Ruangan bercat abu dan hitam dengan suhu sembilan belas derajat celcius menjadi tempat empat manusia yang sibuk dengan kegiatan masing – masing. “Gue balik duluan.” ujar Radafa tiba – tiba yang sudah bangkit sambil merapikan kemejanya yang agak kusut. Hal itu tentu membuat ketiga temannya menoleh ke arah Radafa. “Lho, ko gitu si? Nantilah,” sahut Mahmud. Aldo melempar ciki yang baru saja akan ia makan namun tak jadi. “Tau, tuh, baru juga jam segini.” sembur Aldo, ia mengambil lagi ciki yang ada di bungkus makanan ringan lalu memakannya dengan santai. “Jam segini gimana, si? Lihat tuh.” Radafa mengarahkan dagunya ke jam yang terpasang di dinding ruangan tersebut dan arahan Radafa pun diikuti oleh ketiga temannya. Jarum pendek jam sudah menunjuk di angka 8. “Baru juga jam delapan , Da

