Sejak ibunya meninggal dunia, ayah adalah satu-satunya orang yang sangat ia jaga perasaannya. Sebisa mungkin Kanaya menurut, tidak banyak membantah. Ia tahu apapun keputusan ayah, pasti itu terbaik untuknya. Tapi tidak untuk saat ini. "Ayah Naya nggak bisa. Naya udah punya Mas Ken." Kanaya mencoba bernegosiasi. Ayah dan putrinya itu berdiri saling berhadapan. "Apa yang kamu harapkan dari laki-laki itu?" Nada bicara ayah mulai meninggi. Bahkan ayah memanggil Kanaya bukan dengan sapaan 'Neng' seperti biasanya. "Laki-laki nggak bertanggung jawab! Bisanya cuma buat kamu nangis aja!" "Ayah," sergah Kanaya. Lidahnya mendadak kelu, ditambah rasa sesak yang mulai hinggap hingga membuatnya kesulitan bernapas. Wajahnya memerah dengan air mata yang siap tumpah membasahi kedua pipi. "Tapi Naya cint

