Mobil Barra sudah sampai di depan mall. Mereka akan makan siang di restoran steak rekomendasi dari Airi. Kali ini makan siang mereka Airi yang memilih tempatnya bahkan kursi yang akan mereka duduki juga pilihan dari Airi.
Barra dan Kayana tidak banyak bicara, keduanya hanya mengikuti ke mana Airi melangkah, pesan makan saja Airi yang memesan makan mereka.
“Kalian ini kenapa sih? Diam aja terus kok dari tadi perasaan mommy aja yang banyak ngomong,” ungkap Airi.
“Lagi sariawan atau sakit gigi, pada puasa ngomong nih,” celetuk Airi lagi.
Barra sudah memandangi Airi dengan tatapan mengintimidasi. Airi yang ditatap seperti itu oleh putranya malah mengalihkan perhatiannya dan pura-pura tidak mengerti akan tatapan itu.
Kayana hanya diam saja, ia tidak juga menanggapi ucapan ataupun pertanyaan dari mertuanya itu. Lebih tepatnya ia bingung ingin berbicara apa. Karena dirinya orang baru di dalam kehidupan Airi dan juga Barra.
“Apa kamu masih banyak kerjaannya, jadi belum bisa pergi keluar untuk honeymoon?” tanya Airi pada Kayana secara pelan.
“Iya.”
“Iya.”
Barra dan Kayana menjawab secara bersamaan membuat Airi kembali senyum-senyum sendiri mendengarnya.
“Mommy, tadi 'kan Barra sudah bilang kalau kami masih banyak kerjaan, yang harus kami selesaikan dulu, jika ada waktu pasti kami akan menggunakan hadiah dari mommy itu, iya kan!”
Manik mata Barra langsung tertuju pada Kayana.
“Iya, my,” lanjut Kayana refleks saat melihat manik mata Barra tertuju padanya.
Pelayan restoran datang membawakan pesanan mereka dan menyusunnya dengan rapi di atas meja, kemudian mereka kembali lagi ke belakang.
“Ayo kita makan, mommy sudah lapar banget nih,” ujar Airi mengajak sepasang suami-istri itu untuk menikmati hidangannya.
Airi langsung saja mengambil makanannya dan menyuapkannya ke dalam mulut. Sedangkan Barra dan Kayana masih asyik melihat mommy mereka yang begitu menikmati makanannya.
“Kalian sudah kenyang hanya melihat mommy seperti itu?” tegur Airi.
Kayana langsung mengalihkan pandangannya.
“Ini laki nyebelin banget sih,” celetuk Kayana dalam hati.
“Kenapa nggak ada bicara sih, saya kan juga bingung harus bicara apa?” lanjut Kayana lagi membatin.
Airi kini sibuk dengan makanannya karena memang dirinya sedang lapar, ia tadi melewatkan sarapannya hanya untuk mempersiapkan diri mengunjungi perusahaan sang anak.
Sampai makanan itu habis, tidak ada yang mengeluarkan suara, ketiganya hanya diam menyuapkan makanan itu ke dalam mulutnya.
“Alhamdulliah kenyang,” celetuk Airi saat menghabiskan makanannya.
Airi kembali menatap Kayana dan Barra secara bergantian.
“Em, gimana kalau kita belanja dulu?” tawar Airi.
“Tapi my.....?”
“Ayo lah,” sambung Airi lagi.
Belum sempat Barra menyelesaikan ucapannya, Airi sudah memotongnya saja. Barra terlihat menghela nafasnya mendengar permintaan mommynya yang menurutnya aneh itu.
“Kamu nggak keberatan kan sayang?” tanya Airi pada Kayana.
“Ah, enggak kok my. Memangnya mommy mau belanja apa?” tanya kayana sedikit kaget seraya basa-basi.
“Sudah kalian ikut mommy saja, ya udah ayo, kamu bayar ya,” ujar Airi pada Barra.
Mereka pun meninggalkan restoran itu sesuai keinginan Airi. Airi dan Kayana berjalan paling depan, Barra mengikuti kedua wanita itu di belakang seperti bodyguard mereka.
Airi masuk ke dalam sebuah butik yang menyediakan baju tidur. Semua baju tidur di sana lengkap. Kayana hanya mengikuti saja ke mana mertuanya tuju walau dalam hati ia bertanya buat apa mertuanya membeli baju tidur banyak seperti itu.
Barra yang ingin protes pun membatalkannya. Saat melihat mommynya yang begitu senang dan sangat antusias memilih pakaian tidur. Barra menunggu di sofa yang telah disediakan di butik itu, membiarkan mommy dan istrinya mencari apa yang mereka inginkan. Dari kejauhan Barra diam-diam memperhatikan kedekatan mommy dan Kayana yang membuat Barra tersenyum melihatnya.
“Mommy bahagia, Barra juga bahagia my,” batin Barra dalam hati.
Airi membeli piyama dan baju lingerie dengan jumlah yang banyak. Kayana mau protes merasa tidak enak, karena ia belum akrab dengan mertuanya itu. Dan ia juga tidak tahu untuk apa semua yang dibeli oleh mommy Airi.
“Ah, mungkin buat hadiah temannya mommy,” gumam Kayana dalam hati.
Saat Kayana mengeluarkan kartunya dan ingin membayarkan tagihan belanjaan Airi, Airi dengan cepat mencegahnya.
“Enggak usah, biar Barra aja yang bayar semua itu,” ujar Airi.
Airi langsung memanggil putranya dan menyuruh untuk membayar tagihannya. Barra yang melihat barang belanjaan sang mommy begitu banyak sedikit kaget.
“Ini semua buat mommy?” tanya Barra.
“Sudah nggak usah banyak tanya kamu bawa aja itu belanjaan,” perintah Airi.
“Iya my, aku kan hanya tanya aja, lagian buat apa mommy beli sebanyak ini?”
Airi tidak menjawab ia langsung saja melangkah meninggalkan Barra di belakang bersama Kayana.
“Sini aku bantu bawanya,” tawar Kayana.
Barra langsung saja memberi satu paperbag itu kepada Kayana tanpa banyak bicara kemudian sepasang suami-istri itu mengejar Airi yang sudah menjauh dari mereka.
Airi bukannya menuju lantai bawah, malah kini Airi kembali menaiki tangga berjalan itu menuju lantai atas. Membuat Barra lagi-lagi menghembuskan nafasnya dengan kasar. Ini bukanlah hobinya mengelilingi mall seperti ini, jika disuruh memilih lebih baik laki-laki itu menghabiskan waktunya di meja kerja dari pada harus memutari mall sebesar ini.
Ternyata Kayana sama halnya dengan Barra. Walaupun wanita, ia juga tidak menyukai berkeliling mall seperti ini. Ia akan berbelanja jika dirinya memang benar-benar membutuhkan barang tersebut. Kayana lebih senang berada di rumah apalagi di dalam kamarnya.
Namun, saat ini Kayana harus mengikuti mertuanya berkeliling mall. “Em, mommy mau ke mana lagi nih?” bisik Kayana di telinga Barra. Karena keduanya berada di belakang sang mommy.
Barra mengangkat kedua bahunya. “Saya juga nggak tahu, ikut saja lah,” sahut Barra.
“Hhhuuufffttt,” Kayana langsung menghela nafasnya.
“Kenapa?” tanya Barra mendengar helaan nafas Kayana.
“Capek?” lanjut Barra lagi.
“Sini biar saya kasih tahu mommy kalau kamu capek dan pengen pulang.”
Barra sudah melangkah menjauh, ingin menghampiri Airi tapi dengan cepat Kayana menarik lengannya.
“Kamu mau apa?”
“Jangan macem-macem ya,” ancam Kayana.
“Kan kamu capek, jadi saya akan beritahu mommy .”
Kayana menatap mata Barra dengan tajam,” awas!”
“Kalian ngapain sih, bisik-bisik di sana?” ujar Airi.
Dengan cepat Kayana langsung melepaskan tangannya dari lengan Barra dengan mata yang masih menatap Barra tajam.
Barra menyeringai membalas tatapan istrinya itu.
“Ayo kita ke sana dulu,” ajak Airi, yang ingin masuk ke sebuah butik. Butik yang diketahui ownernya adalah salah satu selebriti ternama di jakarta.
Airi masuk dan langsung melihat-lihat koleksi butik tersebut. Kayana memilih menunggu di sofa bersama Barra, menyandarkan punggungnya dan memejamkan matanya. Tidak mempedulikan Barra yang berada di sampingnya sedang memperhatikannya.
“Kayana,”teriak Airi dari sela-sela ia memilih baju.
Dengan cepat Kayana langsung membuka matanya dan menghampiri Airi yang terus memanggil namanya.
“Ada apa my?” tanya Kayana saat sampai di sisi Airi.
“Kamu ngapain, sini dulu temani mommy. Kamu suka nggak sama baju ini?”
“Suka kok my, bagus. Memangnya mommy untuk siapa? Untuk mommy?” Kayana memberikan pendapatnya tentang baju yang saat ini sedang dipegang oleh mertuanya itu.
Airi tidak menjawab pertanyaan dari Kayana ia malah kembali sibuk dengan koleksi-koleksi yang ada di sana.
“Mommy belanja banyak begini buat siapa sih?” tanya Kayana memberanikan dirinya pada akhirnya.
“Nanti juga kamu akan tahu, barang-barang ini untuk siapa saja.”
Kayana kembali diam, ia hanya melihat mertuanya itu memilih-milih dibantu dengan pramuniaga butik di sana. Kayana hanya mengikuti ke mana Airi pergi.
Bersambung...