basa-basi. “Bukannya bapak sudah mengetahuinya jika ada salah satu armada kita sedang dalam perbaikan,” jelas Agam begitu pelan. “Apa sekarang sudah bisa digunakan kembali?” tanya Barra. “Pastikan semuanya, sudah dalam keadaan aman dan baru suruh kembali beroperasi,” lanjutnya lagi. “Baik pak,” sahut Agam. “Kalau gitu kamu bisa kembali sekali,” usir Barra. “Iya pak,” sahut Agam lagi. Barra memijat pelipisnya pelan, ia merasakan kepalanya sedikit berdenyut. Kembali Barra memeriksa semua data yang telah berada di atas meja kerjanya. Sebelum ia datang tumpukan kerja itu sudah ada di atas meja kerjanya, entah kapan Agnes meletakkannya di sana. Barra mempunya bisnis di dunia penerbangan. Ia juga memiliki pesawat jet pribadi, hanya saja ia jarang ingin menggunakan pesawat pribadinya itu. Barra malah tertarik untuk menaiki pesawat komersialnya dan duduk di bangku ekonomi. Agar ia bisa menilai dalam diam para pekerja. Karena kebanyakan dari mereka tidak mengetahui siapa presiden direktur diamond group. Makanya mommy memberi hadiah tour Eropa ke tujuh negara menggunakan pesawat komersil. Ia tahu jika putranya itu pasti tidak ingin menggunakan pesawat pribadi mereka. Saat sedang asyik dengan sejumlah berkas, pintu ruangannya terbuka, tanpa terdengar ketukan pintu lebih dulu. Membuat Barra langsung mengangkat kepalanya dengan mengernyitkan dahinya. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN