Airi Sidak Kantor Barra

1294 Kata
“Mommy!” Barra sedikit kaget dengan kedatangan mommynya di kantor. “Mommy mau ngapain?”tanyanya. “Ih, kamu masa mommy nggak boleh datang ke kantor anak mommy lagi sih!” “Bukannya begitu mi, tapi pasti mommy ada hal penting sampai ke sini?” “Benar sekali.” “Apaan?” Barra sudah mengalihkan perhatiannya dari layar laptop kini menghadap, sang mommy tercinta. Telinganya dipasang sebaik mungkin untuk bisa mendengarkan dengan baik ucapan mommy. “Em, apa kamu sudah?” tanya mommy ambigu. “Sudah?” ulang Barra yang tidak mengerti apa yang ingin disampaikan mommynya. “Sudah itu,’’ ulang Airi dengan mengerakkan kedua jari sebagai isyaratnya. "Ih, apaan sih my, nggak tahu ah,”kilah Barra. Barra kembali memfokuskan dirinya pada layar datar di depannya. Malas untuk membahas apa yang tidak ingin ia lakukan. “Ih, kamu ini. Mommy masih ada di sini ingin bicara sama kamu, tapi kamu kerja aja,”protes Airi. “Mommy membahas hal yang malas untuk Barra bahas.” “Jadi kalian?” “Iya, mi. Kita kan baru saja kenal dan nggak mungkin Kayana ingin langsung menyerahkan begitu saja. Kita masih dalam tahap perkenalan satu sama lain, ya seperti orang PDKT gitu deh,”balas Barra. “Tapi kalian baik-baik kan!” “Iya baik lah.” “Baguslah kalau gitu. Ingat jangan terlalu dingin dengan istri sendiri, biar cepat Kayana percaya sama kamu dan mommy bisa dengan cepat dapat cucu dari kalian.” “Oh ya, kapan kalian ingin terbang, menghabiskan waktu berdua?” tanya Airi kepo. “Mommy, kita masih sibuk kerja. Ini juga ada masalah mentenaice di armada Barra. Kayana juga masih sibuk di kantornya. Tunggu semua normal baru kita akan pergi,” sahut Barra sedikit berbohong. Sebenarnya Barra juga tidak mengetahui kapan ia bisa pergi menggunakan hadiah dari sang mommy mengingat hubungannya dengan Kayana masih sering beradu jika di rumah. Barra tiba-tiba saja tersenyum mengingat kejadian tadi pagi saat bibirnya berhasil menyentuh bibir Kayana. “Eh, kenapa senyum sendiri,”tegur Airi. “Enggak apa!” “Jangan kecewakan mommy ya, mommy berharap pernikahan kamu adalah pernikahan yang pertama dan terakhir. Bagimanapun kamu harus bisa membuat Kayana cinta sama kamu, dan kalian hidup dengan bahagia. Itu saja permintaan mommy sama kamu sayang,”ungkap Airi. “Mommy ini, kenapa sih. Barra pasti akan pertahankan pernikahan Barra walaupun saat ini kami berdua belum ada rasa tapi Barra juga tidak ingin pernikahan ini hanya untuk sesaat.” Barra menjelaskan apa yang ada dipikirannya saat ini. Ia juga tidak ingin pernikahannya ajang main-main atau coba-coba. Walaupun sebenarnya saat ini keduanya belum saling mencinta dan entah sampai kapan hubungan keduanya membaik, tapi untuk berpikir ingin pisah itu tidak ada di kamus Barra. Airi tersenyum mendengar ucapan putranya, ia merasa lega karena putranya akan terus bertahan dengan pernikahannya.walupun pernikahan itu hasil perjodohan. Airi juga selalu berdoa agar kedua hati anak-anaknya itu terbuka dan akan saling mencinta. “Kita makan siang bareng aja my. Sebentar lagi selesai nih,” ajak Barra. “Boleh,” sahut Airi. “Kenapa kamu nggak ajak istri kamu juga?” tanya Airi. Barra tidak menjawab ia masih terus berkutak dengan laptopnya. “Mommy telpon dia ya,” ucap Airi lagi. Airi langsung mencari nama Kayana di kontak ponselnya kemudian menghubungi kayana, panggilan itu langsung dijawab kayana tanpa Airi menunggu lama. “Hallo sayang,” sapa Airi saat panggilan itu dijawab. “Iya my.” “lagi sibuk nggak?” “Enggak my, ada apa ya?” tanya Kayana. “Ini mommy ‘kan lagi di kantor Barra, dia ngajak mommy untuk makan siang bareng sama kamu, kamu bisa?” Kayana diam sesaat, ia harus berakting lagi di depan mertuanya jika keadaan rumah tangganya baik-baik saja. “Gimana bisa kan?” tanya Airi yang tidak mendapatkan jawaban dari Kayana. “Eh, iya my, bisa. Serlock aja ya alamatnya nanti Kayana langsung ke sana aja.” “Eh, nggak usah. Nanti kami akan menjemput kamu di kantor, tunggu kita aja ya, ini juga sudah bersiap,” ucap Airi. Barra yang mendengar langsung melebarkan matanya.”Maksud mommy?” tanya Barra pelan. Airi menaiki satu jarinya dan diletakkan di bibirnya, memberi isyarat agar Barra diam. “Sudah ya sayang mommy tutup dulu. Tunggu kami ya. Bye.” Panggilan itu pun langsung tertutup. Airi langsung menatap putranya, “ingat ya kamu nggak boleh bersikap dingin kepada istri sendiri.” “Iya mommy, tapi kan my-.” “Belum selesai Barra berbicara Airi sudah berdiri dan menarik lengannya agar segera meninggalkan ruangan besar itu. “Kantor Kayana itu jauh my dari sini,” lanjut Barra. “Kalau buat istri apa sih yang jauh, jika kamu suami yang bertanggung jawab. Jangan-jangan tadi pagi kamu enggak antar Kayana?” Mata Airi sudah memicing tajam melihat Barra yang diam saja sambil merapikan meja kerjanya. Melihat mommy-nya yang tidak melepaskan pandangannya membuat Barra membuang nafasnya dengan kasar. “Mommy kenapa lihat Barra seperti itu?” “Tadi pagi Kayana yang tidak ingin diantar. Lagian dia juga sudah punya sopir kan, jarak kantor kita juga berlawanan arah dan cukup jauh,” jelas Barra. “Tapi apa salahnya kamu menawarkan dia tumpangan sih? Pasti kamu diam aja saat dia mau ke kantor.” “Sudah ah my, ayo jalan nanti bisa kelamaan Kayana nunggu.” Barra langsung jalan keluar ruangan meninggalkan mommy yang masih berdiri menatap dirinya. Airi hanya bisa mengelengkan kepalanya pelan melihat tingkah putranya itu. “Bagaimana Kayana mau jatuh cinta kalau sikapnya seperti itu,” gumam Airi. “Biar saya aja yang bawa, kamu istirahat aja,” ucap Barra pada Anggi sang sopir saat sampai di parkiran. Barra duduk di balik kemudi, menjalankan mobilnya meninggalkan diamond group. Sesuai permintaan sang mommy jika dirinya akan menjemput Kayana di kantornya, dengan perasaan sedikit terpaksa. Karena jarak kantor Kayana dan Barra sedikit jauh jadi memakan waktu yang lama belum lagi terjebak macet. Kayana sudah sejak dari tadi menunggu setelah panggilan telpon dari mertuanya terputus. Kayana gelisah, ia tidak bisa diam duduk. Kini Kayana berdiri dibalik dinding kaca besar yang bisa melihat pemandangan luar. Menunggu kedatangan suami dan mertuanya seperti menunggu presiden berkunjung ke perusahaannya. Rasa gugup kini tengah ia rasakan. Jantungnya berdetak begitu kencang, sesekali ia menarik nafas dan membuangnya untuk menetralkan degupan jantung yang sudah tidak normal lagi. “Kenapa bisa seperti ini? Padahal hanya ingin bertemu dengan manusia es tapi kok gugup gini?” gumam Kayana sendiri. Kayana mengigiti kuku-kuku tangannya. Ia sudah memberitahu resepsionis dan sekretarisnya jika mertua dan suaminya akan datang dan suruh segera ke ruangannya. Setelah menanti cukup lama akhirnya yang ditunggu Kayana datang. Kayana langsung menghampiri mertuanya dan mencium punggung tangan Airi. “My,” sapa kayana. Kayana juga mencium punggung tangan Barra, itu dilakukannya hanya di depan mertuanya saja. Jika hanya berdua aja ia tidak akan melakukan itu. “Deg!” Jantung Barra seakan berhenti saat tangannya diambil oleh kayana dan bibir Kayana menyentuh punggung tangannya itu. “Kita langsung aja ya,” ucap Airi menghentikan lamunan keduanya. “Eh, iya my,” sahut Kayana. “Tunggu bentar my, aku ambil tas dulu,”lanjut Kayana. Kayana kembali, ke meja kerjanya untuk mengambil tas. Barra masih tidak percaya dengan apa yang dilakukan Kayana tadi. “Sudah, lihatinya,” tegur Airi melihat Barra yang mengikuti ke mana Kayana melangkah. Mereka langsung keluar dari ruangan Kayana dan menuju mobil Barra yang berada di parkiran. Sebelum pergi kayana pamit pada Fiona sekretarisnya. Tangan Airi merangkul Kayana hingga mobil. “Kamu di depan aja temani Barra, biar mommy di belakang sendiri,” suruh Airi saat ia melihat jika Kayana ingin duduk di bangku belakang bersama dengannya. Barra menjalankan mobilnya meninggalkan pakiran, di depan suasananya begitu mencekam. Keduanya tidak terlibat percakapan, sama-sama diam. Airi di belakang memperhatikan kedua anaknya, lagi-lagi ia menggelengkan kepalanya. “Susah...,” gumam Airi dalam hati. Bersambung...
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN