"NGGAK MUNGKIN!!" Tubuh Kanaya luruh ke lantai. Tulang belulangnya seakan berubah menjadi jelly, lemas tak terkira. Tangisannya meledak memenuhi apartemen, gadis itu menangkup wajah dengan kedua tangan. "Nggak mungkin, ini pasti cuma mimpi." Ayah dan Faraz yang melihat tingkah Kanaya kebingungan. Keduanya lantas menghampiri gadis itu. "Neng ada apa?" tanya ayah yang sudah mensejajarkan tubuhnya dengan Kanaya. "Ayah, ini semua cuma mimpi 'kan?" tanya Kanaya memandang ayah dengan tatapan penuh kabut. Kabut kesedihan. "INI PASTI CUMA MIMPI, AYAH!" Kanaya histeris dan menampar-nampar pipinya. Berharap setelah ini ia terbangun dari mimpi panjang. "Istigfar Neng," ingat ayah. "Apa yang terjadi sebenarnya?" "Pesawat itu— bilang sama Naya bukan ke Pangkalpinang 'kan?" Ayah terdiam sejenak

