Setelah pembicaraan itu Kanaya terdiam. Suasana mobil begitu sepi, yang terdengar hanya bunyi dari kendaraan lainnya. Tanpa ia sadar, pikirannya meroda pada saat masa-masa merintis usahanya dahulu. Dulu ia bekerja sendiri, tanpa ada karyawan. Kalau Marvin diberikan libur dari sekolah pelayarannya, laki-laki itu tidak segan menemani Kanaya mengelilingi tanah abang atau pasar mayestik untuk mencari kain. Laki-laki itu juga ikut andil dalam mempromosikan karya Kanaya, menyewakan rumah sepetak untuk menjadi kantor Kanaya dan tempat menjahit hingga akhirnya Kanaya bisa mengumpulkan uang untuk menyewa kios yang lebih besar. Keduanya tumbuh bersama. Dari tunas, berubah menjadi pohon muda, hingga pohon dewasa seperti sekarang. Kalau mereka akhirnya menikah, perjuangan itu akan menjadi cerita i

